Sejarah dan perkembangan Mesianisme (Kekristenan Ibrani) di Indonesia

Silakan dari denom mesianik memberikan sejarah dan perkembangan denominasinya disini. Perlu didefinisikan disini bahwa istilah “Mesianik” ini mengacu kepada “Kekristenan Ibrani” dan bukan (atau tidak mengacu) kepada istilah “mesianik” secara general seperti pada istilah “penggenapan janji mesianik pada zaman Makabe”. Silakan dikoreksi jika saya membuat kesalahan.

Terimakasih.

Mantap neh bro :afro:

Shalom Aleikhem Beshem Yahshua Hamasiakh.

Bro Roderick nggak sabar ya ? He He He…

Memang pada prinsipnya kami kembali ke akar Ibrani (Hebraic Roots).

Adapun Kitab yang kami pakai adalah : Alkitab (PL dalam bahasa Ibrani dan PB dalam bahasa Yunani), dan beberapa siddur Mesianic.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa baik Yahudi dan Non Yahudi memiliki kesetaraan dalam rencana penebusan Yahweh didalam Yahshua.

Keragaman itu baik.

Asal saja jangan memaksa saya pikir itu akan memperkayakan khazanah rohani Gereja Tuhan.

Nggak maksa kok bro, untuk kasus Gerakan Pemulihan Nama Bapa itu adalah mensosialisasikan nama Elohim yang benar yaitu YHWH dilafalkan YAHWEH.

Justru dari kalangan gereja-gereja lain, aliran kami dan gerakan itu dituduh sesat.
Bahkan salah satu tokoh gerakan yaitu Bp. Yakub Sulistyo dilaporkan ke polisi oleh pihak gereja lokal dengan tuduhan mengajarkan aliran sesat.

Shalom Aleikhem Beshem Hamasiakh…

Saya mendapatkan beberapa literatur mesianik yang mengkritisi pemikiran Yunani dalam kekristenan (Barat terutama). Saya dulu pun beranggapan kurang afdol rasanya jika tokohnya orang Yahudi, tapi koq agamanya orang Yunani. Namun setelah saya dalami dalam beberapa hal, kembalinya ke akar Ibrani ini koq rada kebablasan karena sepertinya menolak semua yang berasal dari Yunani sebagai kekafiran, dan kembali ke akar Yahudi, dimana Sang Mosiakh pun gak sampe segitunya. Contohnya, tradisi menggunakan tahun Ibrani, makan apel dan madu, sunat, makan makanan yang kosher saja, tradisi menyanyikan pujian berbahasa Ibrani, (walopun dengan iringan band), dan malah dalam beberapa hal, memelintir ayat PB dengan mengatakan bahwa Yeshua tidak pernah diutus ke tanah orang kafir (Siro-fenisia ataupun Yunani), padahal jelas-jelas bahwa Ha Mosiakh itu bagi semua orang.

Saya hanya curious, selain David Stern, siapa sih tokoh-tokoh mesianik, terutama yang mengklaim memiliki mata rantai dengan para rasul di abad-abad pertama.

Terimakasih atas penjelasannya.

Mesianik ada macam-macam, mungkin dimulai dari Yudaisme Mesianik.

Mesianik Yudaisme yang hadir saat ini bukan muncul dari ruang kosong, melainkan dari proses konsekwensi logis sejak 2000 tahun lampau, yang dimulai ketika orang muda Yahudi mulai memberitakan pengharapan mesianis yang diberitakan para nabi yang dipenuhi dalam diri-Nya. Banyak ahli sepakat bahwa orang ini, Yahshua adalah orang yang hidup secara Yahudi pada Abad pertama. Dari catatan orang-orang Yahudi dan kesaksian sejarah setelah Abad 1 Ms, menjelaskan bahwa sejak Mesianik Yudaisme berhenti memimpin gereja [umat Yahweh], tetap ada sejumlah individu Yahudi yang mempercayai Yahshua.

Mesianik Yudaisme yang hadir saat kini adalah bentuk terakhir dari proses yang memakan waktu sekitar 1000 tahun lampau. Kebangkitan gerakan ini dapat ditelusuri jejaknya di Negara Inggris seputar tahun 1850. Pada saat itu, ada ribuan orang Yahudi yang bertobat kedalam Kekeristenan namun pada akhirnya kehilangan identitas Keyahudian mereka.

Pada pertengahan Abad 19 mulailah muncul orang-orang Yahudi yang mulai mempertanyakan dengan menyingkapkan akibat-akibat dari mengikut ‘Yesus’ [nama Yahshua dalam ungkapan gereja-gereja non Yahudi yang anti semit] adalah kehilangan warisan Keyahudiannya.

Pertemuan demi pertemuan orang-orang Yahudi yang telah percaya pada Mesias di Inggris, menuntun pada suatu pembentukan di tahun 1813, yaitu tubuh pertama yang mengakui asal usul Keyahudian ‘Yesus’ sebagai Mesias Israel. Perkumpulan ini bernama “Benei Avraham” [Anak-anak Abraham].

Itu kan bukan di Indonesia, yang di Indonesia nggak sampe segitunya kalee. He He He…

Bahasa Yunani tetap dipakai sebatas pembacaan Kitab PB, tetapi yang diutamakan adalah PB terjemahan ke bahasa Ibrani.

Ah di Indonesia nggak pake plintir-plintir, mungkin kue pluntir kali.

Kami mengakui bahwa Yahshua Hamasiakh ditujukan untuk ke semua orang, namun kami berkiblat kepada Ibrani karena kami beranggapan bahwa Elohim memakai bangsa Israel secara khusus untuk rencana keselamatan umat manusia yang mau percaya dan ikut kepada Elohim yang benar.

Zakharia 8:23 Beginilah firman Yahweh Tsebaoth: “Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Elohim menyertai kamu !”

Shalom.

Maju terus gerakan pemulihan nama Tuhan.

Nih saya copas Mesianic Judaism dan Sacred Name Movement, artikel yang dibuat oleh Bp. Teguh Hindarto.

Jika kita membuka situs internet atau mencari kata “Mesianik” dalam mesin pencari “Google”, maka akan terdapat ratusan bahkan ribuan alamat situs internet yang bersifat “Mesianik” dan “Sacred Name Movement” . Persoalannya adalah, siapakah atau apakah “Mesianik” dan “Sacred Name Movement” itu?

Fenomena Mesianik Yudaisme [Messianic Judaism] adalah suatu kebangkitan spiritual yang terjadi dikalangan unsur-unsur Yudaisme dan Bangsa Yahudi yang mulai merespon ajaran Yahshua [Aram, ‘Yeshu’, Greek, ‘Iesous’, Ind, ‘Yesus’] Sang Mesias yang dijanjikan namun tidak menyebut diri mereka sebagai Kristen dan Gereja dan mereka tetap memelihara gaya hidup dan tata ibadat Yudaisme, namun dalam terang ajaran Yahshua Sang Mesias. DR. Michael Shiffman mendefinisikan Mesianik Yudaisme sebagai:

“Messianic Jews are physical descendants of the patriarchs, being Jewish by birth, but are not adherents to the authority of rabbinic tradition”(f1)

[Mesianik Yudaisme adalah keturunan para leluhur secara jasmani, yang menjadi Yahudi melalui kelahiran namun tidak mengikuti otoritas tradisi kaum rabinik]

Sementara itu DR. David Stern memberikan definisi sbb:

“A person who was born Jewish or converted to Judaism, who is genuine believer in Yeshua, and who acknowledge his Jewishness”(f2) [Seseorang yang dilahirkan menjadi seorang Yahudi atau masuk ke dalam agama Yahudi, yang beriman kepada Yeshua serta mengakui keyahudian Yeshua]

DR. John Fischer memberikan deskripsi mengenai Mesianik Yudaisme dengan mengatakan:

“The convictions of these congregations are uniqe. They are convinced that they can believe in Jesus, be thoroughly biblical, and yet authentically Jewish. They affirm Jesus, as Messiah, Savior and Lord of the universe. They adhere to the entire Bible as the inspired Word of God and refuse to do anything contrary to its teachings. Thy feel a kinship and commitment to the entire body of the Messiah. Yet they express their faith, lifestyle and worship in Jewish form and in Jewish ways”(f3)

[Keyakinan kumpulan jemaat ini adalah unik. Mereka mengakui bahwa mereka dapat mempercayai Yesus sesuai Kitab Suci, namun yang secara otentik adalah seorang Yahudi pula. Mereka menyetujui bahwa Yesus sebagai Mesias, Juruslamat dan Tuan atas alam semesta. Mereka menerima keseluruhan Kitab Suci sebagai Firman Tuhan yang diilhamkan dan menolak segala sesuatu yang bertentangan ajaran-Nya. Mereka merasakan suatu kekeluargaan dan kesetiaan terhadap seluruh anggota tubuh Mesias. Namun mereka mengekspresikan iman mereka, gaya hidup mereka dan ibadah mereka dalam bentuk dan tata cara Keyahudian]

Dari tiga definisi di atas, kita mendapat tiga karakteristik umum dan khas dari Mesianik Yudaisme, yaitu: Pertama, suatu pergerakan spiritual dikalangan komunitas Yahudi [bangsa] dan Yudaisme [agama]. Kedua, mereka beriman pada Yahshua sebagai Mesias dan menerima TaNaKh dan Brit Khadasha [Perjanjian Baru], sebagai kitab suci yang diilhamkan Ruakh ha Kodesh. Ketiga, mereka tetap mempertahankan gaya hidup, tradisi dan kebudayaan luhur Yahudi yang dipelihara berabad-abad, sebagai warisan kebudayaan suatu bangsa.

DR. Michael Schiffman membagi sejarah pergerakan Mesianik Yudaisme menjadi “Sejarah Mesianik Yudaisme Kuno” yang berakar pada Abad I Ms yang bersumber dari ajaran Yahshua dan para murid-murid-Nya [talmidim] dan “Sejarah Mesianik Yudaisme Modern”(f4) yang berakar pada Abad XIX di Eropa. Pergerakan Mesianik Yudaisme modern di awali oleh munculnya organisasi The Hebrew Christian Alliance of Great Britain, yang didirikan pada tahun 1866. Dalam konstitusinya, mereka mengumumkan demikian:

“Let us not sacrifice our identity. When we profess Christ, we do not cease to be Jews; Paul, after his conversion, did not cease to be a Jew; not only Saul was, but even Paul remained, a Hebrew of the Hebrews. We cannot and will not forget the land of our fathers, and it is our desire to cherish feelings of patriotism… As Hebrews, as Christians, we feel tied together; and as Hebrew Christians, we desire to be allied more closely to one another”(f5)

[Janganlah kita mengorbankan identitas kita. Ketika kita mengakui Kristus, janganlah kita berhenti menjadi seorang Yahudi; Paul, beberapa waktu setelah pertobatannya, tidak berhenti menjadi seorang Yahudi; Bukan hanya Saul bahkan Paul tetap sebagai orang yang lebih Ibrani dari orang Ibrani. Kita tidak dapat dan tidak akan melupakan tanah air orang tua kita, inilah kebanggaan kita yaitu menghargai perasaan patriotisme…entahkan sebagai orang Ibrani entahkan sebagai orang Kristen, kami merasa terikat bersama; dan sebagai orang Kristen Ibrani, kami ingin bersekutu lebih dekat satu dengan lainnya]

Kemudian pada tahun 1915 didirikanlah The American Hebrew Christian Alliance. Kemudian Tahun 1925 didirikanlah the International Hebrew Christian Alliance. Penggerak awal dari Mesianik Yudaisme adalah Joseph Rabinowitz. Eric Gabe melukiskan pelayanan Rabinowitz sbb:

“Rabinowitz continued to observe, even as a Hebrew Christian, a number of Old Testament comandments, such as the sabbath, circumcision and the Passover. He thus became the founder of the Hebrew Christian movement in Bessarabia, which he called The Community of Messianic Jews, Sons of the New Covenant, in Hebrew, Yehudim Mesichim Bney Brit Hachadashah”(f6)

[Rabinowitz tetap melanjutkan memelihara – meskipun sebagai orang Kristen Ibrani – yaitu sejumlah perintah dalam Perjanjian Lama, seperti sabat, sunat dan Pesakh. Selanjutnya dia menjadi pendiri gerakan Kristen Ibrani di Bessarabia, yang disebut dengan Komunitas Mesianik Yahudi Putra Perjanjian Baru yang dalam bahasa Ibrani, Yehudim Mesichim Bney Brit Hachadashah]

Dibagian lain bukunya, Eric Gabe memberikan deskripsi mengenai tempat peribadatan yang dibangun oleh Rabinowitz sbb:

“The House of Prayer…approximated…the appearance of Synagogue rather than that of a Church. In the photograph, Rabinowitz stands in the pulpit holding a complete copy of the Bible in Hebrew. Behind him hangs a menorah…just as in any Synagogue…The photograph shows some of the Hebrew texts displayed in his House of Prayer. The text on his left contains the hebrew name of Jesus, namely YESHUA…Separated on the right…[is] the Aron Kodesh-The Holy Ark-within which the sacred scrolls of the Bible are kept”(f7)

[Rumah doa…kira-kira…seperti berbentuk Sinagog dibandingkan dengan bangunan Gereja. Dalam foto, nampak bahwa rabinowitz berdiri dengan menggenggam ujung salinan Kitab Suci dalam bahasa Ibrani. Di sampinya tergantung sebuah menorah…sebagaimana layaknya di Sinagog…foto yang ditunjukan itu memperlihatkan beberapa teks Ibrani dipertontonkan di dalam rumah doanya. Teks itu terdiri dari nama Yesus dalam bahasa Ibrani, yaitu YESHUA…terpisah di sebelah kanan [yang adalah] Aron Kodesh – Tabut Suci – yang di dalamnya tersimpan dengan rapih, gulungan Kitab Suci]

A.E. Thomson dalam bukunya, A Century of Jewish Missions, pada tahun 1902 melaporkan berbagai komunitas Mesianik Yudaisme dengan istilah “Hebrew Christian” di Eropa, Inggris, Eropa. Thomson melaporkan mengenai aktivitas The Hebrew Christian Assembly yang terbentuk pada tahun 1898. Kemudian Abraham Levi pada tahun 1894 mendirikan komunitas Mesianik(f8). Dalam deskripsi Schiffman, dilaporkan bahwa berturut-turut tumbuh komunitas Mesianik Yudaisme diberbagai tempat(f9) al. Pada tahun 1905 didirikanlah komunitas “Hebrew Christians” di Baltimore, Maryland di bawah bantuan Gereja Presbyterian. Komunitas ini kelak berganti nama menjadi Emmanuel Messianic Conggregation. Pada tahun 1930, berdiri sebuah komunitas Mesianik di Chicago dan telah berganti nama menjadi Adat Hatikvah. Kemudian tahun 1940-an dan 1950-an, seorang bernama Lawrence Duff-Forbes membuka Messianic Conggregation di Los Angeles. Mereka beribadat pada hari sabat, merayakan tujuh hari raya dengan liturgi Yahudi. Pada tahun 1950-an denominasi Presbyterian mengembangkan komunitas Mesianik keempat di Los Anggeles, setelah sebelumnya yaitu Adat HaTikvah di Chicago, Emmanuel Messianic Conggregation di Baltimore dan Beth Messiah di Philadhelphia. Namun komunitas di Los Anggeles ini tidak bertahan lama. Terjadi perkembangan luar biasa pada tahun 1970. Shiffman mensinyalir ada sekitar seratus lima puluh jemaat Mesianik diseluruh dunia(f10) dan ada tiga organisasi penting yang berkaitan bersama, yaitu: the Union of Messianic Jewish Congregations [UMJC], the Fellowship of Messianic Congregations [FMC], the International Alliance of Messianic Congregations and Synagogues [IAMCS] . Meskipun ada beberapa perbedaan antara “Hebrew Christians” dan “Messianic Jewish”, namun menurut Sciffman itu hanya dalam hal “respect of affiliation” kebergabungan. Jika “Hebrew Christians” bergabung dibawah gereja-gereja Protestan atau Presbyterian, maka Mesianik Yudaisme terlepas dari ketergantungannya terhadap gereja Protestan atau Presbyterian, dan mereka tetap memelihara gaya hidup sebagai orang Yahudi.

bersambung…

Dari deskripsi di atas, kita dapat memiliki sedikit gambaran mengenai latar belakang kemunculan fenomena Mesianik Yudaisme. Secara historis, gerakan yang muncul dikalangan orang Yahudi yang beriman kepada Yahshua sebagai Mesias, adalah gerakan yang baru muncul pada Abad XIX, meskipun secara teologis memiliki akarnya pada Abad I Ms, saat pelayanan Yahshua dan rasul-rasul-Nya yang merupakan orang-orang Yahudi. Karena gerakan ini baru muncul di Abad XIX, maka kedewasaan teologi dan warisan kebudayaanya masih berkembang dan belum menciptakan suatu kebudayaan baru yang mempengaruhi suatu peradaban. Berbeda dengan “Gereja Kristen” [sebutan bagi Qahal Mesianik yang telah terlepas dari akar Ibrani, sejak Abad II Ms sampai sekarang], baik itu “Katholik”, “Orthodoxs”, “Protestan”, “Baptis”, “Advent”, “Pentakosta”, “Kharismatik” yang telah menciptakan suatu peradaban khas, baik di Eropa, Amerika, Asia dan Timur Tengah.

Berbeda dengan fenomena “Mesianik Yudaisme”, maka fenomena “Sacred Name Movement”, merupakan suatu pergerakan dikalangan Eropa dan Amerika yang memfokuskan pada pemulihan nama Yahweh dalam terjemahan Kitab Suci. Dalam beberapa tingkatan tertentu, komunitas “Sacred Name Movement” juga mengembangkan ajaran, hingga melakukan rekonstruksi dengan mengupayakan suatu ajaran yang berusaha mencari sumber akar Ibrani, tanpa meninggalkan kebudayaan mereka sebagai orang Amerika dan Eropa. Organisasi Yahweh New Covenant Assemblies [YNCA] sebagai salah satu komunitas penggerak pemulihan nama Yahweh, dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Sacred Name Movement History”, menjelaskan sbb:

“The Sacred Name Movement began in the 1930’s among the Church of G-d, 7th Day members who pondered the question of Proverbs 30:4, “What is His name and His Son’s name if you can tell?” The Church of G-d, 7th Day is a Sabbath-keeping group, which came out of the Millerite movement of 1844, as did the 7th Day Adventists. Up to that time, there was little teaching or discussion about the return of the Messiah. The general understanding was that upon dying, one went either to heaven or hell, or in the case of the Roman Church, to purgatory. Those who became known as Millerites came from various religious denominations including the 7th-Day Baptists. Most churches in Christianity, almost with one voice, taught that the Son’s name was Jesus. What about the Father’s name? Did not the Son say He came in His Father’s name, and would not His name be much the same or very similar?(f12)

[Gerakan Pemulihan Nama Kudus, dimulai pada tahun 1930-an dikalangan anggota Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] yang merenungkan pernyataan dalam Amsal 30:4, “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] adalah orang-orang yang memelihara dengan setia ibadat Sabat, yang bermula dari gerakan Millerite di tahun 1844, sebagaimana yang juga dilakukan oleh 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Pada waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kembalinya Sang Mesias. Pemahaman umum pada waktu hanya menjelaskan, bahwa jika seseorang meninggal, mereka akan masuk Sorga atau Neraka, atau pada umumnya di Gereja Katholik, masuk api penyucian. Mereka yang dikenal sebagai kaum Millerites, berasal dari berbagai denominasi termasuk 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Kebanyakan gereja sepakat mengajarkan bahwa nama Putra-Nya adalah Yesus. Namun siapakah nama Bapa-Nya? Bukankah Sang Putra telah mengatakan bahwa diri-Nya datang atas nama Bapa-Nya? Dan apakah mungkin nama-Nya tetap sama atau sangat sama?

Dari pemaparan singkat kedua fenomena di atas, nampak jelas perbedaannya. Jika “Mesianik Yudaisme” merupakan sebuah pembaruan teologi dan ibadah di kalangan orang yahudi yang beragama Yudaisme, dengan mempertahankan corak budaya dan berbagai pandangan rabinik, maka fenomena “Sacred Name Movement” merupakan suatu pembaruan yang berasal dari kalangan Advent dan Baptis, yang menitik beratkan pada eksistensi dan penggunaan nama Yahweh, sekalipun berbagai kebenaran lain yang disosialisasikan komunitas Mesianik Yudaisme, tetap diadaptasi dalam batas-batas tertentu.

Footnote:

(f1) Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland: Lederer Messianic Publishers, 1996, p. 23
(f2) Messianic Jewish Manifesto, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1991, p. 20
(f3) Why Messianic Judaism, dalam Enduring Paradoxs, Baltimore, Maryland: Messianic Jewish Publishers 2000, p. 8
(f4) Op. Cit., Return of the Remnant, p. 9-34
(f5) Ibid., p. 26
(f6) The Revd. Eric S. Gabe, The Hebrew Christian Movement in Kishineff, International Messianic Jewish [Hebrew Christian] Alliance, No 3, Vol LX, p.87
(f7) Ibid., p. 88-89
(f8) Op.Cit., Return of the Remnant, p. 29-30
(f9) Ibid., p. 31-33
(f10) Ibid., p. 33
(f11) Ibid., p.34
(f12) [url=http://www.ynca.com]www.ynca.com[/url]

Sumber: www.mesianic.com

PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.

sis endang, kalau bentuk ibadah mesianik di tempat sis, apakah masih menjalankan ibadah mengikuti tata cara Taurat atau tidak ?

Berarti bukan dari abad pertama dong sis…
Kalo merasa kehilangan identitas keyahudian mereka, berarti ada semacam “nostalgia” yang ingin mereka bangkitkan kembali dong? Dan tidakkah ini menuju kepada “ultra-semitisme” sebagai lawan “anti-semitisme”? Apa motivasi dibalik “kehilangan identitas keyahudian” dengan Kristus sendiri yang bersifat universal?

Yang saya maksud, adakah keterkaitan sejarah, dalam bentuk catatan turun temurun dari mereka dengan para Rasul? Kalau dalam Katolik dan Orthodox kan jelas. Ya mungkin bisa saja meleset satu atau dua Paus/Patriarkh, namun setidaknya ada catatan, ini asalnya dari mana, itu asalnya dari mana. Kalau orang asal mengaku saja kan bisa? Padahal tidak ada mata rantai rasuliah dengan para Rasul sendiri.

Yee, si sis ini mah. Saya dapet dari Bintaro Jaksel sis. Masa Bintaro bukan Indonesia?

Relevansinya para narasumber diatas itu dengan konteks Indonesia jadinya apa? Bukankah mereka semua orang Yahudi, dan bercita-cita me-Yahudikan kekristenan seusai dengan ras mereka (yang memang Yahudi). Dan itu sah-sah saja. Lha terus apakah orang Indonesia harus jadi Yahudi juga supaya bisa ‘nyambung’ dengan mereka?

Saat ini di gereja ditempat saya masih mencari jati dirinya dimana liturginya masih mengikuti model Kharismatik.

Sedangkan yang ada ditempat tokoh-tokoh a.l.: Teguh Hindarto, MTh. , Yakub Sulistyo, Prof. Kristian H. Sugiyarto, Bp. Jusuf Roni, Bp. Benyamin Obadiah, masing-masing memiliki model yang bervariasi dan beragam.

Adapun yang lebih cenderung ke arah Yudaisme adalah yang dipelopori oleh Bp. Teguh Hindarto.
contoh:
Tefilah Ha Maariv (Doa petang hari/malam)

- Persiapan: Membasuh tangan (Netilat Yadaim)
Doanya: “Barukh Attah Yahweh Eloheinu Hu Melek ha Olam, asyer qidshanu bemitsotaw we tsivanu netilat al yadanu. Anoki natan et yadi le Mashiakh Hu Tiqwah ha Gadol, we qakh na yadi lesharto, Amen.”

- Berdiri dengan kedua tangan disamping paha sambil mengucapkan :

  1. “Yahweh, Attah Hu Eli, Elohey ha ELOHIM, Adonay ha Adonim, ELOHIM ha Ekhad we ha Qadosh we Ruakh Hu.”
  2. “Shema Yisrael: Yahweh Eloheinu Yahweh Ekhad. We ahavta et Yahweh Eloheika bekal levaveka ubekal nafsyeka ubekal meodeka” (Sefer Defarim 6:4-5).

- Membungkukkan badan sambil mengucapkan :
“Qadosh, Qadosh, Qadosh, Yahweh Tsevaot, melo kal ha arets kevodo.”

- Berlutut dengan kaki kiri terlebih dahulu lalu kaki kanan, sambil mengucapkan:
“Bou nishttakhaweh wenikra’ah we nivrekah lifney Yahweh o’shenu”

-Bersujud dengan tangan rapat dilantai dan wajah menyentuh lantai sambil berkata:
“Histtakhawu la Yahweh behadrat qodesh, khilu mipanaiw kal ha arets”
“Sujudlah menyembah kepada Yahweh dengan berhiaskan kekudusan. Gemetarlah dihadapanNya hai segenap bumi” (Mazmur 96:9)

- Bertelut sambil mengucapkan: Mazmur Petang/Malam (Mazmur4:1-9)
Beqari aneni Elohey tsidqi. Batsar hirkhavta khannenu ushema ttefilati.

Beney ish, ad me kevodi liklimma ttehavun riq ttevaqshu kazav, selah

Ud’u ki hiflah Yahweh khasid, lo Yahweh yishma beqari elaiw.

Riqzu we ttekhetau imru bilvavekem 'al mishkavkem wedomu selah

Zivkhu zivkhey tsedeq uvitkhu el Yahweh.

Rabim omrim mi yarennu tov nessa aleynu or paneka Yahweh.

Natatta shimka ve livi me et ddeganam we tirosham rabbu.

Be shalom yakhdaw eshkkeba we ishan kki Attah Yahweh le vadad la vetakh ttoshiveni.

- Berdiri dengan kaki kanan terlebih dahulu sambil mengucapkan “Asara Debarot” :

- Duduk bersila (bagi laki-laki) atau bersimpuh (bagi perempuan), atau berlutut (baik laki-laki maupun perempuan):

- Bertelut sambil mengucapkan doa “Avinu”.

ikut monitor ya sis endang … bro flux mungkin bisa di undang juga tuh ke thread ini biar lebih meramaikan dan menambah informasi :slight_smile:

Kalau tanya satu-satu dong, yang ngetik jarinya sampai capek.

Mungkin pendapat Bro ada benarnya yaitu cenderung pro semistisme.

KRISTUS yang bersifat universal, itu khan dalam artian keselamatan ditawarkan kepada semua bangsa namun karena akarnya adalah Ibrani berarti tawaran tidak bisa dilepaskan dari akar Ibrani.
Zakharia 8:23 Beginilah firman Yahweh Tsebaoth: “Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa ELOHIM menyertai kamu !”

Ayat diatas tuh meneguhkan pro-semitisme !!! :slight_smile:

Yang saya tahu hanya itu, karena Kekristenan yang dari awal cenderung helenistik, ditarik ke arah barat sehingga terlupakan akar Ibraninya, sementara kaum Yahudi pun terutama Yahudi Rabbinick jelas-jelas menolak ke ilahian YESUS bahkan memusuhi YESUS, makanya ada Talmud yang bercerita bahwa YESUS direbus/digoreng ??? Emangnya mie instant, he he he…

@ all, saya offline dulu, besok disambung.

Shalom Aleikhem Beshem Yahshua Hamasiakh.

Banyak di kalangan gerakan ini sekarang menyangkal ajaran dasar Gereja antara lain menolak ajaran tritunggal, memaksa orang percaya lain memakai atau melafalkan nama “Yahweh” karena kalu tidak itu bisa mempengaruhi keselamatan dan akhir-akhir ini ‘mengharamkan’ Natal dan Jumat Agung sebaliknya memaksa orang percaya menyambut hari-hari raya Yahudi dan semua ini kerja Bp. Yakub Sulistyo dan kuncu-kuncunya.

Gerakan ini pada mulanya dirintis orang Yahudi yang percaya Yesus (Kristen) spt Jews for Jesus dan inilah sosialisasi yang benar tetapi kemudiannya saya heran mengapa orang dari bangsa-bangsa lain misalnya Indonesia yang malah berlebih-lebih dalam gerakan ini, apakah mereka Jews???

Sila ambil pelajaran.