Sejarah dan perkembangan Mesianisme (Kekristenan Ibrani) di Indonesia

Gereja jangan sampai kehilangan jati diri sis… :slight_smile:
Itulah yang akhirnya dulu saya pertanyakan, akarnya dari mana? Jika mau ke Yahudi, kenapa malah mengambil Yudaisme Rabinik sebagai titik tolak, dimana Kristus malah disangkal? Bukankah doa Avinu malah jadi terkesan ditempelkan saja di bagian akhir mazmur?

Sedangkan yang ada ditempat tokoh-tokoh a.l.: Teguh Hindarto, MTh. , Yakub Sulistyo, Prof. Kristian H. Sugiyarto, Bp. Jusuf Roni, Bp. Benyamin Obadiah, masing-masing memiliki model yang bervariasi dan beragam.
Variasi dan ragam itu dalam tata ibadah atau dalam teologinya juga? Kalau teologinya juga ikut bervariasi, sepertinya ada yang kurang solid dalam hal ini. Ingat sis, Kristus mengatakan,

Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Maksudnya, selain menunjuk kepada Petrus, Kristus juga mengacu kepada pengakuan Petrus tentang Mesias, Anak Allah yang hidup. Jadi intinya tetap Kristus.

Adapun yang lebih cenderung ke arah Yudaisme adalah yang dipelopori oleh Bp. Teguh Hindarto. contoh: [b]Tefilah Ha Maariv (Doa petang hari/malam)[/b]

- Persiapan: Membasuh tangan (Netilat Yadaim)
Doanya: “Barukh Attah Yahweh Eloheinu Hu Melek ha Olam, asyer qidshanu bemitsotaw we tsivanu netilat al yadanu. Anoki natan et yadi le Mashiakh Hu Tiqwah ha Gadol, we qakh na yadi lesharto, Amen.”

- Berdiri dengan kedua tangan disamping paha sambil mengucapkan :

  1. “Yahweh, Attah Hu Eli, Elohey ha ELOHIM, Adonay ha Adonim, ELOHIM ha Ekhad we ha Qadosh we Ruakh Hu.”
  2. “Shema Yisrael: Yahweh Eloheinu Yahweh Ekhad. We ahavta et Yahweh Eloheika bekal levaveka ubekal nafsyeka ubekal meodeka” (Sefer Defarim 6:4-5).

- Membungkukkan badan sambil mengucapkan :
“Qadosh, Qadosh, Qadosh, Yahweh Tsevaot, melo kal ha arets kevodo.”

- Berlutut dengan kaki kiri terlebih dahulu lalu kaki kanan, sambil mengucapkan:
“Bou nishttakhaweh wenikra’ah we nivrekah lifney Yahweh o’shenu”

-Bersujud dengan tangan rapat dilantai dan wajah menyentuh lantai sambil berkata:
“Histtakhawu la Yahweh behadrat qodesh, khilu mipanaiw kal ha arets”
“Sujudlah menyembah kepada Yahweh dengan berhiaskan kekudusan. Gemetarlah dihadapanNya hai segenap bumi” (Mazmur 96:9)

- Bertelut sambil mengucapkan: Mazmur Petang/Malam (Mazmur4:1-9)
Beqari aneni Elohey tsidqi. Batsar hirkhavta khannenu ushema ttefilati.

Beney ish, ad me kevodi liklimma ttehavun riq ttevaqshu kazav, selah

Ud’u ki hiflah Yahweh khasid, lo Yahweh yishma beqari elaiw.

Riqzu we ttekhetau imru bilvavekem 'al mishkavkem wedomu selah

Zivkhu zivkhey tsedeq uvitkhu el Yahweh.

Rabim omrim mi yarennu tov nessa aleynu or paneka Yahweh.

Natatta shimka ve livi me et ddeganam we tirosham rabbu.

Be shalom yakhdaw eshkkeba we ishan kki Attah Yahweh le vadad la vetakh ttoshiveni.

- Berdiri dengan kaki kanan terlebih dahulu sambil mengucapkan “Asara Debarot” :

- Duduk bersila (bagi laki-laki) atau bersimpuh (bagi perempuan), atau berlutut (baik laki-laki maupun perempuan):

- Bertelut sambil mengucapkan doa “Avinu”.

Ini semua ada dalam Kekristenan Timur, baik Yunani, Rusia, Siria, Aleksandria, Romania, dll. Tidak hanya 3 kali tapi 7 kali dalam sehari. I bet, tidak ada “doa Puja Yesus” kan dalam ajaran mesianik? :slight_smile:

Natal dan jumat agung tak pernah diperintahkan Tuhan.

Seder pessach, sabat, hari raya roti tak beragi, itulah yang diperintahkan Tuhan. Inilah yang selama ini telah lenyap dari grj Kristen.

Bukan pro-semit sis, ULTRA-semit

KRISTUS yang bersifat universal, itu khan dalam artian keselamatan ditawarkan kepada semua bangsa namun karena akarnya adalah Ibrani berarti tawaran tidak bisa dilepaskan dari akar Ibrani. [b]Zakharia 8:23 Beginilah firman Yahweh Tsebaoth: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa ELOHIM menyertai kamu !"[/b]

Ayat diatas tuh meneguhkan pro-semitisme !!! :slight_smile:

Sedangkan ayat ini bisa dipakai untuk memicu antisemitisme, yang dikeluarkan dari mulut seorang Yahudi pula,

1Th 2:15 Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi,

Yang saya tahu hanya itu, karena Kekristenan yang dari awal cenderung helenistik, ditarik ke arah barat sehingga terlupakan akar Ibraninya, sementara kaum Yahudi pun terutama Yahudi Rabbinick jelas-jelas menolak ke ilahian YESUS bahkan memusuhi YESUS, makanya ada Talmud yang bercerita bahwa YESUS direbus/digoreng ??? Emangnya mie instant, he he he.......
Yesus direbus dalam t*i mendidih dan Bileam (juga mengacu kepada Yesus) dalam air ma*i mendidih. Selamanya.

I was able to read some excerpts of the book on Amazon.com and look up some terms in the text search, a very valuable option Amazon now offers. Interestingly, the professor argues that there is a distinction between Balaam and Jesus. He maintains that the Talmud says that Balaam was boiled in Semen and Jesus in excrement. Of course, in Jewish Supremacism I quote major Jewish sources that say that Balaam was a pseudonym used for Jesus and cites the passage where Balaam is boiled in semen. Apparently, in at least some Talmudic passages Balaam did denote Jesus as part of their deceptive camouflage against non-Jewish prying into their texts. But, to me, it is no matter. Eternally being boiled in Semen or excrement offers not much qualitative difference.

Jadi bukan mie instant kan kalo direbus pake t*i?

http://www.jesus-is-savior.com/False%20Religions/Judaism/talmud.htm

Di satu sisi Rav Shaul berkata,

Rom 10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

Di sisi lain, beliau menyesalkan kenapa begitu tegar tengkuknya orang-orang Yahudi. Kekristenan harus mengambil keputusan, ikut Yesus dan para Rasul, atau ikut para Judaizer.

Dan posisi yang sudah sulit ini makin diperparah dengan munculnya Yudasime Mesianik yang cukup membingungkan teologinya. Bukannya mengacu kepada ajaran Gereja dan para Bapa Gereja, malah mengacu kepada Talmud dan tradisi Yudaisme. :slight_smile:

Kenapa anda tidak masuk Yudaisme saja sis? Ataukah sebenarnya anda seorang Zionis? hehehe…
:slight_smile:

Paskah apa yang anda peringati? Keluar dari Mesir (kalau anda ada darah Yahudi, seperti Yaakov Barukh yang di Menado itu yang pindah dari Protestantisme ke Yudaisme) atau sengsara, wafat dan kebangkitan Yeshua HaMasiakh bagi seluruh dunia?
:slight_smile:

Diperintahkan Tuhan ke siapa? Sila cantumkan ayat2 perintahnya?

Oh iya, meskipun Natal dan Jumat Agung tidak diperintah tetapi peristiwa-peristiwa itu benar-benar terjadi bro. Makanya saya sambut. Emang salah ya menyambut peristiwa2 alkitab yang benar-benar terjadi?

Jadi selama ini kemana saja sis? Apakah disembunyikan di padang gurun? :slight_smile:
Coba anda search mengenai Orthodox Siria, dan coba anda lihat seberapa banyak pengaruh “Barat” dalam teologinya, sis… :slight_smile:

Bandingkan dengan doa-doa dari Qohelet di Klirong Kebumen diatas, apakah ada kemiripan?

Berbeda dengan fenomena “Mesianik Yudaisme”, maka fenomena “Sacred Name Movement”, merupakan suatu pergerakan dikalangan Eropa dan Amerika yang memfokuskan pada pemulihan nama Yahweh dalam terjemahan Kitab Suci. Dalam beberapa tingkatan tertentu, komunitas “Sacred Name Movement” juga mengembangkan ajaran, hingga melakukan rekonstruksi dengan mengupayakan suatu ajaran yang berusaha mencari sumber akar Ibrani, tanpa meninggalkan kebudayaan mereka sebagai orang Amerika dan Eropa. Organisasi Yahweh New Covenant Assemblies [YNCA] sebagai salah satu komunitas penggerak pemulihan nama Yahweh, dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Sacred Name Movement History”, menjelaskan sbb:

“The Sacred Name Movement began in the 1930’s among the Church of G-d, 7th Day members who pondered the question of Proverbs 30:4, “What is His name and His Son’s name if you can tell?” The Church of G-d, 7th Day is a Sabbath-keeping group, which came out of the Millerite movement of 1844, as did the 7th Day Adventists. Up to that time, there was little teaching or discussion about the return of the Messiah. The general understanding was that upon dying, one went either to heaven or hell, or in the case of the Roman Church, to purgatory. Those who became known as Millerites came from various religious denominations including the 7th-Day Baptists. Most churches in Christianity, almost with one voice, taught that the Son’s name was JESUS. What about the Father’s name? Did not the Son say He came in His Father’s name, and would not His name be much the same or very similar?(f12)

[Gerakan Pemulihan Nama Kudus, dimulai pada tahun 1930-an dikalangan anggota Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] yang merenungkan pernyataan dalam Amsal 30:4, “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Church of G-d 7th Day, [Gereja Tuhan Hari Ketujuh] adalah orang-orang yang memelihara dengan setia ibadat Sabat, yang bermula dari gerakan Millerite di tahun 1844, sebagaimana yang juga dilakukan oleh 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Pada waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kembalinya Sang Mesias. Pemahaman umum pada waktu hanya menjelaskan, bahwa jika seseorang meninggal, mereka akan masuk Sorga atau Neraka, atau pada umumnya di Gereja Katholik, masuk api penyucian. Mereka yang dikenal sebagai kaum Millerites, berasal dari berbagai denominasi termasuk 7th Day Adventists [Adven Hari Ketujuh]. Kebanyakan gereja sepakat mengajarkan bahwa nama Putra-Nya adalah YESUS. Namun siapakah nama Bapa-Nya? Bukankah Sang Putra telah mengatakan bahwa diri-Nya datang atas nama Bapa-Nya? Dan apakah mungkin nama-Nya tetap sama atau sangat sama?

Dari pemaparan singkat kedua fenomena di atas, nampak jelas perbedaannya. Jika “Mesianik Yudaisme” merupakan sebuah pembaruan teologi dan ibadah di kalangan orang Yahudi yang beragama Yudaisme, dengan mempertahankan corak budaya dan berbagai pandangan rabinik, maka fenomena “Sacred Name Movement” merupakan suatu pembaruan yang berasal dari kalangan Advent dan Baptis, yang menitik beratkan pada eksistensi dan penggunaan nama Yahweh, sekalipun berbagai kebenaran lain yang disosialisasikan komunitas Mesianik Yudaisme, tetap diadaptasi dalam batas-batas tertentu.

Footnote:

(f1) Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland: Lederer Messianic Publishers, 1996, p. 23
(f2) Messianic Jewish Manifesto, Clarksville, Maryland: Jewish New Testament Publications, 1991, p. 20
(f3) Why Messianic Judaism, dalam Enduring Paradoxs, Baltimore, Maryland: Messianic Jewish Publishers 2000, p. 8
(f4) Op. Cit., Return of the Remnant, p. 9-34
(f5) Ibid., p. 26
(f6) The Revd. Eric S. Gabe, The Hebrew Christian Movement in Kishineff, International Messianic Jewish [Hebrew Christian] Alliance, No 3, Vol LX, p.87
(f7) Ibid., p. 88-89
(f8) Op.Cit., Return of the Remnant, p. 29-30
(f9) Ibid., p. 31-33
(f10) Ibid., p. 33
(f11) Ibid., p.34
(f12) [url=http://www.ynca.com]www.ynca.com[/url]

Sumber: www.mesianic.com

PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.

Bukankah inti dari semua diatas tersebut adalah berasal dari protestantisme?
:slight_smile:

Jikalau memang bukan dari protestantisme, coba tunjukan suksesi Rasuliah yang dimiliki oleh seluruh Gereja semesta, baik di Barat maupun di Timur, dari Roma, Aleksandria, sampai Siria.

Monggo, dipersilaken…

Bro, ada pendapat seperti dibawah ini:

Inilah saatnya kekuatan pengaruh Yunani mulai terdesak oleh pengaruh Ibrani.

Jika kita mau melihat pada Firman Tuhan, kita akan sadar bahwa akar kekristenan itu berasal dari Ibrani (Yokhanan/ Yohanes 4:22) namun sangat disayangkan karena ternyata wajah ke kristenan itu sudah berwajah Yunani, bahkan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Jika kita mau melihat pada Firman Tuhan, kita akan sadar bahwa akar kekristenan itu berasal dari Ibrani (Yokhanan/ Yohanes 4:22) namun sangat disayangkan karena ternyata wajah ke kristenan itu sudah berwajah Yunani, bahkan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Bapa Yahweh dianggap sebagai idiologi Yahudi yang tidak perlu di ikuti karena karena Kristen itu bukan Yahudi, dan yang lebih memprihatinkan adalah mereka menolak aturan yang ditetapkan oleh Bapa Yahweh, tetapi malah menyerap idiologi paganisme, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aturan dan ketetapan yang Bapa Yahweh tetapkan. Sungguh sangat ironis sekali.

Namun demikian Bapa Yahweh tidak menghendaki dan membiarkan wajah kekristenan terus-menerus berwajah Yunani, tetapi harus kembali berwajah Ibrani. Coba perhatikan nubuatan yang terdapat dalam Zakharia 9:13 “KI DARAKTI LI YEHUDAH QESET MILLE’TI EPRAYIM WE ORARTI BANAYIK SIYYON AL BANAYIK YAWAN WESAMTIK KEHEREB GIBBOR” <Sebab Aku melentur Yehuda bagi-Ku, busur Kuisi dengan Efraim, dan Aku mengayunkan anak-anakmu, hai Sion, terhadap anak-anakmu, hai Yunani, dan Aku akan memakai engkau seperti pedang seorang pahlawan.>

Coba perhatikan kata “hai Sion, “TERHADAP” anak-anakmu, hai Yunani…” Kata “TERHADAP” sangat tidak tepat, terjemahan yang benar adalah “MELAWAN/ MENGHANCURKAN”. Coba perhatikan… Zakharia bernubuat pada tahun 511 sebelum Masehi, dan kebangkitan Yunani (masuknya ajaran Helenis kedalam kitab suci kita) terjadi sekitar tahun 400 sebelum Masehi, dan yang sekarang sedang dalam penggenapan. Ternyata Tuhan memakai kehidupan orang-orang Efraim dan anak-anak Sion melalui kekuatan Yehuda (Yeshua berasal dari suku Yehuda). Yehuda sebagai kekuatannya, sedangkan Efraim itu yang pergi bersama anak-anak Sion melawan/ menghancurkan kekuatan anak-anak Yunani.

Coba sekarang kita terhatikan ayat berikut ini: Bamidbar/ Bilangan 15:15-16 “Haqqahal huqqah ahat lakem welagger haggar huqqat olam ledorotekem kakem kagger yihyeh lipne yahweh, Torah ahad umispat ehad yihyeh lakem welagger haggar ittekem” dalam ayat ini mengandung arti kalau orang-orang Goyim dan Israel itu memiliki peraturan “Satu Torah”, dan Torah merupakan “KUKIM” atau ketetapan undang-undang dasar yang tidak bisa diubah, sedangkan peraturan adalah “Mistakim” yaitu seuatu aturan yang bisa berubah sesuai dengan kondisi dan keadaan. Sekarang apa kaitannya ayat ini dengan Zakharia 9:13? Suatu kesatuan antara orang-orang Israel (Anak-anak Sion) dan orang-orang Goyim (saudara dan saya, orang2 non Yahudi, yang ada dalam kelompok Efraim) yang akan menyerang pengaruh Yunani khususnya pengaruh Helenisme, melalui kekuatan Yehuda (Akar Yahudi). Efraim itu yang melebur dengan bangsa-bangsa yang istilahnya adalah orang-orang Kristen.

Efraim yang memimpin pemberontakan pada waktu Salomo mati sehingga kerajaan terpecah menjadi dua.
Efraim mewakili 10 suku yang terserak keseluruh penjuru dunia dan mereka sudah bercampur dengan orang-orang goyim (Non Yahudi).

Gerakan orang-orang Nasrani (Goyim) kembali ke akar Ibrani (Zakharia 8:23). dan KUKIM (Ketetapan undang-undang dasar) itu sudah hilang. Sekaranglah saatnya gerakan Yunani akan terdesak oleh kekuatan pemulihan segala sesuatu. Cepat atau lambat kekuatan pengaruh Yunani akan segera musnah. PERCAYALAH ! dan andalah orang-orang yang akan dipakai oleh Bapa Yahweh untuk menggenapi nubuatan ini, Anda bersedia? atau anda ada pada kubu Yunani yang akan terdesak. Pilihan ada pada anda sendiri.

Sumber: Lukas; Alfaomega-mesianik-centre.

Sis, bagi saya “nubuatan” seperti itu amat sangat spekulatif. Anda sama sekali tidak menanggapi perkataan Rav Shaul,

Rom 10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

Kenapa anda tidak menyebutkan sekalian krisis ekonomi Yunani saat ini untuk semakin menguatkan “nubuatan” semacam yang anda berikan itu? :slight_smile:

Benar bahwa Yunani pada masa Daniel dan sesudahnya sangatlah dibenci oleh orang Yahudi, bahkan sampai pada zaman Yesus. Namun herannya, bahasa yang dipakai untuk menuliskan kanon PB adalah bahasa Yunani. Yesus sendiri tidaklah pernah membeda-bedakan antara orang Yahudi dan Yunani. Baginya semua sama saja. Manusia yang Dia kasihi.

Dari sisi ini saja saya bisa melihat bagaimana gerakan Yudaisme Mesianik ini begitu mengkotak-kotakkan manusia dan mengunggulkan ras Semit, terutama Yahudi, sebagai yang nomor wahid. Dulu Arab dipojokkan, sekarang tambah Yunani… :smiley:

Sebaliknya, kekristenan Orthodox, maupun Katolik Roma dan Protestantisme main stream, tidak mengkotak-kotakkan manusia seperti itu. Para Bapa Gereja tidak mengkotak-kotakkan suku maupun ras seperti itu. Dan saya bangga bahwa Yeshua HaMashiakh yang saya sembah, juga tidak berperilaku eksklusif seperti para Yahudi Mesianik hari ini.
:slight_smile:

Menuju kemanakah gerakan Mesianik Yahudi ini jika bukan kepada pembangunan kembali Beth Elohim yang ke 3?
:slight_smile:

Kok anda berpikiran seperti itu ? Justru yang kearah sana adalah Islam-Mesianik.

Bro ada pertanyaan: mengapa jika Yahshua adalah Mesias Yahudi, kita tidak menemukan jejak atau ekspresi Keyahudian dalam ekspresi ibadah maupun ungkapan pokok-pokok iman kita? Sebaliknya, justru kita melihat berbagai ekspresi penghayatan yang bersifat Eropa, Amerika, Yunani tentang Yahshua dalam komunitas-komunitas Kristen. Ekspresi-ekspresi ibadah dan ungkapaan iman tersebut nampak dalam hal-hal berikut: Perayaan Christmass yang sarat dengan konsumerisme, perayaan Easter yang sarat dengan kegiatan pernak-pernik mewarnai telur, Ibadah hari Minggu sebagai pertemuan ibadah kekristenan, kontroversi penggunaan istilah Trinitas dalam konsep Ketuhanan, ketiadaan syariah agama, yang terekspresi dalam berbagai bentuk kebebasan dalam memakan segala makanan, kebebasan dalam menggunakan pakaian, ketiadaan tertib tertentu dalam berdoa dan menghadap Tuhan, dll.

Sebelum kita mendalami lebih jauh hilangnya ekspresi Keyahudian yang seharusnya dimiliki pengikut Mesias diseluruh dunia, marilah kita mendalami lebih jauh mengenai Keyahudian Yahshua. Dengan menyatakan aspek Keyahudian Yahshua, bukan berarti kita meniadakan aspek Ontologis Yahshua sebagai Sang Firman yang menjadi manusia, namun kita hendak mendalami aspek Anthropologis Yahshua sebagai Firman yang menjadi Manusia. Manusia Elohim itu lahir dalam konteks ruang dan waktu, yaitu Yerusalem yang dijajah dan dikuasai Pemerintahan Romawi. Konteks kebudayaan dan keagamaan tertentu, yaitu Yahudi dan Yudaisme. Firman yang menjadi manusia demi tugas penyelamatan dunia dan manusia, demi memperdamaikan perseteruan antara manusia dengan Elohim itu, tidak lahir dalam ruang kosong yang bersifat metahistoris. Dia datang dalam suatu lingkup kehidupan, peradaban dan kebudayaan serta peradaban Yahudi dan Yudaisme.

NUBUAT MENGENAI “KENAF” DAN “ISH YEHUDI”
DALAM ZAKHARYAHU 8:23

Kedatangan Mesias yang dijanjikan oleh Yahweh Bapa Surgawi, Sang Pencipta Semesta, melalui mulut para nabi, sangat intensif disebutkan dalam TaNaKh. Salah satu dari nubuat tersebut memberikan identifikasi mengenai GARIS ETNIS Mesias. Dalam ZakharYahu 8:21-23 dikatakan:

Beginilah firman Yahweh Semesta Alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Yahweh dan mencari Yahweh Semesta Alam! Kami pun akan pergi! Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari Yahweh Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati Yahweh." Beginilah firman Yahweh semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Elohim menyertai kamu!"

Frasa "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi…” dalam teks Ibrani berbunyi sbb: : “Bayamim hahemmah asher yakhziqu asyarah anashim mikol leshonot hagoyim wehekheziqu biknaf ish Yehudi…”. Ada dua kata penting dalam ayat 23,yaitu “punca jubah” [kenaf] dan “orang Yahudi” [Ish Yehudi].

Apa yang dimaksudkan dengan kata “kenaf?” Istilah punca jubah, akan dipahami maknanya, jika kita memahami latar belakang perintah Yahweh bagi Bangsa Yishrael dalam Sefer Bamidbar/Bilangan 15:37-40 sbb:

“Yahweh berfirman kepada Moshe: "Berbicaralah kepada orang Yishrael dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah Yahweh, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap Yahweh. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Elohimmu.

Frasa “jumbai-jumbai pada punca baju mereka” dalam teks Ibrani berbunyi, “tsit-tsit al kanfey bigdeyhem” dan frasa “jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan” dalam teks Ibrani berbunyi, “al tsit-tsit hakanaf petil tekhelet” . Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana bentuk “Tsit-tsit”, silahkan memperhatikan gambar berikut:

Tsit-tsit tersebut dalam bentuk modern, biasanya dirangkai dengan syal atau jubah yang dinamakan Tallit, sebagaimana di bawah ini.

Dan jika dipakai lengkap oleh seorang Yahudi modern, entahkah dia seorang Rabbi atau bukan Rabbi, akan terlihat demikian.

Dari pemaparan di atas dengan disertai ilustrasi, kiranya memudahkan Anda memvisualisasikan sosok manusia Ibrani yang menggunakan Tsit-Tsit. Fungsi Tsit-tsit adalah untuk [uzekartem et kol mitswot Yahweh] mengingat seluruh perintah-perintah Yahweh untuk kemudian didorong melakukannya [lema’an tizkeru weasyitem et kal mitsotaiw].

Dengan latar belakang mengenai arti dan penggunaan “Tsit-tsit” pada “kanaf” atau ujung tepi jubah atau pakaian pada tiap-tiap Bangsa Yishrael, maka kita dapat memahami apa yang dimaksudkan dengan kata “punca jubah” [Kanaf] dalam ZakharYahu 8:23, bahwa bangsa-bangsa non Yahudi akan memegang Tsit-tsit tersebut. Ini menubuatkan bahwa bangsa non Yahudi [Goyim] akan mengikuti kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Yishrael pada umumnya dan suku Yahudi khususnya. Keselamatan pertama-tama ditujukan bagi Bangsa Yishrael itu sendiri, kemudian diperluas kepada bangsa-bangsa lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan “Ish Yehudi?” Dialah Mesias yang dijanjikan. Ketika Yahshua datang dan berkarya di bumi Palestina dan kembali duduk di sebelah kanan Bapa serta kisah kehidupan dan ucapan atau ajaran-Nya dituliskan dalam keempat Besorah [Injil], teranglah bahwa tokoh yang dimaksudkan adalah Yahshua sendiri. Yahshua adalah “Ish Yehudi” yang diamksudkan dalam Zakharyahu 8:23.

BUKTI-BUKTI BAHWA YAHSHUA ADALAH ISH YEHUDI

Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yahshua adalah “Ish Yehudi?” Pertama, garis silsilah Yahshua [Mat 1:1-17, Luk 3:23-28]. Silsilah yang dilaporkan oleh MatitYahu mengambil garis Yahshua dari Shelomo anak Dawid, Raja Yishrael [Mat 1:6] dan jika ditarik terus ke atas, sampailah pada leluhur Mesias, yaitu Yahuda yang merupakan anak Ya’aqov, anak Yitskhaq, anak Avraham, sebagai anak pewaris perjanjian kekal Yahweh dengan keturunan Avraham. Sementara silsilah yang dilaporkan Lukas mengambil garis dari Nathan anak Dawid yang lain [Luk 3:32], hingga sampai Avraham dan terus sampai kepada Adam. Asal-usul kesukuan Yahshua ditegaskan kembali dalam Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tu[h]an kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”.

Kedua, gaya berpakaian yang mencirikan seorang Yahudi. Dilaporkan dalam MatitYahu 9:20, “Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan [zavat dam] maju mendekati Yahshua dari belakang dan menjamah jumbai [biknaf] jubah-Nya”. Apa yang dimaksudkan dengan “jumbai jubah-Nya?” Itulah ujung tepi jubah dimana terikat Tsit-tsit yang mencirikan seorang laki-laki Yahudi berpakaian. Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang Yahudi atau Goyim, namun nubuatan ZakharYahu secara tidak langsung genap dalam diri Yahshua.

Ketiga, Mengalami prosesi Brit Millah atau Sunat pada hari ke delapan, sesuai Torah, sebagai bagian dari tanda fisik perjanjian antara keturunan Avraham dengan Yahweh Semesta Alam. Lukas 2:21-24 melaporkan, “Dan ketika genap delapan hari dan Dia harus disunatkan [lehimol], Dia diberi nama Yahshua, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Dia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran [tahoram], menurut Torah Moshe, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Yahweh, seperti ada tertulis dalam Torat Yahweh: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Elohim”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam Torat Yahweh, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Keempat, mengalami prosesi Bar Mitswah. Bar Mitswah didefinisikan sebagai:

“A Jewish ceremony which takes place on the Sabbath after a boy’s thirteenth birthday. During this initiation rite the Bar Mtswah boy reads publicly in Hebrew from the scroll of the Torah for the first time and accepts the commandements of his faith; the words ‘Bar Mitswah’ actualy mean ‘Son of a Commandement’. From this moment onwards, he is seen as a responsible adult and as a member of the religious community. Girls can take part in a similar ceremony, known as Bat Mitswah”[f1].

Artinya, upacara Yahudi yang di letakkan pada Hari Sabat, setelah anak lelaki berusia tiga belas tahun. Selama upacara peneguhan Bar Mitswah ini, anak lelaki membaca gulungan Torah di hadapan orang banyak, dari bahasa Ibrani Abad Pertama dan menerima perintah-perintah sesuai keyakinannya; kata Bar Mitswah sesungguhnya bermakna Putra Perjanjian. Dari kata ini kemudian dia dipandang sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dan sebagai anggota dari komunitas keagamaan. Anak-anak wanita dapat mengambil bagian upacara yang sama yang dikenal dengan sebutan Bat Mitswah.

Dari penjelasan di atas, kita melihat dalam Lukas 2:41-52, di mana Yahshua mulai muncul pada usia 12 tahun dan kemunculan di usia 12 tahun itu dimulai di Bait Suci, saat kedua orang tuanya melaksanakan perayaan tahunan Pesakh. Dalam terjemahan versi Orthodoxs Brit Khadasha dikatakan demikian,

“And his horim (parents) used to make aliyah leregel (pilgrimage) to Yerushalayim shanah bshanah (year by year) for Chag HaPesach (the Feast of Pesach). [SHEMOT 23:15; DEVARIM 16:1-8]. And when he became a bocher of twelve years of age, they made aliyah leregel (pilgrimage), as usual, according to the mitzvah and minhag of the Chag” [f2].

Kedatangan orang tua Yahshua ke Yerusalem merupakan suatu perjalanan ziarah ke Yerusalem [aliyah] setiap tahun yang jatuh pada Perayaan Pesakh. Lebih jauh lagi Bambang Noorsena memberikan komentar,

“Mengapa [Yahshua] muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman [Yahshua] begitu penting. Seorang anak-anak lelaki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut Bar Mitswah [anak Hukum]. Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Fir’aun. Pada usia yang sama Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi dan Salomo mulai menerima hikmat [Elohim] dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem” [f3]

Fakta ini menuntun kita pada suatu pemahaman terhadap latar belakang kebudayaan dan keagamaan Yahudi Abad Pertama. Dan Yahshua lahir dan hidup dalam konteks keagamaan dan kebudayaan tersebut.

Kelima, membaca Torah dan beribadah Sabat. Dikatakan dalam Lukas 4:16, ”Da datang ke Nazaret tempat Dia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Dia masuk ke Sinagog, lalu berdiri hendak membaca dari Gulungan Kitab”. Yahshua melakukan Aliyah [menaikkan Torah] di Sinagog Yahudi yang jatuh pada tiap hari Shabat. Jika kita membaca terjemahan Orthodox Brit Khadasha, akan nampak idiom-idiom Yahudi dalam teks tersebut sbb:

“And he came to Natzeret, the shtetl of his guddal (being brought up) and he entered according to his minhag on Yom HaShabbos into the shul and was given an aliyah as the Baal Koreh. [After the Hagbah], Rebbe, Melech HaMoshiach was presented with the megillat sefer Yeshayah and having unrolled the megillah, Rebbe Melech HaMoshiach found the dvar where it had been written”3

Perhatikan kata-kata kunci seperti “shul” atau persamaan untuk Sinagog. Istilah “Baal Koreh” nama lain bagi Kitab Suci. Lalu istilah “megillat sefer YeshaYah” atau gulungan Kitab Suci nabi YeshaYah. Fakta ini menjelaskan bagaimana tradisi dan penghayatan keagamaan pada saat itu yang menghormati Kitab Suci yang setara dengan kehadiran Yahweh sendiri dan memiliki tata cara tersendiri dalam memperlakukannya. Jika kita proyeksikan gambaran Yahshua membaca Torah di Sinagog kurang lebih sbb:

Keenam, melaksanakan Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya yang ditetapkan Yahweh. Sheva Moedim artinya Tujuh Hari Raya yang merupakan ketetapan Yahweh [Imamat 23:1-44]. Sheva Moedim bukan hanya merupakan perayaan panen, namun suatu perayaan momentum perbuatan Yahweh bagi umat-Nya di masa lalu serta perayaan yang bersifat propetik Mesianik. Nama ketujuh Hari Raya tersebut adalah: Pesakh , Hag ha Matsah [Roti Tidak Beragi], Hag Sfirat ha Omer [Buah Sulung], Hag Shavuot [Pentakosta], Hag Rosh ha Shanah/Yom Truah [Tahun Baru/peniupan Sangkakala], Hag Yom Kippur [Pendamaian] dan Hag Yom Sukkot [Pondok Daun].

Dari ketujuh Hari Raya tersebut, ada tiga Hari Raya besar yang diperingati setiap tahun dengan berkumpul di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot [Ulangan 16:16-17]. Kitab Perjanjian Baru [Brit ha Khadasha] mencatat tiga perayaan penting tersebut dihadiri oleh Yahshua, baik saat Yahshua mulai beranjak remaja maupun sudah mulai dewasa dan melakukan karya Mesianik-Nya. Yahshua menghadiri Perayaan Pesakh bersama kedua orang tua-Nya [Luk 2:41-42]. Yahshua merayakan Sukkot bersama murid-murid-Nya [Yoh 7:1-13].

Kesimpulan apakah yang dapat kita peroleh setelah kita melakukan induktifikasi data sebagaimana telah dilakukan di atas? Bahwasanya Yahshua, secara genealogis antropologis dan sosiaologis merupakan seorang Yahudi sejati. Keyahudian tersebut dinampakkan dalam gaya berpakaian dan sikap keagamaan yang bersifat Yudaistik. Kesimpulan ini sejalan dengan kesimpulan yang dibuat Anton Wessel sbb:

“[Yahshua] bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwaq orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa ‘keselamatan datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan [Yahshua] di sumur dengan perempuan Samaria itu [Yoh 4:22]” [f4].

Footnote:

* [f1] : Richard Kennedy, The Dictionary of Beliefs: An Ilustrated guide to world religions and beliefs, Ward Lock Educational, 1984, p. 29
* [f2] : The Orthodox Jewish Brit Chadasha © 1996 by Artists For Israel International New York, New York 10163. All rights reserved
* [f3] : Menuju Dialog Teologis Kristen & Islam, Yogyakarta: ANDI Offset, 2001, hal 113
* [f4] : Memandang Yesus : Gambar Yesus Dalam Berbagai Budaya, Jakarta : BPK, 1990, hal 19

Sumber : PDT. TEGUH HINDARTO, MTH

Anda berusaha menyudutkan saya dengan statement seperti itu, namun saya punya pendapat bahwa Kekristenan dimulai dari Israel, oleh sebab itu kita kembali ke akar yang sebenarnya.

Elohim sayang kepada Arab, Yunani dan semua bangsa, namun perlu diketahui bahwa ada perjanjian khusus kepada Abraham khususnya yang merupakan anak perjanjian yaitu Israel, oleh sebab itu Arab, Yunani, ataupun siapa saja harus menghormati dan mencangkokkan diri kepada Israel, karena Israel lah pokok anggur yang benar bukan Arab atau Yunani.

Bangsa Arab, Yunani ataupun bangsa-bangsa lainnya menjadi tercakup rencana keselamatan Elohim oleh karena Israel yang disayangi oleh Elohim sedang jatuh tersandung, Dia yang begitu menyayangi Israel tega membiarkan Israel jatuh dalam kurun waktu tertentu, apalagi kita ini yang bukan keturunan Israel.

Masih beranikah kita bermegah dihadapan Elohim oleh karena keturunan kita ???

Shalom.

Bro Roderick, apakah ada dasarnya mempertahankan akar Yunani ataupun akar Arab ?

Dibawah ini adalah alasan back to hebraic-roots.
Gereja Tercerabut Dari Akar Ibrani ???
AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU: Pemahaman Tentang Kembali Ke Akar Ibrani [Rm 11: 16-24]

MENGAPA KEMBALI KE AKAR IBRANI?

Akhir-akhir ini, istilah “Back to the Hebraic Root”, [Kembali ke Akar Ibrani] telah menjadi suatu istilah yang fenomenal dan bersifat khusus dikalangan Kekristenan. Namun tidak banyak orang Kristen yang memahami betul essensi dibalik istilah tersebut. Kebanyakan hanya memahaminya sebatas mempersoalkan penggunaan nama sesembahan agama lain yaitu Allah yang tercantum dalam Kitab Suci Kristiani dan menuntut penyebutan nama Yahweh sebagai nama sesembahan yang benar. Demikian pula penggunaan nama Mesias yaitu “Yahshua” atau “Yeshua”, dibandingkan dengan “Yesus”. Apakah demikian batasan “Back to the Hebraic Root?” Kajian berikut hendak mengupas secara seksama essensi “kembali ke akar Ibrani”, sebagai bagian dari agenda pembaruan gereja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Yang menjadi persoalan adalah, mengapa gereja sebagai komunitas umat beriman yang memenuhi panggilan keselamatan Mesias, perlu untuk kembali ke akar Ibrani? Paling tidak, ada beberapa alasan mendasar yang dapat kita telusuri sbb :

Gereja berakar pada Yudaisme. Kekristenan bukan suatu agama baru melainkan salah satu sekte dalam Yudaisme yang dinamakan Sekte Netsarim [Kis 11:19; 24:5]. Kesaksian sejarawan Epiphanius dalam bukunya yang berjudul Panarion menuliskan:

“But these sectarians…did not call. They use not only the New Testament but the Old Testament as well, as the Jews do…They have no different ideas, but confess everything exactly as the law proclaims it and in the Jewish fashion-except for their belief in Messiah, if you please! For they acknowledge both the resurrection of the dead and the divine creation of all things, and declare that God is one, and that his son is Yahshua the Messiah. They are trained to a nicety in Hebrew. For among them the entire Law, the Prophets and the Writings are read in Hebrew as they surely are by the Jews. They are different from the Jews and different from Christians, only in the following. They disagree with Jews because they have come to faith in Messiah; but since they are still fettered by the Law-circumcicion, the Sabbath and the rest-they are not in accord wirh Christians…they are nothing but Jews…They have the Goodnews according to Matthew in its entirety in Hebrew. For it is clear that they still preserve this, in the Hebrew alphabet, as it was originally written”.1

[Namun sekte ini…tidak menyebut diri mereka sendiri sebagai Kristen, melainkan Nazarene…akan tetapi, mereka seutuhnya adalah orang-orang Yahudi. Mereka tidak hanya menggunakan Kitab Perjanjian Baru namun juga Kitab Perjanjian Lama sebagaimana mestinya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi…Mereka tidak memiliki pemikiran yang berbeda namun mengakui segala sesuatu secara jelas sebagaimana Hukum menerangkannya dan dalam pola pikir Yahudi-terkecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias, jika engkau berkenan! Sebab mereka mengakui baik kebangkitan orang mati maupun penciptaan ilahi segala sesuatu, serta keesaan Elohim dan Putra-Nya Yahshua ha Mashiah. Mereka dilatih secara menyenangkan dalam bahasa Ibrani. Bagi mereka, baik Torah, Kitab Para Nabi dan Tulisan hikmat dibaca dalam bahasa Ibrani sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahusi pada umumnya. Mereka berbeda dengan orang-orang Yahudi maupun dengan orang-orang Kristen, hanya dalam cara pelaksanaanya saja. Mereka tidak sependapat dengan orang Yahudi dikarenakan mereka beriman pada Mesias; namun dikarenakan mereka tetap mengikatkan dirinya melalui Torah – sunat, Sabat dan hari perhentian – mereka tidak termasuk dalam Kristen…mereka adalah orang-oraang Yahudi…Mereka memiliki Kitab Kabar Baik menurut Matius yang keseluruhannya berbahasa Ibrani. Hal ini jelas bahwa mereka memelihara kitab ini, dalam aksara Ibrani sebagaimana ditulis sejak semula]

Senada dengan keterangan diatas, Ray A. Pritz menjelaskan:

“The name Nazarene was at first applied to all Jewish followers of Jesus. Until the name Christian became attached to Anthiochian non Jews, this meant that the name signified the entire Church, not just a sect. So also in Acts 24:5 the reference is not to a sect of Christianity but rather to the entire primitive church as a sect of Judaism”.2 [Nama Nazarene pada mulanya disematkan pada semua pengikut Yahshua yang merupakan orang-orang Yahudi. Sampai akhirnya nama Kristen menjadi bagian yang dikenakan pada orang non yahudi di Anthiokia, istilah ini dimaksudkan bagi keseluruhan gereja dan bukan hanya sebatas suatu sekte. Demikianlah dalam Kisah Rasul 24:5, petunjuk ini tidak mengindikasikan suatu sekte Kristen melainkan seluruh gereja purba sebagai sekte dari Yudaisme].

Sekte ini berpusatkan pada ajaran Yahshua yang dipercaya sebagai Nabi, Mesias dan Putra Yahweh sendiri. Ada beberapa sekte dalam Yudaisme pada Abad I Ms, spt. “Farisi”, “Saduki”, “Esseni”, “Zealot”. Secara umum, tidak ada perbedaan diantara Sekte Netsarim dengan Yudaisme pada umumnya, baik dalam Emunah, Avodah maupun Halakhah. Yang membedakan adalah pemahaman tentang siapa Yahshua itu? Apakah Dia Mesias yang dijanjikan atau hanya seorang anak tukang kayu?

Abad ke-II Ms, merupakan suatu era titik balik dalam sejarah gereja. Terjadi perpindahan dari teologi Palestina yang kongkrit menuju Teologi Greek yang abstrak.3 Hal ini terjadi dikarenakan semakin banyaknya bangsa non Yahudi yang menerima Mesias, oleh pemberitaan para rasul. Dalam perkembangannya, gereja semakin menjauh dari akar ibrani. Realita ini memuncak pada saat Kaisar Konstantin naik tahta menjadi Raja dan mengubah status Kekristenan dari “religio ilicita” [agama yang tidak sah] menjadi “religio licita” [agama yang sah]. Peristiwa ini terjadi pada tahun 312 Ms bersamaan dengan dikeluarkannya Edik Milano, dimana Kekristenan diubah menjadi agama negara dan orang-orang Kristen Roma diberi kebebasan penuh dalam melaksanakan peribadahan.3 Semenjak Konstantin dan seterusnya, gereja non Yahudi semakin menjauh dari akar Ibrani bahkan cenderung membenci keberadaan Yahudi, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan David Rausch, “The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish people early in its history”4 [Gereja non Yahudi mengklaim menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat Yahudi dalam sejarahnya]

Footnote:
f1: DR. James Scott Trimm, What Is Nazarene Judaism?, 1997, www.nazarene.com
f2: Nazarene Jewish Christianity, Leiden: E.J. Brill, 1988, p.15
f3: Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, BPK 1994, hal 51
f4: Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, Grand Rapids Michigan : William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p.105

GEREJA TERCERABUT DARI AKAR IBRANI SELAMA 2000 TAHUN, SEHINGGA MENGALAMI DISORIENRASI SEJARAH
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.

Justru saya menangkap bro Roderick cenderung Anti-semitisme serta pro Helenistik ???

PENGARUH ANTI SEMIT YANG BERKEMBANG SEJAK KEKRISTENAN ROMAWI PRA/PASKA KONSTANTIN

Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwasanya sejak Abad ke-II Ms dan seterusnya, terjadi berbagai perubahan dalam tubuh gereja, khususnya dikalangan non Yahudi. Berbagai literatur para bapa gereja non Yahudi sarat dengan serangan-serangan dan kutukan-kutukan serta menyudutkan keberadaan orang-orang Yahudi yang dianggap telah menyalibkan Mesias. Berbagai tulisan tadi mencerminkan sikap yang paling awal mengenai fenomena yang kelak diistilahkan dengan “Anti Semitisme”. Sikap-sikap Anti Semit semakin menjauhkan gereja dari akar keyahudiannya.

DAMPAK TEOLOGI HELENIS TERHADAP PENAFSIRAN KITAB SUCI

Dalam sejarah gereja, tercatat bahwa ada dua sekolah teologi berpengaruh dikalangan non Yahudi, yang berpusat di Anthiokia dan Alexandria. Kedua wilayah ini memiliki pola berteologia yang berbeda. Alexandria cenderung bersikap alegoris [tafsiran terhadap lambang] dalam menafsirkan Kitab Suci sementara Anthiokia bersikap Literal [tekstual]. Mereka menerima pola penafsiran warisan Bangsa Greek yang disebut Hermeneutika yang memiliki berbagai metoda.

Salah satu metode Hermenutik adalah tafsiran alegoris. Tafsir alegoris ini cenderung menyudutkan posisi Israel secara historis yang tertulis dalam TaNaKh, hanya sebagai simbol atau lambang dari Israel sejati, yaitu gereja. Pola penafsiran ini, kelak melahirkan istilah “Replacement Theology” [Teologi pengganti]. Israel diposisikan sebagai bangsa yang telah gagal memelihara perjanjian dengan Yahweh, sehingga Yahweh melimpahkan perjanjian yang baru dengan gereja, sebagaimana dijelaskan oleh Hal Lindsey:

“Using this method of interpretation [allegorical], Church theologians began to develop the idea that the Israelites had permanently forfeited all their covenants by rejecting Jesus as the Messias. This view taught that these covenant now belong to the Church and that it is the only true Israel now and forever. The view also taught that the Jews will never again have a future as a Divinely chosen people, and that the Messiah will never establish His Messianic Kingdom on earth that was promised to them [the Jews] (f5).
[Penggunaan metode penafsiran ini {alegori}, para teolog gereja mulaai mengembangkan gagasan bahwa Israel telah kehilangan selamanya semua perjanjian yang mereka miliki dengan menolak Yahshua sebagai Mesias. Pandangan ini mengajarkan bahwa perjanjian ini dilanjutkan pada Gereja sebagai Israel rohani untuk selama-lamanya. Pandangan ini juga mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi tidak akan memiliki masa depan kembali, sebagai anak-anak pilihan Elohim dan bahwasanya Mesias tidak akan pernah mendirikan Kerajaan Mesianik di bumi yang telah dijanjikan pada mereka].

[b]DAMPAK TEOLOGI HELENIS DALAM PENERJEMAHAN KITAB SUCI

[/b]
Teologi Kristen yaang mewarisi alam pemikiran Helenisme [Yunanisasi] yang serba abstrak dan rasionalistik, berpengaruh terhadap berbagai penerjemahan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa non Yahudi. Sebagai contoh, dalam Kitab Suci terjemahan berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia [LAI], banyak ditemui berbagai penerjemahan yang buruk yang dipengaruhi cara berteologi yang Helenistik.

Beberapa contoh terjemahan yang buruk al. “Hukum Torat & Kitab Para Nabi berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis”“Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Torat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” [Roma 10:4]. Demikian pula dikatakan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan Hukum Taurat” [Rm 13:10]. Mengenai Torah dan Kasih Karunia, dikatakan, “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” [Yoh 1:17].

Mengenai Sabat dijelaskan, “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Dia meniadakan hari Sabat,…”[Yoh 5:18]. Dalam perbincangan mengenai adat istiadat Yahudi, dikatakan, “…karena bukan masuk kedalam hati tetapi kedalam perutnya, lalu dibuang dijamban? Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” [Mark 7:19].

Yang sangat mengejutkat mengenai pembatalan Torah, “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia, Dia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru didalam diri-Nya” [Ef 2:15].

Demikian pula mengenai terjemahan Kitab Ibrani, “Oleh karena Dia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Dia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya” [Ibr 8:13].

Beberapa kutipan kalimat yang digarisbawahi merupakan terjemahan yang keliru dan bias yang dipengaruhi asumsi tertentu mengenai keberadaan Torah yang tidak memiliki relevansi dalam Perjanjian Baru. Beberapa teks yang keliru akan menjadi topik bahasan dalam bab-bab selanjutnya dari tulisan ini.

Footnote: f1: The Road to Holocaust, New York: Bantam Books, 1989, p.8

In [u][b]the 4th century Jerome[/b][/u] also refers to Nazarenes as those "...who accept Messiah in such a way that they do not cease to observe the old Law." In his Epistle 79, to Augustine, he said: "What shall I say of [u][b]the Ebionites who pretend to be Christians[/b][/u]? To-day there still exists among the Jews in all the synagogues of the East a heresy which is called that of the Minæans, and which is still condemned by the Pharisees; [its followers] are ordinarily called [u][b]'Nasarenes'[/b][/u]; they believe that Christ, the son of God, was born of the Virgin Mary, and they hold him to be the one who suffered under Pontius Pilate and ascended to heaven, and in whom we also believe. [u][b]But while they pretend to be both Jews and Christians, they are neither."[/b][/u]
St Jerome :)

Bro Roderick, kamipun mengasihi bangsa-bangsa Non Israel apalagi ELOHIM yang aku sembah didalam nama Yahshua Hamasiakh pun mengasihi bangsa-bangsa non Israel, jadi pendapat bro tidaklah benar.
ELOHIM menggiring bangsa-bangsa kepada Mesias Ibrani, bro bukan Mesias yang dari Arab (Mr. M ?) ataupun bukan Mesias dari Yunani (???).

MENGGENAPKAN RENCANA YAHWEH TENTANG PETOBATAN BANGSA-BANGSA KEPADA MESIAS IBRANI [Zak 14:12]

Beberapa teks dalam Kitab Zakharia memberikan petunjuk profetik mengenai suatu kondisi waktu dimana Israel yang telah menolak Mesias dan bangsa-bangsa akan mendapatkan keselamatan dengan episentrum Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik. Disebutkan dalam Zakharia 8:20-23,

“Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Yahweh dan mencari Yahweh Semesta Alam! Jadi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari Yahweh Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati Yahweh. Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Pada waktu itu sepuluh orang akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa ELOHIM menyertai kamu”.

Disebutkan pula dalam Zakharia 12:10, :

”Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam dan akan meratapi dia seperti meratapi anak tunggal dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang meratapi anak sulung”.

Tidak kurang pentingnya mengenai masa tersebut, sebagaimana dikatakan dalam Zakharia 14:8-9,16:

“Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem;setengahnya mengalir ke laut timur; dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. Maka Yahweh akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu Yahweh adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satu-Nya…Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, Yahweh Semesta Alam dan untuk merayakan Hari Raya Sukkot [Pondok Daun]”.

Beberapa pernyataan profetik tersebut memberikan suatu sinyal peringatan bahwa ibadah Yudaik yang berpusatkan pada Yahweh Semesta Alam yang telah mengutus Mesias, Putra-Nya Yang Tunggal akan segera dan sedang terjadi menjelang akhir zaman. Tentunya kita sebagai bagian dari tubuh Mesias dibumi, ingin terlibat dalam penggenapan rencana ELOHIM tersebut dan mengambil bagian dalam rencana-Nya yang sedang dan akan digenapi secara utuh.

Thanks bro Yopi, bisa bantu lebih detail ??? Agak puyeng dikit nih. He He He…

APA ITU AKAR IBRANI? Dalam tulisan berikut, penulis akan mengulas batasan “Kembali ke Akar Ibrani”, dalam dua sudut pandang. Dengan menggunakan pendekatan negasi dan konfirmasi. Dengan menggunakan batasan tersebut, diharapkan pembaca dapat melihat dari dua sisi, sehingga memperoleh pemahaman yang tepat dan proporsional.

Bukan Yudaisasi

Kembali ke Akar Ibrani, bukan bermakna melakukan proses Yudaisasi. Apa itu Yudaisasi? Yudaisasi bermakna pemaksaan pola beragama Yudaisme sebagaimana dipraktekan oleh beberapa sekte keagamaan Yahudi baik di zaman pra Mesias [Farisi, Saduki,dll] maupun paska Mesias [Orthodox, Reform, Konservatif]. Sikap-sikap melakukan Yudaisasi, terekam dalam Kisah Rasul 15:1:

“Beberapa orang datang dari Yudea ke Anthiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara disitu: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan”.
Sikap beberapa sekte Farisi yang berusaha melakukan Yudaisasi ditentang oleh Rasul Paul dan Barnabas [Kis 15:2]. Persoalan ini akhirnya diselesaikan dalam sidang di Yerusalem dan menghasilkan beberapa keputusan penting untuk dilakukan oleh goyim [non Yahudi] setelah menerima Mesias [Kis 15:20-21]. Meskipun kembali ke akar Ibrani, mengadopsi nilai-nilai Yudaik, namun bukan bermakna secara telanjang melakukan Yudaisasi dalam berbagai bidang kehidupan orang beriman.

Bukan De-Yunanisasi

Ada kecenderungan kurang sehat akhir-akhir ini dikalangan komunitas yang mengklaim kembali ke akar Ibrani, yaitu menolak berbagai hal yang berbau Yunani dalam teks Kitab Suci. Penolakan berbagai pola penafsiran Kitab Suci yang bercorak Yunani yang telah secara berabad-abad diadopsi dalam berbagai seminari maupun sekolah Teologi. Menolak keberadaan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, mencerminkan amnesia sejarah dan kurangnya wawasan sejarah tentang keberadaan dan nilai historis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dalam memelihara iman dan mempertahankan keberadaan gereja saat ini.

Ketika Paul ada di Atena yang mewarisi nilai-nilai filsafat dan bahasa Helenis, dia memberitakan tentang Yahshua kepada filsuf-filsuf Atena. Ketika disampaikan mengenai kebangkitan orang mati dan Yahshua sebagai Mesias, beberapa orang menolak dan mengganggapnya memberitakan dewa-dewa asing [Kis 17:16-18] dan ditolak [Kis 17:32]. Namun sejumlah orang Yunani seperti Dionisius, majelis Areopagus serta wanita Yunani bernama Damaris menjadi percaya [Kis 17:34]. Apakah Dionisius dan Damaris akan berbagi imannya kepada teman maupun keluarganya dengan menggunakan bahasa Ibrani dan kitab suci berbahasa Ibrani? Tentu dia akan menggunakan bahasa Yunani dan paling tidak dia akan mengutip terjemahan kitab suci Septuaginta jika diluar Yerusalem. Orang-orang Yunani dan Romawi yang menjadi percaya, tentunya memiliki kerinduan untuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru dikemudian hari dalam bahasa Yunani dengan merujuk pada naskah berbahasa Ibrani-Aramaik.

Meskipun patut diakui bahwa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani bukan merupakan teks yang mula-mula, dan didalam berbagai versi manuskrip teks diakui terdapat berbagai varian, namun tidak mengubah pokok iman mengenai siapakah Mesias tersebut dan kematian-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari orang mati pada hari ketiga. Kesaksian berbagai manuskrip teks dari berbagai tahun dan abad yang berbeda, memperkokoh nilai historis dan validitas Kitab Perjanjian Baru. Ketangguhan yang teruji secara historis ini membuktikan pemeliharaan Elohim dan perkenan Elohim terhadap keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Mengabaikan bahkan membuang begitu saja keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani, secara tidak langsung telah mengkhianati sejarah terbentuknya komunitas umat beriman dibelahan dunia lainnya.

Yang kita perlukan bukan melakukan De-Yunanisasi terhadap teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani maupun berbagai metode hermeneutis warisan cara berpikir Yunani, namun melakukan sintesa dengan cara berpikir Hebraic, pola penafsiran Hebraic, sehingga menghasilkan struktur pemahaman yang holistik atau menyeluruh. Cara yang ditempuh oleh DR. David Stern, seorang Yahudi pengikut Mesias di Abad XX, dengan menerbitkan Jewish New Testament Comentary, dengan menganalisis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan mengkombinasikan sudut pandang Greek dan Hebraic, sungguh menarik dan patut diapresiasi. Dalam catatan pengantarnyaa, beliau mengatakan :

“My translation of the New Testament from the original Greek into English in a way that brings out its essential Jewishness”.(f1)

Footnote:
f1: Jewish New Testament Publications, 1992, p.ix

Sumber: Teguh Hindarto; www.mesianic.com

Nasarenes ditolak oleh para Bapa Gereja apabila menggabungkan antara Kekristenan dengan Semit, dan sis mengulanginya sekarang :slight_smile:

Bisa anda jelaskan statement anda ini sis? Thanks.

Bro ada pertanyaan: mengapa jika Yahshua adalah Mesias Yahudi, kita tidak menemukan jejak atau ekspresi Keyahudian dalam ekspresi ibadah maupun ungkapan pokok-pokok iman kita? Sebaliknya, justru kita melihat berbagai ekspresi penghayatan yang bersifat Eropa, Amerika, Yunani tentang Yahshua dalam komunitas-komunitas Kristen.
Anda dasarkan pertanyaan ini darimana? Apakah puasa dua kali setahun, sebelum Natal dan Paskah dalam tradisi Kristen Timur bukan jejak? Apakah mendaraskan mazmur dalam sembahyang harian maupun liturgi bukan jejak? Apakah baptisan yang dahulunya adalah mikveh, bukan jejak? Bolehkah saya tanya, apakah anda sesungguhnya paham tentang kekristenan Timur?
Ekspresi-ekspresi ibadah dan ungkapaan iman tersebut nampak dalam hal-hal berikut: Perayaan Christmass yang sarat dengan konsumerisme, perayaan Easter yang sarat dengan kegiatan pernak-pernik mewarnai telur, Ibadah hari Minggu sebagai pertemuan ibadah Kekristenan, kontroversi penggunaan istilah Trinitas dalam konsep Ketuhanan, ketiadaan syariah agama, yang terekspresi dalam berbagai bentuk kebebasan dalam memakan segala makanan, kebebasan dalam menggunakan pakaian, ketiadaan tertib tertentu dalam berdoa dan menghadap Tuhan, dll.
It sounds too protestant to me sis. Maaf, bukan stereotyping, tapi memang demikianlah yang saya pelajari selama ini. Silakan anda baca buku-buku anti katolik dan akan anda temukan poin-point tersebut dengan mudahnya.

Sekali lagi, lihatlah ke dunia orthodox di Timur, dan carilah statement “konsumerisme” yang anda tuduhkan itu sis. Apakah anda akan melanjutkan dengan "dewa matahari"disini? Masalah “konsumerisme” sendiri tidak relevan dengan makna mengapa Natal jadi salah. Apakah mustahil ada Natal tanpa konsumerisme? Jika memang mustahil, saya akan pertimbangkan kembali argumen anda.

Perlukah saya jelaskan satu persatu point keberatan anda itu? Jika anda merasa perlu akan saya usahakan menjelaskannya. Hanya saja secara garis besar tercium aroma anti-katolik disini. FYI, orang orthodox berdoa menghadap ke Timur, 7 kali sehari, dan memiliki syariat yang setahu saya lebih berat dari mesianic judaism yang anda perkenalkan. Kehidupan asketis tidak pernah terlepas dari laku spiritual orthodoxy, dan ini diwarisi sejak dari PL, entah itu dari Henokh, Elia, Elisha, sampai ke Yohanes Pembaptis. Adakah laku asketisme dalam mesianic judiasm yang anda kenal sis? Adakah hidup selibat dalam mesianic judaism yang anda pegang kini?
:slight_smile:

Sebelum kita mendalami lebih jauh hilangnya ekspresi Keyahudian yang seharusnya dimiliki pengikut Mesias diseluruh dunia, marilah kita mendalami lebih jauh mengenai Keyahudian Yahshua. Dengan menyatakan aspek Keyahudian Yahshua, bukan berarti kita meniadakan aspek Ontologis Yahshua sebagai Sang Firman yang menjadi manusia, namun kita hendak mendalami aspek Anthropologis Yahshua sebagai Firman yang menjadi Manusia. Manusia ELOHIM itu lahir dalam konteks ruang dan waktu, yaitu Yerusalem yang dijajah dan dikuasai Pemerintahan Romawi. Konteks kebudayaan dan keagamaan tertentu, yaitu Yahudi dan Yudaisme. Firman yang menjadi manusia demi tugas penyelamatan dunia dan manusia, demi memperdamaikan perseteruan antara manusia dengan ELOHIM itu, [u]tidak lahir dalam ruang kosong yang bersifat metahistoris. Dia datang dalam suatu lingkup kehidupan, peradaban dan kebudayaan serta peradaban Yahudi dan Yudaisme[/u].
Jelas, saya setuju 100 persen sis. Yeshua saja punya silsilah. Apakah mesianic judaism ini punya silsilah yang mengkaitkannya dengan para Rasul? Itu pertanyaan saya sejak awal yang belum anda jawab sampai detik ini sis. :)
NUBUAT MENGENAI “KENAF” DAN “ISH YEHUDI” DALAM ZAKHARYAHU 8:23

Kedatangan Mesias yang dijanjikan oleh Yahweh Bapa Surgawi, Sang Pencipta Semesta, melalui mulut para nabi, sangat intensif disebutkan dalam TaNaKh. Salah satu dari nubuat tersebut memberikan identifikasi mengenai GARIS ETNIS Mesias. Dalam ZakharYahu 8:21-23 dikatakan:

Beginilah firman Yahweh Semesta Alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Yahweh dan mencari Yahweh Semesta Alam! Kami pun akan pergi! Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari Yahweh Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati Yahweh." Beginilah firman Yahweh semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa ELOHIM menyertai kamu!"

Frasa "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi…” dalam teks Ibrani berbunyi sbb: : “Bayamim hahemmah asher yakhziqu asyarah anashim mikol leshonot hagoyim wehekheziqu biknaf ish Yehudi…”. Ada dua kata penting dalam ayat 23,yaitu “punca jubah” [kenaf] dan “orang Yahudi” [Ish Yehudi].

Apa yang dimaksudkan dengan kata “kenaf?” Istilah punca jubah, akan dipahami maknanya, jika kita memahami latar belakang perintah Yahweh bagi Bangsa Yishrael dalam Sefer Bamidbar/Bilangan 15:37-40 sbb:

“Yahweh berfirman kepada Moshe: "Berbicaralah kepada orang Yishrael dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah Yahweh, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap Yahweh. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Elohimmu.

Frasa “jumbai-jumbai pada punca baju mereka” dalam teks Ibrani berbunyi, “tsit-tsit al kanfey bigdeyhem” dan frasa “jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan” dalam teks Ibrani berbunyi, “al tsit-tsit hakanaf petil tekhelet” . Untuk memudahkan Anda memahami bagaimana bentuk “Tsit-tsit”, silahkan memperhatikan gambar berikut:

Tsit-tsit tersebut dalam bentuk modern, biasanya dirangkai dengan syal atau jubah yang dinamakan Tallit, sebagaimana di bawah ini.

Dan jika dipakai lengkap oleh seorang Yahudi modern, entahkah dia seorang Rabbi atau bukan Rabbi, akan terlihat demikian.

Dari pemaparan di atas dengan disertai ilustrasi, kiranya memudahkan Anda memvisualisasikan sosok manusia Ibrani yang menggunakan Tsit-Tsit. Fungsi Tsit-tsit adalah untuk [uzekartem et kol mitswot Yahweh] mengingat seluruh perintah-perintah Yahweh untuk kemudian didorong melakukannya [lema’an tizkeru weasyitem et kal mitsotaiw].

Dengan latar belakang mengenai arti dan penggunaan “Tsit-tsit” pada “kanaf” atau ujung tepi jubah atau pakaian pada tiap-tiap Bangsa Yishrael, maka kita dapat memahami apa yang dimaksudkan dengan kata “punca jubah” [Kanaf] dalam ZakharYahu 8:23, bahwa bangsa-bangsa non Yahudi akan memegang Tsit-tsit tersebut. Ini menubuatkan bahwa bangsa non Yahudi [Goyim] akan mengikuti kepercayaan yang dianut oleh Bangsa Yishrael pada umumnya dan suku Yahudi khususnya. Keselamatan pertama-tama ditujukan bagi Bangsa Yishrael itu sendiri, kemudian diperluas kepada bangsa-bangsa lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan “Ish Yehudi?” Dialah Mesias yang dijanjikan. Ketika Yahshua datang dan berkarya di bumi Palestina dan kembali duduk di sebelah kanan Bapa serta kisah kehidupan dan ucapan atau ajaran-Nya dituliskan dalam keempat Besorah [Injil], teranglah bahwa tokoh yang dimaksudkan adalah Yahshua sendiri. Yahshua adalah “Ish Yehudi” yang diamksudkan dalam Zakharyahu 8:23.


Sederhananya gini sis. Adakah doa ini dalam syariat anda?

“אלוהים ישו, בן האלוהים, ירחם אותי חוטא”

Doa ini begitu sederhana, namun sekaligus begitu sukar untuk dicapai keadaan tertingginya tanpa disiplin rohani yang sungguh-sungguh.

BUKTI-BUKTI BAHWA YAHSHUA ADALAH ISH YEHUDI

Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yahshua adalah “Ish Yehudi?” Pertama, garis silsilah Yahshua [Mat 1:1-17, Luk 3:23-28]. Silsilah yang dilaporkan oleh MatitYahu mengambil garis Yahshua dari Shelomo anak Dawid, Raja Yishrael [Mat 1:6] dan jika ditarik terus ke atas, sampailah pada leluhur Mesias, yaitu Yahuda yang merupakan anak Ya’aqov, anak Yitskhaq, anak Avraham, sebagai anak pewaris perjanjian kekal Yahweh dengan keturunan Avraham. Sementara silsilah yang dilaporkan Lukas mengambil garis dari Nathan anak Dawid yang lain [Luk 3:32], hingga sampai Avraham dan terus sampai kepada Adam. Asal-usul kesukuan Yahshua ditegaskan kembali dalam Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tu[h]an kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”.


Ya memang karena untuk itulah HaMasiakh datang ke dunia.

Kedua, gaya berpakaian yang mencirikan seorang Yahudi. Dilaporkan dalam MatitYahu 9:20, “Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan [zavat dam] maju mendekati Yahshua dari belakang dan menjamah jumbai [biknaf] jubah-Nya”. Apa yang dimaksudkan dengan “jumbai jubah-Nya?” Itulah ujung tepi jubah dimana terikat Tsit-tsit yang mencirikan seorang laki-laki Yahudi berpakaian. Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang Yahudi atau Goyim, namun nubuatan ZakharYahu secara tidak langsung genap dalam diri Yahshua.
Jelas HaMasiakh adalah seorang rabbi Yahudi yang berpakaian seperti umumnya rabbi Yahudi. Apakah hendak ditiru hal-hal semacam ini? Kenapa hanya cara berpakaiannya saja, bukan selibatnya? Koq jadi seperti tetangga sebelah, segala sesuatu tentang nabinya ditiru abis, sampai gaya jenggotnya....
Ketiga, Mengalami prosesi Brit Millah atau Sunat pada hari ke delapan, sesuai Torah, sebagai bagian dari tanda fisik perjanjian antara keturunan Avraham dengan Yahweh Semesta Alam. Lukas 2:21-24 melaporkan, “Dan ketika genap delapan hari dan Dia harus disunatkan [lehimol], Dia diberi nama Yahshua, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Dia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran [tahoram], menurut Torah Moshe, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Yahweh, seperti ada tertulis dalam Torat Yahweh: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi ELOHIM", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam Torat Yahweh, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Bayi-bayi orthodox yang berumur 8 hari juga dibaptiskan.
Keempat, mengalami prosesi Bar Mitswah. Bar Mitswah didefinisikan sebagai:
“A Jewish ceremony which takes place on the Sabbath after a boy’s thirteenth birthday. During this initiation rite the Bar Mtswah boy reads publicly in Hebrew from the scroll of the Torah for the first time and accepts the commandements of his faith; the words ‘Bar Mitswah’ actualy mean ‘Son of a Commandement’. From this moment onwards, he is seen as a responsible adult and as a member of the religious community. Girls can take part in a similar ceremony, known as Bat Mitswah”[f1].

Artinya, upacara Yahudi yang di letakkan pada Hari Sabat, setelah anak lelaki berusia tiga belas tahun. Selama upacara peneguhan Bar Mitswah ini, anak lelaki membaca gulungan Torah di hadapan orang banyak, dari bahasa Ibrani Abad Pertama dan menerima perintah-perintah sesuai keyakinannya; kata Bar Mitswah sesungguhnya bermakna Putra Perjanjian. Dari kata ini kemudian dia dipandang sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dan sebagai anggota dari komunitas keagamaan. Anak-anak wanita dapat mengambil bagian upacara yang sama yang dikenal dengan sebutan Bat Mitswah.

Dari penjelasan di atas, kita melihat dalam Lukas 2:41-52, di mana Yahshua mulai muncul pada usia 12 tahun dan kemunculan di usia 12 tahun itu dimulai di Bait Suci, saat kedua orang tuanya melaksanakan perayaan tahunan Pesakh. Dalam terjemahan versi Orthodoxs Brit Khadasha dikatakan demikian,

“And his horim (parents) used to make aliyah leregel (pilgrimage) to Yerushalayim shanah bshanah (year by year) for Chag HaPesach (the Feast of Pesach). [SHEMOT 23:15; DEVARIM 16:1-8]. And when he became a bocher of twelve years of age, they made aliyah leregel (pilgrimage), as usual, according to the mitzvah and minhag of the Chag” [f2].

Kedatangan orang tua Yahshua ke Yerusalem merupakan suatu perjalanan ziarah ke Yerusalem [aliyah] setiap tahun yang jatuh pada Perayaan Pesakh. Lebih jauh lagi Bambang Noorsena memberikan komentar,

“Mengapa [Yahshua] muncul pada usia 12 tahun? Karena usia 12 bagi tradisi Yahudi zaman [Yahshua] begitu penting. Seorang anak-anak lelaki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut Bar Mitswah [anak Hukum]. Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun Nabi Musa meninggalkan rumah putri Fir’aun. Pada usia yang sama Samuel menerima suara yang berisi visi Ilahi dan Salomo mulai menerima hikmat [ELOHIM] dan Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem” [f3]

Fakta ini menuntun kita pada suatu pemahaman terhadap latar belakang kebudayaan dan keagamaan Yahudi Abad Pertama. Dan Yahshua lahir dan hidup dalam konteks keagamaan dan kebudayaan tersebut.

Kelima, membaca Torah dan beribadah Sabat. Dikatakan dalam Lukas 4:16, ”Da datang ke Nazaret tempat Dia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Dia masuk ke Sinagog, lalu berdiri hendak membaca dari Gulungan Kitab”. Yahshua melakukan Aliyah [menaikkan Torah] di Sinagog Yahudi yang jatuh pada tiap hari Shabat. Jika kita membaca terjemahan Orthodox Brit Khadasha, akan nampak idiom-idiom Yahudi dalam teks tersebut sbb:

“And he came to Natzeret, the shtetl of his guddal (being brought up) and he entered according to his minhag on Yom HaShabbos into the shul and was given an aliyah as the Baal Koreh. [After the Hagbah], Rebbe, Melech HaMoshiach was presented with the megillat sefer Yeshayah and having unrolled the megillah, Rebbe Melech HaMoshiach found the dvar where it had been written”3

Perhatikan kata-kata kunci seperti “shul” atau persamaan untuk Sinagog. Istilah “Baal Koreh” nama lain bagi Kitab Suci. Lalu istilah “megillat sefer YeshaYah” atau gulungan Kitab Suci nabi YeshaYah. Fakta ini menjelaskan bagaimana tradisi dan penghayatan keagamaan pada saat itu yang menghormati Kitab Suci yang setara dengan kehadiran Yahweh sendiri dan memiliki tata cara tersendiri dalam memperlakukannya. Jika kita proyeksikan gambaran Yahshua membaca Torah di Sinagog kurang lebih sbb:


Banyak point dari bagian ini yang dipertahankan dalam liturgi orthodox.

Keenam, melaksanakan Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya yang ditetapkan Yahweh. Sheva Moedim artinya Tujuh Hari Raya yang merupakan ketetapan Yahweh [Imamat 23:1-44]. Sheva Moedim bukan hanya merupakan perayaan panen, namun suatu perayaan momentum perbuatan Yahweh bagi umat-Nya di masa lalu serta perayaan yang bersifat propetik Mesianik. Nama ketujuh Hari Raya tersebut adalah: Pesakh , Hag ha Matsah [Roti Tidak Beragi], Hag Sfirat ha Omer [Buah Sulung], Hag Shavuot [Pentakosta], Hag Rosh ha Shanah/Yom Truah [Tahun Baru/peniupan Sangkakala], Hag Yom Kippur [Pendamaian] dan Hag Yom Sukkot [Pondok Daun].

Dari ketujuh Hari Raya tersebut, ada tiga Hari Raya besar yang diperingati setiap tahun dengan berkumpul di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot [Ulangan 16:16-17]. Kitab Perjanjian Baru [Brit ha Khadasha] mencatat tiga perayaan penting tersebut dihadiri oleh Yahshua, baik saat Yahshua mulai beranjak remaja maupun sudah mulai dewasa dan melakukan karya Mesianik-Nya. Yahshua menghadiri Perayaan Pesakh bersama kedua orang tua-Nya [Luk 2:41-42]. Yahshua merayakan Sukkot bersama murid-murid-Nya [Yoh 7:1-13].


Dan apakah yang diperintahkan Yeshua kepada para Talmidim Nya untuk diperingati?

Luk 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Seberapa sering anda melakukan titah Yeshua ini? Adakah Yeshua pernah berpesan “rayakanlah Sedder Pesakh, Yom Kippur, dan Chanukkah!”?

Kesimpulan apakah yang dapat kita peroleh setelah kita melakukan induktifikasi data sebagaimana telah dilakukan di atas? Bahwasanya Yahshua, secara genealogis antropologis dan sosiaologis merupakan seorang Yahudi sejati. Keyahudian tersebut dinampakkan dalam gaya berpakaian dan sikap keagamaan yang bersifat Yudaistik. Kesimpulan ini sejalan dengan kesimpulan yang dibuat Anton Wessel sbb:
“[Yahshua] bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwaq orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa ‘keselamatan datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan [Yahshua] di sumur dengan perempuan Samaria itu [Yoh 4:22]” [f4].</blockquote>

Kesimpulan yang tidak membawa kemanapun selain mengingatkan bahwa Yeshua adalah orang Yahudi asli. Dengan demikian justru diasumsikan bahwa orang Kristen selalu mengganggap bahwa Yeshua bukan Yahudi, bahwa Yeshua itu Krsiten, bukan Yahudi, dan segala asumsi meleset lainnya. Sayang sekali sebagian besar orang Kristen/Katolik yang terdidik sudah lama memahami hal ini. Masalahnya terletak pada sejauh mana pendidikan Kristen diberikan. Hanya bagian luarnya saja atau jauh lebih dalam sampai menyentuh spiritualitasnya.

Akar Ibrani Bukan Melakukan Secara Harfiah Tradisi Yahudi

Bukan melakukan secara hurufiah, tradisi-tradisi Yahudi yang diatur dalam Talmud

Sepulang dari pembuangan Babilonia, orang-orang Yahudi mulai memperbaharui hidup keagamaan mereka dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Ada komitmen baru untuk mengasihi Yahweh dan memelihara Torah-Nya. Namun seiring demikian, terjadi suatu gerakan yang kuat yang cenderung bersifat legalistik formal sepeninggal Ezra dan Nehemia. Kecenderungan legalistik [memberi posisi berlebihan terhadap hukum agama daripada pemberi hukum itu sendiri, sehingga hukum agama menjadi beban dan bukan pengatur kehidupan] tersebut terekam dalam berbagai fatwa-fatwa para rabbi yang disusun dalam berbagai literatur Yahudi yang terentang dari Abad 1 Ms-4 ms.

Berbagai tulisan itu adalah Talmud yang merupakan kompilasi dari Misnah dan Gemara. Berbagai ajaran, pendapat, diskusi, peraturan agama, ketetapan para rabbi, disusun dalam berbagai lietarur diatas. Usia Talmud nampaknya setua usia bangsa Yahudi sejak pulang dari Babilonia. Secara sederhana, Misnah merupakan kumpulan Torah sebagai bentuk berbagai penjelasan terhadap Torah tertulis yaitu TaNaKh. Komentar terhadap Misnah dinamakan Gemara. Talmud merupakan kompilasi antara Misnah dan Gemara(f1). Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem.

Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal. Misnah terdiri atas enam pokok bahasan [sedarim] yaitu “Zeraim” [mengenai benih tanaman], “Moed” [mengenai perayaan], “Nashim” [mengenai wanita], “Nezikin” [mengenai persoalan yang dilarang], “Kodashim” [mengenai perkara yang kudus], “Toharot” [mengenai ritual penyucian diri]. Disetiap topik bahasan [sedarim] terdiri dari banyak sub bahasan [masekhot]. Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah(f2). Literatur-literatur Yahudi diatas sebenarnya sangat bermanfaat untuk menjadi petunjuk mengenai aplikasi atau pelaksanaan suatu ketetapan yang ditulis dalam TaNaKh. Dalam tradisi Islam, sejajar dengan keberadaan Hadits maupun Sunnah. Dengan mengacu pada literatur-literatur tersebut maka seseorang dapat menjaga mata rantai pengajaran dan tradisi aplikasi perintah Elohim.

Namun demikian, dalam Talmud pun ditemui sejumlah pernyataan yang tidak bisa begitu saja dilakukan oleh bangsa non yahudi yang percaya pada Mesias. Bahkan dalam Talmud pun terekam berbagai diskusi dan kutukan yang ditujukan terhadap goyim maupun terhadap pengikut Mesias Yahshua. Tidak dapat disangkal bahwa Talmud terkadang tidak selaras dengan Firman Elohim yang tertulis dalam TaNaKh. Beberapa contoh kami kutipkan. Talmud melarang pengucapan nama Yahweh sebagaimana tertulis dalam Misnah Sotah 7:6; Misnah Tamid 7:2, “…dalam tempat kudus seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis namun diluar tempat kudus, diucapkan dengan bentuk euphemisme…”(f3) . Larangan ini tidak sejalan dengan perintah TaNaKh agar nama-Nya di panggil [1 Taw 16:26, Kel 3:15, Mzm 99:3].

Demikian pula Talmud berisikan kutukan-kutukan terhadap pengikut Yahshua. Beberapa buku telah mengulas kenyataan tersebut al. Prof. DR. Muhammad Asy Syarqawi, TALMUD : Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan,f(4) I.B. Branaites, Fadh at Talmud(f5). Kebencian terhadap pengikut Yahshua ha Mashiah pun terrefleksi dalam Shemone Esrei [delapan belas doa berkat]. Pada doa kesembilan belas [yang ditambahkan kemudian], ada kata-kata kutukan yang ditujukan pada pengikut Mesias yang dijuluki “ha Minim” Bidat dan juga “Meshummed” perusak. Beberapa pernyataan dalam Talmud yang memojokkan pengikut Mesias merefleksikan penolakan para rabbi Yahudi di Abad I Ms terhadap Kemesiasan Yahshua. Perilaku rabbi-rabbi Yahudi tersebut telah terekam sejak dini dalam Kitab Matius 27:11-15 mengenai fitnah-fitnah yang dihembus-hembuskan para rabbi mengenai kematian dan kebangkitan Yahshua dari kematian. Fakta-fakta diatas menuntut kita untuk tidak mengkultuskan peranan Talmud sebagai sumber referensi penafsiran dan pengambilan keputusan keagamaan pengikut Mesias. Namun demikian, kita tidak dapat mengganggap remeh begitu saja nilai Talmud, karena didalamnya pun terekam banyak ulasan yang sangat kaya mengenai bagian-bagian Kitab Suci.

Footnote:
(f1): Baker’s Dictionary of Theology, Grand rapids Michigan 49506, Baker Books House, 1985, p. 511-512
(f2): Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, www.jewfaq.org
(f3): DR. James S. Trimm, Nazarenes & The Name of YHWH, 1997, www.nazarene.net
(f4): Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243
(f5): Dar an-Nafais, Beirut
(f6): Nazarene : Definition & History, Catholic Encylopedia Electronic Version. New Advent, Inc. 1998, www.newadvent.org/eathen
(f7): DR. Michael Schiffman, Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland : Lederer Messianic Publishers, 1990, p.13

PDT. TEGUH HINDARTO, MTH. ; sumber : www.mesianic.com