sekali selamat tetap selamat..

saya ingin sering…
mungkin saya masih kurang paham mengenai “solafide” versi protestan…

terimaksih tanggapanya. Tuhan beserta kita, selalu!

ini maksudnya gimana? yang doktrin keselamatan ya? setau saya ada 2, calvinisme dan arminianisme. masalah mana yang bener, semuanya bener2 relatif, namanya juga doktrin.

salam,

dicari aja … di topik2 lain banyak pertanyaan yang serupa

share bro…

Sebab hal keselamatan kita ini juga melibatkan partisipasi kita dalam menyatakan iman kita dalam perbuatan, agar iman yang demikian dapat menjadi iman yang ‘hidup’ (Yak 2: 24, 26) dan menyelamatkan. Kenyataannya bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa pada akhir jaman akan ada orang- orang yang terkejut untuk mendapatkan bahwa sikap mereka yang tidak menujukkan perbuatan kasih dapat menghantar mereka kepada penghukuman (Mat 25:41-46).

  1. Maka hal keselamatan tidak semata tergantung dari “pengakuan dengan mulut” untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Sebab yang tak kalah pentingnya adalah kita harus bertobat, seperti yang diajarkan oleh Rasul Yohanes kepada semua murid Kristus yang sudah menerima Yesus (lihat 1 Yoh 2:12-14). Ia mengatakan,

    “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh 1:8-9)

Perhatikanlah bahwa Rasul Yohanes menggunakan kata “kita”, sebab dirinya sendiri juga termasuk di dalamnya. Silakan bertanya kepada orang yang berpandangan “sekali selamat tetap selamat”, apakah mereka masih perlu bertobat atau tidak? Jika mereka menjawab ya, berarti pandangan mereka sebenarnya bukan “sekali selamat tetap selamat”. Tetapi jika mereka mengatakan “tidak perlu bertobat, sebab sudah pasti diampuni dan pasti masuk surga”, maka pandangan mereka ini bertentangan dengan ayat- ayat Kitab Suci lainnya yang mengatakan bahwa dosa/ kejahatan yang tidak disesali tidak akan diampuni dan tidak ada sesuatupun yang berdosa dan najis dapat masuk Kerajaan Surga (lih. Hab 1:13; Why 21:8-9, 27)

Rasul Yohanes kemudian mengklasifikasikan dosa, yaitu dosa yang mematikan (dosa berat) dan dosa yang tidak mematikan (dosa ringan) lih. 1 Yoh 5:16-17. Seseorang yang berdosa berat melepaskan diri dari Tubuh Kristus. Dalam hal ini bukan berarti Yesus kurang kuasa untuk menyelamatkannya, tetapi orang itu sendiri dengan kehendak bebasnya memilih untuk melepaskan diri dari Yesus dengan perbuatan dosanya yang berat. Dan jika ia tidak bertobat, maka ia sendiri menolak rahmat keselamatan yang sudah pernah diterimanya dari Allah.

Selanjutnya, pengakuan dengan mulut juga tidak ada artinya, jika tidak dibarengi dengan ketaatan melaksanakan perintah- perintah Tuhan. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengajarkan ketaatan iman (Rom 1:5, 16:26). Yesus berkata,

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21, lih. Mat. 10:33, 18:35).
  1. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita akan kedua sifat Tuhan yang tidak bisa dipisahkan yaitu kemurahan-Nya namun juga kekerasan-Nya;

    “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” (Rom 11:22)

Maka di sini jelas dikatakan bahwa oleh kemurahan Tuhan kita diselamatkan, namun kita harus mengusahakan untuk selalu tinggal di dalam kemurahan-Nya. Kita harus bertahan untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus, sampai dengan kesudahannya, baru kita dapat selamat (lih. Mat 10:22). Kita harus berjaga- jaga dan tetap melaksanakan tugas- tugas dan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita dengan baik sampai pada akhirnya (lih. Luk 12:41-46, Why 2:25-26). Sebab memang benar oleh Injil kita diselamatkan tetapi kita harus tetap teguh berpegang kepadanya (1 Kor 15:1-2). Kita harus hidup kudus dan tidak bercela, dan tekun dalam iman dan tidak bergoncang (Kol 1:22-23); teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan kita (Ibr 3:6). Kita harus setia sampai mati (Why 2:10).

  1. Rasul Petrus malah memperingatkan agar kita yang sudah percaya jangan sampai jatuh ke dalam dosa seperti pada waktu belum percaya, sebab akibatnya malah akan lebih parah:

    “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Pet 2:20-22)

Kondisi melepaskan diri dari kecemaran dunia ini adalah makna dari kelahiran kembali dalam Kristus yang kita alami pada waktu Pembaptisan. Maka di sini Rasul Petrus mengingatkan agar setiap umat yang sudah dibaptis tidak kembali lagi kepada kehidupan yang lama yang penuh dosa.

  1. Yesus juga mengingatkan Dalam Mat 6:15, bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebab jika tidak, maka Allah Bapa tidak akan mengampuni kesalahan kita. Di sini Yesus tidak memperhitungkan apakah kita sudah ‘lahir baru/ born again‘ atau belum; namun kalau kita tidak mengampuni maka kita akan kehilangan keselamatan kita.

  2. Kitab Suci memperingatkan kita bahwa kita dapat ‘lepas dari Kristus, dan hidup di luar kasih karunia‘ jika hidup dalam kuk perhambaan dosa (Gal 5:1-5), agar jangan bermegah supaya tidak dipatahkan (lih. Rom 11:18-22), dicoret namanya dari buku kehidupan (Why 3:5; Mzm 69:28), karena melakukan dosa dan tidak bertobat (lih. Ef 5:3-5; 1 kor 6:9; Gal 5:19; Why 21:6-8).

Tak mengherankan bahwa Rasul Paulus kemudian mengajarkan demikian:

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Kor 9:27)

Jika Rasul Paulus yang sudah demikian kudus saja semasa hidupnya terus berjuang untuk melatih tubuhnya menghindari dosa, dan mengusahakan agar hidup sesuai dengan Injil agar tidak ditolak oleh Tuhan; apalagi kita- kita ini. Kalau Rasul Paulus sudah yakin “pasti” selamat, tentunya dia tidak perlu menuliskan ayat ini, sebab ia sudah yakin tidak akan ditolak Allah. Ayat ini membuktikan kerendahan hati Rasul Paulus yang selain berpengharapan teguh akan keselamatan yang dijanjikan Allah, namun juga menyadari bahwa ada bagian yang harus dilakukannya yaitu untuk berjuang hidup kudus sesuai dengan Injil yang diberitakannya.

  1. Maka ayat Rom 10:9 tentang pengakuan iman akan Kristus yang menghantar kita kepada keselamatan itu tidak hanya untuk dilakukan sekali saja, tetapi harus terus menerus sepanjang hidup kita. Dalam Mat 10:22, 32-33, Tuhan Yesus mengajarkan,

    “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat…. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Maka konteksnya di sini adalah berpegang pada pengakuan akan Kristus sepanjang hidup kita (lih. Ibr 4:14, 10:23-26 dan 2 Tim 2:12). Kita mengetahui dari Kitab Suci, bahwa pengakuan akan iman kita tidak dilakukan hanya dengan perkataan tetapi terlebih dengan perbuatan. Demikian pula, penyangkalan akan Kristus juga dilakukan dengan perbuatan.

Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. (1 Tim 5:8)

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Kor 6:9-10, lihat juga Ef 5:3-5; Gal 5:19; Why 21:8-9, 27)

Sama juga, jika Anda ingin sama2 belajar untuk mengenal Firman Tuhan. Maukah Anda membahas dengan saya, 1 per 1 ayat dengan lebih dalam dan terfokus?

Jika ya, kita mulai dengan Yakobus 2:24, 26.

Pertanyaan awal saya adalah siapakah yang menerima surat Yakobus?

Dengan kata lain adalah surat Yakobus ditulis/ditujukan kepada siapa?

Salam

tidak perlu terkukung dengan doktrin …metoda manusia bisa salah …mulailah membaca Alkitab .
Alkitab jelaskan secara gamblang :wink:

Sekali selamat tetap selamat…? :rolleye0014:

Keselamatan adalah anugrah sekali seumur hidup tetapi tidak berarti tidak bisa hilang karena faktor kesengajaan.

Setiap orang yang telah masuk dan sampai pada jalan ini, bukankah pasti mendapatkan peneguhan dari Sang Pemberi Keselamatan?..Adakah orang yang telah Lahir Baru tidak mengalami hal demikian ? bila ada maka hal ini sangat mengherankan dan ganjil.

Setiap orang yang percaya pada Tuhan Yesus karena anugrah/panggilan dengan pasti dapat menjawab pertanyaan ini dan juga dengan pasti bisa tahu apakah ia tetap menjaga anugrah keselamatan atau tidak. hanya saja janganlah mengandalkan kekuatan sendiri.

Untuk itu janganlah kita menipu diri sendiri karena kita juga dianugrahkan kepekaan terhadap hal yang tidak berkenan di mata Tuhan.

Salam

pertama:
saya cermati kalimat bro…
Keselamatan adalah anugrah sekali seumur hidup tetapi tidak berarti tidak bisa hilang karena faktor kesengajaan.

kedua:
maaf saya belum paham maksud peryataan ini:
Setiap orang yang telah masuk dan sampai pada jalan ini, bukankah pasti mendapatkan peneguhan dari Sang Pemberi Keselamatan?..Adakah orang yang telah Lahir Baru tidak mengalami hal demikian ? bila ada maka hal ini sangat mengherankan dan ganjil.
maka dari itu saya bertanya:
kalo begitu menerima anugrah bukan suatu kepastian selamat? karena faktor peran/perbuatan kita bisa membuat keselamatan itu hilang?

bro santo memang mantab…
saya harus belajar banyak nih untuk bisa diskusi dengan anada :slight_smile: :slight_smile: :slight_smile:
nampaknya saya biasa belajar banyak sama anda nih bung!

pertanyaan awal saya adalah siapakah yang menerima surat Yakobus?
jujur saya belum bisa jawab bro… bolehkah bro membagikannya dulu kepada saya??
thx bro…

kalau memang keselamatan bisa hilang, coba tolong jawab ini :

  1. apakah kita bisa mempertahankan iman / keselamtan tanpa pertolongan tuhan?
  • mampukah kita tanpa pertolongan tuhan / usaha sendiri untuk mempertahankan keselamatan kita ?
  • bila iblis dengan sekuat kemampuannya menggoncangkan iman kita, mampukah kita tetap dalam jalur keselamatan?
  1. bila kita hanya mampu mempertahankan keselamatan karena pertolongan tuhan, bukankah itu bukti bahwa tuhan yang menolong kita sehingga sekali selamat tetap selamat?

GBU

  1. sebagai orang beriman kita akan selalu mendasarkan segalanya pada pertolongan Tuhan, namun bukan sekali selamat tetap selamat kan? :slight_smile:
    karena anugrah itu bisa hilang… (menurut bro Avro) kenapa ada anugrah sampai hilang? karena tidak minta tolong Tuhan.

lalu pertanyaannya, kenapa ga minta tolong sama Tuhan? karena manusia itu bebal mungkin…

jadi logikanya, manusia tetap mempunyai pilihan dan memilih itu suatu perbuatan

mendingan ini bahas nya ke tret “keselamatan bisa ilang apa engga”

yup! disana juga ada disini juga ada…
keselamatan ? ngga bisa hilang koq…

1. sebagai orang beriman kita akan selalu mendasarkan segalanya pada pertolongan Tuhan, namun bukan sekali selamat tetap selamat kan? smiley karena anugrah itu bisa hilang.. (menurut bro Avro) kenapa ada anugrah sampai hilang? karena tidak minta tolong Tuhan.

lalu pertanyaannya, kenapa ga minta tolong sama Tuhan? karena manusia itu bebal mungkin

jadi logikanya, manusia tetap mempunyai pilihan dan memilih itu suatu perbuatan

kenapa manusia tersebut bebal?

  • karena latar belakang keluarga yang…dst
  • karena pengalaman hidup yang…dst

kenapa dia punya latar belakang keluarga dan pengalaman hidup demikian?

  • karean di dilahirkan di keluarga A bukan di keluarga B

kenapa dia dilahirkan di keluarga A bukan di keluarga B?

  • Karena tuhan yang menentukan dia lahir disana
jadi logikanya, manusia tetap mempunyai pilihan dan memilih itu suatu perbuatan
manusia bisa memilih yang baik (misal meminta tolong kepada tuhan) itupun karena pertolongan tuhan [b]tanpa karunia tuhan tidak ada satupun perbuatan baik yang bisa kita lakukan[/b] termasuk meminta tolong kepada tuhan akan hal yang baik

GBU

ps : tretnya mana ya kok saya nggak bisa temuin?

Surat ini tergolong “surat-surat umum” karena pada mulanya dialamatkan kepada suatu sidang pembaca yang lebih luas daripada jemaat lokal. Salam “kepada kedua belas suku di perantauan” (Yak 1:1), dan juga petunjuk-petunjuk lainnya (Yak 2:19,21) menunjukkan bahwa surat ini pada mulanya ditulis kepada orang Kristen Yahudi yang tinggal di luar Palestina. Mungkin para penerima surat ini termasuk orang-orang pertama yang bertobat di Jerusalem dan, setelah Stefanus mati syahid terserak oleh penganiayaan (Kis 8:1) sejauh Fenisia, Siprus, Antiokhia dan lebih jauh lagi (Kis 11:19).

Yakobus 2
2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Roma 3
3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!

Roma 11
11:6 Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

Roma 9
9:32 Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan,

Apakah pernyataan Yakobus ini bertentangan dengan pernyataan Paulus?

Salam

Apakah pernyataan Yakobus ini bertentangan dengan pernyataan Paulus?

tentu tidak… :smiley:

bro, kalo kita lihat ayat2 tersebut, termasuk yg saya sebutkan di postingan2 sebelimnya, terlihat banyak yang bertentangan…

namun tidak mungkin alkitab bertentangan.
oleh sebab itu saya simpulkan bahwa…

IMAN YANG MENYELAMATKAN ADALAH IMAN DENGAN PERBUATAN
IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI.

KUNCI UNTUK MEMAHAMINYA ADALAH: JANGAN MEMISAHKAN ANTARA IMAN DAN PERBUATAN…

kalau kita kristen menyatakan diri kita ber iman, namun perbuatan kita buruk, kita BOHONG!
TAPI PERBUATAN ANDA MENUNJUKAN IMAN ANDA.

ini ilustrasi: jika anda melakukan perbuatan baik misal: anda menolong orang2 kelaparan disana-sini… anda berkorban, tapi DASAR perbuatan anda itu adalah untuk Kemegahan anda sendiri (misal: supaya dipuji, supaya terkenal, supaya mendapat penghargaan, supaya mendapat balas jasa) itu bukaN pebuatan berdasar iman dan perbuatan tidak berdasar iman itu bukan perbuatan baik. perbuatan itu tidak tulus perbutan itu juga perbuatan BOHONG!

tapi jika anda melakukan perbuatan2 seperti diatas, dengan dasar untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar dengan dasar anda cinta kepada Tuhan, maka anda cinta kepada sesama. maka itulah IMAN yang HIDUP dan IMAN SEPERTI INILAH YANG MENYELAMATKAN ANDA.

Kalau perbuatan baik diartikan untuk menjamin memperoleh keselamatan? Benar tidak?

cerna ini bro:

ini ilustrasi: jika anda melakukan perbuatan baik misal: anda menolong orang2 kelaparan disana-sini… anda berkorban, tapi DASAR perbuatan anda itu adalah untuk Kemegahan anda sendiri (misal: supaya dipuji, supaya terkenal, supaya mendapat penghargaan, supaya mendapat balas jasa) itu bukaN pebuatan berdasar iman dan perbuatan tidak berdasar iman itu bukan perbuatan baik. perbuatan itu tidak tulus perbutan itu juga perbuatan BOHONG!

tapi jika anda melakukan perbuatan2 seperti diatas, dengan dasar untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar dengan dasar anda cinta kepada Tuhan, maka anda cinta kepada sesama. maka itulah IMAN yang HIDUP dan IMAN SEPERTI INILAH YANG MENYELAMATKAN ANDA.

IMAN SEPERTI INILAH YANG MENYELAMATKAN ANDA (Iman yang benar)

Perlukah pernyataan bahwa iman tidak cukup untuk menyelamatkan? Karena kita juga tahu bahwa kita diselamatkan berdasarkan iman yang benar bukan iman yang salah.

Salam