selalu bersyukur dan hajaran Tuhan

saya dengar khotbah bahwa setiap orang harus selalu bersyukur, meskipun ada masalah. “kalau ada masalah keuangan, bersyukurlah karena masih memiliki keluarga dan kesehatan”. kemudian saya mendengar khotbah lain tentang hajaran Tuhan, manusia harus merendahkan diri dihadapan Tuhan kalau menerima hajaran dari Tuhan.
saya tiba2 jadi bingung, kalau menerima hajaran dari Tuhan karena kita berdosa, apakah kita masih harus bersyukur? misal dapat masalah keuangan dari Tuhan karena sombong, apakah kita harus tetap bersyukur karena masih memiliki keluarga dan kesehatan? bagaimana kita tahu bedanya diuji dan dihajar karena dosa (yang tidak kita sadari)? mungkin contohnya saya sampai sekarang kena beberapa penyakit yang menurut dokter tidak bisa disembuhkan dan menyebabkan saya sulit atau mungkin tidak bisa mendapatkan pekerjaan atau melakukan usaha, saya sudah berdoa mungkin 5-10 tahunan tentang penyakit2 saya, bertanya pada Tuhan tanya apakah ini hajaran ataukah ujian, tapi tidak ada jawaban. saya doa tanya apakah ini duri dalam daging saya yang menyebabkan saya rendah hati, tapi tidak dijawab (seingat saya, hanya 1 orang yang bilang penyakit saya mungkin agar saya rendah hati). saya doa bertanya tentang hal2 yang lain dijawab (biasanya tentang masalah orang lain), meskipun tidak semua. salah satu sakit saya adalah gangguan otak karena gegar otak akibat ditabrak yang menyebabkan saya agak pikun, jadi kalau saya harus mengingat apa kira2 dosa saya, saya kesulitan mengingatnya.

Paulus mngajarkan pd kita utk senantiasa bersyukur atas segala sesuatu dan Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu utk mdatangkan kebaikan.
Yeremia mngajarkan pd kita bhw Tuhan punya rancangan damai sejahtera utk masing-masing kita.

Kl pendapat saya Bro,
Mengucap syukur sajalah utk semuanya itu, entahkah ujian, hajaran, yg ngga enak, apapun itu.

Slanjutnya,
Perkatakan berkat Tuhan pd diri Anda hari demi hari.
Perkatakan berkat.

Saya sempat berpikir demikian, kemudian terpikir/membayangkan, kalau orang tua di dunia menghajar anaknya untuk mendidik, kemudian sewaktu dihajar, anaknya malah berkata terima kasih karena hal lain, kok sepertinya aneh ya, bukankah harusnya merendahkan diri untuk meredam kemarahan orang tuanya? Ataukah perbandingan orang tua dan Tuhan itu perbandingan yang salah?

Apa ya prasaan si ayah ktika dia mdidik anaknya dg hukuman fisik kmudian anaknya mngucap:
Terima kasih Papah atas pukulan itu krn Papah mau saya bersikap baik.

Saya yakin si ayah akan sangat terharu dan akan mengajar si anak tujuan dari proses tsb.

Ikuti saja kata Alkitab, mengucap syukur dalam segala hal.
Ngga usah banyak mikir, mengucap syukur saja.

Stelah itu, perkatakan berkat pd dirimu.
Saya stiap pagi pegang tangan istri saya dan saya perkatakan berkat bagi kami.

Peduli amat masalahnya apa, perkatakan berkat dg penuh keyakinan.

Misal terkena masalah keuangan, apakah kita bersyukur karena dapat masalah keuangan, dan percaya ini pasti akan mendatangkan kebaikan?
Bagaimana membedakan hajaran, ujian dan masalah karena kesalahan manusia? Kalau hajaran, kan Tuhan tidak ingin manusia melakukan lagi. Kalau ujian, Tuhan ingin manusia bertahan dalam melakukan. dan masalah karena kesalahan manusia, Tuhan ingin manusia belajar. Misal dalam melakukan sesuatu, dan datang masalah, bagaimana tau Tuhan ingin kita terus melakukan atau berhenti melakukan atau terus lakukan tapi cari cara yang benar?
Misal saya (seperti di postingan awal) yang terkena macam2 sakit dan menumpuk penyakitnya, tapi tidak tau apakah ini hajaran karena sesuatu atau ujian dalam sesuatu ataukah karena kesalahan saya sendiri.

Dear Gusgus,
Semoga dengan kamu sharing di topik ini mngenai masalahmu maka beban pikiran kamu dapat berkurang.

Ayatnya menyatakan demikian

Roma 8
28. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Tinggal pilihan mau mengasihi Dia atau tidak, percaya atau tidak

Awalnya tak perlu tahu apakah itu ujian, hajaran, hukuman, dll

Bagian kita percaya saja dan lakukan Firman Tuhan, setiap hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, pasti Tuhan tak ingin kita lakukan

Itu pentingnya baca Firman setiap hari

dan, semua doamu pasti Tuhan jawab, kalau kamu tinggal didalam Dia dan Dia tinggal didalam kamu

tidak juga, tergantung otak saya, karena akibat gegar otak, kadang saya depresi tanpa sebab, kadang bersemangat dan sukacita tanpa sebab. kata psikiater bukan bipolar, tapi dystimia, akibat ada gangguan zat2 di otak.

saya mendengar kesaksian seseorang yang katanya mendapat ujian dari Tuhan sewaktu mau jadi Hamba Tuhan dia berusaha terus melewati setiap tantangan dan masalah, setelah berhasil jadi hamba Tuhan, kemudian ternyata dia jadi merasa yang kapanhari merupakan ujian itu sebenarnya adalah hajaran dari Tuhan karena “salah jalan” dan tidak lagi jadi hamba Tuhan, tetapi sekarang berbisnis dan sukses memberkati gereja. saya jadi berpikir, bukankah enak kalau bisa tau dari awal, apakah ini adalah ujian atau hajaran. nanti kalau dihajar Tuhan terus agar tidak salah jalan tapi tetap tegar tengkuk, bukannya bakal ditinggalkan Tuhan?
saya menemukan di internet, Tuhan memang terkadang diam saat kita berdoa atau bertanya padaNya.
A. Examples of God’s Silence

Mary and Martha and their sick brother Lazarus (John 11)
400 years of silence between the testaments
Silence in heaven (Rev. 8:1)
Dr. Stanley, who needed direction in his senior year of college

B. Why is God sometimes silent?

To get our attention
To make us aware of unconfessed sin
To postpone an answer because we aren’t ready to listen
To teach us trust in Him (Hebrews 13:5 shows that even if we can’t see God working, He is with us.)
To help us distinguish between His voice and other voices (e.g., in the Holy Land, Dr. Stanley saw sheep who knew their shepherd’s voice.)
To encourage perseverance until we experience a breakthrough
To teach us the practice of sitting quietly in His presence

C. How do we respond to God’s silence?

Disappointment
Discouragement
Confusion
Doubt (e.g., Dr. Stanley’s doctor didn’t believe in God but cried out in desperation for help.)
Guilt (Some people fear they have sinned.)
Anger
Fear (Some Christians feel deserted by God or worry that they have lost their salvation.)

D. How should we respond to God’s silence?

Ask the Lord why. Jesus questioned the Father (Matt. 27:46; Mark 15:34).
Remember that God’s silence doesn’t mean He’s inactive.
Trust Him. In His silence, He works for good in your life (Ps. 46:10, 138:8).
Anticipate a more intimate relationship with Him.
Respect God’s right to be silent. Deliberately set aside time to be quiet before Him.
Read the Bible, and tell the Lord you are available to listen.
Keep praying. Eventually, you will have a breakthrough.

Closing: Through times of silence, God impresses on us the truth about sin, develops our trust in Him, and guides us to maturity. When the Father seems distant, faithfully seek Him and watch for His provision.

Ya emang enak kalau bisa tau semuanya dari awal, ibarat tau masa depan gitu lah ya, siapa yang ga mau

Namun kalo emang ternyata ga tau kenapa mesti bingung, jalani saja kehidupanmu sesuai Firman Tuhan, dan percayalah kalau kita ini lebih dari pada pemenang, jatuh tak akan dibiarkan tergeletak, jadi garam yang mengasinkan, dan masih banyak lagi janji Tuhan yang seharusnya kita dapatkan.

1 Petrus 1:6-8
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Yakobus 1:2-4
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Dua ayat diatas sama menganjurkan kita bergembira, berbahagia saat cobaan datang. Entah karena hajaran atas kesalahan atau karena sekarang dituntut lebih atas dosa yang dulunya dimaklumi. Kita patut mengucap syukur, bergembira atasnya, sebab kita dipandang sebagai anak-anak kesayanganNya, yang disiapkan untuk menghasilkan buah-buah bagi kerajaan Allah.

Ibrani 12:5-6
Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Jika anda mempunyai anak dan melihat anak anda berbuat salah yang membahayakan dirinya baik saat ini maupun masa depannya, bukankah kamu akan menegernya keras, memberi peringatan, menghukumnya atau bahkan jika diperlukan memukulnya agar sadar dari kesalahan. Tetapi dengan anak tetangga anda tentu tidak berbuat seperti itu walau dosanya sangat mencolok sekalipun, tetapi dengan anak sendiri, lupa gosok gigipun anda marahi.

Ada salah yang harus di perbaiki ada peningkatan yang harus dijalani, keduanya sama. Salah jika kita sudah tahu dan melakukan kelalaian atau bahkan kesengajaan karena tidak berusaha dengan sungguh untuk menolak dosa. Tetapi juga peningkatan yang sering diistilahkan orang “ujian naik kelas” yang sebenarnya adalah kondisi dimana ada kesalahan yang dulunya di maklumi berhubung pengertian dan pertumbuhan iman kamu belum mencapainya, maka sekarang Tuhan tuntutu untuk kamu lepaskan. Disana seorang ayah akan mendidik anaknya, dulunya waktu bayi makan tumpah-tumpah dimaklumi, tetapi kalau sudah mulai besar, dulunya dibiarkan sekarang dimarahi.

Keluaran 4:24
Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.

Musa yang telah dipanggil Allah untuk menjadi nabi bagi orang Israel, diberi kuasa dan diutus kepada Firaun, ternyata anaknya belum disunat. Baru kemudian masalah yang belum beres ini di permasalahkan TUHAN.

Keluaran 4:25-26
Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.” Lalu TUHAN membiarkan Musa. “Pengantin darah,” kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu.

Setelah dibereskan, Musa melanjutkan tugasnya sebagai nabi yang akan membawa keluar Israel dari Mesir. Ia dikuduskan dalam satu sisi dari hukum Taurat, tentang perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya. Ini adalah gambaran bahwa dulu mungkin ada hal-hal yang dibiarkan TUHAN, tetapi saat ini dituntut kepada anda dan lewat persoalan cobaan yang anda hadapi anda belajar untuk menjadi lebih indah dihadapan TUHAN, menghasilkan buah-buah yang indah.

Kerena itu selalu bertanya-tanyalah kepada TUHAN dalam setiap cobaan, agar kita dipimpinNya ke pelabuhan kesukaan kita (Mazmur 107:23-32). Tetaplah bersyukur karena kita dihajar seperti ayah mendidik anaknya bukan seperti hakim dan algojo menghukum pesakitan.