Selamat Karena "Terpilih"?

Ide tulisan berasal dari diskusi saya bersama bro alamak di sini Malaikat Jatuh - Diskusi Umum Kristen - ForumKristen.com.
Terima kasih bro.

Efesus

1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Yohanes

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Mengacu kepada dua ayat di atas, umat Kristen banyak yang berpendapat bahwa keselamatan manusia ternyata telah di tentukan oleh Tuhan sendiri. Yaitu Tuhan telah memilih siapa-siapa saja yang ingin Dia selamatkan dan siapa-siapa saja yang ingin Dia lempar ke neraka.

Pengertian yang didapat sering menempatkan Tuhan sebagai pihak yang aktif dalam hal “memilih” orang-orang yang akan diselamatkan dan juga sebagai pihak yang aktif untuk “tidak memilih” pihak-pihak yang akan binasa.

Jadi dapat diartikah bahwa Tuhanlah yang memutuskan untuk “memilih” si A untuk diselamatkan ataupun “tidak memilih” si B, supaya mati binasa di neraka.

Apa benar demikian saudara?

Apa benar bahwa Tuhan sendirilah yang berperan sebagai sutradara dari kehidupan manusia ciptaanNya? Yang dengan sekehendak hatiNya Dia mempermainkan kehidupan umat ciptaanNya sendiri dengan memilih siapa yang Dia suka untuk diselamatkan dan melemparkan ke neraka siapa saja yang Dia tidak suka. (karena tidak dipilih olehNya?)

Andaikata ada orang seperti itu di dunia ini, yang berbuat demikian terhadap sesamanya, apa nama yang tepat untuk perbuatan orang semacam itu? Si maha adilkah? Atau si maha kuduskah? Bukankah perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang yang semena-mena? Orang yang sangat berkuasanya sampai tidak tahu lagi mana perbuatan yang baik dan mana yang jahat sehingga bisa berbuat sesuka hatinya saja? Ini perbuatan semena-mena! Dan semua orang tahu itu.

Perbuatan semena-mena begini jelas bukanlah perbuatan yang terpuji, apalagi perbuatan yang disukai oleh Tuhan. Lalu jika perbuatan yang tidak terpuji ini adalah perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan, apa mungkin Tuhan sendiri juga berkarakter semena-mena seperti itu?

Sangat tidak masuk di akal jika perbuatan itu di benci Tuhan namun ternyata Tuhan sendiri yang berkarakter seperti itu.

Amsal

3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.

Ayub

9:17 Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena,

Matius

7:12. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Tuhan sendiri tidak suka bersikap semena-mena. Bahkan inti dari keseluruhan hukum Taurat menentang perbuatan yang semena-mena. Sekarang jikalau Tuhan memang tidak suka dengan perbuatan semena-mena ini, jelas tidak mungkin Tuhan sendiri melakukan perbuatan yang semena-mena.

Pada dasarnya, soal pilih memilih seperti ayat di atas tidak bisa kita artikan seperti tersurat begitu saja. Ada banyak arti yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut. Sebab seperti uraian kita tadi, sekiranya arti dari ayat tersebut sama persis seperti yang tersurat, maka jelas Tuhan telah berlaku semena-mena.

Karena baik orang yang terpilih untuk diselamatkan maupun orang yang tidak terpilih dan harus binasa di neraka, pada dasarnya adalah sama-sama orang berdosa yang butuh keselamatan. Mereka dan juga kita semua adalah orang-orang berdosa. Dan sekiranya kita diselamatkan Tuhan (karena terpilih), bukankah mereka juga berhak untuk di selamatkan sama seperti kita karena kita dan mereka sama-sama manusia berdosa?

Atas dasar apa Tuhan mau memilih menyelamatkan kita dan menolak memilih untuk menyelamatkan mereka?

Tuhan tidak adil donk kalau berbuat begitu?

Kalau Tuhan adil dan memang Tuhan itu maha adil, maka jelas keselamatan itu diberikan secara universal kepada semua manusia. Bukan dengan cara Tuhan pilih memilih “orang-orang istimewa” yang akan diselamatkan. Tetapi keselamatan itu di tawarkan kepada semua manusia, dan siapa saja yang berkenan menyambutNyalah yang memperoleh keselamatan itu.

Markus

10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."

Yohanes

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Setiap kita, mendapat kesempatan yang sama untuk menerima uluran tangan Tuhan ini. Jika kita menolak uluran tangan Tuhan ini, maka saat penghakiman tiba tidak ada alasan bagi kita untuk mempersalahkan siapapun termasuk Tuhan karena kita tidak selamat. Sebab keselamatan itu tergantung respon kita atas anugerah yang Tuhan curahkan bagi manusia.

Keselamatan itu memang hanya anugerah dari Tuhan yang diberikan melalui Yesus Kristus kepada kita. Ini mutlak! Tanpa anugerah dari Tuhan Yesus, mustahil kita dapat memiliki keselamatan. Namun begitu, biarpun Tuhan Yesus telah menganugerahkan keselamatan itu kepada kita semua, tidak semua dari kita akan memperoleh keselamatan itu. Mengapa???

Karena anugerah keselamatan yang Tuhan telah berikan kepada umat manusia ini… membutuhkan respon dari kita untuk menerima atau menolaknya.

Tidak ada paksaan dari Tuhan bagi kita untuk diselamatkan. Saat kita memilih untuk menolaknya, maka Tuhan tidak pernah memaksanya (dengan cara terpilih), begitu juga saat kita memilih untuk menerimanya, Tuhanpun tidak akan menolak kita.

Yohanes

6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Tuhan Yesus tidak akan pernah menolak orang yang mau datang kepadaNya. Sebab memang Tuhan tidak menginginkan kematian orang fasik. Tetapi lebih menginginkan pertobatan mereka sehingga merekapun dapat memperoleh keselamatan.

Yehezkiel

33:11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Sekarang bagaimana mungkin Tuhan yang tidak berkenan terhadap kematian orang fasik bisa dengan teganya “tidak memilih” seseorang untuk diselamatkan?

Bukankah dengan “tidak memilih” seseorang ini telah menyebabkan seseorang ini akan berakhir di neraka?

Sekarang saudara, setelah kita bisa mengerti bahwa Tuhan tidak mungkin pilih kasih terhadap kita. Apa kira-kira pengertian dari ayat pembuka di atas? Kalau pengertian secara tersurat jelas tidak mungkin. Sebab bertentangan dengan keadilan Tuhan sendiri. Karena itu sudah tentu ada pengertian lain yang berbeda.

Bagi saya saudara, Tuhan itu maha tahu. Dia mengetahui siapa kita, bahkan apakah kita dilahirkan atau tidak di dunia ini Diapun tahu. Apa saja yang kita perbuat, baik masa lalu kita, masa sekarang dan masa depan kita. Tuhan juga tahu bagaimana kita nantinya akan mati, dengan cara apa kita mati, dan apa yang kita perbuat sewaktu kita mati. Bahkan persis sampai hari, jam, menit dan detiknya.

Ini semua adalah karena kemaha tahuan Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi tentang kita di mata Tuhan. Dan karena itu, Tuhan juga tahu bagaimana respon kita terhadap anugerah keselamatan yang ditawarkan Tuhan Yesus kepada kita.

Karena kemaha tahuan Tuhan ini, apakah aneh sekiranya Dia berkata si A terpilih untuk diselamatkan (karena Dia tahu bahwa si A, di akhir hidupnya akan menerima Yesus) sementara si B tidak terpilih di selamatkan (karena Dia tahu bahwa si B, sampai akhir hayatnya tidak sudi menerima uluran tangan Yesus)

“terpilihnya” si A bukan karena Tuhan pilih kasih!
“tidak terpilihnya” si B bukan juga karena Tuhan tega dan suka si B ke neraka!

Si A dan si B sama-sama mendapatkan kesempatan untuk diselamatkan yang sama (keadilan Tuhan) tetapi karena respon si A dan si B berbeda, itulah yang menentukan akhir hidup mereka berdua.

Itulah mengapa Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada kita untuk menginjili setiap orang dan membaptis mereka.

Matius

28:19 Sebab itu pergilah kepada segala bangsa di seluruh dunia, jadikanlah mereka pengikut-pengikut-Ku. Baptiskan mereka dengan menyebut nama Bapa, dan Anak, dan Roh Allah.

Tuhan ingin semua bangsa yang telah diberikan anugerah keselamatan ini dapat merespon uluran tangan Tuhan dan diselamatkan.

Kalau Tuhan menyelamatkan manusia dengan cara memilih-milih “orang yang istimewa” untuk apa Tuhan memberikan amanat yang agung ini?

Toh semua orang yang telah dipilih Tuhan pasti selamat!

Apa mungkin orang yang telah dipilih Tuhan bisa tidak selamat? Salah pilih donk Tuhan? Jelas tidak kan? Jadi kalau mengacuh pada keselamatan yang karena Tuhan pilih-pilih, maka orang yang sudah terpilih pasti selamat.

Dan karena pasti selamat jadi buat apa di injili lagi? Bukankah hal ini seperti kurang kerjaan saja? Apa saudara pikir Tuhan tidak sanggup menjamah sendiri “anak kesayanganNya” (orang terpilih) itu sendiri?

Jadi saudara, keselamatan itu diberikan secara adil bagi kita semua dan respon kitalah yang menentukan kita diselamatkan atau tidak pada akhirnya.

Demikianlah sharing kita ini. Semoga apa yang kita pahami dapat bertumbuh senantiasa. Apabila saudara memiliki pemahaman yang berbeda, silahkan saudara mengimani pemahaman saudara itu. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan kita harus sependapat. Biarlah iman kita bertumbuh sesuai dengan kerohanian kita masing-masing.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus.

Amin.
:slight_smile:

semua sudah ditentukan ALLAH dalam kekekalan…
orang sudah dipilih akan diselamatkan, sama seperti gembala memisahkan domba dan kambing…

Sebenarnya dari pengalaman hidup kita sehari2 TUHAN sudah mengajarkan… contohnya… Apakah tukang periuk pernah membuat periuk untuk dihancurkan dan dibuang ke dalam api…??? tidaklah bukan… periuk itu dibuat untuk memenuhi fungsinya sampai periuk itu sudah tidak bisa dipakai lagi/periuk itu sudah mencapai tujuannya untuk dibuat… manusia saja begitu menyayangi barang buatannya dan dimanfaatkan menurut fungsinya apalagi TUHAN…???

Memanglah demikian karena keselamatan berdasarkan pemberian dan kasih karunia Tuhan saja.

Keselamatan hanya oleh iman dan iman datang berdasarkan kasih karunia Tuhan saja bukan hasil jerih payah manusia :

Ef.2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah

Pengertian yang didapat sering menempatkan Tuhan sebagai pihak yang aktif dalam hal “memilih” orang-orang yang akan diselamatkan dan juga sebagai pihak yang aktif untuk “tidak memilih” pihak-pihak yang akan binasa.

Memang demikian karena manusia tidak pernah mencari Allah kalau Allah tidak melahirbarukan dia terlebih dahulu karena rohaninya sudah mati.

Manusia yang sudah dikuasai oleh dosa sudah pasti akan menolak terang keselamatan dari Allah kalau dia belum lahir baru lebih dahulu.

Yoh.3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Roma 3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.

Jadi dapat diartikah bahwa Tuhanlah yang memutuskan untuk “memilih” si A untuk diselamatkan ataupun “tidak memilih” si B, supaya mati binasa di neraka.

Apa benar demikian saudara?

Tuhan memilih si A karena kasih karunia dan menghakimi dosa si B karena keadilan dan kekudusan-Nya.

Kalau bukan Tuhan yang memilih silahkan buktikan pakai ayat Alkitab bahwa keselamatan merupakan hasil usaha atau perbuatan manusia.

Yoh. 3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.

Dan manusia tidak bisa melahirkan dirinya sendiri secara rohani karena itu hanya pekerjaan Roh dan Firman saja.

Apa benar bahwa Tuhan sendirilah yang berperan sebagai sutradara dari kehidupan manusia ciptaanNya? Yang dengan sekehendak hatiNya Dia mempermainkan kehidupan umat ciptaanNya sendiri dengan memilih siapa yang Dia suka untuk diselamatkan dan melemparkan ke neraka siapa saja yang Dia tidak suka. (karena tidak dipilih olehNya?)

Karena keselamatan hanyalah dari Allah datangnya dan sama sekali bukan merupakan hak atau upah bagi manusia berdosa yang sudah mati rohani.

Manusia yang berdosa sehingga dia harus menanggung dosanya sendiri,jadi bukan Tuhan yang mempermainkan hidupnya melainkan ia yang tidak taat kepada perintah Tuhan.

Kejadian 49:18 Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN

Yunus 2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!

Lukas 3:6 dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Jadi keselamatan sama sekali tidak pernah berasal dan merupakan hasil usaha atas jasa manusia.

Andaikata ada orang seperti itu di dunia ini, yang berbuat demikian terhadap sesamanya, apa nama yang tepat untuk perbuatan orang semacam itu? Si maha adilkah? Atau si maha kuduskah? Bukankah perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang yang semena-mena? Orang yang sangat berkuasanya sampai tidak tahu lagi mana perbuatan yang baik dan mana yang jahat sehingga bisa berbuat sesuka hatinya saja? Ini perbuatan semena-mena! Dan semua orang tahu itu.

Tuhan bukan manusia dan manusia bukan Tuhan,pikiran Tuhan berbeda seperti bumi dengan langit dengan pikiran manusia.

Yesaya 55:8,9 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Jadi mengukur pikiran Tuhan dengan standar manusia hanyalah “logical fallacy” belaka.

Bersambung

@ Duo,

Perbuatan semena-mena begini jelas bukanlah perbuatan yang terpuji, apalagi perbuatan yang disukai oleh Tuhan. Lalu jika perbuatan yang tidak terpuji ini adalah perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan, apa mungkin Tuhan sendiri juga berkarakter semena-mena seperti itu?

Sangat tidak masuk di akal jika perbuatan itu di benci Tuhan namun ternyata Tuhan sendiri yang berkarakter seperti itu.

Memang Tuhan tidak mungkin muat didalam akal manusia karena kebenaran Tuhan jauh lebih besar dari kemampuan akal manusia yang terbatas dan berdosa ini.

Tuhan bertindak berdasarkan sifat sifat-Nya yang adil,kasih dan berdaulat bukan semena-mena,karena hanya manusia berdosa saja yang bisa berbuat demikian.

Tindakan Tuhan tidak mungkin diuji oleh standar manusia melainkan manusialah yang harus diuji berdasarkan standar kebenaran Tuhan sebab manusia hanyalah mahluk yang terbatas,dicipta dan berdosa.

Quote

Tuhan sendiri tidak suka bersikap semena-mena. Bahkan inti dari keseluruhan hukum Taurat menentang perbuatan yang semena-mena. Sekarang jikalau Tuhan memang tidak suka dengan perbuatan semena-mena ini, jelas tidak mungkin Tuhan sendiri melakukan perbuatan yang semena-mena.

Tuhan berdaulat mementukan apa yang menjadi kehendaknya sebagaimana Firman-Nya sendiri :

Roma 9:18 22 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya. Sekarang kamu akan berkata kepadaku: “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan –

Jadi menolak kedaulatan Tuhan didalam rencana-Nya bagi manusia hanyalah tindakan penghujatan belaka.

Pada dasarnya, soal pilih memilih seperti ayat di atas tidak bisa kita artikan seperti tersurat begitu saja. Ada banyak arti yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut. Sebab seperti uraian kita tadi, sekiranya arti dari ayat tersebut sama persis seperti yang tersurat, maka jelas Tuhan telah berlaku semena-mena.

Penafsiran Kitab Suci harus sesuai dengan seluruh makna ayat lainnya bukan sepotong sepotong dan ditafsirkan menurut kehendak manusia karena penafsiran harus secara eksegesis bukan eisegesis. Penafsir yang terbaik bagi Kitab Suci adalah Alkitab itu sendiri.

Kalau Firman berbicara secara literal janganlah ditafsir menyimpang menjadi tidak konsisten dan tidak jelas maknanya hanya karena manusia menganggapnya tidak demikian.

Semua argumentasi manusia tanpa dukungan kebenaran Alkitab sudah pasti sesat adanya.

Bersambung

@ Duo,

Karena baik orang yang terpilih untuk diselamatkan maupun orang yang tidak terpilih dan harus binasa di neraka, pada dasarnya adalah sama-sama orang berdosa yang butuh keselamatan. Mereka dan juga kita semua adalah orang-orang berdosa. Dan sekiranya kita diselamatkan Tuhan (karena terpilih), bukankah mereka juga berhak untuk di selamatkan sama seperti kita karena kita dan mereka sama-sama manusia berdosa?

Manusia sama sekali tidak memiliki hak atau upah atas keselamatan karena mereka semua sudah berdosa dan mati secara rohani dihadapan Tuhan.Dan Tuhan juga sama sekali tidak berhutang keselamatan kepada manusia.

Kalau berbicara mengenai hak manusia maka hanya hukuman atas dosa dosanya saja yang ada kecuali kalau Tuhan memberikan anugerah keselamatan kepadanya.

Mazmur 58:4 Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.

Atas dasar apa Tuhan mau memilih menyelamatkan kita dan menolak memilih untuk menyelamatkan mereka?

Tuhan tidak adil donk kalau berbuat begitu?

Kalau Tuhan adil dan memang Tuhan itu maha adil, maka jelas keselamatan itu diberikan secara universal kepada semua manusia. Bukan dengan cara Tuhan pilih memilih “orang-orang istimewa” yang akan diselamatkan. Tetapi keselamatan itu di tawarkan kepada semua manusia, dan siapa saja yang berkenan menyambutNyalah yang memperoleh keselamatan itu.

Keadilan tidak identik dengan memperlakukan sama rata karena itu hanya konsep komunis !

Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus”. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa ‘adil’ harus berarti mem-perlakukan semua orang dengan sama rata?

Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak selalu harus berarti ‘memperlakukan secara sama rata’

Keselamatan tidak pernah ditawarkan melainkan diberikan karena sama sekali tidak ada istilah penawaran keselamatan didalam Alkitab.

Setiap kita, mendapat kesempatan yang sama untuk menerima uluran tangan Tuhan ini. Jika kita menolak uluran tangan Tuhan ini, maka saat penghakiman tiba tidak ada alasan bagi kita untuk mempersalahkan siapapun termasuk Tuhan karena kita tidak selamat. Sebab keselamatan itu tergantung respon kita atas anugerah yang Tuhan curahkan bagi manusia.

Manusia yang lumpuh (mati rohani) tidak mungkin menerima uluran tangan Tuhan kalau dia tidak diberi hidup yang baru oleh Tuhan.

Sebagai analogi manusia yang mati rohani adalah ibarat orang yang jatuh kedalam jurang dan patah kaki dan tangannya. Apakah dia bisa diselamatkan dengan sekedar mengatakan silahkan berdiri dan ulurkan tanganmu supaya saya bisa mengangkatmu keatas ???

Kalau keselamatan hanya berdasarkan respon manusia maka semua manusia pasti akan masuk neraka karena rohani mereka dalam keadaan mati dan terputus hubungan dengan Tuhan.

Kalau keselamatan berdasarkan respon manusia maka kebenaran kasih karunia sudah tidak ada artinya karena manusia yang memilih keselamatannya bukan pemberian dari Allah.

Keselamatan itu memang hanya anugerah dari Tuhan yang diberikan melalui Yesus Kristus kepada kita. Ini mutlak! Tanpa anugerah dari Tuhan Yesus, mustahil kita dapat memiliki keselamatan. Namun begitu, biarpun Tuhan Yesus telah menganugerahkan keselamatan itu kepada kita semua, tidak semua dari kita akan memperoleh keselamatan itu. Mengapa???

Karena anugerah keselamatan yang Tuhan telah berikan kepada umat manusia ini… membutuhkan respon dari kita untuk menerima atau menolaknya.

Tidak ada paksaan dari Tuhan bagi kita untuk diselamatkan. Saat kita memilih untuk menolaknya, maka Tuhan tidak pernah memaksanya (dengan cara terpilih), begitu juga saat kita memilih untuk menerimanya, Tuhanpun tidak akan menolak kita.

Memang Tuhan tidak memaksakan keselamatan tetapi menganugerahkan keselamatan kepada manusia dengan terlebih dahulu mencelikkan mata hatinya sehingga mereka sadar akan dosa dosanya dan menerima Yesus secara iman.

Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

Kalau menurut konsep anda ayat tersebut harusnya berbunyi “ Sebab karena responmu sendiri kamu diselamatkan itu bukan anugerah Allah tetapi hasil usahamu.”

Alangkah janggalnya konsep keselamatan anda tersebut.

Bersambung

@ Duo,

Quote Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Tuhan Yesus tidak akan pernah menolak orang yang mau datang kepadaNya. Sebab memang Tuhan tidak menginginkan kematian orang fasik. Tetapi lebih menginginkan pertobatan mereka sehingga merekapun dapat memperoleh keselamatan.

Yesus hanya datang menyelamatkan siapa yang ditarik oleh Allah Bapa bukan siapapun yang merespon kepada-Nya.

Yoh. 6:44 Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.

Jadi yang selamat adalah yang ditarik oleh Allah Bapa bukan yang merespon kepada Yesus tanpa didahului kelahiran baru.

Banyak orang yang selama hidupnya sudah merasa beriman dan berespon kepada Yesus ternyata akhirnya ditolak oleh Yesus karena imannya adalah palsu.

Matius 7:22,23 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

1 Yoh. 2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Quote Yehezkiel

33:11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Sekarang bagaimana mungkin Tuhan yang tidak berkenan terhadap kematian orang fasik bisa dengan teganya “tidak memilih” seseorang untuk diselamatkan?

Bukankah dengan “tidak memilih” seseorang ini telah menyebabkan seseorang ini akan berakhir di neraka?

Itulah paradoks didalam kebenaran Allah yaitu didalam kasih-Nya Dia telah memberikan anugerah keselamatan kepada sebagian manusia yang berdosa dan didalam keadilan-Nya Dia mengadili semua dosa manusia.

Tanpa mengerti makna yang paradox kita tidak akan pernah mengerti Firman Tuhan,misalnya Yesus dikatakan datang membawa damai tetapi ayat lain juga mengatakan bahwa Ia juga datang membawa pedang untuk memisahkan orang dengan keluarganya.

Yoh.11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Sekarang saudara, setelah kita bisa mengerti bahwa Tuhan tidak mungkin pilih kasih terhadap kita. Apa kira-kira pengertian dari ayat pembuka di atas? Kalau pengertian secara tersurat jelas tidak mungkin. Sebab bertentangan dengan keadilan Tuhan sendiri. Karena itu sudah tentu ada pengertian lain yang berbeda.

Yang bertentangan bukan pengertian tersuratnya tetapi dengan konsep yang ada didalam pikiran anda karena keadilan Tuhan tidak mungkin menafikan kasih Tuhan yang memilih.

Didalam Kitab Suci penuh dengan ajaran Tuhan yang memilih dan menentukan keselamatan seseorang dan tidak mungkin anda batalkan demikian saja hanya karena tidak sesuai dengan opini anda yang terbatas dan sudah polusi dosa itu.

Bersambung

@Duo,

Ini semua adalah karena kemaha tahuan Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi tentang kita di mata Tuhan. Dan karena itu, Tuhan juga tahu bagaimana respon kita terhadap anugerah keselamatan yang ditawarkan Tuhan Yesus kepada kita.

Karena kemaha tahuan Tuhan ini, apakah aneh sekiranya Dia berkata si A terpilih untuk diselamatkan (karena Dia tahu bahwa si A, di akhir hidupnya akan menerima Yesus) sementara si B tidak terpilih di selamatkan (karena Dia tahu bahwa si B, sampai akhir hayatnya tidak sudi menerima uluran tangan Yesus)

“terpilihnya” si A bukan karena Tuhan pilih kasih!
“tidak terpilihnya” si B bukan juga karena Tuhan tega dan suka si B ke neraka!

Si A dan si B sama-sama mendapatkan kesempatan untuk diselamatkan yang sama (keadilan Tuhan) tetapi karena respon si A dan si B berbeda, itulah yang menentukan akhir hidup mereka berdua.

Itulah mengapa Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada kita untuk menginjili setiap orang dan membaptis mereka.

Kalau keselamatan karena Tuhan mengetahui bahwa seseorang kelak akan memilih-Nya maka semua ayat mengenai :

  1. Pilihan Tuhan
  2. Penetapan Tuhan
  3. Kasih karunia Tuhan
  4. Pemberian Tuhan
  5. Kerusakan total manusia akibat dosa
  6. Tidak ada manusia yang mencari Allah

Dll…dll… akan tidak mempunyai makna lagi sebab manusialah yang menentukan dan berinisiatif menyelamatkan dirinya sendiri,dan ini sama sekali tidak ada dasar alkitabiahnya.

Tuhan mengetahui lebih dahulu siapa yang akan selamat karena Dia sendiri yang sudah menetapkan didalam kekekalan siapa yang akan selamat. :

Efesus 1:3 - 6 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakankepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Dari ayat diatas dapat disimpulkan sbb :

  1. Kita sudah dipilih didalam kekekalan (sebelum waktu) didalam Yesus Kristus

  2. Kita dipilih supaya kita kudus bukan karena kita sudah kudus dan berdasarkan karena karunia-Nya semata-mata

  3. Allah memilih kita karena ‘kasih karunia-Nya’ bukan karena usaha atau jasa manusia (unconditional)

  4. Allah menentukan keselamatan kita karena ‘kerelaan kehendak-Nya’ saja

  5. Allah sudah menentukan keselamatan kita dari semula (kekekalan)

Quote Matius

28:19 Sebab itu pergilah kepada segala bangsa di seluruh dunia, jadikanlah mereka pengikut-pengikut-Ku. Baptiskan mereka dengan menyebut nama Bapa, dan Anak, dan Roh Allah.

Tuhan ingin semua bangsa yang telah diberikan anugerah keselamatan ini dapat merespon uluran tangan Tuhan dan diselamatkan.

Kalau Tuhan mengingini semua manusia selamat mengapa tidak semua manusia selamat karena Tuhan sudah menyediakan Neraka bagi mereka yang tidak selamat ?

Apakah ada yang mustahil bagi kehendak Tuhan ?

Apakah kehendak manusia lebih berkuasa dari kehendak Tuhan ?

Apakah kebebasan manusia yang berdosa lebih besar dari kedaulatan pemilihan Tuhan ?

Siapakah yang mampu melawan kehendak Tuhan yang berdaulat dan berkuasa mutlak kalau Dia sudah menghendaki ?

Kalau Tuhan menyelamatkan manusia dengan cara memilih-milih “orang yang istimewa” untuk apa Tuhan memberikan amanat yang agung ini?

Toh semua orang yang telah dipilih Tuhan pasti selamat!

Apa mungkin orang yang telah dipilih Tuhan bisa tidak selamat? Salah pilih donk Tuhan? Jelas tidak kan? Jadi kalau mengacuh pada keselamatan yang karena Tuhan pilih-pilih, maka orang yang sudah terpilih pasti selamat.

Dan karena pasti selamat jadi buat apa di injili lagi? Bukankah hal ini seperti kurang kerjaan saja? Apa saudara pikir Tuhan tidak sanggup menjamah sendiri “anak kesayanganNya” (orang terpilih) itu sendiri?

Tuhan bukan saja menrencanakan siapa yang akan selamat tetapi juga bagaimana caranya mereka akan diselamatkan.

Kalau anda mendirikan rumah tentu membuat rencana atau design rumah dan akhirnya harus juga menentukan bagaimana pelaksanaannya kalau tidak maka rencana hanya tinggal rencana belaka tanpa pelaksanaan.

Menginjili adalah tugas orang percaya karena kita tidak tahu siapa yang berada didalam rencana keselamatan kekal Tuhan.

Menginjili adalah tugas utama orang percaya karena dengan cara itulah kasih karunia Tuhan bekerja bagi keselamatan orang orang pilihan-Nya.

Roma 10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Bersambung

@Duo,

Jadi saudara, keselamatan itu diberikan secara adil bagi kita semua dan respon kitalah yang menentukan kita diselamatkan atau tidak pada akhirnya.

Demikianlah sharing kita ini. Semoga apa yang kita pahami dapat bertumbuh senantiasa. Apabila saudara memiliki pemahaman yang berbeda, silahkan saudara mengimani pemahaman saudara itu. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan kita harus sependapat. Biarlah iman kita bertumbuh sesuai dengan kerohanian kita masing-masing.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus.

Amin.

Jadi kesimpulan didalam ajaran Alkitab mengenai keselamatan adalah :

  1. Manusia diselamatkan karena pilihan Allah atas semua manusia yang sudah menuju kebinasaan kekal akibat dosa asal dan dosa perbuatannya (Mazmur 51:7 ; Yes.53:6)

  2. Allah tidak berhutang keselamatan dan tidak harus menyelamatkan semua manusia yang berdosa

  3. Kalau Allah tidak inkarnasi menebus dosa manusia maka semua manusia akan binasa didalam neraka.

  4. Kalau Allah menghendaki semua manusia selamat maka semua manusia akan selamat karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya,tidak bisa dihalangi oleh kebebasan manusia sekalipun.

  5. Allah memberikan anugerahnya sama sekali tidak berdasarkan apa yang ada pada manusia yang berdosa itu melainkan hanya berdasarkan kemurahan hati Allah belaka (unconditional). Inilah makna hakiki dari apa yang dinamakan ‘kasih karunia’ itu.

  6. Mereka yang tidak mendapat anugerah hanya mendapat ‘keadilan’ dari Allah yang menghakimi semua dosa dosa mareka didalam Neraka selama-lamanya.

Manusia sejak didalam kandungan ibunya tidak bersifat netral atau tanpa status dosa. (Gal.3:22)

Anugerah adalah pemberian bukan penawaran !

Keselamatan belum selesai sebelum sarana keselamatan yang sudah ditentukan oleh Allah
dipenuhi yaitu kelahiran baru oleh Roh Kudus (Yoh.3:3).

Keselamatan harus diaplikasikan kepada orang percaya dengan meregenerasikan dia.

Tanpa iman maka tidak akan ada keselamatan.

Manusia berdosa adalah atas keinginannya sendiri dengan menyalahgunakan kebebasannya.

Manusia berdosa hanya melakukan apa yang dosa saja karena dia sudah menjadi hamba dosa (Yoh.8:34).

Manusia yang kerohaniannya mati sama saja dengan Lazarus yang tidak berdaya apa apa sebelum Yesus memulihkan kehidupannya kembali.

Demikian juga kerohanian memerlukan pemulihan oleh Roh Kudus agar bisa berfungsi dengan benar.

Mengatakan Allah penyebab kebinasaan manusia hanyalah merupakan penghujatan Allah saja sifatnya.

Shalom

mantab alamak… :afro:

Thank you bro,Tuhan memberkati.

Shalom

sama2 bro…
Tuhan memberkati juga…

bro alamak, kita disini jangan memulai lagi diskusi dari awal lagi. kan semua itu sudah di postingkan pada diskusi kita sebelumnya. nanti malahan gak maju2 topik diskusi kita…

sebaiknya kita diskusi di tempat lama atau diterusi di sini. dan kalau nerusi gak perlu mulai dari awal lagi bro alamak.

oya satu lagi bro, kalau diskusi kita mau terarah sebaiknya jangan di berondong sekali gus, topik by topik saja. biar lebih terfokus.

thks.
salam.
GBU

Diskusi mengenai keselamatan sebaiknya disini bukan ditopik mengenai malaikat karena hanya manusia yang menjadi obyek keselamatan Allah.

Saya hanya menanggapi semua komentar anda bukan membikin hal yang baru,jadi sebaiknya anda mengcounter satu persatu komentar saya seperti yang saya lakukan agar sistimnya gayung bersambut dan tidak melompat lompat tanpa arah.

Shalom

baiklah bro alamak, kita pindahkan di sini.

saya langsung ke inti diskusi kita…

sama seperti pertanyaan saya yang sebelumnya, kalau Tuhan adil, apakah dengan bertindak menyelamatkan seorang dan mengabaikan yang lain bisa dibilang adil sementara kesalahan yang mereka perbuat sama?

contoh sederhana :

si A mencuri bersama-sama dengan si B atas ide bersama. mereka tertangkap dan dihakimi oleh ayah mereka. kalau si ayah mengampuni si A dan menghukum si B, adilkah tindakan ini???

ingat bro, Tuhan mengklaim Dia lebih baik dari bapa dunia ini.

Matius 7 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

salam kasih.
GBU

Kelihatannya anda tidak membaca semua postingan saya bro seperti saya membaca semua postingan anda.

Baiklah karena sudah saya jawab maka saya kutip lagi sbb :

Keadilan tidak identik dengan sama rata karena itu hanya konsep komunis !

Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus”. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa ‘adil’ harus berarti mem-perlakukan semua orang dengan sama rata?

Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak selalu harus berarti ‘memperlakukan secara sama rata’

Keselamatan tidak pernah ditawarkan melainkan diberikan karena sama sekali tidak ada istilah penawaran keselamatan didalam Alkitab.

Shalom

Bro alamak, dari mana bro bisa bilang keadilan itu produk komunis? Keadilan ada dengan sendirinya dalam hati manusia. Itu produk alami dari manusia.

Seorang anak kecil, tanpa tahu ideologi komunispun dapat mengatakan bro tidak adil kalau bro memperlakukan dia dan temannya dengan cara berbeda. Apakah dalam hal ini anak kecil itu sudah dijejali paham komunis?

Kalau Tuhan sangat tidak suka manusia bersikap tidak adil terhadap sesamanya, lalu bagaimana mungkin Tuhan sendiri bersikap tidak adil?

Coba bro tempatkan diri anda pada posisi orang2 yang tidak terpilih, masihkah bro bisa mengatakan Tuhan itu maha adil?

Matius 20 itu justru menunjukkan keadilan Tuhan. Dia memberikan kepada semua orang baik yg terdahulu maupun yang terbelakang.

Konsep adil, tidak sama dengan konsep sama rata. Harus dibedakan masalah ini. Memberi uang anak kecil yg masih SD tidak sama nilainya dengan kakaknya yang sudah kuliah.

Tetapi memberikan keselamatan pada seseorang dan menghukum yang lainnya di neraka kekal, ini jelas ketidak adilan. Karena semua melakukan dosa yang sama. Sama2 terlepas dari Tuhan. Lalu mengapa Tuhan pilih kasih?

Manusia biasa saja, tahu membedakan mana adil mana tidak. Masa Tuhan tidak bisa membedakannya?

Matius 7 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Bukankah Tuhan jauh lebih baik dari hanya seorang manusia?

Kalau mengikuti konsep Tuhan versi bro alamak, standar Tuhan dalam keadilan malahan jauh di bawah standar keadilan manusia ciptaanNya sendiri. Masuk akalkah ini bro???

Salam bro.
GBU

Huft, perdebatan klasik armenian dan calvin. Numpang ngikut, tapi kalo sudah ada yang maki2 saya tinggal pergi.
Untuk duo alva, ada kesalahan (sopannya: perbedaan) konsep yang anda mengerti. Anda menganggap bahwa kalo Allah itu KASIH berarti Dia harus (mau) menyelamatkan semua orang. Kalo Allah itu ADIL berarti Dia harus memilih semua orang (kalo memang keselamatan melalui ‘pemilihan’)
Kalo dari Reformed, kami berbeda.
Kalo Allah itu ADIL maka semua orang harus masuk neraka (dihukum) karena mereka adalah orang berdosa.
Karena Allah itu KASIH maka Dia memilih kita untuk lepas dari hukuman.
Nb: Tolong kalo nanggapi punya saya, topiknya ini dulu yang diselesaikan. Tq.