Serangan & Penganiayaan Terhadap Gereja & Umat Kristen di dunia

Gereja Diserang, 7 Orang Tewas Sabtu, 1 Januari 2011 - 12:37 wib Fajar Nugraha - Okezone


http://i.okezone.com/content/2011/01/01/18/409370/3qEh1KxEEh.jpg

KAIRO - Sebuah mobil meledak di depan gereja koptik saat misa tahun baru di Mesir. Insiden yang terjadi Kota Alexandria ini menyebabkan tujuh orang tewas dan belasan lainnya terluka.

Ledakan ini berlangsung saat sekira seribu umat Kristen menghadiri misa di Gereja the Saints Alexandria, Sabtu 1 Januari dini hari waktu setempat. Kejadian tersebut berlangsung sekira 30 menit sehabis pergantian tahun.

Menurut Pendeta Mena Adel, ledakan terjadi saat jemaat meninggalkan gereja usai menghadiri misa. Asal ledakan berasal dari sebuah mobil yang diparkir di luar gereja. Demikian diberitakan Associated Press, Sabtu (1/1/2011).

Polisi masih menyelediki puing-puing dari mobil yang hancur akibat ledakan tersebut. Polisi juga belum dapat memastikan apakah mobil itu memang benar membawa bahan peledak.

Usai ledakan terjadi, warga Kristen setempat terlibat kerusuhan dengan polisi. Mereka marah karena kepolisian yang dianggap gagal melindungi warga yang beribadah.

Mereka pun melempari polisi dan sebuah masjid yang berada tidak jauh dari lokasi ledakan dengan batu.
(faj)

Korban Tewas Bom Gereja Mesir Bertambah 21 Jiwa Sabtu, 1 Januari 2011 - 20:11 wib Fajar Nugraha - Okezone


http://i.okezone.com/content/2011/01/01/18/409449/PkmrlZ4Ygl.jpg

Darah korban ledakan di gereja (Foto:Reuters)
KAIRO - Korban tewas akibat ledakan bom yang melanda sebuah gereja koptik di Mesir, bertambah menjadi 21 orang. 24 orang juga dilaporkan terluka dalam insiden ini.

Ledakan ini berlangsung saat sekira seribu umat Kristen menghadiri misa di Gereja the Saints Alexandria, Sabtu 1 Januari dini hari waktu setempat. Kejadian tersebut berlangsung sekira 30 menit sehabis pergantian tahun. Demikian dilansir Reuters, Sabtu (1/1/2011).
Usai ledakan bom, warga Muslim dan Kristen di Alexandria saling melempari batu antara mereka. Beberapa mobil tampak dibakar oleh kedua kelompok yang hidup berdekatan ini.

Ledakan ini sendiri tidak hanya membuat luka umat Kristen. Sekira delapan umat Muslim turut terluka dalam ledakan bom di pergantian tahun tersebut.

Polisi masih terus menyelidiki insiden tersebut. Belum ada pihak yang bersedia bertanggung jawab atas ledakan bom kali ini.

Sementara Presiden Mesir Hosni Mubarak meminta warga Mesir untuk tetap bersatu dalam serangan yang ia sebut sebagai ulah dari kelompok teroris. Mubarak juga meminta pihak keamanan melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi gereja koptik yang terkena ledakan bom ini.
(faj)

7 Ditahan Terkait Ledakan Gereja Mesir Senin, 3 Januari 2011 - 13:01 wib Fajar Nugraha - Okezone


http://i.okezone.com/content/2011/01/03/18/409821/Z8E1Lm85yN.jpg

Korban bom di Mesir (Foto: AP)
KAIRO - Pihak berwenang Mesir menahan tujuh orang untuk diinterogasi menyusul insiden ledakan bom yang terjadi pada malam tahun baru lalu. Ledakan itu berlangsung di gereja koptik kota Alexandria.

Sebelumnya pihak berwenang setempat juga turut menahan sepuluh orang lain. Tetapi mereka kemudian dibebaskan karena terbukti tidak memiliki kaitan dengan peristiwa ledakan tersebut.

Insiden yang diduga sebagai aksi bom bunuh diri ini, menewaskan 21 orang yang sedang berkumpul di luar gereja. Kejadian yang melukai 97 korban lainnya, berlangsung di saat misa tahun baru. Demikian dilansir Reuters, Senin (3/1/2011).

Pemerintah Mesir menuduh adanya elemen asing yang berada di balik ledakan bom ini. Sementara pimpinan tahta suci Vatikan Paus Benediktus ke-16 mengecam aksi pengeboman ini sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat diterima.

Paus mengecam pengeboman tersebut sebagai rangkaian serangan terhadap gereja yang berada di Timur Tengah dan Afrika.

Sementara bukan tanpa alasan mengapa pihak Pemerintah Mesir menuduh adanya keterlibatan pihak asing dalam serangan ini. Sekira dua minggu lalu sebuah kelompok militan Irak yang memiliki kaitan dengan Al Qaeda, mengancam untuk melakukan aksi pengeboman gereja di Mesir dan negara lain di malam natal.

Sedangkan dalam pernyataan dari kelompok militan yang tidak ketahui identitasnya, mengatakan serangan di malam pergantian baru di Alexandria itu baru awalnya saja.
Kelompok militan di Irak berniat melakukan serangan ini, menyusul ditahannya seorang perempuan Kristen di Mesir yang ditahan oleh pihak gereja koptik karena ini berpindah agama menjadi seorang Muslimah.
(faj)

Pemimpin Palestina Turut Belasungkawa atas Insiden Bom Gereja Mesir Ahad, 02 Januari 2011, 09:48 WIB


http://static.republika.co.id/images/mahmoud_abbas_101018091459.jpg

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA - Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengirimkan ucapan belasungkawa kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak atas ledakan di dekat Gereja Koptik Kristen di Alexandria yang menewaskan 21 orang dan melukai 79 lainnya. Ledakan itu terjadi setelah Misa Tahun Baru saat para jemaah meninggalkan gereja itu.

Kepolisian Mesir meyakini ledakan di dekat Gereja Koptik Kristen tersebut dilakukan oleh seorang pelaku bom bunuh diri. Dalam sebuah telegram kepada Presiden Mesir itu, Abbas menyebut peristiwa itu sebagai “tindakan menjijikkan dan kejam bertujuan untuk menghancurkan keamanan dan stabilitas persaudaraan di Mesir dan mengaduk kebencian antara Muslim dan Kristen.”

Abbas juga mengirim telegram belasungkawa kepada Paus Shenouda III dari Aleksandria. Sementara itu, kata Kementerian Kesehatan Mesir, jumlah orang yang cedera dalam ledakan tersebut telah mencapai 97. Sebanyak 21 lainnya dilaporkan hilang.

Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Mesir mengatakan bahwa informasi mengenai korban baru dari ledakan itu mungkin muncul segera setelah semua yang terkena dampak ledakan dikirim ke rumah sakit yang berbeda. Tiga orang dengan luka parah dibawa ke rumah sakit terbaik di Kairo karena mereka perlu operasi.

January 1, 2011 9:34 PM WIT Bom Bunuh Diri di Gereja Mesir, 17 Tewas


http://img.ibtimes.com/id/data/images/full/2011/01/01/2980-bom-bunuh-diri-di-gereja-mesir-17-tewas.jpg

Sebuah bom menewaskan sedikitnya 17 orang di luar sebuah gereja di kota Iskandariyah, Mesir pada awal Tahun Baru, dan Kementerian Dalam Negeri mengatakan seorang pembom bunuh diri asing yang mungkin telah bertanggung jawab.

Puluhan orang terluka akibat ledakan, bagian tubuh yang berserakan, mobil hancur dan jendela pecah. Serangan itu mendorong orang Kristen untuk protes di jalanan dan beberapa orang Kristen dan Muslim melemparkan batu satu sama lain.

Mesir telah meningkatkan keamanannya di sekitar gereja-gereja, melarang mobil parkir di luar tempat mereka, karena kelompok jaringan Al Qaeda di Irak mengeluarkan ancaman terhadap Gereja di Mesir pada bulan November lalu.

Pemimpin Mesir segera menyerukan untuk kesatuan, waspada terhadap kebangkitan dalam perselisihan sektarian atau ketegangan lainnya ketika Mesir mendekati pemilihan presiden periode bulan September di tengah beberapa ketidakpastian tentang apakah Presiden Hosni Mubarak, 82, akan berjalan.

Sebuah pernyataan di sebuah situs Islam diposting sekitar dua minggu sebelum ledakan menyerukan serangan terhadap gereja-gereja Mesir, dan salah satu dalam daftar di antaranya terkena serangan. Belum ada kelompok yang disebutkan dalam pernyataannya.

Paus Benediktus, Kepala Gereja Katolik Roma, mengutuk kekerasan terhadap umat Kristen di Tahun Baru dalam kotbahnya dan meminta untuk kebebasan beragama dan toleransi. Dia mengatakan akan menjadi tuan rumah pertemuan puncak para pemimpin dunia agama di Assisi pada bulan Oktober untuk membahas cara untuk mempromosikan perdamaian.

Jerman dan Irak mengutuk serangan itu.

Ledakan pada hari Sabtu tidak berasal di salah satu mobil yang hancur, menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri di kantor berita resmi. “Ada kemungkinan bahwa perangkat yang meledak dilakukan oleh seorang pembom bunuh diri yang meninggal di antara lainnya yang tewas,” katanya.

Keadaan serangan ini dibandingkan dengan insiden lain di luar negeri, “dengan jelas menunjukkan bahwa unsur-unsur asing melakukan perencanaan dan pelaksanaan,” tambah pernyataan itu.

Mubarak berjanji dalam pidato televisi bahwa teroris tidak akan mengguncang Mesir atau memisahkan Kristen dan Muslim. Dia mengatakan, serangan itu “membawa bukti keterlibatan tangan-tangan asing” dan bersumpah untuk mengejar pelakunya.

FRUSTRASI KOMUNAL

Menteri Kesehatan Hatem el-Gabaly mengatakan kepada Reuters, ada 17 orang dipastikan meninggal, 12 orang di antaranya diidentifikasi sebagai orang Kristen. Lima mayat belum diidentifikasi. Dia mengatakan penilaian awal menunjukkan 70 orang terluka.

Media pemerintah sebelumnya melaporkan 21 tewas dalam ledakan, yang melanda ketika para jemaat yang beribadah menjelang Tahun Baru meninggalkan gereja. Kementerian awalnya menyalahkan ledakan bom mobil.

Orang-orang Kristiani membuat sekitar 10 persen dari 79 juta orang Mesir mayoritas Muslim. Ketegangan sering marak antara kedua komunitas atas masalah seperti bangunan gereja atau hubungan yang erat antara anggota dari dua agama.

Tetapi para analis mengatakan serangan ini adalah pada skala yang lebih besar dan tampak jauh lebih terorganisir dari jenis kekerasan yang biasanya meletus ketika frustaso komunal mendidih.

“Insiden tragis tentu tidak cocok dengan kekerasan sektarian lainnya yang organisasi saya telah mendokumentasikan selama beberapa tahun terakhir,” kata juru kampanye hak Hossam Bahgat.

Kelompoknya, Inisiatif Mesir bagi Hak Pribadi, mengatakan jumlah insiden kekerasan sektarian telah meningkat.

Setelah protes semalam, lebih dari 100 orang Kristen protes pada hari Sabtu dekat gereja Ortodoks Koptik yang terkena serangan. “Kami mengorbankan jiwa kita dan darah untuk salib,” teriak mereka.

ANCAMAN ISLAM

Negara al-Qaeda Islam Irak, yang diklaim serangan terhadap sebuah gereja di Baghdad pada bulan November, mengancam Gereja Mesir atas perlakuan terhadap kelompok perempuan mengatakan Gereja dikuasai setelah mereka telah masuk Islam.

Sebuah pernyataan yang diposting di sebuah situs Islam menyerukan umat Islam “mem-bom gereja selama liburan Natal ketika gereja-gereja penuh.” Tidak jelas siapa yang berada di belakang pernyataan bahwa gereja-gereja yang terdaftar di Mesir dan di tempat lain, termasuk Gereja Alexandria Dua Orang Suci yang ditargetkan.

Natal Koptik Ortodoks pada tanggal 7 Januari.

Gubernur Alexandria Adel Labib “menuduh al Qaeda merencanakan pengeboman itu,” lapor televisi pemerintah dalam judul singkat tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Kameel Sadeeq, dari dewan Koptik di Alexandria, mengatakan kepada Reuters: “Orang-orang pergi ke gereja untuk berdoa kepada Allah, tetapi berakhir dengan tubuh-tubuh anggota tersebar akibat pembantaian al Qaeda yang tertulis ini dan pola yang sama yang telah diadopsi Qaeda di negara-negara lain.”

Januari lalu, sebuah mobil dari enam Kristen ditembak dan seorang polisi muslim di sebuah gereja di Mesir selatan memicu protes.

Pada bulan November, ratusan orang Kristen bentrok dengan polisi anti huru hara dan dengan beberapa Muslim yang tergabung pada protes terhadap keputusan untuk menghentikan pembangunan gereja di Kairo. Para pejabat mengatakan orang-orang Kristen tidak memiliki izin untuk membangun. Dua orang Kristen meninggal dan puluhan terluka, kata sumber medis. Lebih dari 150 orang ditahan.

Para pengamat mengatakan negara harus mengatasi keluhan secara hukum sehingga lebih mudah untuk membangun masjid daripada gereja jika ingin membendung kekerasan sektarian tersebut.

Para pejabat dengan cepat mengecilkan perbedaan sektarian dan ingin menekankan kerukunan nasional setelah pemilu parlemen November bahwa kelompok-kelompok oposisi mengatakan dicurangi, dan sebelum pemilihan presiden pada bulan September.

Mubarak, 82 dan berkuasa sejak tahun 1981, diharapkan dapat dijalankan, jika dia mampu. Operasi Empedu pada bulan Maret kembali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang kesehatan, tapi dia telah kembali ke jadwal semulanya yang padat.

Program Pembersihan Minoritas Kristen di Timur Tengah SATURDAY, 08 JANUARY 2011 Total View : 425 times

Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis, mengatakan bahwa minoritas Kristen di Timur Tengah adalah korban pembersihan agama, menyusul serangan mematikan terhadap gereja-gereja di kawasan itu (7/1/2011).
“Sejumlah serangan terhadap orang Kristen di Timur Tengah makin lama makin tampak sebagai sebuah program pembersihan umat Kristen dari Timur Tengah, pembersihan agama,” kata Sarkozy dalam sebuah pidato tahunan kepada para pemimpin agama.

Sebuah serangan mematikan terhadap sebuah Gereja Koptik di Kota Alexandria,Mesir, pada 1 Januari lalu juga telah menewaskan 21 orang. Disusul dengan website kelompok radikal yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, menerbitkan ancaman kepada gereja dan komunitas Koptik lainnya di berbagai negara.

Sebelumnya, 44 orang umat dan dua pastor meninggal dalam sebuah serangan di Gereja Katolik Koptik di Baghdad pada Oktober 2010. Ini adalah serangan terburuk terhadap umat Kristen di negeri seribu satu malam itu.
Mari kita berdoa bagi saudara-saudari kita di Timur Tengah. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah tidur, dan Ia akan mengetuk pintu hati para penyerang sehingga mereka akan berbalik dan percaya kepada Kristus.
Source : suarapembaruan

Pasca Bom, Warga Mesir Adakan Misa SUNDAY, 09 JANUARY 2011 Total View : 100 times

Pasca pemboman yang terjadi di Mesir, umat Kristiani Koptik mengadakan misa untuk mendoakan para korban bom yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di kota pelabuhan Iskandariyah.
Misa yang ditujukan untuk mendoakan korban bom tersebut dijaga ketat oleh pihak keamanan dan areal gereja tersebut hanya boleh dimasuki umat Kristiani.

Warga Muslim pun turut menunjukkan rasa solidaritasnya dengan berdiri di gerbang gereja dan membawa plakat bertuliskan antiterorisme dengan maksud mengecam pelaku aksi terorisme tersebut.

Serangkaian serangan juga telah menargetkan orang-orang Kristen di Irak. Salah satu kelompok teroris bahkan telah mempublikasikan pesan secara online rencana mereka untuk menyerang umat kristiani. Negara-negara Timur Tengah serta Eropa saat ini telah meningkatkan kewaspadaan mereka akan kemungkinan serangan teroris.

Peristiwa ini menunjukkan bersatunya hati umat Kristiani dan umat Muslim. Sebab tidak ada satupun agama yang benar yang mengajarkan kekerasan. Semoga dengan kejadian ini membuka mata para terorisme, bahwa persatuan umat beragama tidak bisa dipecahkan.

Source : liputan6

Vatikan dan Mesir Saling Lempar Protes

THURSDAY, 13 JANUARY 2011
Total View : 198 times
Tuntutan Paus Benediktus XVI kepada seluruh pemerintahan di dunia, khususnya Mesir untuk berbuat lebih banyak memastikan keselamatan umat Kristen nampaknya membuat pemerintah Mesir tersinggung dan segera mengirimkan protes resmi terhadap Vatikan.

Seperti dikutip situs Bernama, Rabu (12/1), atas intervensi Paus tersebut Mesir langsung bereaksi dengan memanggil duta besarnya di Vatikan untuk kembali ke negaranya. Ucapan Paus dianggap melecehkan, serta merupakan bentuk intervensi pihak asing.

Dalam pesannya, Menteri Luar Negeri Ahmed Abu-al-Ghayt menegaskan selama ini Mesir telah berusaha menghindari ketegangan agama di negaranya. “Mesir tidak akan membiarkan pihak asing mencampuri urusan internal dengan dalih apapun.” Ujar Juru bicara Departemen Luar Negeri Husam Zaki.

Dalam beberapa hari ini memang seluruh rilis berita memuat bahwa Paus sedang risau akan banyaknya kekerasan yang menimpa umat Kristen, setelah serangan bom bunuh diri di Gereja Kristen Koptik di kota pelabuhan Iskandariyah terjadi saat malam misa menyambut tahun baru 2011.

Tahun yang baru berjalan beberapa hari ini seharusnya memunculkan solusi dan konsep terbaru yang lebih menampung seluruh keinginan dan aspirasi kebersamaan umat beragama. Sekali lagi pola pikir bijaksana dan jernih memandang terhadap konteks dan situasi menjadi solusi tepat memecahkan masalah tersebut.

Sumber : Jawaban

mari kita sama-sama mendoakan mereka…

Gereja Bawah Tanah di China Sudah Terang-Terangan MONDAY, 17 JANUARY 2011

Mereka menghadapi penangkapan, penganiayaan, sampai kematian untuk iman mereka. Tapi setelah 40 tahun lebih setelah Revolusi Kebudayaan, masyarakat Kristen China makin kuat dan membagikan iman mereka secara terang-terangan. Satu dari gereja bawah tanah yang terbesar di Beijing sudah memutuskan untuk berdiri secara terbuka.

Berdiri di beberapa blok dari bangunan pusat keuangan di Beijing, beberapa ratus umat Kristen berkumpul untuk menyembah Tuhan. “20 tahun yang lalu, kami bahkan tidak akan diijinkan untuk mendokumendasikan pertemuan kami. Tapi sekarang, China sudah berubah dan gereja juga berubah dengan sendirinya,” kata Jin Tian Ming.

Jin merupakan seorang pendeta di Gereja Shou Wang, satu dari gereja bawah tanah terbesar di Beijing. Ini pertama kalinya sejak dia mendirikan gerejanya 17 tahun yang lalu bahwa dia melayani ibadah dengan adanya kamera.

Beberapa tahun yang lalu, anggota gereja memutuskan untuk keluar dari persembunyian. Mereka menyewa tempat di sebuah bangunan katnor dan memulai pertemuan bersama di satu lokasi. “Kami merasa Tuhan memanggil gereja kami untuk menjadi kota di atas bukit, sebuah lampu di puncak gunung. Dengan melakukan ini, kami membuka diri,” kata Liu Guan, penatua dari Gereja Shou Wang.

Gereja mulai bertumbuh. Sekarang kurang lebih 1.000 orang menghadiri kebaktian hari minggu. “Dalam gereja saya, kami mengumpulkan banyak orang Kristen dimana mereka semuanya punya posisi di masyarakat umum,” kata Liu. “Mereka ingin menjadi saksi Kristus untuk masyarakat.”

Gereja mulai membagikan kasih ke komunitas, seperti memberikan makanan dan pakaian bagi mereka yang membutuhkan. Secara teknis, sebenarnya berkumpul bersama merupakan hal illegal karena gereja belum teregistrasi oleh pemerintah atau bukan bagian dari gereja yang sudah ditetapkan. Tapi pihak berwenang sudah mulai lunak. Tidak ada lagi gereja-gereja yang dibakar atau bahkan anggota gereja yang dianiaya.

Mari kita terus doakan. Meski pertumbuhan umat Kristen di China terus meningkat, mereka tetap memerlukan Tuhan. Biarlah mata rohani mereka terbuka untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Dan berdoa agar gereja di sana memberitakan terang Tuhan lebih nyata lagi.

Pengacara Pendukung HAM Di Cina Dinyatakan Hilang MONDAY, 24 JANUARY 2011

Para pemimpin kongres Amerika memperbaharui kritikan mereka minggu ini terhadap tindakan keras Cina kepada para pengacara hak asasi manusia saat Presiden Cina Hu Jintao bertemu dengan anggota parlemen AS.

Salah seorang pembela hak asasi manusia yang paling menonjol adalah Gao Zhiseng, seorang pengacara hak sipil Kristen yang dinyatakan hilanh sejak April 2010.

Gao telah keluar masuk tahanan polisi sejak tahun 2007 karena sikapnya yang memprotes penganiayaan atas orang Kristen dan para pengikut Falun Gong.

Pada tahun 2009, Gao berbicara dengan wartawan dari Associated Press tentang kekerasan dan penderitaan yang dialaminya selama berada di tangan pemerintah. AP baru saja merilis wawancara tersebut pada bulan ini karena Gao meminta mereka tidak menayangkan kisah ini kecuali jika ia kembali dinyatakan hilang.

Gao mengatakan polisi terus memukuli dirinya dengan pistol selama dua hari. Gao juga mengatakan mereka menyiksa dirinya dengan cara yang tak dapat diceritakannya secara detail.

“Selama 48 jam, hidup saya tergantung dengan benang,” ujarnya. “Derajat kekejaman itu tak dapat diungkapkan dengan cara apapun juga.”

Dalam sebuah surat yang diterbitkan secara online, Gao mengatakan iman percayanya kepada Yesus telah menjauhkannya dari kepahitan.

“Bahkan ketika saya disiksa sampai hampir mati, rasa sakit itu hanya terasa secara fisik,” katanya. “Hati yang dipenuhi dengan kehadiran Tuhan tak memiliki tempat untuk menyimpan rasa sakit dan penderitaan.”

Para pemimpin kongres AS menyerukan kepada gereja untuk berdoa dan berbicara atas nama Gao Zhiseng.

Source : Jawaban

Gusti Yesus boten sare

Tuhan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat

jangan dibalas pokoknya, biar yang berhak aja yang membalas

amerika pejuang ham dunia membuka suara atas penindasan umat kristen di afganistan
di afganistan menjadi seorang kristen adalah kejahatan
bila ada yang pindah agama menjadi kristen maka harus dihukum mati
kita doakan saudara-saudara di sana

Amerika : Hormati Hak Mereka Karena Pindah Agama THURSDAY, 27 JANUARY 2011

Pemerintah Amerika Serikat dan organisasi Kristen internasional menekan Afghanistan agar membebaskan dua pria yang berpindah keyakinan kepada Yesus, yang telah ditahan dengan tuduhan murtad dan menghadapi hukuman mati jika sudah diputuskan.

Amerika menekankan agar pihak berwenang Afghanistan menghormati Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia, sebuah dokumen yang didukung juga oleh Afghanistan yang menjunjung tinggi kebebasan beragama. “Kami akan terus meminta kebebasan mereka dan secara berkala memunculkan masalah ini kepada pemerintahan Afghanistan, memperlihatkan perhatian kami yang besar dalam masalah ini,” kata juru bicara Duta Besar Amerika di Kabul, Caitlin Hayden.

Namun, berbeda halnya dengan pihak berwenang Afghanistan yang mengatakan, “Keputusan bagi orang yang berpindah agama hanya kematian dan tidak ada pengecualian,” kata Jamal Khan, ketua dari Menteri Keadilan. “mereka harus dihukum mati agar menjadi pelajaran bagi orang lain.” katanya sebagai penegak hukum yang negaranya menganut hukum syariah sebagai landasan hukumnya.

Satu dari pria yang ditahan bernama Said Musa (46), dia sudah berpindah agama 9 tahun yang lalu. Dia bekerja di Komite Internasional Palang Merah selama lebih dari 15 tahun di Kabul. Dia ditahan bulan Mei tahun lalu, anak dan istrinya langsung terbang keluar negeri agar bisa selamat. Pria kedua bernama Shoaib Assadullah Musawi (25) yang ditahan bulan November di Provinsi Balkh, Afghanistan utara setelah memberikan Perjanjian Baru kepada temannya yang ternyata malah melaporkan dia ke pihak berwenang.

Baik Musa maupun Musawi menceritakan bahwa mereka mengalami kekerasan seksual di penjara karena iman mereka, kadang juga dipukul. Tidak ada seorang pembela hukum yang mau membela mereka karena takut kalau-kalau mereka jgua menghadapi keadaan yang sama. Aktivis Kristen dari seluruh penjuru bumi secara diam-diam berkumpul di Kabul di pagi hari untuk menuliskan surat dan kampanye bagi mereka. Aktivis tersebut mengatakan bahwa pemerintahan baru juga tidak begitu bertoleransi sama seperti regim Taliban yang diturunkan 9 tahun lalu.

Jika kedua orang itu dibebaskan, mereka akan membutuhkan suaka dari negara lain, menurut pendukung mereka, karena hidup mereka akan dalam bahaya jika tetap berada di Afghanistan. Dalam nama Yesus, biarlah mereka mendapatkan kebebasan dan iman mereka tetap teguh di dalam Yesus. Biarlah kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kesaksian mereka ini. Amin.

Source : online.wsj.com/lh3

mau cerita yg baru aku alami kemarin.

kebetulan aku lg dinas di aceh.
jd kemaren waktu lagi antri ronsen paru2.
ada 2 ibu2 ngobrol dgn suara keras (yg sengaja mereka kerasin supaya aku dengar, soalnya aku ga pake jilbab).

ibu 1: “saya lg diundang nih sama pak haji A untuk ke bireun, katanya ada pertemuan yg di sponsorin partai Z (parpol agama islm) dan saya di undang”
ibu 2: “acara apa kak?”
ibu 1: “ini perdebatan antara kristen ama muslim. yg kristen itu bekas muslim n yg muslim bekas kristen masuk islam”
ibu 2: “astaghfirullah, kok bisa sih dia jd kristen. dasar ****…”
ibu 1: “alasan yg masuk muslim ini masuk akal. dia blg kok org kristen nyembah manusia. harusnya mrk sadar, kalo Tuhan Yesus memang Tuhan waktu di salib harusnya Dia bs menghilang…” (dengan nada yg semakin tinggi)

gue mah pasang muka ga perduli aja, padahal hati dah panas juga. tp ga guna lah…
bagi gue itu termasuk aniaya juga. padahal ada hukum di Indonesia yg mengatakan setiap org berhak beribadah dan memeluk kepercayaannya masing2. tapi kenyataannya di negara kita tidak begitu.

Misionaris AS Yang Tewas Di Meksiko Tahu Hidupnya Akan Berakhir MONDAY, 31 JANUARY 2011

Menyusul pembunuhan baru-baru ini atas misionaris Nancy Davis, beberapa misionaris telah mempertimbangkan ulang akan pelayanan mereka di Meksiko.

Nancy tertembak di kepala pada hari Rabu (27/1) saat melarikan diri dari sekelompok pria bersenjata yang diduga kartel narkoba. Suaminya melarikan kendaraan mereka ke perbatasan dengan kecepatan penuh untuk menyelamatkan hidupnya namun sudah terlambat.

“Kami menerima telepon saat itu dari seorang teman yang meminta agar kami mendoakan pasangan Davis karena mereka saat itu sedang dikejar sekelompok orang bersenjata,” ujar Merton Rundell, seorang teman dari keluarga Davis.

Seiring peningkatan angka kekerasan pertikaian kartel narkoba, Nancy telah meramalkan ia mungkin tidak akan keluar dari negara itu hidup-hidup.

Nancy dan suaminya, Sam Davis, berulangkali menerima ancaman dan dipaksa untuk melarikan diri. Namun, teman dan keluarga mengatakan pasangan Davis ini tetap mengejar gairah mereka, merintis gereja dan menyebarkan Injil.

Nancy senang menulis lirik dan memainkan alat musik. Dia juga seorang perawat yang terdaftar secara resmi.

“Nancy adalah seorang wanita yang fenomenal dan setiap pasien yang dirawatnya selalu diceritakan tentang Tuhan dan merawat mereka sampai ke dalam jiwa mereka,” ujar Melody Davis Reynolds, keponakan Nancy.

Beberapa misionaris tidak lagi menginjakkan kaki ke Meksiko karena peningkatan kekerasan akibat obat-obat terlarang. Polisi berpikir pasangan Davis dijadikan sasaran karena truk yang mereka miliki – suatu komoditas yang berharga di antara pedagang obat bius.

“Saat ini kami belum secara resmi duduk dan membicarakan apa yang menjadi kebijakan kami tetapi kebijakan informal kami adalah, ‘Jangan abaikan orang-orang ini, mereka membutuhkan pertolongan untuk diselamatkan lebih daripada sebelumnya,’” ujar Mark Rotramel, moderator dari Rio Grande Valley Babtists Association.

Putra pasangan Davis, Joseph, mengatakan ibunya meninggal saat melakukan apa yang ia cintai.

“Dari waktu ke waktu, yang paling membuatnya bahagia adalah saat melihat orang berlutut dan mencari pengampunan atas apa yang telah mereka lakukan – pembunuhan, perkosaan, bahkan dosa yang paling kecil,” ujarnya. “Ibu akan pulang dengan sangat bahagia serta berkata, ‘Kita telah mencuri satu lagi jiwa dari iblis hari ini’.”

Dari hidup Nancy Davis kita belajar, saat kita hidup dan berjalan dengan panggilan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup kita, maut sekalipun tak dapat menghentikan apa yang menjadi karya Tuhan melalui hidup kita.

Source : cbn.com

Kematian Misionaris Tidak Membuat Hati Mereka Mati SUNDAY, 30 JANUARY 2011

Pembunuhan para penginjil Amerika di Meksiko baru-baru ini memang membuat umat Kristen lainnya beralih dari pelayanan dalam negara yang bertikai. Tapi banyak misionaris lainnya yang mengatakan bahwa mereka dipanggil untuk menolong Meksiko dan akan tetap melakukannya apapun yang terjadi.

Nancy Davis dan suaminya, Sam sudah melayani di sana selama kurang lebih 40 tahun. Dia dibunuh di daerah selatan saat seorang pria bersenjata menembaki mereka untuk menghalangi mereka. Maryanne Wheeler, salah seorang teman Davis mengatakan ketika kekerasan merajalela di kota-kota dan masuk dalam peperangan, mereka tetap tinggal dalam panggilan mereka.

“Mereka seringkali harus lari. Mereka punya waktu dimana mereka ketakutan ataupun dikejar, atau ketika mereka mendengar seseorang sudah menghadang dan mereka berada di daerah tersebut,” katanya. “Tapi tidak pernah terpikir oleh mereka untuk pergi.” Nancy, keturunan Indiana, mendaftarkan dirinya sebagai perawat yang juga punya hati buat penduduk Meksiko. “Dia tanpa syarat, mencintai, menjangkau semua penduduk Meksiko,” kata Wheeler.

Secara resmi ada sekitar 35.000 orang yang dibunuh dalam pembunuhan yang terjadi di Meksiko selama empat tahun ini sejak Presiden Felipe Calderon mengumumkan menentang para penyalur obat-obatan terlarang. Pembunuhan itu mencapai posisi tertinggi tahun lalu, meloncat sampai 50 persen dimana lebih dari 15.000 orang meninggal. Tapi para misionaris tetap melanjutkan tugasnya.

Pendeta Mark Rotramel dari Gereja First Baptist Edinburg di Texas mengakui bahwa pekerjaan misionaris di Meksiko memang menurun tapi tidak semuanya. Gerejanya yang merupakan bagian dari Asosiasi Rio Grande Valley Baptist, juga mengirimkan para misionaris di Meksiko dan daerah lainnya. “Mereka harus sangat berhati-hati. Meskipun mereka sudah berkomitmen untuk menjawab panggilan Tuhan di sana, untuk menolong orang-orang itu,” katanya.

Itulah panggilan yang mereka punya untuk orang Meksiko dimana daerah tersebut penuh dengan pengedar narkotika dan penuh dengan kekerasan. Bila nyawa mereka yang jadi taruhan, mereka tetap mengasihi penduduk Meksiko dan ingin mereka keluar dari kejahatan itu. Apakah panggilan Anda?

Source : cbn/lh3

Seorang Hakim Didakwa Karena Poster Sepuluh Perintah Tuhan SUNDAY, 06 FEBRUARY 2011

Akibat memasang poster sepuluh perintah Tuhan di ruang sidang, James DeWeese seorang hakim senior Richland County Ohio terancam hukuman oleh Pengadilan Banding di Amerika Serikat. Sebelumnya kasus ini sudah disidangkan namun berhenti ditengah jalan karena sidang dianggap tidak kontekstual.

Dirilis Dispatch Politics, Pemasangan poster sepuluh perintah Tuhan tersebut dianggap pengadilan banding inkonstitusional dan melanggar Amandemen Pertama. Hakim DeWeese memasang poster sepuluh perintah Tuhan di ruang sidangnya di Mansfield. Poster tersebut bukanlah sekedar poster, namun sebuah poster yang didesain dan di buat sendiri oleh Hakim DeWeese. Judulnya adalah Philosophies of Law in Conflict, yang membandingkan antara nilai sepuluh perintah Tuhan dan nilai humanisme.

Tentu hal tersebut menimbulkan perdebatan serius karena nilai sepuluh perintah Tuhan berbeda dengan pola pikir nilai humanisme yang mengesampingkan keyakinan agama dan menyatakan bahwa manusia mengendalikan tindakan mereka sendiri. Americans United for Separation of Church and State sebuah institusi pemisahan gereja dan negara yang atas kasus ini mendapat tentangan argumen oleh American Civil Liberties Union dari Ohio, memuji pengadilan banding dalam sebuah pernyataan resmi.

“Saya senang melihat kenyataan dan langkah pengadilan banding yang mengusut dan akan memberi hukuman kepada Hakim DeWeese, karena perbuatannya mempromosikan keyakinan pribadinya agama di ruang sidang adalah perilaku tidak pantas,” ujar Rev Barry W. Lynn. Hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi langsung dari Hakim DeWeese, dan pengadilan masih tertunda oleh cuaca buruk di Ohio

Source : Jawaban.com : Berita Kesaksian, Kisah Nyata, Hubungan, Doa, Keselamatan, Life Style

Sabtu, 05/02/2011 21:49 WIB Ledakan Terjadi di Gereja dekat Perbatasan Mesir-Gaza Rachmadin Ismail - detikNews

Ismailia - Sejumlah saksi mendengar ledakan cukup keras di sebuah gereja dekat Rafah, kawasan perbatasan Mesir dan jalur Gaza. Belum jelas darimana sumber ledakan dan siapa pelakunya.

Dilansir reuters, Sabtu (5/2/2011), saksi meihat ada segerombolan pria bersenjata yang mendekati gereja. Namun, mereka tidak bisa memastikan apakah para tentara tersebut yang membuat terjadinya ledakan.

Tidak ada korban dalam insiden ini sebab gereja dalam kondisi kosong.

Para pejabat Mesir menuding tentara yang berbasis di Gaza yakni Army of Islam berada di balik aksi ini. Sebelumnya, peledakan juga terjadi di kawasan Alexandria hingga mengakibatkan 23 orang tewas. Namun kelompok tersebut membantah dengan tegas.

Aksi sabotase juga sebelumnya terjadi di kawasan utara Mesir. Sebuah jalur pipa gas meledak dan mengganggu pasokan gas alam ke Yordania dan Israel.

(mad/mad)