Seri Eksposisi Surat Kolose No. 1, Ev. Antonius Steven Un, M.Div

[b]Ringkasan Khotbah Kebaktian Minggu
MIMBAR REFORMED INJILI INDONESIA
Jl. Pasir Kaliki, Ruko Paskal Hyper Square, Blok C. 35-36 Bandung
Seri Eksposisi Surat Kolose No. 1
Ev. Antonius Steven Un, M.Div
Kolose 1 : 1 - 8; 2 : 1; Kis 19 : 8 – 10;

[/b]

Pendahuluan
Kita melihat jemaat Kolose itu berdiri bukan oleh pelayanan Paulus, tetapi pelayanan dari pada Efapras. Itu jelas dalam 2:1, Paulus mengatakan, “aku belum mengenal engkau secara pribadi.” Lalu pasal 1:7 dikatakan, “Semuanya itu telah kamu ketahui dari Efapras…” Kalau pertanyaannya bagaimana Epafras bisa sampai ke Kolose? Siapa Efapras? Orang Kolose yang penting itu 2 orang : Efapras dan Filemon. Maka surat Filemon dan surat Kolose dikirim bersamaan namun dalam pergumulan yang berbeda.
Pertama, kita belajar dari berdirinya jemaat Kolose adalah saya mau kita melihat, strategi Paulus yang sangat luar biasa, stategi misi. Paulus tidak berkunjung ke kota Kolose. Paulus berkunjung ke kota Efesus. Di sana 2 tahun dia melayani, dia berkotbah di rumah ibadat & Paulus mengajar di ruang kuliah Tiranus. Berarti Paulus KKR & STRIJ di situ. Nah, ini adalah sebuah strategi yang sangat penting karena Paulus seperti Pak Tong hari ini, keterbatasan waktu, keterbatasan tenaga. Sehingga tidak mungkin bisa meng-cover semua kota. Maka, Paulus memilih kota tertentu.
Kenapa Paulus pilih pergi ke Efesus. Paulus kan seorang yang penuh kuasa Roh Kudus, hati sungguh melayani Tuhan, motivasi benar, untuk apa perlu strategi? Perlu strategi tidak? Paulus berstrategi. Paulus orang penuh kuasa Roh Kudus, gak usah strategi-strategian, orang pasti dengar injil kan? Paulus itu orang yang sungguh hatinya punya motivasi melayani Tuhan, Paulus adalah orang yang penuh pengorbanan untuk melakukan pekerjaan Tuhan tidak diragukan. Tetapi, pada waktu Paulus melayani di Asia Kecil, Paulus sengaja memulai dengan strategi. Kenapa? Paulus, kita lihat dalam kasus surat Kolose, dia memulai pelayanan dua tahun itu di Efesus bukan di Kolose. Paulus berkothbah di Efesus, maka berdiri jemaat Hierapolis, Laodikia, dan Kolose.
Dia masuk ke situ, karena Efesus adalah kota terbesar di Asia Kecil. Itu kalau lihat dari peta di kiri atas Italy dan Roma. Kalau kapal masuk dari atas ke Asia Kecil, maka kota pertama yang dikunjungi adalah Efesus. Itu kota pelabuhan. Maka, kapal itu turun di situ, orang masuk ke Efesus. Kalau orang Efesus mau pergi ke ibukota kekaisaran di Roma, mereka naik kapal dari Efesus. Orang Kolose, Hierapolis, Laodikia, Pergamus, semua kalau mau pergi ke Roma naik kapal dari Efesus. Jadi, ini kota besar. Nah, kota ini bukan ibu kota provisi Asia Kecil. Provinsi itu ibu kotanya adalah Pergamus. Pergamus juga menerima 1 di antara 7 surat yang Tuhan Yesus berikan. Pergamus adalah ibu kota dari pada Asia Kecil, tetapi bukan the biggest city. Ini mirip dengan Canberra & Sydney. Mirip dengan Washington D.C & New York. Itu ibu kota pemerintahan itu Pergamus, tetapi kota yang perdagangan, kota yang sangat di gemari, kita yang besar itu adalah Efesus. Seperti di Australia. Ibu kota itu adalah Canberra, tetapi kota besarnya itu adalah Sydney.
Jadi, kota besar itu adalah Efesus bukan pergamus. Tapi kota pemerintahan, gubernur itu ada di Pergamus. Nah, maka sekalian, waktu Paulus masuk ke Efesus, ini kota yang besar sekali. Kira-kira waktu itu penduduk 300.000, kalau 1,35%/tahun x 2000. Sekarang saya perkirakan 10.000.000. Itu 1,35% itu pertumbuhan di kampung. Kalau di Bandung, pertumbuhan itu 100.000/tahun. Nah, ini kota besar. Zaman itu 300.000, Indonesia waktu itu hutan. Itu 300.000. Itu kota besar sekali. Maka pada waktu Paulus pergi ke situ, Paulus melihat ini kota pusat perdagangan.
Ini kota bukan hanya pusat perdagangan, tetapi kuil dewi Arthemis ada di sini. Dan ini menjadi sebuah kegemaran dari pada orang-orang dari kota-kota lain utk pergi karena Dewi kesuburan, dewi kenikmatan itu Arthemis. Maka di situ, Demetrius di pasal 19 di Kisah Para Rasul, membuat replika. Paulus berkothbah, mengkritik Dewi Arthemis, membawa orang percaya Kristus. Maka, omset dia turun sehingga dia marah-marah lalu ribut. Nah, Paulus itu memilih Efesus itu strategi. Karena ini kota besar, dan setiap orang dari Kolose, dari Laodikia akan pergi ke situ untuk belanja. Mirip seperti ini, kalau Billy Graham tidak bisa pergi ke semua kota. Dia memilih Singapura untuk kota Asia Pasifik atau Hong Kong. Dia pilih kantor perwakilan itu di Singapura atau di Hong Kong. Dia tidak pilih di Jakarta, dia tidak pilih di Batam, dia tidak pilih di Surabaya, dia tidak pilih di Malang. Dia pilih Singapura, ini International Transit City. Orang pergi ke situ, maka pada waktu Paulus berkothbah di situ kemudian orang banyak mendengarkan injil. Waktu berkothbah Efapras, Filemon, orang-orang awam mereka pergi ke Efesus. Ini strategi.
Poin saya di sini, strategi. Strategi harus ada. Iman sejati, bukan tanpa akal. Iman sejati itu berarti, akal dipakai sampai maximum. Baru disebut iman melampaui akal. Jadi, kalau akal itu level nya sampai 10, akal itu berjalan sampai 10, iman itu 11. Itu melampaui akal. Bukan akalnya nol, lalu ada iman. Iman tanpa akal & iman melampaui akal itu beda. Iman tanpa akal itu berarti imannya 11 tapi akal nya nol. Yang benar adalah akal itu berjalan sampai sepuluh, sudah sampai sepuluh, dia berkata, “Tuhan, we are nothing”. Kuasa Roh Kudus itu bukan tidak ada strategi. Strategi itu jalan sampai 10. Sudah sampai 10 dia bilang, “Tuhan, we are nothing. Our strategy is nothing.” Lalu kemudian, “sekarang Tuhan tolong!” Jadi, jangan bilang “saya mempunyai hati yang melayani Tuhan.” Tabrak sana, tabrak sini, sehingga merusak pekerjaan Tuhan.
Pelayanan tanpa strategi itu namanya sporadis. Sporadis itu artinya tidak bertanggungjawab & tidak bisa membangun sesuatu. Iman itu, berarti akal sampai selesai, akal itu sampai mentok. Kuasa Roh Kudus berarti strategi itu sudah sampai mentok, lalu disitu kita tetap bersandar & rendah hati. Itu yang sulit. Banyak kita sudah menggunakan strategi, kita rasa strategi pasti bisa orang hadir. Sudah bekerja sampai setengah mati, tapi tetap merendahkan diri, itu yang Tuhan senang. Waktu kita melihat gerakan Reformed Injili itu di mulai, kita melihat itu strategi. Pak Tong bilang, “kita mulai dengan SPIK.” Sudah SPIK orang mendengar teologia Reformed, mereka mau belajar lagi, STRIJ, mereka mau belajar lagi, kita ada perpustakaan, ada buku Momentum. Ini strategi. Jadi Pak Tong bukan hanya, “Tuhan sekarang saya mau mulai Gerakan Reformed.” Langsung tabrak. Tidak ada. Strategi itu di pikir. Dasar dulu diberikan. Pak Tong bilang, “orang dulu baru buka pelayanan.” Tema itu tidak bisa diulang. Pak Tong bilang, “tema itu tidak boleh diulang.” Karena tema itu merusak konsep waktu yang bersifat linear. Jadi, siapa yang tidak datang itu dia rugi, tema tidak bisa diulang. Seminar kalau kita bikin gratis, Bagus tidak? Ada tidak bagusnya, orang datang tidak datang tidak rugi. Wong gratis ini.
Yang kedua, dari berdirinya jemaat Kolose, kita melihat bahwa Paulus waktu menulis surat ini, menulis dengan satu motivasi yaitu setelah dia mendengarkan kabar dari Efapras. Jadi Efapras mendirikan jemaat Kolose, kemudian Efapras datang memberikan laporan kepada Paulus di penjara di Roma, bahwa jemaat di Kolose mengalami pertumbuhan iman. Paulus mengatakan dalam ayat yang keempat, “Kami mendengar iman mu dalam Kristus.” Ini adalah surat penggembalaan. Paulus bersuka cita untuk pekerjaan Tuhan yang bukan dia dirikan. Ini saya bilang hati luas. Hati luas Paulus, spektrum sukacitanya begitu luas sehingga Paulus juga bersuka cita untuk hal-hal yang tidak berkenaan dengan dirinya. Ini hati seorang gembala, hatinya luas. Maka Paulus mengatakan di ayat 7, “Kawan pelayanan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.” Siapa dia? Efapras. Kita kalau lihat pekerjaan orang lain maju, yang kita bicarakan sama anak buahnya adalah kejelekannya. Tapi Paulus mengatakan, “Efapras adalah kawan pelayanan yang kami kasihi. Bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.” Efapras dipuji oleh Paulus. Paulus melihat sukacita jemaat yang bertumbuh dengan hati luas. Ini yang Pak Tong bilang, “Kingdom minded.” Hati tidak sempit.
Yang ketiga, apa yang kita bisa belajar dari berdirinya jemaat Kolose? Paulus menulis dengan satu motivasi yaitu supaya mengingatkan jemaat Kolose akan bahayanya pengajaran sesat. Paulus berbicara bukan hanya terbuai sukacita akan bertumbuhnya jemaat ini. Tapi Paulus melihat bahaya lain. Ini hamba Tuhan yang baik, ini gembala yang baik. Dia bukan hanya memuji pelayanan Efapras, bukan hanya memuji pertumbuhan jemaat, tetapi dia juga melihat bahaya-bahaya, side effect dari pelayanan-pelayanan tersebut, Paulus antisipasi. Ini Firman Tuhan yah! Firman Tuhan bukan hanya memberi tahu kita sesuatu yang bagus, tapi juga kebahayaan. Paulus melihat potensi yang besar, tetapi dia melihat kebahayaan yang besar. Yang sedang mengintip jemaat Kolose.
Ajaran apa itu? Ajaran ini sebetulnya sangat unik, di dalam studi perjanjian baru itu tidak bisa didefenisikan ajaran apa itu sebetulnya. Maka mereka sebut sebagai, ajaran sesat Kolose. Karena campurnya terlalu banyak. Pada satu sisi, Kolose itu adalah Gnostikisme, yaitu ajaran yang dipengaruhi filsafat Yunani, tapi pada sisi lain ajaran ini mengandung unsur Yudaisme dan di sisi lain perbintangan dari pada Romawi juga ada. Maka di sini campur ajaran ini. Ada gnostikisme dari Yunani, ada Yudaisme dari Yahudi, dan ada astrologi dari pada Romawi. Itu campur semua di dalam bagian ini. Tetapi secara garis besar, ajaran sesat itu adalah Gnostikisme Yudaistis, lebih kuat dua unsur ini.
Gnostikisme itu mempunyai pengaruh besar sekali sampai hari ini. Waktu Dan Brown menulis Da Vinci Code, dia dipengaruhi oleh Gnostikisme, khususnya beberapa sumber. Pertama, Dan Brown dipengaruhi oleh Nag Hammadi document yang ditemukan tahun 1945, di kota kecil dekat Mesir. Nah, Nag Hammadi document itu waktu ditulis, waktu ditemukan diteliti, diteliti oleh seorang perempuan muda yang cantik, tapi keluarganya broken home, namanya Ellen Pagels. Ellen Peagels menulis buku berjudul Gnostic Gospels tahun 1979. Tahun 1980, American Publisher Association memberinya award dalam religious book.
Gnostikisme itu karena dipengaruhi oleh filsafat Yunani, maka filsafat Yunani mementingkan roh bersifat baik, dan materi bersifat jahat. Ini bukan ajaran Kristen. Itu adalah satu semangat yang harus kita hindari. Semangat gereja menerima trend, itu adalah asal mulanya ajaran sesat dalam gereja. Gnostikisme itu adalah usaha gereja dalam menerima filsafat Yunani. Mirip dengan teologia liberal adalah usaha gereja menerima filsafat modern. Itu adalah mulai munculnya ajaran sesat dalam gereja. Jadi, gereja itu kalau ikut trend itu bahaya besar. Sampah masuk pun dia terima. Trend itu seperti tsunami, yang datang itu sampah, kotoran manusia, kotoran kucing, semua dia terima. Lalu gereja dengan sukacita, mari kita ikut trend.
Maka mereka bilang gini, “Lho, kalau roh itu baik, materi itu jahat, kenapa dari roh yang baik, muncul materi yang jahat?” Kalau dari Kristen keluar pertanyaan ini, ini mengkritik filsafat Yunani, tetapi oleh gnostikisme yang kagum dengan filsafat Yunani yang menjadi trend abad I & II. Mereka terjebaknya begini, “Oh, roh ini baik, materi itu jahat. Oh begini, kalau begitu Allah yang baik itu tidak menciptakan materi yang jahat, Allah yang roh itu menciptakan Allah yang level kedua yang namanya Demiurge. Nanti Allah kedua ini yang menciptakan materi, dan muncullah materi. Jadi Allah PL, itu Allah tingkat kedua. Karena dia menciptakan langit dan bumi. Maka, Pengakuan Iman Rasuli berkata, “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi.” Ini melawan gnostik.
Orang Gnostik mengatakan Yesus itu bukan Allah sejati, perhatikan dua ayat di sini, Kolose 1 : 19, “karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.” Kolose 2 : 9, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Dua kalimat yang sama yang muncul di dalam surat Kolose, karena orang Gnostik menghina Kristus, maka Paulus mengatakan Kristus itu adalah Allah sejati, seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Jadi menurut Paulus, Yesus itu Allah tingkat pertama atau kedua? Yesus itu Allah sejati, bukan Allah tingkat kedua.
Bolehkah orang Yahudi menerima Kristus sebagai Allah? Waktu Yesus mengampuni orang Yahudi, mereka berkata, “Engkau menghujat Allah, karena Allah yang mengampuni dosa.” Kalimat mereka betul tidak? Orang Yahudi berkata, “Hey Yesus engkau menghina Allah karena hanya Allah yang berhak mengampuni dosa.” Yesus mengampuni dosa, betul. Orang Yahudi bilang hanya Allah yang mengampuni dosa, betul. Tetapi yang mereka tidak menerima adalah Yesus itu Allah. Di situ lubangnya. Allah mengampuni dosa, Yesus mengampuni dosa. Mereka tidak terima. Dosa menutup hati mereka. Maka Yudaisme kemudian Gnostikisme. Yahudi & Yunani ketemu. Paulus kemudian memberikan pengajaran yang sangat penting berkenaan dengan Kristus. Berarti, secara negatif kita berbicara surat Kolose itu mengkritik ajaran sesat, tetapi secara positif pada sisi yang lain, surat Kolose itu meninggikan Kristus. Karena dua kali ayat yang kita baca tadi di dalam Kristus seluruh kepenuhan Allah berkenaan diam di dalam dia. Ini adalah penegasan yang sangat jelas bahwa Kristus itu Allah.

Identitas dan Sala
m
Paulus mengatakan di dalam bagian yang pertama ini, “dari Paulus rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah.” Kalau kita membaca di Kis 19 : 10 tadi kita mengerti satu hal bahwa Paulus sudah digosipkan secara Familiar di Asia Kecil. Jadi orang sudah tahu semua Paulus itu siapa. Lalu kenapa pada waktu Paulus menulis surat ini Paulus memberikan keterangan lagi? Paulus mengatakan dari Paulus, Rasul, Apostolos, Apostolos itu authorized emissary, utusan yang sah. Paulus berbicara dari otoritas dia khususnya bukan saja sebagai wakil dari Tuhan, tetapi sebagai Rasul yang diutus untuk melayani orang non-Yahudi. Kenapa poin ini penting? Kalau Paulus tidak bicara otoritas dia sebagai Rasul, maka bagaimana dia bisa bicara kepada jemaat yang bukan dia dirikan? Maka Paulus berkata, aku Rasul Kristus Yesus. Menerima otoritas dari Kristus berjalan oleh kehendak Allah.
Maka, sekalipun jemaat di Kolose, jemaat di Asia Kecil sudah mengerti siapa Paulus, Paulus tetap memberikan kepada jemaat title “Aku adalah Rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, boleh melayani saudara sekalian.” Dia berhak bicara. Berhak bicara bukan karena saya mendirikan engkau, bukan karena mempunyai relasi secara aktual dengan engkau tetapi karena aku adalah Rasul yang Tuhan tetapkan, sekarang aku bisa bicara bukan orang Yahudi.
Paulus kemudian mengatakan, “Timotius saudara kita.” Timotius adalah “the most-trusted right hand man”. Orang tangan kanan yang paling dipercaya oleh Paulus, itu Timotius. Dan sekarang, Paulus mengatakan dia saudara kita. Kenapa? Ingat! Surat Kolose di tulis di penjara. “Sekarang terima dia, kalau besok aku meninggal terima dia.”
Lalu poin ketiga, Paulus berkata, “Kepada yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose.” Terjemahan yang lebih baik adalah “Kepada orang-orang Kudus dan seiman di Kolose.” Orang-orang kudus, mereka orang-orang yang bukan Yahudi sekarang mereka menjadi orang yang kudus, menerima status mereka yang very very clear. Sebagai orang kudus & saudara seiman, kita bersama-sama melayani di hadapan Tuhan. Mereka menerima status ini jelas. Every the believer is the saint. Saudara orang Kudus, kalau begitu saudara harus tahu hidup harus kudus.
Poin saya di sini mau bicara adalah bagian ini kita berbicara identitas. Pertama Paulus ingin berbicara, very clear identity. Jelas. Paulus berkata, “saya hamba Tuhan Yesus Kristus. Timotius! You dan orang Kolose sama”. Ini jelas. Kalau identitas dia tidak jelas relasinya tidak bisa jalan dengan baik. Orang kalau identitas dia tidak jelas bisa punya relasi yang baik tidak? Tidak bisa. Maka, Paulus bilang dulu, Timotius ini siapa, saya siapa. Jelas! Setiap surat Paulus yang dibaca memberikan satu kesan di pendahuluan, I have very clear identity. Jelas identitas dia, tidak pernah ragu.
Yang kedua, bukan hanya jelas, tetapi kita menemukan very strong identity. Bukan hanya jelas, tetapi juga strong. Berarti Paulus itu memiliki identitas yang kuat sekali, disitu diberikan kepada dia encouragement, keberanian untuk melayani. Strong, identitasnya kuat sekali. Aku Rasul Kristus Yesus oleh karena kehendak Allah. Siapa dia takut? Tidak takut dia kepada siapapun.
Yang ketiga dari surat Kolose kita belajar adalah very very realized identity. Jelas, kuat, dan sadar. Sadar terus, sadar saya ini hamba Tuhan, saya ini anak Tuhan. Di mana pun engkau berada, realize, sadar!
Baru yang terakhir kita lihat disini, Paulus berikan salam kepada jemaat di Kolose. Paulus beritahu kepada mereka kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita menyertai engkau. Anugrah Tuhan sampai dan damai sejahtera. Ini adalah sebuah harapan, bukan sebuah formalitas. Maka, kalau memperhatikan, kadang-kadang Paulus bikin salam yang berbeda, itu adalah harapan yang berbeda kepada orang yang dia kirimi surat. Dia bilang damai sejahtera, damai sejahtera itu apa? State of Life. Damai sejahtera itu relasi. Orang yang berdamai itu adalah orang yang berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan orang lain, dan pada waktu dia menghadapi badai besar, kenapa dia dia damai? Karena dia berdamai dengan dirinya sendiri.