Series Reflection on Succes

Berikut ini adalah seri renungan mengenai kesuksesan yang sejati, semoga dapat memberkati

Series Reflection on Succes: Prolog

Jika Anda diminta untuk menyebutkan deretan tokoh atau oknum yang Anda anggap sukses, nama nama siapa sajakah yang akan Anda tuliskan? Bill Gates? Donald Trump? Albert Einstein? Cristiano Ronaldo? Elvis Preasley? Mereka adalah multibilioner, entrepreneur fenomenal, ilmuwan jenius, artis dan penyanyi brilian. Penghasilan mereka dapat mendanai anggaran rumah tangga Anda selama ratusan tahun, nama mereka diabadikan dan dikenang, Ibu ibu menjadikan mereka role model bagi anak anak, sementara para ayah menceritakan kisah sukses mereka pada para putera, cerita dan autobiografi mereka dikutip dan diceritakan oleh para motivator dan para pengajar.
Inilah kesuksesan yang diakui dunia: kaya, terkenal, glamor dan dipuja. Dan, dalam skala yang mungkin jauh lebih kecil, inilah impian impian kita, bukan? Kita ingin memiliki penghasilan yang baik (bahkan mungkin lebih), hidup nyaman, keluarga yang harmonis.
Tetapi benarkah demikian cara Alkitab memandang sebuah kesuksesan? Bagaimana Allah menanggapi dan berkomentar tentang keberhasilan? Bagaimana kesuksesan dilihat dari lensa kekekalan? Dan apakah kita telah mencapai keberhasilan keberhasilan yang diharapkan Allah?

Renungkan sebuah kisah dari Reader’s Digest edisi Februari 1998 yang menceritakan sepasang suami istri yang “pensiun lebih awal” dari pekerjaan mereka di Timur laut lima tahun yang lalu, Sang suami berusia 59 tahun dan Sang istri berusia 51 tahun. Mereka menikmati hari tua mereka dengan tinggal di Punta gorda Florida, di mana mereka berkeliling dengan kapal penangkap ikan sepanjang 30 kaki yang telah mereka miliki dari kekayaan mereka, bermain softball dan mengumpulkan kerang.
Mari kita jujur, ketika kita membacanya, kita akan berpikir inilah kisah sukses ideal yang diinginkan banyak orang.
Akan tetapi, kenyataannya tidak demikan. Renungkan kembali kesuksesan tersebut: Bayangkan keduanya tiba di akhir hidup mereka, di hari penghakiman yang agung – satu satunya kehidupan yang paling berharga yang telah diberikan oleh Allah – Bayangkan keduanya berdiri di hadapan Kristus, Pribadi yang mati dan disalib bagi mereka, dan berkata pada Kristus, “Lihat, Tuhan. Lihat kerang kerang dan kapal pesiar kami, kami pensiun lebih dini dan memliki banyak uang.”
Itu bukanlah sebuah kesuksesan, melainkan tragedi. Dan manusia saat ini sedang menghabiskan jutaan uang dan ratusan kiloJoule energi untuk menggapai impian dan cita cita yang tragis itu, cita cita yang membawa kita berkata seperti ini di akhir hidup kita:
“Tuhan, lihat tokoku, lihat usahaku yang laris.”
“Tuhan, lihat gelarku, lihar prestasiku menembus ujian Negara.”
“Tuhan, lihat Honda Jazzku, lihat perjuanganku mendapatkannya.”
“Tuhan, lihat rumahku. Lihat luasnya dan megahnya.
Hal hal tersebut bukannya tidak boleh dimiliki, masalahnya, itukah yang akan kita bawa kepada kekekalan, dan kita ceritakan kepada Kristus sebagai kisah sukses kita dalam kehidupan yang telah diberikan olehNYA?
Sungguh mengerikan.

Next: Kesuksesan Yesus, Kesuksesan yang sejati.

NB: Adalah merupakan suatu kepastian bahwa renungan yang saya sampaikan adalah karya yang tidak sempurna, tetapi, demi menjaga ritme serial ini, ijinkanlah renungan ini saya selesaikan sampai bagian yang terakhir baru kemudian dikomentari, itupun jika ada. Tuhan memberkati.

Series Reflection on Succes: Kesuksesan YESUS, Kesuksesan yang sejati.
Diinspirasi oleh buku Just Like Jesus, karya Max Lucado.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (Yohanes 19v30)
Apakah yang menyebabkan Yesus mengatakan hal tersebut? Apakah kata kata itu merupakan keluhan sebagai respon penderitaan hebat yang dialami Putra Allah? Kita tahu benar bahwa prosesi penyaliban itu begitu mengerikan, tapi pastinya bukan itu yang menyebabkan Yesus berkata demikian. Tidak, ketika Yesus mengatakannya, sesaat sebelum kematianNYA, Ia melihat sebuah misi yang telah berhasil dijalankan dengan sempurna,sebuah Tugas yang telah diselesaikan, serta sebuah janji yang telah digenapi. Tapi bagaimana mungkin Yesus dapat berkata demikian? Ketika Yesus disalib dunia tetap dipenuhi penderitaan, Masih ada banyak orang sakit, kelaparan, bodoh, bagaimana Yesus dapat berkata: Sudah Selesai?”
Jawabannya sederhana, karena Ia telah memenuhi panggilanNYA. Para murid mendengarNYA berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4v34). Para pengikutNYA mendapatiNYA mengucapkan, ”Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19v10). Dan Orang orang yang mengikutiNYA mendengar, ”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10v45).
Inilah tujuan kedatangan Yesus. Ia tidak datang dari Surga sebagai seorang filsuf untuk mengajarkan kebijaksanaan, Ia tidak datang sebagai seorang tabib, Ia tidak datang sebagai seorang pemimpin yang membebaskan Israel secara politis. Bukan itu, Ia datang sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, Ia datang untuk mati dan menderita demi umat manusia, sehingga dunia boleh menerima keselamatan kekal. Oleh sebab itu, ketika penyaliban telah dijalankan, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dan menyerahkan nyawaNYA.
Inilah kisah sukses yang sesungguhnya: YAITU KETIKA KITA TELAH MENGGENAPI KEHENDAK ALLAH DALAM HIDUP KITA.
Dan apakah kehendak Allah itu? Kita semua mengetahui bahwa: ALLAH “MENGHENDAKI SUPAYA JANGAN ADA YANG BINASA, MELAINKAN SUPAYA SEMUA ORANG BERBALIK DAN BERTOBAT” (2 Petrus 3v19).
Karena kita diciptakan untukNYA, dan demi kemuliaanNYA (Roma 11v36), maka KerinduanNYA untuk keselamatan manusia haruslah menjadi kerinduan kita, cita cita kita, serta alasan keberadaan kita. Praktisnya untuk masing masing kita mungkin akan berbeda, tetapi misi utama ini merupakan motivasi yang sama bagi kita semua.
Bukankah sangat indah nantinya, ketika kita sampai di akhir hidup kita, menjemput kematian dan berjumpa dengan Kristus Yesus, kita menengok ke belakang, melihat tahun tahun yang telah kita lalui, dan mengetahui bahwa kita telah menjadi bagian rencana Bapa untuk keselamatan manusia.
Dan kita dapat berkata kepada Yesus,”Sudah Selesai.”
Bukankah kita semua sangat menanti nantikan hari itu?

NEXT: Kesuksesan Tokoh Tokoh Lainnya

NB: Adalah merupakan suatu kepastian bahwa renungan yang saya sampaikan adalah karya yang tidak sempurna, tetapi, demi menjaga ritme serial ini, ijinkanlah renungan ini saya selesaikan sampai bagian yang terakhir baru kemudian dikomentari, itupun jika ada. Tuhan memberkati.

Series Reflection on Succes: Kesuksesan tokoh lainnya.

Ketika menceritakan atau memberikan nasehat mengenai kesuksesan, para pengajar Alkitab kita biasanya mengambil nama nama seperti Abraham, Yusuf, Yoshua, atau Daniel. Abraham diberkati dengan ternak dan budak belian dalam jumlah yang melimpah, Yusuf menjadi orang kedua di bawah Pharaoh yang memerintah Mesir, Yoshua memimpin laskar Israel menduduki Kanaan dan meruntuhkan tembok Yerikho, Daniel memegang posisi penting di Babilonia. Merekalah nama nama yang pertama disebut ketika kita mebicarakan kesuksesan.
Mereka terhormat, memiliki kekayaan, wibawa dan kedudukan yang prestisius. Tapi sebentar, jika itu ukuran kesuksesan, maka dimanakah kita akan menempatkan nama nama seperti Paulus, Petrus, Yakobus, Stefanus, para Rasul, bahkan Yesus sendiri?
Mereka mati secara tragis, Paulus dipenggal, Petrus disalib dengan posisi terbalik, Stefanus mati dirajam, mereka tidak memiliki emas, perak atau kekayaan, mereka tidak memiliki posisi terhormat dalam pemerintahan. Tetapi, apakah deretan nama nama ini bukanlah oknum yang dapat kita katakan sukses?
Tentu saja tidak, kita telah mengetahui bahwa kisah sukses yang sesungguhnya adalah KETIKA KEHENDAK ALLAH DIPENUHI DALAM HIDUP KITA. Dan kehendak Allah untuk menyelamatkan dunia telah mereka genapi dalam hidup mereka, mereka memberikan kontribusi luar biasa dalam penginjilan, mereka berjalan dan memenangkan Eropa, menyaksikan Kristus dalam hidup mereka, mengajar, bahkan menulis sebagian dari isi Alkitab. Dalam khotbahnya yang berjudul Sukses yang benar, Pendeta Dr. Erastus Sabdono mengatakan kalau Surga diumpamakan sebuah kota besar, maka nama nama mereka akan diabadikan sebagai nama Jalan Utama: Jalan Paulus, atau Jalan Petrus.
Lalu, jika kesuksesan adalah mengambil bagian dalam rencana Allah untuk menyelamatkan dunia, maka dimanakah letak kesuksesan dari tokoh tokoh seperti Yusuf dan Yoshua, yang hidup jauh sebelum Kristus datang ke dunia? Kesuksesan Yusuf terletak pada bagaimana melalui dirinya, yang merupakan Penguasa Mesir, kelangsungan hidup bangsa Isarel dapat dipelihara dan terhindar dari bencana kelaparan, dan melalui bangsa ini, Mesias boleh lahir. Kesuksesan Yoshua terletak pada kepemimpinannya yang membawa Israel menang dan menduduki Kanaan, sehingga bangsa lain boleh manyaksikan bahwa YAHWEH, Allah Isarel merupakan Allah yang benar. Sekalipun tidak secara langsung, tetapi mereka memainkan komponen vital dalam algoritma Allah yang rumit untuk menyelamatkan dunia.
Beginilah seharusnya kita memandang sebuah kesuksesan. Meminjam kata kata Rick Warren dalam bukunya yang berjudul Purpose Driven Life, “Ini bukan tentang Anda.”, kesuksesan hidup bukanlah mengenai pencapaian cita cita kita, ambisi kita, impian impian terliar kita, kesuksesan adalah tentang Allah. Bagaimana kehendakNYA terlaksana dalam hidup kita, visiNYA, hasratNYA.
Inilah formula doa yang diajarkan Yesus,”Jadilah KehendakMU di bumi seperti di dalam Surga.”
Pertayaan tentang kesuksesan bukanlah apakah cita cita kita telah terpenuhi, tetapi apakah misiNYA sudah kita selesaikan.

NEXT: Key of Success

NB: Adalah merupakan suatu kepastian bahwa renungan yang saya sampaikan adalah karya yang tidak sempurna, tetapi, demi menjaga ritme serial ini, ijinkanlah renungan ini saya selesaikan sampai bagian yang terakhir baru kemudian dikomentari, itupun jika ada. Tuhan memberkati.

visit my blog www.buletinkristen.blogspot.com

Series Reflection on Succes: Kunci Sukses

Kunci kesuksesan Yesus menunaikan misiNYA terletak pada kemampuanNYA untuk tetap terfokus pada amanat Bapa dalam kondisi bagaimanapun.
Ketika Yesus memandang diriNYA, Ia dapat melihat berbagai macam kemungkinan yang menggoda. Menjadi Raja dunia adalah salah satunya, perhatikan kisah dalam Yohanes 6v15, ketika itu orang-orang melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, dan berkata “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, Bayangkan betapa menariknya tawaran ini, dan apabila menjadi Yesus, sebagian besar dari kita akan memilih untuk mengikuti tawaran ini, menjadi raja dunia, melepaskan Israel dari Roma, menaklukkan bangsa bangsa kafir lainnya, dan melupakan salib Golgota.
Bagaimana dengan kisah dalam Matius 16:22? Ketika Yesus mengatakan pada murid muridNYA bahwa Ia akan menderita dan mati, Petrus menarikNYA ke samping dan mengatakan bahwa sekali kali hal itu tidak menimpa diriNYA, Petrus mempertanyakan makna kematian Yesus dan meragukan misiNYA, tetapi Yesus menghardik dan mengusir Iblis dalam pikiran Petrus. Bukankah jauh lebih menyenangkan mengikuti anjuran Petrus daripada mati di kayu salib?
Yesus bisa saja mengikuti ajakan lingkunganNYA, menjadi filsuf dengan ajaranNYA, menjadi tabib ajaib dengan kemampuan medisNYA, membentuk agama baru yang lebih baik dari Yudaisme, tapi fokus Yesus mempertahankan Dia tetap berada dalam orbit misiNYA, dan pada akhirnya, Ia menjadi Anak Domba Allah yang menebus dosa manusia.
Berbeda dengan kita, Yesus tidak memiliki sekretaris, catatan pribadi, kalender elektronik ataupun telepon seluler, tetapi fokusNYA mengagumkan, dari kandang hina Betlehem sampai bukit Kalvari, tidak sekalipun Yesus keluar dari rel misiNYA. Iblis mencobaiNYA, para ahli Farisi menentangNYA, saudara - saudaraNYA menganggapNYA sakit jiwa, sepanjang penyaliban Ia dihina, disiksa, dipermalukan, tetapi tidak pernah Ia menyerah sebelum misiNYA tertuntaskan.
Jika kita ingin menyukseskan rencana Allah, inilah yang harus kita miliki: Hati yang terfokus pada Rencana Allah.

NEXT: Samak Sundaravej

NB: Adalah merupakan suatu kepastian bahwa renungan yang saya sampaikan adalah karya yang tidak sempurna, tetapi, demi menjaga ritme serial ini, ijinkanlah renungan ini saya selesaikan sampai bagian yang terakhir baru kemudian dikomentari, itupun jika ada. Tuhan memberkati.

visit my blog www.buletinkristen.blogspot.com

Series Reflection on Succes: Samak Sundaravej

Jika kita mengikuti berita internasional, beberapa waktu yang lalu terdapat sebuah berita yang cukup mencengangkan. Samak Sundaravej, seorang Perdana Menteri Thailand, pada September 2008 diberhentikan secara paksa oleh parlemen negeri Gajah Putih tersebut dengan alasan bahwa Samak telah menerima bayaran dari suatu stasiun TV swasta dalam dua acara kuliner. Tindakan Samak yang melakukan pekerjaan sampingan sebagai host dalam acara tersebut dinilai parlemen sebagai suatu tindakan yang indisipliner, tidak berfokus pada tugas yang diembannya sebagai Perdana Menteri.

Tahukah Saudara berapa jumlah yang diterima Samak melalui acara tersebut? Samak dibayar hanya sekitar 2000 bath/ episode, atau hampir setara dengan Rp 540.000/ episode . Uang tersebut merupakan jumlah yang cukup kecil, dan hanya bisa digunakan Samak untuk berbelanja bahan bahan masakan yang menjadi hobinya.
Ironisnya, terkadang kita seperti Samak. Kita melupakan tugas besar yang Allah embankan dan delegasikan kepada kita. kita lebih senang berkutat dengan perkara perkara sepele dan hobi kita.
Motor balap, hape, bermain bola, bermain game, jalan jalan, kosmetik, fashion.

Terkadang hal hal tersebut lebih menjadi fokus kita ketimbang melayani Allah. Bayangkanlah Samak, seorang Perdana Menteri tampil di acara kuliner sambil menggoreng, terlihat lucu bukan? Tetapi bayangkanlah kita, Pewaris Surga, berkutat dengan hal hal kecil dan sepele, serta melupakan misi Allah, saya kira ini adalah pemandangan yang cukup berbahaya.

sumber: Khotbah Pdt Dr Erastus Sabdono, “Sukses yang benar”
NEXT: Epilog

NB: Adalah merupakan suatu kepastian bahwa renungan yang saya sampaikan adalah karya yang tidak sempurna, tetapi, demi menjaga ritme serial ini, ijinkanlah renungan ini saya selesaikan sampai bagian yang terakhir baru kemudian dikomentari, itupun jika ada. Tuhan memberkati.

visit my blog www.buletinkristen.blogspot.com

EPILOG

  1. Kesuksesan seringkali disalahartikan sebagai pencapaian yang bersifat material, tetapi jika secara materi kita kekurangan_tidak memiliki penghasilan yang baik, kehidupan rumah tangga dan pergaulan yang tidak harmonis, dapatkah kita berpikir kita masih dapat sukses? Bagaimana kita menyikapi lingkungan yang mungkin mencibir kita?

  2. Sewaktu kecil, orang orang sering bertanya kepada kita,” Kalau sudah besar mau jadi apa?” Setelah mengetahui bahwa kesuksesan adalah bagaimana menuntaskan misi Allah dalam hidup ini, bagaimanakah kita menanggapi pertanyaan yang dulu sering ditujukan pada kita itu?

  3. Jika fokus memegang peranan penting dalam pencapaian kesuksesan kekal, benarkah hari hari dalam kehidupan kita telah difokuskan pada misiNYA? Bagaimana dengan pekerjaan kita, apakah kita memainkan peranan yang diinginkan Allah dalam profesi tersebut?

  4. Iblis merusak fokus kita dengan menyibukkan diri kita dengan perkara perkara sepele. Dalam hal apakah fokus kita sering terganggu? Apakah kita lebih fokus mengikuti trend hape daripada mengevaluasi misi kita?

  5. Bagaimana dengan kekuatan dan kelemahan kita? Apakah kita mengenalinya sehingga kesuksesan lebih mudah untuk dicapai?

THIS IS THE END OF SERIES REFLECTION ON SUCCESS