Siapa yang berhak menyelenggarakan Perjamuan Kudus?

Siapa yang berhak menyelenggarakan Perjamuan Kudus?

Namanya saja kudus, harusnya orang yang disebut orang kudus kali ya?

Setiap orang yang pernah menerima perjamuan kudus dan melakukannya dengan hati yang benar dihadapan Tuhan

Seperti tertulis

1 Kor 11
23. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti

Ini sepertinya thread yang buat momod deh, karena saya koq gak berasa membuat thread ini ya?
Kemungkinan dicabut dari salah satu reply saya.

Tetapi karena sudah terlanjur, okelah, kita lanjutkan saja.

Setiap orang yang pernah menerima perjamuan kudus dan melakukannnya dengan hati yang benar dihadapan Tuhan

Seperti tertulis

1 Kor 11
23. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti

Apakah kalau anda bersama teman teman makan bersama, anda bisa dan berwenang melakukan Perjamuan Kudus?

Kl di masa greja awal, krn blm ada gedung greja, sblm ada organisasi resmi Gereja, maka mreka mngadakan acara jamuan makan scr bergiliran di rumah-rumah jemaat sambil disertai memecah-mecah roti utk mengingat Perjanjian Baru yg diadakan Tuhan dg mreka.

Jd kl ‘Upacara Perjamuan Kudus’, itu tgantung dari organisasi Gereja yg mngadakannya.

Tempatnya bergantian, tetapi apakah yang memimpin / memecah roti adalah sembarang orang atau pemimpin jemaat (murid para rasul), om ?

Kmungkinan yg mlaksanakannya adalah yg otoritasnya tertinggi dalam jamuan tsb.
Mgkn rasul or penatua or penilik (jika di jemaat itu sudah ada penatua/penilik).
Mgkn kl di situ adanya penginjil ya si penginjil itu.

Mungkin ya…

Ok, thankyou om

Sama-sama Ooomm

Jadi tidak bisa dong kalau saya sebagai umat biasa, kemudian mengadakan perjamuan di rumah anda, dan menyebut pemecahan roti yang saya lakukan itu adalah perjamuan kudus.

:azn:

Kan definisi dan tata cara plaksanaan perjamuan kudus itu bbeda dalam bragam organisasi gereja.

Kl mnrt saya pribadi, spanjang pemecahan roti dilakukan dg iman, skalipun dlaksanakan oleh orang awam maka itu bisa dsebut perjamuan kudus.
Perjamuannya sudah mmenuhi definisi kudus krn dilakukan oleh orang-orang kudus.

Tp kl aktivitas ini diukur dari standar organisasi gereja, maka bisa dicap ngaco.
Hahahahaha.

Jadi yang mana yang bisa dikatakan perjamuan kudus :

  1. Anda atau saya, mengadakan pemecahan roti di rumah anda /saya
  2. Pendeta anda mengadakan pemecahan roti di rumah anda
  3. Anda mengadakan pemecahan roti di rumah pendeta anda.
  4. Anda mengadakan pemecahan roti di gereja anda.

:wink:

Nomor 1 itu sah jika kita mengimaninya.
Nomor 2 dan 3 sah jika si pendeta mengimaninya.
Nomor 4 sah jika si gereja mengimaninya.

Semua sah tgantung imannya.

Kl saya tidak mengimaninya, maka skalipun dlakukan di gereja pun tidak akan sah bagi saya.

Iman si pemecah roti, iman si peserta, atau iman si penonton?

Saya keduluan Siip hehehe

Jawaban Siip dan saya kurang lebih sama bro

Kalau iman si pemecah roti yang salah, maka dia yang berdosa
Kalau iman si peserta yang salah, maka dia yang berdosa
Kalau iman penonton sepertinya tidak ada efeknya

Semuanya itu baik yang memecah2kan maupun yang menerima pecahan, harus mengecek diri sendiri akan pelanggaran2nya sendiri, mohon ampun, dan mempunyai sikap hati yang benar, tak ada yang kebal dosa dari semuanya ini

Pemecah roti yang benar tak akan bisa disalahkan oleh orang yang menerima dengan hati yang salah, demikian juga sebaliknya

Kali ini saya keduluan Henhen.
Hehehehe

Oke deh…

:smiley: