siapa yang beriman ?

kasus : ada 1 orang remaja terkena kanker kronis. dokter memvonis dia takkan hidup lama

2 orang tua berseteru

IBU : masih ada jalan ! Mukjizat itu nyata
Ayah : sudahlah ma, ini yang terbaik bagi kita, Tuhan tak ingin melihat dia menderita lebih lama lagi, itu sebabnya Ia akan memanggil dia

siapa yang beriman ?

jika ibu beriman, dan ternyata anak tak selamat, bukannya jadi sia sia ya ? no offense

Bukan lagi dua melainkan satu tubuh, demikian jika dua orang suami dan isteri tidak sepakat, bagaimana mujzat itu bisa nyata?

Mengatakan “mujizat itu nyata” bukan berarti ia beriman, demikain juga mengaakan “ini yang terbaik buat kita” juga bukan berarti tidak memiliki iman. Iman bukan hanya sekedar pernyataan, banyak orang menipu diri sendiri (dan juga orang lain) dengan lidahnya sendiri, tetapi perbuatannya atau tindakan orang tersebut tidak dapat menipu. Yakobus 2:14-26, mengatakan iman (bicara saja), tanpa perbuatan sama juga bukan iman. Sebab yang disebut iman adalah perbuatan yang didasari atas iman, bukan kata-kata.

Seorang mengatakan “aku menaruh seluruh harapan hidupku pada Tuhan bukan pada uang” saat ditanya, dan saat itu mungkin benar kata-kata itu lahir dari pikirannya, tetapi itu bukan iman jika ternyata saat menghadapi keadaan dimana saat ada ancaman akan kehilangan sumber uangnya, ia menjadi kawatir, gelisah dan bahkan melakukan perbuatan yang “mata gelap” agar memiliki uang kembali dan merasa aman kembali. Terbukti didalam perbuatannya, rasa amannya berada pada uang bukan pada Tuhan.

Pernyataan kita kadang dapat keluar dengan sadar dari pikiran kita sebagai keinginan kita, tetapi bukan tiap pernyataan iman itu iman, sebab pernyataan itu biasanya keluar dari rekaman otak akan kebenaran mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah yang seri menipu kita, dan kita anggap pengetahuan ini adalah iman, tetapi sebenarnya hanya rekaman otak saja, tetapi bukan pernyataan iman yang lahir dari hati nurani yang suci.

Iman bertumbuh dari pengalaman dalam menjalankan Firman Tuhan, saat seseorang membaca Alkitab (Roma 10:17) dan ia melakukan sesuai apa yang dituntun didalamnya, maka orang tersebut imannya akan ditumbuhkan dari hari ke sehari (Roma 1:17). Pada saat itulah maka ia akan memiliki iman yang disebutkan “Orang benar akan hidup oleh iman.” bukan lagi “Orang hidup karena sesuap nasi”.

Semoga mencerahkan.

Semuanya beriman, tapi dalam level yang berbeda

Sang Ibu beriman pada kuasaNYA
(seperti dalam kasus perempuan yang sakit pendarahan, asal kujamah saja jubahnya, aku akan sembuh)

Sang ayah beriman pada rencanaNYA
(seperti pada kasus Sadrakh Mesakh Abdnego, juga doa Kristus di Getsemani)

jika ibu beriman, dan ternyata anak tak selamat, bukannya jadi sia sia ya ? no offense

jadi 2 2 nya benar :smiley:

tapi komplikasinya begini

jika kita mengikut sang ibu dan anak tak selamat. pasti sakit hati yang teramat dalam dan kekecewaan

jika kita mengikut sang ayah dan remaja meninggal, bukankah tugas orang tua menjaga anak yang dikaruniai Tuhan ?

tidak ber iman semua.

Kalau ber iman , berdoa “Terjadilah padanya (anak muda) menurut KehendakMU”

Ah, kita tidak perlu berargumentasi dengan Allah, hanya suatu Omniscient being yang mampu memperhitungkan semua kemungkinan dan kemudian mengaktualisasikan keadaan yang terbaik bagi suatu ciptaan,

mati atau tidak sang remaja tersebut, pasti Allah memiliki rencana

Ketika Sang anak mati, maka Allah pasti memiliki rencana bagi sang ibu, mungkin agar sang ibu mau belajar seperti Ayub,“Engkau yang memberi, Engkau juga yang mengambil, Terpujilah namaMU”

Demikian juga bagi Sang ayah, ia tidak perlu merasa bersalah, hidup mati seseorang berada di tangan Sang Pencipta, bukan teknologi medis dan kapabilitas Sang Dokter, maupun usaha Si penjaga.

Iman datang dari pendengaran, pendengaran atas Firman Tuhan. Iman bukan percaya kepada pikiran sendiri tetapi percaya apa kata Tuhan.

Apa yang dikatakan Tuhan tentang anak itu melalui doa, jika dipercaya dan dilakukan maka itulah iman.

keduanya bisa beriman…
orang beriman itu berpengharapan penuh, dan karena berpengharapan penuh, maka akan melakukan segala upaya dengan sepenuh hati dan bersemangat, dan karena berharap penuh pula dan percaya Tuhan maha segalanya, maka orang beriman akan itu memasrahkan hasilnya kedalam tangan Tuhan, dan Percaya bahwa segala sesuatu yg terjadi adalah yang terbaik… walaupun orang beriman belumlah bisa mengerti dimana letak kebaikan itu…

maka dari itu orang beriman itu tidak mengeluh, orang beriman itu sabar, orang beriman itu terus bekerja dengan semangat…

keberimanan itu sesungguhnya adalah “Menyerah” total pada kehendak Tuhan!

karena sekali lagi, orang beriman yakin bahwa manusia tidak tau apa2, dan Tuhan tau yg terbaik dan selalu mengasihi umatNya. maka dari itu orang beriman tidak punya alasan untuk “memaksa”

hhhmmm… mungkin bila saya akan menyerahkan pada TUHAN… namun berdoa agar sakitnya tidak terlalu menyiksa… ^^

orang beriman boleh tetep meminta, dan berharap pada Tuhan… namun dari kesemua permohonan haruslah dilandasi dengan semangat: “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut kehendak-Mu”

tergantung hasilnya
kalau ternyata mati
maka kedua duanya tak beriman

GBU