Siapakah " kamu " dimaksud di Roma11:21-22 ?

Silahkan mengupas lebih mendalam siapkah kamu di Roma11:21-22 ?

Jadi kamu itu di Roma11:21-22 ? :

  1. Orang sudah diselamatan ?
    atau
  2. Orang yang belum diselamatakan ?
    atau
  3. Orang tersebut masih status keselamatan diragukan oleh Tuhan ?

Terimakasih.

GBU.

Berikutnya

Sebab mereka :

  • Yang pernah diterangi hatinya,
  • Yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan
  • Yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan
  • Yang mengecap firman yang baik dari Allah dan
  • ( akan menerima ) karunia-karunia dunia yang akan datang,

6 Namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Pertanyaan Pula siapa mereka :

  • Mereka sudah mendapatkan keselamatan ?
    atau
  • Mereka belum mendapatkan keselamatan ?
    atau
  • Status keselamatan mereka masih diragukan oleh Tuhan ?

Terimakasih.

GBU.

Masihkah ada ayatnya senada diatas ?

Jika ada, silahkan masuk.

Terimakasih.

GBU.

[i]Ibr 6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
Ibr 6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
Ibr 6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ibr 10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
Ibr 10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.
Ibr 10:28 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi.
Ibr 10:29 Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia[/i]?

Masalah Dosa dengan sengaja dijelaskan dalam Kitab Bilangan (Bilangan 15:29-36), dan Kitab Ibrani (Ibrani 10:26-29).

Bilangan 15:29-31

(29 )Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja.

(30) Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya, (31) sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya."

Di antara ayat 29 dan ayat 30 ada sebuah perubahan yang bermakna. Yang ada tertulis sebelum ayat 29 adalah tentang “berbuat dosa dengan tidak sengaja”, yang ada tertulis mulai ayat 30 adalah tentang “berbuat sesuatu[color=red] dengan sengaja”.

Kalau kita membaca dengan tepat ayat-ayat 29-30 itu, kita menyadari bahwa dosa yang dibuat [b]“dengan tidak sengaja” diterjemahkan “dosa” (ayat 29), sedangkan perbuatan yang dibuat “dengan sengaja” diterjemahkan “sesuatu”, tidak lagi “dosa” (ayat 30), meskipun kata asal dalam bahasa Ibrani עשׂה sama dalam 2 ayat tersebut (Kamus Strong, kata H5315).

Sesungguhnya, dalam teks asal bahasa Ibrani, kata “sesuatu” itu bahkan tidak ada. Bukan saja begitu, tetapi dalam teks asal bahasa Ibrani, dalam kalimat “Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja” itu (ayat 30), kata Ibrani נפשׁ yang diterjemahkan “orang” itu arti asalnya juga bukan “orang”, tetapi seperti “makhluk yang bernapas”, seperti “binatang” (Kamus Strong, kata H5315).

Kita dapat menyimpulkan bahwa "yang berbuat dosa dengan tidak sengaja" (ayat 29) adalah orang yang punya jiwa serta roh, sedangkan “yang berbuat (sesuatu) dengan sengaja” hanya “makhluk yang bernapas” yang tidak punya roh.

Pengubahan itu maksudnya apa?

Dosa yang dibuat “dengan tidak sengaja” itu disebut “dosa” karena dosa itu tentulah adalah dosa, tetapi “perbuatan” yang dibuat “dengan sengaja” itu tidak tentu merupakan dosa, tetapi menjadi dosa jika dibuat pada hari Sabat. Itu sangat jelas waktu kita membaca ayat-ayat yang berikutnya:

Bilangan 15:32-36

“Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa." (Bilangan 15:32-36)

Hukuman itu sangat berat untuk kesalahan yang begitu kecil! Orang itu hanya mengumpulkan kayu api pada hari Sabat, tetapi dihukum mati !

Mengapa begitu berat hukumannya?

Karena dosa “berbuat sesuatu dengan sengaja”, yaitu dosa bekerja pada hari Sabat melibatkan keselamatan kita. Dihukum mati, yaitu kematian kekal, artinya “tidak diselematkan”.

Oleh sebab itu, yang “berbuat sesuatu dengan sengaja” disebut sebagai “makhluk yang bernapas” yang tidak punya roh. Orang yang tidak punya Roh Kristus tidak bisa diselamatkan, seperti ada tertulis dalam Kitab Roma:

“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” (Roma 8:9)

Menurut Kitab Ibrani, masuk dalam perhentian Tuhan datang dalam keselamatanNya:

“Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.” Dan dalam nas itu kita baca: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” (Ibrani 4:3-11)

Hanya Tuhan berkuasa untuk menyelamatkan kita

Kita dilarang bekerja pada hari Sabat, artinya kita tidak bisa melakukan perbuatan apapun untuk mendapat keselamatanNya. Keselamatan diberikan dari Tuhan saja, yang melakukan seluruh pekerjaan. Kita dilarang menambah perbuatan apapun sebagai kondisi tambah untuk mendapat keselamatanNya. Pengorbanan Yesus di atas salib sudah sempurna. Orang yang menambah perbuatan apapun atas pengorbanan Yesus mengurangkan nilai pengorbanan Yesus, yaitu kekurangan kepercayaan kepadaNya. Orang sebegitu sombong tidak bisa diampuni. Itulah “dosa dengan sengaja” yang ada tertulis di Kitab Bilangan.

“Dosa dengan sengaja” dijelaskan dengan sangat jelas dalam Kitab Ibrani:

"Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? (Ibrani 10:26-29)

Mukjizat terbesar adalah mukjizat keselamatan. Hanya Tuhan Yesus yang melakukannya, dan Yesus melakukan mukjizatNya pada hari Sabat. Itu membuktikan bahwa hanya Dia satu-satunya yang berkuasa untuk menyelamatkan kita orang yang berdosa.

Oleh sebab itulah, orang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat dihukum mati.

Orang yang sudah tahu tentang pengorbanan Yesus – “yang sudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran” - dan menambah perbuatan apapun sebagai kondisi tambah untuk mendapat keselamatanNya - “sengaja berbuat dosa” - tidak bisa diselamatkan.

Itulah maksudnya “dosa dengan sengaja”.

Ibr 10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

kata “kita” = merujuk pada capa iah kk ku ?

“kita (termasuk penulis: “makhluk yang bernapas” yang punya roh)” bukan ?

jika penulis yg punya roh itu engga termasuk apa yg dikatakan pada ayat itu, maka dia pula engga perlu menggunakan kata ‘kita’ melainkan ‘kamu yg tak punya roh’

btol ?

itu termasuk bahagian dari ‘dosa dgn sengaja’ kerna implisit telah murtad dari ajaran Tuhan:

  1. keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita.
  2. Ia menyelamatkan kita. Bukan karena kita ini cukup baik untuk diselamatkan (perbuatan baik kita), melainkan semata-mata karena kemurahan dan pengasihan-Nya. Ia menyelamatkan kita dengan menghapuskan dosa kita. Ia memberikan kepada kita sukacita yang baru dari Roh Kudus yang tinggal di dalam kita,

tetapi itu bukan satu2nya yg termasuk ‘dosa dgn sengaja’ bukan ?

21 dan kita memiliki seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

26
Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran,
maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

Pertanyaan bagi penganut teolog Osas dan Tulip :

Mengapa anda2 tidak mengerti arti " kita " yang :

    • Kita sudah mendapatkan keselamatan termasuk Rasul Paulus ?
      atau
    • Kita belum mendapatkan keselamatan termasuk Rasul Paulus ?
      atau
    • Status keselamatan kita masih diragukan oleh Tuhan termasuk Rasul Paulus ?

Mohon dijawab dong, fokuskan pada ayatnya, jangan lari keayat lainnya untuk menghindar yang biasa dilakukan oleh kalian yang berpenganut teolog Osas dan Tulip.

Terimakasih. GBU.

Status orang-orang yang pernah percaya kepada Tuhan dan datang kepada-Nya, tetapi kemudian menambah persyaratan-persyaratan lainnya untuk keselamatan mereka, dengan demikian menjadikan pengorbanan Yesus Kristus di atas salib - pengorbanan yang sebenarnya sempurna - menjadi tidak lagi sempurna.

Misalnya ada orang yang percaya bahwa percayaan kepada Allah tidak cukup, masih harus juga dibabtis agar diselamatkan…

  • Percayaan akan Yesus Kristus + pembabtisan, atau

  • Percayaan akan Yesus Kristus + persyaratan lainnya…

Maka setiap kali sesuatu ditambah di atas pengorbanan Yesus sebagai persyaratan untuk keselamatan orang, jadi pengorbanan Yesus itu dikurangi nilainya dari 100 persen sempurna menjadi tidak lagi sempurna.

Maka Allah dicuri kemuliaan-Nya!

Oleh sebab itu, dikatakan dalam Kitab Suci bahwa orang-orang itu “menyalibkan Yesus”.

Menyalibkan lagi Yesus , apakah bisa diselamatakan menurut anda ?

Anda belum menjawab apakah Ibr6:20-26 disebut kita juga termasuk pengarangnya ?

  • Kepada mereka yang menyalibkan Yesus, Yesus pernah katakan: “Bapa, ampunilah mereka! Mereka tidak tahu apa yang mereka buat.” (Luka 23:34)

Tetapi hal itu tidak sama dengan Ibrani 10:26, mengenai orang yang sengaja berbuat dosa dengan sengaja, karena mereka yang pernah mengenal Yesus Tahu apa yang mereka buat. Keselamatan datang dari Allah, jadi jika mereka diberikan dari Allah kesempatan untuk bertobat, mereka masih dapat diselamatkan, tetapi menurut ayat-ayat tersebut, mereka terus saja berbuat dosa dengan sengaja tidak mau bertobat lagi, jadi tidak akan diselamatkan…

Ibrani 6:4-6 sangat jelas:

“Tetapi sesudah itu mereka murtad! Mana mungkin membimbing mereka kembali untuk bertobat lagi dari dosa-dosa mereka…”

Tidak diselamatkan.

Ibr6:20-26 ???


Ibr 6:4-6 Sebab, orang-orang yang sudah murtad, tidak mungkin dibimbing kembali. Mereka dahulu sudah berada di dalam terang dari Allah, dan sudah menikmati pemberian-Nya. Mereka sudah juga turut dikuasai oleh Roh Allah. Mereka tahu dari pengalaman mereka bahwa perkataan Allah itu baik, dan mereka sudah merasai karunia-karunia yang penuh kuasa dari zaman yang akan datang. Tetapi sesudah itu mereka murtad! Mana mungkin membimbing mereka kembali untuk bertobat lagi dari dosa-dosa mereka. Sebab mereka sedang menyalibkan lagi Anak Allah dan membuat Dia dihina di depan umum.

Ibr 10:26 “Sebab kalau berita yang benar dari Allah sudah disampaikan kepada kita, tetapi kita terus saja berbuat dosa dengan sengaja, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa kita.”

JIKA… semua orang, termasuk pengarangnya, punya kebebasan kehendak untuk murtad dan binasa…

Tetapi pengarangnya berkata:

“Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.” (Ibrani 10:39)

Ya pengarang berkata
( termasuk pengarangnya sendiri !
) :
Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup." (Ibrani 10:39)

Tapi jangan salah pengarang dengan sangat tegas juga berkata termasuk dirinya sendiri
dan
juga termasukl umat penganut setia teolog Osas dan Tulip !
Sebab
jika kita
( termasuk pengarang ! )
sengaja berbuat dosa
,
sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran,
maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

Ya kita sama2 akan lebih tegas dan fair dalam diskusi untuk menjelaskan FT, jangan sebelah pihak untuk menyenangkan hati teolog OSAS & TULIP !

Biasa deh … :cheesy: :cheesy: :cheesy:
Pernyataan diatas disenangi oleh mereka berteolog Osas & Tulip, sedangkan dibawahnya menggerutu bagi mereka !

Setuju semua member2 disini ?

GBU.

Hallo @Yosua 777 kemana anda kini berada ? sudah 24 jam lebih gak muncul-2, atau mungkin ada member yang lain bisa membantunya menjawab ?

GBU.

Masalah OSAS / SSTS itu tergantung pada bagaimana orang menganggap hal keselamatan itu.

Banyak orang menganggap keselamatan sebagai sesuatu yang instan dan definitif. Mereka percaya bahwa orang mendapat keselamatan yang total dan definitif setelah dia mengucapkan doa sejenis “Saya menerima Yesus sebagai Juruselamat saya pribadi…”, seperti sebuah mantra, setelah diucapakan jadi didapatkan…

Kalau keselamatan dapat diperoleh demikian, oleh sebab orang punya kebebasan kehendak dan dapat memundurkan diri dan binasa, maka teori OSAS / SSTS (Sekali Selamat Tetap Selamat) itu tidak dapat didukung…

Tetapi untuk orang lain, hal keselamatan itu dianggap sebagai sesuatu yang progresif dan panjang, sebuah proses yang hanya akhir pada waktu orang masuk ke surga.

Orang-orang yang telah masuk di surga sebenarnya diselamatkan, maka untuk orang yang mengangap keselamatan sebagai sesuatu yang hanya kita dapatkan secara definitif waktu kita masuk di surga, teori OSAS / SSTS - Sekali Selamat [di dalam surga] tetap selamat - itu dapat didukung, karena yang telah diterima di surga tidak akan diusir dari surga untuk binasa…

Maka soal yang benar bukan teori OSAS / SSTS itu benar atau tidak, tetapi: Hal KESELAMATAN itu hal yang instan setelah orang percaya akan Yesus, atau sesuatu yang dikerjakan selama hidup kita, dan yang kita dapatkan secara sempurna waktu kita masuk ke surga?

Sebenarnya, proses keselamatan tidak mulai waktu kita mengucapkan doa permohonan apapun kepada Allah, tetapi sebelumnya, Roh Kudus "menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yohanes 16:8)

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:8-10)

Hal keselamatan itu bagian dari perjalanan kita ke kehidupan yang kekal, yang berlangsung selama kehidupan kita di atas bumi, bersama dengan Yesus Kristus, Pengantara kita.

Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal. Amin!

“Kamu” yg. dimaksud dalam Roma 11:21-22 adalah orang2 kristen non yahudi (bukan keturunan Ishak), yg. dalam nas ini berarti jemaat Roma. Orang2 yahudi keturunan Ishak dalam ayat ini diumpamakan sebagai “cabang-cabang asli”

Mhn jawab pertanyaan saya :

Terima kasih jika anda menjawabnya atau member2 lain ?

GBU

hehehe… Petra29 kabur gak berani jawab ? lalu teolog sejawatnya @Rita Ratina juga kabur ?

Ya semoga kalian sadar akan kesalahannya.

Atau member lainnya bisa membantu mengkomentarinya ?

Silahkan. Terimakasih.

GBU.

Keselamatan itu bukan seperti mengurus SIM atau KTP, tetapi sebuah proses rohani yang tidak terlihat secara fisik dan kasat mata. Saat seorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka itu adalah sebuah titik yang baik, tetapi imannya harus dibuktikan nyata dalam perjalanan hidupnya. Proses ini yang manusia tidak dapat tahu, sebab hanya Allah saja yang dapat melihat hati manusia. Yohanes 2:22-23 menyebutkan tentang orang-orang yang masuk iman tetapi malah Yesus tidak mempercayakan diriNya kepada mereka. Sebab Yesus tahu apa yang ada didalam hatinya. Banyak orang jadi Kristen karena perkawinan, karena teman, karena bisnis, karena terbisa, atau sebab-sebab lainnya, semua memiliki iman bahwa Yesus itu Tuhan dan Kristus, Anak Allah. Tetapi hatinya sesungguhnya? Tidak ada seorangpun yang tahu dan pernah seorang tua yang terhitung tua-tua sidang menyatakan ia sebenarnya ragu-ragu dengan imannya. Semua orang di forum ini jelas jenis orang yang tertarik dengan hal-hal bersifat spiritual, tetapi apakah mereka semua dipercaya Allah? Mengerti banyak bisa karena belajar, tetapi perbuatan iman adalah bukti nyata iman seseorang.

Yesus pernah menyatakan dirinya sebagai PINTU, tetapi Ia juga menyatakan diriNya sebagai JALAN. PINTU adalah saat kita menerimaNya dengan iman, sedangkan JALAN adalah jika kita tetap tinggal didalamNya sampai kepada Bapa. Karena itu dalam kitab Wahyu dikatakan tentang pesan agar tetap bertahan sampai akhir.

Sekali selamat tetap selamat, tetapi siapa yang mengetahui seseorang benar-benar telah diselamatkan? Hanya iman orang itu sendiri saja yang tahu. Roh Allah dan rohnya bersaksi bahwa ia telah dipercaya dan didamaikan dengan Allah didalam Yesus Kristus. Karena itu terkadang terlihat banyak orang yang awalnya terlihat selamat, akhirnya ia murtad. Sebab dari awal bisa jadi ia adalah orang-orang yang Injil katakan Yesus tidak mempercayakan diriNya kepada mereka walau mereka memiliki iman yang cukup untuk disebut orang Kristen.

Yohanes 3:7-8, bercerita tentang kelahiran kembali. Seperti angin bertiup, tidak terlihat tanda-tanda fisik, sebab itu adalah perubahan didalam roh, dan hanya dapat dirasakan dan tidak diketahui kapan dan dimana. Karena dalam perjalanan mungkin orang yang awalnya menjadi Kristen karena pernikahan, akhirnya ia menemukan Kebenaran didalam perjalan hidupnya, mungkin dulunya karena bosnya ia menjadi pemeluk agama Kristen tetapi anuhgrahNya membuat ia melihat Terang sejati, atau bahkan anak yang sejak kecil dari keluarga kristen, lebih tidak jelas lagi apakah ia telah diselamatkan atau tidak, walau dilihat dari ilmu agama dan keaktifannya dia sudah dibilang kristen tulen, tetapi hati manusia siapa yang tahu, hanya Allah dan dalam perjalanan waktu, banyak anak-anak dari keluarga kristen yang bertobat dan mengalami kelahiran baru saat ia remaja atau pemuda atau bahkan tua.

Kelahiran baru adalah salah satu tanda, tetapi lahir baru itu bukan hidup saleh dan alim, tetapi perubahan secara rohani yang hanya dapat kita rasakan dampaknya, bahkan terhadap orang yang sejak kecil sudah alim dan baik hati sekalipun.

Ini bukan komdak urusin SIM atau Ktp dengan syarat2nya !

Ini urusan FT !

Yang lagi diskusi adalah Roma11:22 bukan ayat lain !

Kalau mau refrensi ayat lain boleh dan harus, asal apakah ayat lain yang anda sodorkan itu sesuai senada dengan Roma11:22 ? kalau tidak sesuai bahkan kontradisi, maka agrumen anda itu ngawur adanya ! Maaf, dan jelas ?

GBU.