Simul iustus et peccator. Di mana letak dosa orang yang dibenarkan?

Simul iustus et peccator. Dibenarkan tetapi [atau sekaligus tetap] masih berdosa.

Saya—dan mungkin banyak di antara kita—sudah sering mendengar penjelasan bagaimana manusia dibenarkan—menurut ajaran Calvin dan Luther. Manusia dibenarkan hanya oleh iman, yaitu iman pada Yesus Kristus. Kebenaran yang Kristus menangkan di atas kayu salib diperhitungkan [diimputasikan] pada orang beriman.

Tapi, saya pribadi masih bingung: dalam arti apa “manusia tetaplah manusia yang berdosa [walaupun sudah dibenarkan]?”

Di mana letak kedosaan manusia [yang sudah dibenarkan] itu?

Rm 4:8. Berbahagialah manusia yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan.”

Oh, Mr. Potter. :slight_smile:

Sebelum berdiskusi tentang frasa “diperhitungkan”, saya mau stick pada topik: di mana letak dosa tersebut. Mungkin, apa sih esensi dosa yang masih ada tetapi tidak diperhitungkan?

Romans 4:8
μακάριος ἀνὴρ οὗ οὐ μὴ λογίσηται κύριος ἁμαρτίαν.
Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin

Ayat tersebut harusnya menjelaskan bahwa “dosanya” tersebut sudah “dihilangkan” :slight_smile:

Itu dapat dianalogikan seperti Taurat Vs Cinta Kasih

Dengan Cinta Kasih, Taurat menjadi “hilang” :smiley:

Jadi, Mr Gandalf, IMHO, karena sudah dihilangkan, “letaknya” sudah hilang juga :smiley:

Salam buat Mr Frodo cs :smiley:

Lalu, doktrin siapa dong “Simul Iustus Et Peccator”?

Doktrinnya Luther dan Calvin ini salah dong yah?–[Heran, di sini kok banyak banget yang menyangkal ajaran Luther dan Calvin?]

Dan karena dua-duanya tidak ada, mereka bisa disangkal begitu saja?

Ayatnya saja berbunyi (Rm. 4:7-8):

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."

Tidak diperhitungkan = cuma ditutupi = MASIH ADA.

Dosa apakah itu?

Menurut Luther dan Calvin, masih ada.

Wah, serem nih… pembicaraan antara Gandalf dan Harry Potter…
Narnia belum ikutan nih? ehehe…

kalo IMHO, konsep DOSA adalah pendulum pemberat agar manusia selalu rendah hati & mawas diri…
Kalo kata orang Jepang: OJO DUMEH… ELING lan WASPODO…

ini lebih jelas pada konsep DOSA ASAL…
ceritanya kan semua bayi langsung BERDOSA…
artinya ada suatu pemberat agar se-hebat apapun manusia harus selalu KAKINYA MENGINJAK BUMI, karena pastilah ada KEKURANGAN atau KETIDAKSEMPURNAAN dalam diri / perbuatan kita…

Kalo saya pribadi,
sampai mati pun saya yakin bahwa saya tetap berdosa walaupun udah dihapus gimana caranya oleh siapapun juga sampai beribu-ribu kali…

karena saya TIDAK MAU BERSIKAP JUMAWA bahwa karena SUDAH TIDAK BERDOSA maka PASTI MASUK SURGA…
wah… bahaya banget nih kalo kaya gini… sereeeemmmmm…

salam,

Saya kira “Simul iustus et peccator” adalah jurus baru dari musuh saya si Lord Voldemort, hampir saja saya tanya Prof Albus Dumbledore ;D

Doktrinnya Luther dan Calvin ini salah dong yah?--[*Heran, di sini kok banyak banget yang menyangkal ajaran Luther dan Calvin?*] Dan karena dua-duanya tidak ada, mereka bisa disangkal begitu saja?
Kedua orang tersebut bisa saja salah :D
Ayatnya saja berbunyi (Rm. 4:7-8): [i]Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang [b]ditutupi dosa-dosanya[/b]; berbahagialah manusia yang kesalahannya[b] tidak diperhitungkan[/b] Tuhan kepadanya."[/i] Tidak diperhitungkan = cuma ditutupi = MASIH ADA. Dosa apakah itu? Menurut Luther dan Calvin, masih ada.
Menurut saya tidak ada brur :D

Huahahaha… Silahkan brur ;D

Terima kasih atas pemahaman atau pendapat pribadinya :afro:

Jelaslah, kalau bahwa kita masih bisa berbuat dosa dan belum tentu masuk sorga, pengikut Paus pun percaya itu (mereka bahkan punya Sakramen Pengkuan Dosa).

Justru pengikut Paus mendapat kesan dari ajaran Luther, Calvin dkk: setelah dibenarkan, karena ternyata masih berdosa, orang boleh berdosa sesukanya. Toh, Allah kini memandang orang tersebut dengan menggunakan “kacamata kebenaran Kristus”. Saya percaya, bukan ini maksud Luther dan Calvin.

Mari kita lebih serius. Saya mengambil salah satu konfesi (pengakuan iman) gereja Calvinis, yaitu Pengakuan Iman yang dibuat John Knox, teman John Calvin.

For as God the Father beholds us in the body of his Son Christ Jesus, he accepts our [b]imperfect [/b]obedience a[b]s if it were perfect[/b], and [b]covers [/b]our works, which are [b]defiled with many stains[/b], with the righteousness of his Son. (John Knox, Scots Confession 15)

Karena selama Allah Bapa memandang kita dalam tubuh Anak-Nya Kristus Yesus, Dia menerima ketaatan/kepatuhan tidak sempurna kita seolah-olah sempurna, dan menutupi pekerjaan/perbuatan kita, yang dikotori/dicemari oleh banyak noda, dengan kebenaran Anak-Nya.

Ada beberapa kata kunci:

[ol]- Ketaatan/kepatuhan tidak sempurna (imperfect) kita dianggap seolah-olah sempurna (as if it were perfect) oleh Allah (tentu dengan memandang “body of his Son Christ Jesus”).

  • Pekerjaan/perbuatan kita yang kotor/cemar oleh banyak noda (defiled with many stains) [b]ditutupi /b oleh kebenaran Anak-Nya.[/ol]

Pertanyaan:

[ol]- Soal esensi (apa): Apa sebenarnya ketidaksempurnaan atau kekotoran/kecemaran yang tidak mampu dihapuskan oleh Kristus di atas kayu salib tersebut?

  • Soal mengapa: Mengapa karya Kristus di atas kayu salib tidak mampu menghapuskan ketidaksempurnaan atau kekotoran/kecemaran tersebut, tetapi hanya “dianggap seolah-seolah” sempurna atau “ditutupi”?[/ol]

Funny :afro:

Tentu. Kamu pun bisa salah. Kita hanya mencoba memahami apa kira-kira maksud ajaran mereka itu.

Menurut mereka masih, broer Potter. Ini bahkan masuk ke dalam berbagai pengakuan iman berbagai denominasi, seperti Calvinis dan Lutheran.

Coba baca jawaban saya untuk Bro Cadandgata di atas.

Karena yang ditebus hanya dosa asal, untuk dosa selanjutnya kita yang tanggung, karenanya akan ada penghakiman mengenai perbuatan kita, yaitu Kitab Kehidupan, itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan kita agar mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar :smiley:

Dengan menebus dosa asal, maka keselamatan sudah dalam tangan kita, tergantung kita mau mengerjakannya (dengan selalu berbuat baik) keselamatan itu supaya keselamatan itu tidak hilang ataukah sebaliknya :smiley:

yang menjadi pokok permasalahan adalah bisakah manusia menjaga kebersihannya dari dosa setelah menerima TUHAN YESUS…??? selama manusia hidup di dunia dipastikan masih berbuat dosa sebab jerat dunia ini sangat memukau… namun jika kita benar2 beriman kepada TUHAN… dan dengan penuh keikhlasan berbuat kehendak TUHAN… dan ketika kita mencapai akhir dan bisa memelihara iman kita… TUHAN tidak akan ingat2 lagi akan dosa kita… dengan demikian maka manusia dibenarkan oleh TUHAN…

Orang yang telah dibenarkan memang selalu terancam untuk kehilangan janji keselamatan akibat perbuatan dosa. Para pengikut Paus juga percaya hal ini

Itulah sebabnya, konsep Once Saved Always Save benar-benar penyimpangan.

[i]What righteousness then can men obtain by their works? First, I say, that the best thing which can be produced by them is always tainted and corrupted by the impurity of the flesh, and has, as it were, some mixture of dross in it. John Calvin, Institutio, III, 14, 9

Pertama-tama, saya berkata bahwa hasil yang paling baik yang dapat mereka capai, masih juga dinodai dan dirusak karena salah satu kecemaran dari daging, dan seakan-akan tercampur dengan kotoran.[/i]

[i]It is now clear, how false the doctrine is which some long ago taught, and others still persist in, that by baptism we are exempted and set free from original sin, and from the corruption which was propagated by Adam to all his posterity. John Calvin, Institutio, IV, 15, 10

Maka jelaslah sekarang, betapa salahnya pengertian bahwa oleh baptisan itu kita dilepaskan dan dibebaskan dari dosa turunan dan dari kerusakan yang diteruskan dari Adam ke seluruh keturunannya.[/i]

Mengapa Calvin bilang masih ada?

Lho, manusia masih menanggung dosa selanjutnya. Bukankah Kristus yang menanggung dosa manusia?

Ibrani 9:28
demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.

Lihat apa Calvin di atas.

Calvin waktu itu sedang minum anggur :smiley:

Lho, manusia masih menanggung dosa selanjutnya. Bukankah Kristus yang menanggung dosa manusia? [b]Ibrani 9:28 [/b]demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya [i]untuk menanggung dosa banyak orang[/i]. Lihat apa Calvin di atas.
Dosa yang ditebus oleh Tuhan Yesus adalah dosa asal Adam: 12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. 15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. 16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. 17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. 20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,

Sedangkan perbuatan kita semua akan dihakimi pada akhir jaman:
27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
12 Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
13 Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.
12 "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.
:smiley:

Jangan main sulap lagi, Mr. Potter :wink:

Calvin jauh lebih serius dengan tafsirannya atas Alkitab ketimbang mister Potter. Coba lihat di bawah

[i]The faults of the saints are indeed venial, not, however, in their own nature, but because, through the mercy of God, they obtain pardon. (Institutes II.8.59)

Bagaimanapun, kesalahan orang-orang kudus benar-benar kecil (venial), bukan karena kodratnya, tetapi karena, melalui belas kasih Allah, kesalahan-kesalahan itu memperoleh pengampunan.

The sins of believers are venial, not because they do not merit death, but because by the mercy of God there is “now no condemnation to those which are in Christ Jesus” their sin being not imputed. (Institutes, III.4.28)

Dosa-dosa orang percaya adalah kecil (venial), bukan karena dosa-dosa itu tidak mendatangkan maut, tetapi karena, oleh belas kasih Allah “sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”, dosa mereka tidak diperhitungkan.[/i]

Dosa orang-orang yang sudah dibenarkan memang diampuni, tetapi masih ada walaupun bersifat “kecil” (venial). Dosa itu “kecil” bukan karena Calvin [dan Luther] percaya adanya “dosa kecil”, tetapi karena dosa itu kini tidak diperhitungkan lagi oleh belas kasih Allah. Bahkan, Calvin masih memberi kesan bahwa dosa itu kecil bukan karena TIDAK mendatangkan maut (berarti dosa itu masih bisa mendatangkan maut). Dosa, bagi Calvin [dan Luther], pasti bersifat mortal (berat) dan pasti mendatangkan maut (hukuman kekal di neraka). Tapi, dosa dalam diri orang-orang yang dibenarkan menjadi “kecil” bukan dalam arti kodrati (natural), tetapi dalam arti sudah tidak diperhitungkan oleh Allah yang berbelas kasih. Secara kodrat (natural), dosa itu tetap mortal dan mendatangkan maut. Hanya saja, dosa itu kini tidak diperhitungkan lagi.

Jadi, dosa masih tetap ada dalam diri orang yang dibenarkan.

Saya percaya, bahwa karena dosa itu tidak diperhitungkan lagi pada orang-orang yang dibenarkan (tetapi justru diperhitungkan pada Kristus di atas kayu salib), maka dosa itu sudah diampuni (artinya: Kristus mati di atas kayu salib karena menanggung hukuman atas dosa orang-orang yang dibenarkan/orang percaya).

Tapi masalahnya tetap: dosa apa yang tidak diperhitungkan pada Kristus di atas kayu salib (yang tidak Kristus tanggung di atas kayu salib), tetapi justru masih diperhitungkan pada orang-orang yang dibenarkan, walaupun dosa itu sekarang terbilang “kecil”?

Brur, saya pakai berdasarkan Alkitab, sedangkan si Calvin dan Luther pakai pikiran mereka sendiri :smiley:

Menjejerkan ayat-ayat Alkitab begitu saja TIDAK SAMA dengan “berdasarkan Alkitab”.

Semua bidah juga menjejerkan ayat-ayat Alkitab: Arianisme, Sabelianisme, Apollorianisme, Donatisme, Monofisitisme, Nestorianisme, Pelagianisme, dan isme-isme yang lain,

Lihat tulisan tokoh-tokoh bidah tersebut: dipenuhi ayat-ayat Alkitab!

Jadi, jangan bilang bahwa kamu alkitabiah, sementara Calvin dan Luther tidak alkitabiah. Itu argumen yang lemah. Calvin dan Luther justru berani melawan Paus di Roma karena mereka percaya bahwa mereka lebih alkitabiah dan mendasarkan ajaran mereka pada Alkitab!

Belum lagi, perbedaan di antara denominasi zaman modern ini–semuanya mengaku alkitabiah (lalu mengapa mereka tidak bergabung dalam satu denominasi saja?).


Cukup, basa-basinya. :slight_smile:

Lanjut ke diskusi.

Saya menemukan di beberapa sumber, di Theopedia, yang membedakan antara Original Sin dan Imputed Sin. Silakan di-klik untuk membacanya.

Di entri Imputation of Adam’s Sin, saya membaca:

[i]The imputation of Adam’s sin is distinct from original sin, the doctrine that humans are born with a sinful nature as a result of Adam’s sin.

Imputasi dosa Adam berbeda dari dosa asal (original sin), yaitu doktrin bahwa manusia lahir dengan kodrat berdosa sebagai hasil dari dosa Adam.[/i]

Saya juga membaca tulisan What is the difference between original sin and imputed sin? (milik Desiring God’s Ministry). Silakan di klik untuk membaca lebih jauh.

Dari situ dapat dibedakan:

Original Sin = suatu kondisi yang diwarisi oleh semua manusia keturunan Adam. Kondisi ini berupa kodrat yang berdosa (sinful nature). Akibat dosa adam, kodrat manusia (keturunan Adam) menjadi berdosa. Keadaan sinful ini melekat pada kodrat manusia. Keadaan ini tidak bisa hilang—karena memang melekat pada kodrat. “We are not sinners because we sin; rather, we sin because we are sinners”—Kita tidak menjadi pendosa karena kita berdosa, tetapi kita berdosa karena kita adalah pendosa. Jadi, kita memang pendosa, memiliki kodrat berdosa di dalam diri kita.

Imputed Sin = suatu dosa yang diwariskan oleh Adam. Artinya, Adam berdosa dan semua keturunannya menjadi ikut berdosa bersama Adam. Kata “imputed” (diperhitungkan) justru menekankan hal ini: dosa adam diperhitungkan kepada keturunannya.

Ayat-ayat Alkitabnya bisa dibaca di link-link tersebut (link-link tersebut juga alkitabiah, broer, bukan cuma kamu ;D )

Menurut yang saya baca, Imputed Sin dihapuskan melalui karya Kristus di atas kayu salib. Artinya, kebenaran Kristus diperhitungkan (imputed) pada orang percaya (orang yang dibenarkan oleh iman). Sama seperti dulu dosa Adam diperhitungkan (imputed) pada semua keturunannya, kini kepada Kristuslah dosa itu diperhitungkan (imputed). Jadi, Kristus menanggung siksa neraka di atas kayu salib menggantikan orang-orang percaya (yang sebelum percaya adalah orang yang kena “perhitungan dosa” tadi).

Jadi, Imputed Sin itulah yang dikalahkah oleh Kristus di atas kayu salib.

Hal yang masih menjadi pertanyaan saya: Mengapa Kristus seolah-olah tidak mampu menebus “Original Sin” juga? Mengapa Dia hanya bisa menebus “Imputed Sin”, yaitu dengan cara meng-impute-kan “Imputed Sin” kepada diri-Nya? Mengapa “Original Sin” tidak termasuk yang di-impute-kan kepada Kristus?

Sebenarnya tidak perlu dicukupkan, karena memang doktrin hanya iman (Solafide) dikumandangkan mulai abad ke -16, jadi selama ribuan tahun (hampir 1600 tahun), doktrin ini tidak dikenal :smiley:

Menurut yang saya baca, [i]Imputed Sin[/i] dihapuskan melalui karya Kristus di atas kayu salib. Artinya, kebenaran Kristus diperhitungkan ([i]imputed[/i]) pada orang percaya (orang yang dibenarkan oleh iman). Sama seperti dulu dosa Adam diperhitungkan ([i]imputed[/i]) pada semua keturunannya, kini kepada Kristuslah dosa itu diperhitungkan ([i]imputed[/i]). Jadi, Kristus menanggung siksa neraka di atas kayu salib menggantikan orang-orang percaya (yang sebelum percaya adalah orang yang kena “perhitungan dosa” tadi). Jadi, [i]Imputed Sin[/i] itulah yang dikalahkah oleh Kristus di atas kayu salib. [b]Hal yang masih menjadi pertanyaan saya:[/b] Mengapa Kristus seolah-olah tidak mampu menebus “Original Sin” juga? Mengapa Dia hanya bisa menebus “Imputed Sin”, yaitu dengan cara meng-[i]impute[/i]-kan “Imputed Sin” kepada diri-Nya? Mengapa “Original Sin” tidak termasuk yang di-[i]impute[/i]-kan kepada Kristus?
Saya ambil sumber dari GRII, yang merupakan Gereja Calvinis:
Pelagius (354-420) mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah tanpa mewarisi dosa turunan (original sin). Akibat dari pemahaman doktrin dosa yang salah ini, Pelagius sampai pada kesimpulan yang begitu menyimpang dari Alkitab, yaitu manusia dimungkinkan untuk memperoleh keselamatan melalui upaya perbuatan baik dan menjalankan perintah-perintah agama. Pelagius menolak akan keabsolutan anugerah Allah di dalam Kristus melalui iman yang memimpin kepada keselamatan pribadi. Ajaran Pelagius (Pelagianism) ini akhirnya dinyatakan sebagai ajaran sesat oleh tiga sidang Gereja: Synod of Carthage, Council of Ephesus, dan Synod of Orange.

Agustinus (354-430) melawan ajaran Pelagius karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Ia memakai starting point yang sangat berbeda dengan Pelagius. Natur manusia adalah natur yang berdosa akibat dosa turunan Adam sehingga tidak mungkin untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik di mata Allah yang suci. Oleh karena itu manusia membutuhkan anugerah spiritual dari Roh Kudus yang mencerahkan akal budi manusia, mengubahkan hati manusia untuk mencintai hal-hal yang kudus, menumbuhkan iman, dan memungkinkan manusia untuk berbuat baik. Menurut Agustinus, iman di dalam Kristuslah yang membenarkan orang berdosa. Manusia berdosa dibenarkan oleh darah Kristus yang dialirkan di atas kayu salib untuk menggantikannya. Anugerah ini diberikan oleh Allah secara bebas sesuai dengan kedaulatan Allah dan tidak tergantung kepada jasa perbuatan baik manusia. Jadi bisa dilihat bahwa anugerah Allah mendahului perbuatan baik manusia.

Di dalam konsep justification-nya, Agustinus mencampuradukkan doktrin pembenaran (justification) dengan doktrin pengudusan (sanctification). Menurutnya di dalam membenarkan orang berdosa, Allah tidak mendeklarasikan orang berdosa sebagai orang benar tetapi membuat pendosa itu menjadi orang benar. Kegagalan Agustinus dalam membedakan secara jelas dan akurat mengenai doktrin pembenaran dan pengudusan ini kemudian diwariskan kepada theolog-theolog Gereja setelahnya.

Thomas Aquinas (1225-1274) mengembangkan doktrin justification yang telah diajarkan oleh Agustinus. Menurutnya, pembenaran oleh Allah bekerja melalui anugerah pengudusan yang diinfusikan ke dalam jiwa manusia oleh Allah sehingga mengubah orientasi kehendak bebas manusia untuk pertama-tama taat kepada Allah, dan kemudian melawan dosa, serta akhirnya menghasilkan pengampunan dosa. Aspek pengudusan menjadi lebih jelas dan sistematik di dalam konsep justification yang diajarkan oleh Thomas Aquinas dan menjadi ajaran resmi gereja Katolik Roma sampai dengan abad ini.
Justification by Faith Alone: The Doctrine by which the Church Stands or Falls - Buletin Pillar


Yang sedikit rancu, betapa doktrin Gereja-Gereja yang membenci Gereja kalian yaitu Gereja Katolik, justru semuanya merujuk ke ajaran dan doktrin manusia Katolik seperti Agustinus, Thomas Aquinas dll, bahkan berpatokan pada semua Konsili Katolik :smiley:

Perlu diperhatikan bahwa Calvin tidak membedakan antara Original Sin dan Imputed Sin :smiley:

Penemuan baru, begitu? Semacam hasil “inovasi menuju prestasi”, yah?

Btw, memang agak OOT dari topik thread ini…

Kamu Reformed [saja], Reformed [Injili], atau dari salah satu Pentakostal/Karismatik? Atau dari denominasi lain?

Mungkin supaya enak gitu lho. Kalau kamu mengaku Reformed [saja], saya kan bisa meraba-raba posisi kamu dan melihat kesesuaian antara kutipan Alkitab yang kamu jejerkan dengan pengakuan iman resmi yang kamu pegang.

Saya merasa agak kehilangan arah dalam diskusi ini. Jelas “Follower of Jesus” adalah kualifikasi hampir semua orang yang mengaku mengikuti Yesus, mulai dari pengikut Paus sampai bidah Arian.

Saya kurang paham dengan kutipan kamu dari statemen GRII-nya Stephen Tong terkait dengan topik ini.

Kutipan tersebut tidak membahas topik dalam thread ini. Jadi, agak OOT.

Tapi, statemen atau kesimpulan kamu atas kutipan dari statemen GRII itu tampaknya memang benar.

Artinya begini:
Agustinus melawan bidah Pelagius (itu benar).
Agustinus mengajarkan pembenaran semacam yang ditulis di situ (itu benar–walaupun terminologinya tidak terlalu tepat dan terlalu sederhana)
Thomas Aquinas mengajarkan pembenaran semacam yang ditulis di situ (itu benar–walaupun terminologinya tidak terlalu tepat dan terlalu sederhana).

Wajar kalau Pdt. Stephen Tong merasa bersebrangan dengan Agustinus dan Thomas Aquinas. Kan Stephen Tong mengaku Calvinis. Kalau memang benar Tong Calvinis sejati, berarti ini salah satu bukti bahwa Calvinis memang bersebrangan dengan Agustinus [dan Thomas Aquinas].

Tapi, semua uraian di atas sangat OOT–tidak ada hubungannya dengan topik ini.

Tapi memang benar uraian Bapak Tong di atas: Agustinus dan Thomas Aquinas sangat Katolik–walaupun waktu kedua orang ini hidup belum ada Protestan.

Oh, yah? Bisa ditunjukkan kutipannya dari tulisan Calvin sendiri?

God Desiring Ministry, yang linknya saya tunjukkan di atas–yang membedakan Original Sin dan Imputed Sin–adalah pelayanan/web site dari John Piper, seorang [Baptis] Calvinis, seperti James White.

Apakah ini semacam “kasus Calvinis versus John Calvin”?
Atau: “kasus Calvinis versus Calvinis lain”?