sola scriptura, deutrokanonika, dan sejarah perpecahan Gereja.

mari teman2 yang punya info, wawasan tentang hal2 tersebut untuk diseringkan…

treat ini dibuat untuk siapapun yang mau bertukar pikiran, informasi, pendapat, tentang solacriptura, kitab deutrokanonika, dan sejarah perpecahan gereja. merupakan hal yang menarik untuk dibicarakan, namun sangat rawan emosional… :slight_smile:

nb:hendaknya diskusi ini tidak dimasukan dalam ranah hati, keimanan, agama, pakai pikiran yang ringan saja, sehingga tidak memicu emosi yang subyektif. Sehingga didapat sebuah wawasan baru untuk kita semua. Percaya atau tidak, Sepakat atau tidak. Itu tidak penting! Hehehehe… itu hak azasi teman… 

teman 2 yang terkasih dalam Kristus, kita adalah satu. namun sejarah membuat kita terpisah secara doktrin maupun organisasi. namun sebagai sesama pemegang ajaran kristus hendaknyalah kasih lebih menonjol dibanding apapun tentang perbedaan

terimakasih… :slight_smile:

tentang sola scriptura apa sudah cukup?

saya copas dari: http://katolisitas.org/2010/01/18/apakah-sola-scriptura-kitab-suci-saja-cukup/

Pendahuluan

Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.
Apa itu Sola Scriptura?

Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.”[1]
Apakah yang ajaran Gereja Katolik dalam hal ini?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.[2].

Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:

KGK 82 Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.
Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci

Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:

  1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
    Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
    Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

  2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
    “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
    Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

  3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.

  4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

  5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.

  6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.

  7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.
    Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

    Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.

Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).
Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik.
Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura[3]:

  1. 2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.

Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.

Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.

  1. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”

Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.

  1. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”

Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 1 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.

Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

  1. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)

Di sini kita melihat tradisi yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)

  1. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.

Kesimpulan

“Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan Kristus untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.

Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.

deutokanonika:

Berdasarkan http://www.opensubscriber.com/message/[email protected]/8267540.html. Pemilihan kitab suci menjadi kanon itu berdasarkan tradisi serta cara pandang teologis dari kepercayaan/agama.

Kanon Kitab Suci Yahudi belum ada sampai dengan Konsili para Rabi Yahudi di Yamnia sekitar tahun 100 CE. Sebelumnya beberapa kelompok Yahudi mempunyai daftar Kitab/Gulungan yang berbeda-beda.

Kelompok Yahudi yang didiaspora berbahasa Yunani memiliki daftar Kitab Suci yang dikenal dengan nama Septuaginta, yang secara tradisi dipercaya diterjemahkan oleh 70 orang tua-tua Yahudi dari bahasa Ibrani atau Aram ke dalam bahasa Yunani pada sekitar abad 3 sampai 1 BCE

Konsili Yamina menolak memasukkan dalam Kanon, kitab-kitab yang beredar luas di dalam kelompok-kelompok Yahudi, hanya yang ada dalam versi bahasa Ibrani atau Aram saja (menolak dkitab-kitab Septuaginta yang tidak ada versi bahasa Ibrani dan Aramnya), serta hanya memasukkan kitab-kitab sampai dengan jaman Ezra (Kembali dari pembuangan).

Kanon Kitab Suci Kristen awal mendasarkan pada Septuaginta sejalan dengan tumbuh suburnya agama Kristen di kalangan Yahudi di diaspora berbehasa Yunani. Septuaginta sendiri bukanlah suatu Kitab Suci yang utuh tapi merupakan gulungan-gulungan. Itu sebabnya jumlah Kanon Kitab Suci Kristen yang berdasarkan pada Septuaginta pun tidak selalu sama. Misalnya versi Katolik Roma, sedikit berbeda dalam jumlah dengan versi Kristen Orthodok, dan sedikit berbeda dalam jumlah dengan versi Kristen Koptik.

Penemuan dokumen Qumran menunjukan bahwa beberapa kitab yang ditolak pada Konsili di Yamnia karena tidak ditemukan versi bahasa Ibrani/Aramnya, ternyata digunakan oleh sekte Yahudi Qumran dalam bahasa Aram (Kitab Henokh 1 dan Kesaksian Lewi) atau Ibrani (Kitab Jubile).

Kanon Yahudi sendiri didistribusikan secara meluas sekitar abad 7-8 CE dan dikenal dengan nama Naskah Masoretik. Menurut Bernard Russell, Martin Luther dengan semangat Reformasinya menolak segala unsur ke-Romawi-an (termasuk keorganisasian gaya Romawi dalam Kepausan Katolik Roma), memperhalus unsur ke-Yunani-an, serta memperkuat unsur ke-Yahudi-an yang ada dalam tradisi Kisten saat itu, memutuskan untuk menolak Kanon Kitab Suci yang digunakan Katolik Roma, serta menggunakan Naskah Masoretik yang digunakan oleh kalangan Yahudi sebagai dasar Kanon Perjanjian Lama versi Gereja-gereja Reformasi.

Tradisi dan cara pandang teologis berdasarkan Kanon tersebut yang selanjutnya masing-masing tetap menggunakan Kanonnya masing-masing. Walaupun Kitab-kitab Deuteronika tidak diakui sebagai bagian dari Kitab Suci Yahudi akan tetapi beberapa tradisi Yahudi seperti Hari Raya Hanukkah mempunyai landasan tradisi yang berasal dari Kitab Makabe 1 dan 2 yang ada dalam Kitab-kitab Deuterokanonika.


ALKITAB KATOLIK

Umat Katolik memiliki Kitab Suci yang sedikit berbeda dengan umat Protestan. Didalam Kitab Suci umat Katolik terdapat tambahan beberapa kitab yang dinamakan “Deutrokanonika” yang dikenal oleh umat Protestan sebagai “Apokrip”.

Kata “Deutrokanonika” berasal dari kata Yunani “deutros” yang berarti “kedua” dan “kanon” yang berarti ”patokan iman”. Kitab-kitab ini diterima oleh Gereja Katolik sebagai kitab yang terbasuk dalam Kitab Suci, sedangkan umat agama Protestan tidak menerimanya.

Dengan demikian, jika dipisahkan menjadi 3 bagian, maka Kitab Suci umat Katolik terdiri dari:

A.Perjanjian-Lama B.Deutrokanonika C.Perjanjian- Baru

1.Kejadian
2.Keluaran
3.Imamat
4.Bilangan
5.Ulangan
6.Yosua
7.Hakim-hakim
8.Rut
9. 1 Samuel
10.2 Samuel
11.1 Raja-raja
12.2 Raja-raja
13.1 Tawarikh
14.2 Tawarikh
15. Ezra
16.Nehemia
17. Ester
18.Ayub
19.Mazmur
20.Amsal
21.Pengkotbah
22.Kidung Agung
23.Yesaya
24.Yeremia
25.Ratapan
26.Yehezkiel
27. Daniel
28. Hosea
29.Yoel
30. Amos
31. Obaja
32.Yunus
33.Mikha
34. Nahum
35.Habakuk
36.Zefanya
37.Hagai
38.Zakharia
39.Maleakh 1.Tobit
2.Yudit
3.Tambahan-tambahan pada Buku Ester
4.Kebijaksanaan Salomo
5.Yesus anak Sirakh
6.Barukh
7.Surat Nabi Yeremia
8.Tambahan-tambahan pada Buku Daniel
9. 1 Makabe
10. 2 Makabe

1.Injil Matius
2.Injil Markus
3.Injil Lukas
4.Injil Yohanes
5.Kisah Para Rasul
6.Surat Paulus kepada Jemaat di Roma
7.Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus
8.Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Korintus
9.Surat Paulus kepada Jemaat-jemaat di Galatia
10.Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus
11.Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi
12.Surat Paulus kepada Jemaat di Kolose
13.Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Tesalonika
14.Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Tesalonika
15.Surat Paulus yang Pertama kepada Timotius
16.Surat Paulus yang Kedua kepada Timotius
17.Surat Paulus kepada Titus
18.Surat Paulus kepada Filemon
19.Surat kepada Orang Ibrani
20.Surat Yakobus
21.Surat Petrus yang Pertama
22.Surat Petrus yang Kedua
23.Surat Yohanes yang Pertama
24.Surat Yohanes yang Kedua
25.Surat Yohanes yang Ketiga
26.Surat Yudas
27.Wahyu kepada Yohanes

MENGAPA TIDAK SOLA SCRIPTURA?

Sebelum dibahas, ada baiknya disepakati dulu ttg pemakaian istilah agar tidak terjadi ke-salah mengerti-an dalam diskusi yg diakibatkan perbedaan persepsi penggunaan istilah.

PEMAKAIAN ISTILAH

Adalah tidak tepat mengkontraskan antara Alkitab dgn Tradisi karena Alkitab pada hakekatnya adalah juga merupakan sebuah Tradisi (dalam hal ini Tradisi tertulis). Mengapa Alkitab disebut sbg Tradisi? Perlu diingat terlebih dahulu pengertian dari Tradisi. Apa itu Tradisi? Tradisi adalah sejumlah ajaran yg berasal dari seseorang/sekelompok tertentu yg kemudian diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi. Maka dari itu tepatlah bila Alkitab dikatakan adalah sebuah Tradisi. Bukankah kebenaran ajaran Alkitab yg berasal dari para rasul & para nabi diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi hingga saat ini? Namun telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam berbagai diskusi (terutama dgn rekan protestan) yg membahas ttg Sola Scriptura, bahwa ketika dipakai istilah “Tradisi” adalah mengacu pada Tradisi (bentuk) Lisan, sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Alkitab/kitab suci”. Gereja Katolik sendiri dalam katekismusnya menggunakan istilah “Tradisi Rasuli/Tradisi Suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) Lisan tsb sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Kitab suci (Sacred scripture)” Jadi utk kepentingan praktis dalam berdiskusi, maka digunakan istilah “Tradisi” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) lisan dan istilah “Alkitab/Kitab suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) tertulis. Sekarang mari kita membahas masalah Sola Scriptura dgn membaca ayat Alkitab berikut :

PEMBAHASAN

2 Tes 2:15

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

“Therefore, brethren, stand fast, and hold the TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle.”

“ara oun adelfoi sthkete kai krateite taV PARADOSEIV aV edidacqhte eite dia logou eite di epistolhV hmwn”

Ayat ini berangkat dari realita bahwa pada mulanya ajaran KRISTUS yg disampaikan oleh para rasul adalah melalui pengajaran secara lisan. Sebelumnya, Kristuspun mengajar para murid2Nya secara lisan. KRISTUS bahkan tidak menghasilkan satu lembar kertaspun yg berisi tulisanNya. Kumpulan pengajaran2 dari para Rasul yg disampaikan secara lisan inilah yg disebut sebagai Tradisi (Tradisi Lisan). Kemudian beberapa dari ajaran2 dari para rasul tsb kemudian dituliskan kedalam bentuk tertulis (berupa surat2 dari rasul kpd suatu jemaat misalnya). Namun sayang, adalah tidak mungkin memasukan semua ajaran para rasul tsb kedalam bentuk tertulis. Yohanes menulis bhw masih banyak yang dikerjakan oleh YESUS yg tidak mungkin bila semuanya harus dicatat, dunia ini tidak akan mampu menampung kitab2 yg berisi semua ajaran YESUS tsb (Yoh 21:25). Sebagian yg tidak tertulis tetap berada dlm ajaran2 Tradisi (Tradisi Lisan). Oleh sebab itu Paulus menasehati agar kita berpegang teguh pada ajaran (Inggris : Traditions, Yunani : Paradosis) baik yg tertulis (yaitu Alkitab) maupun yg tidak tertulis (Tradisi/Tradisi Lisan). Dan dari konsep inilah Gereja (Katolik) mengenal dua sumber iman yaitu Alkitab (yg adalah merupakan Tradisi tertulis) dan Tradisi (Tradisi lisan). Baik Alkitab maupun Tradisi Rasuli keduanya berisi warisan ajaran iman dari para Rasul yg dipercayakan kpd Gereja. Gereja memelihara kebenaran iman dari dua sumber tsb dan keduanya diperlakukan sama oleh Gereja. Keduanya memiliki otoritas yg sama dan wajib diimani.Harap dibedakan antara Tradisi (Tradisi Lisan) (huruf " T " besar) dgn tradisi gerejawi (huruf " t" kecil). Sepanjang suatu masalah menyangkut hal2 doktrinal maka ia termasuk dalam ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) sedangkan masalah2 seperti jenis liturgi, disiplin gerejawi, kegiatan ungkapan ekspresi iman adalah merupakan tradisi gerejawi. Bedanya Tradisi (Tradisi Lisan/Tradisi Rasuli) karena menyangkut doktrin kebenaran iman, maka ajaran dalam Tradisi (Tradisi Lisan) tidak dpt berubah (Irreformable dan Irrevocable), sedangkan tradisi gerejawi karena tidak menyangkut doktrin kebenaran iman, maka dapat diubah/berubah dan bahkan dimungkinkan suatu daerah memiliki tradisi gerejawi yg berbeda dgn daerah lain

MASALAH OTORITAS TRADISI & KITAB SUCI

Beberapa rekan protestan mungkin berkata bahwa mereka pada hakekatnya menerima Tradisi namun mereka tidak bisa menyamakan otoritas ajaran Tradisi sama & sejajar dgn otoritas Alkitab. Konsekuensi dari sikap ini adalah bahwa segenap pengajaran Tradisi harus dilihat sesuaikah dgn pengajaran Kitab Suci. Jadi kebenaran & penerimaan pengajaran Tradisi bergantung dari kesesuaian dgn kebenaran Kitab Suci. Otoritas Tradisi berada dibawah otoritas Kitab Suci.
Bagaimana menanggapi pernyataan ini? Bahwa Gereja Katolik tidak masalah bila pengajaran Tradisi harus di cross check dgn pengajaran Kitab Suci. Keduanya pasti tidak mungkin saling bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yg sama. Namun mari kita melihat pada proses kanonisasi…

Bahwa ketika para Bapa Gereja melakukan kanonisasi, baik umat Katolik maupun protestan sama-sama mengimani akan adanya peran/inspirasi ROH KUDUS. Namun bagaimana pada akhirnya para Bapa Gereja bisa menetapkan kitab A,B,C kanonik, kitab X,Y,Z tidak kanonik? Apakah para Bapa Gereja mendengar suara2 tertentu (sebagai bentuk manifestasi inspirasi ROH KUDUS) yg memberitahu mereka mana kitab yg kanonik, mana yg tidak? TIDAK !!! Di depan tumpukan kitab2 yg ada, para Bapa Gereja akhirnya harus membaca kandungan pengajaran masing2 kitab tsb, apakah sesuai atau tidak. Sesuai - Tidak Sesuai dgn apa? Tentu saja dengan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Agar lebih jelas berikut saya beri contoh :

MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw KRISTUS tidak disalib, melainkan yudaslah yg disalib, maka kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyaliban KRISTUS akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyelamatan KRISTUS dari peristiwa salib akan dianggap kanonik. NAMUN kenyataan berkata sebaliknya. Mengapa injil Barnabas akhirnya dinyatakan tidak kanonik? Karena Tradisi mengajarkan kpd para Bapa Gereja bhw KRISTUS benar2 disalibkan demi pengampunan dosa umat manusia. Sehingga injil Barnabas yg mengisahkan kisah penyelamatan KRISTUS dianggap tidak kanonik.

MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw YESUS hanya memiliki satu natur saja maka tentu kitab2 yg mengajarkan dwinatur KRISTUS akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 gnostik akan dianggap kanonik. NAMUN sekali lagi kenyataan berkata sebaliknya. Karena Tradisi mengajarkan keilahian & kemanusiaan (dwinatur) KRISTUS, maka injil/kitab gnostik-lah yg kemudian dianggap tidak kanonik.

Peran inspirasi ROH KUDUS disini adalah mengingatkan para Bapa Gereja akan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Menyadari bagaiama proses kanonisasi inilah, maka jelas Gereja (Katolik) tidak mungkin dapat berposisi utk menerima sola scriptura dimana ajaran Tradisi otoritasnya diletakan berada dibawah (subordinat) dari otoritas Kitab Suci. Apakah kalau begitu Gereja Katolik meletakan otoritas Tradisi diatas otoritas Alkitab? Tidak. Gereja meletakannya keduanya sama otoritatifnya sebab keduanya berasal dari sumber Ilahi yg sama namun yg berbeda dalam moda transmisi penyampaiannya. Oleh karenanya keduanya tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi).

Dalam Sola Scriptura terkadang ada yg mengemukakan prinsip bhw otoritas Gereja harus berada dibawah otoritas Alkitab. Ini juga sulit diterima oleh Gereja Katolik mengingat proses kanonisasi dan penetapan daftar kanon adalah oleh Gereja. Otoritas Gerejalah yg menetapkan daftar kanon kitab suci. Namun itu tidak berarti Gereja dpt bertindak seenaknya. Gereja menyatakan dirinya sbg pelayan Firman Tuhan baik yg ada dlm Alkitab maupun dlm Tradisi (Tradisi Lisan). Otoritas Gereja diwujudkan dlm penafsiran kitab suci & ajaran Tradisi.

Kemudian ada yg mungkin keberatan dgn mengatakan bahwa Tradisi sebagai ajaran yg disampaikan scr lisan bisa berbahaya karena bisa diubah-ubah ibarat permaianan membisikan suatu kalimat dari org pertama hingga org kesepuluh. Well ini masalah pada otoritas mana yg dipercaya. Apakah yg tertulis (Alkitab/Kitab Suci) juga tidak bisa disangsikan? Tentu sangat bisa. Gampang saja : Tau darimana surat Roma adalah surat tulisan Paulus?Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Paulus. Tau darimana surat Petrus adalah surat yg ditulis oleh Petrus? Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Petrus. Bukankah sudah diketahui bahwa aliran bidat sering meminjam nama para Rasul atau murid Para Rasul utk menamai kitab tulisan mereka? Kita sbg umat HANYA bisa percaya kepada Gereja yg mewartakan keotentikan surat2 tsb sbg benar2 tulisan dari para Rasul atau murid para Rasul. Demikian juga thd ajaran Tradisi yg diwartakan Gereja, umat Katolik mempercayai bahwa ajaran Tradisi tsb adalah ajaran otentik dari para Rasul.

Saya belum baca semua karena panjang, namun pada hemat saya Katolik menyetarakan kedudukan tradisi suci dan alkitab karena mau mencari dasar untuk bisa berdoa kepada Maria dan santo2 serta ajaran Purgatory. Mengatakan Maria tidak mati tapi diangkat kesurga, mengatakan Paus adala wakil Tuhan didunia, diluar gereja tidak ada keselamatan, dan orang tidak percaya Kristus kalau baik akan diselamatkan.
Semua ini membedakan antara Katolik dan Protestan. Oleh sebab itu dapat disimpulkan Katolik dan Protestan itu bertolak belakang dan sangat berbeda.

tentang maria, paus, itu semua alkitabbiyah bro…

Tradisi lisan dari generasi ke generasi sulit di jamin keaslianya. Contoh Petrus waktu itu punya istri, Lalu tradisi katolik yang mengatakan Paus adalah suksesi Petrus ternyata tidak punya istri.

Cerita Tradisi katolik mengatakan Petrus mati Roma tepatnya di kubur di Vatican.
Penemuan arkeologi oleh paderi katolik dari ordo Franciscan di Yerusalem mengatakan bahwa kubur Petrus di temukan di Yerusalem.

Tradisi Vatican sebelum tahun 1994 mengatakan holocaust tidak pernah terjadi. Setalah 1994 mengakui holocaust terjadi.

Alkitabiah artinya berdasarkan alkitab,
Mana ada dalam alkitab Maria diangkat kesurga?

@ond32

nah kalau demikain, bisa anda bertukar posisi sejenak, mengapa kira2 kitab deutrokanonika tidak dimasukan dalam kanonisasi alkitab protestan?

kalau ternyata anda sanggup memberikan suatu argumen proposional seperti itu, mungkin memang topik ini menarik untuk didiskusikan

jika ternyata belum, memang benar untuk didiskusikan saja kurang menarik, apalagi kita mau mendalami kebenaranya

:slight_smile:
GBU

sebelum saya jawab terlalu jauh, ada pertanyaan kepada teman2:

apakah doktrin alkitab “inspirasi illahi” itu diajarkan sebelum luther melakukan reformasi/sebelum melakukan reformasi ?

Bab 1
Bagaimana Sebuah Buku Dapat Menjadi Bagian dari Alkitab?

A. KANONISASI

Buku-buku mana yang termasuk di dalam Alkitab? Bagaimana hal itu diputuskan?

Kanonisasi adalah suatu proses bagaimana buku-buku dari Alkitab itu menerima persetujuan untuk diterima oleh pemimpin-pemimpin sidang. Bagaimana buku-buku dalam Alkitab itu bisa diterima sebagai suatu bagian yang dianggap kanon dari Alkitab?

Bagaimana seorang dapat mengatakan bahwa sebuah buku itu adalah buku yang didapat dari ilham Roh ketika dia melihatnya?

Tanda-tanda apakah yang membedakan pernyataan itu suci atau pernyataan yang murni berasal dari manusia? Beberapa kriteria akan diceritakan dalam proses ini. Untuk itu umat Allah harus melihat adanya tanda-tanda kepemilikan dari Allah dengan otoritas yang kudus.

  1. Prinsip-Prinsip Untuk Menemukan Kemurnian.

Buku-buku yang palsu dan tulisan-tulisan yang palsu bukannya jarang didapatkan. Buku-buku itu selalu ada dan merupakan suatu ancaman, karena itu sangat penting bagi umat Allah untuk dengan sangat hati-hati memilih buku-buku pilihannya yang kudus.

a. Dua Kategori Dari Tulisan Yang Suci. Tulisan-tulisan yang suci harus diperiksa dengan dua kategori ini :

  1. Buku-buku yang hanya dapat diterima oleh beberapa orang beriman, tapi tidak oleh orang beriman yang lain; dan
  2. Tulisan-tulisan yang pernah diterima tetapi yang kemudian diragukan.

(Dalam abad-abad yang terdahulu, buku itu dikira merupakan inspirasi dari Allah atau merupakan wahyu dari Allah, tetapi sekarang dipertanyakan/diragukan)

Tulisan-tulisan dengan kedua kategori ini diperiksa oleh majelis gereja untuk dipastikan (diteguhkan) apakah mereka itu termasuk bagian dari Alkitab atau tidak.

b. Lima Kriteria Dasar.

  1. Mempunyai Kekuasaan Otoritas. Apakah buku ini mempunyai kekuasaan otoritas? Apakah buku itu dapat dikatakan merupakan buku yang berasal dari Allah?

  2. Mengandung Nubuatan. Apakah mengandung nubuatan? Apakah ditulis oleh hamba Allah?

  3. Otentik. Apakah buku itu otentik? Apakah buku itu menceritakan kebenaran tentang Allah, manusia dan sebagainya?

  4. Dinamis. Apakah buku ini dinamis? Artinya mempunyai kuasa mengubahkan hidup?

  5. Diterima. Apakah buku ini dapat diterima oleh orang-orang yang pada mereka buku itu pertama kali ditulisnya? Apakah buku itu dapat dikatakan berasal dari Allah?

  6. Lima Kriteria Dasar Secara Terperinci.

a. Kuasa Otoritas Dari Sebuah Buku. Setiap buku di dalam Alkitab dapat dikatakan mempunyai otoritas yang kudus. Sering kali pernyataan “Demikianlah Firman Tuhan” tertulis di sana. Kadang-kadang nada dan peringatan-peringatan menunjukkan bahwa kitab itu murni dan bersifat ilahi. Dalam kepustakaan atau kitab-kitab yang mengandung pengajaran ada pernyataan-pernyataan yang kudus mengajarkan apa yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman.

Dalam buku-buku sejarah peringatan-peringatan itu lebih disinggung dan pernyataan-pernyataan yang mempunyai kuasa otoritas lebih menyatakan tentang apa yang Allah lakukan dalam sejarah umatNya. Apabila sebuah buku kurang menceritakan tentang otoritas Allah, maka buku itu dapat dikatakan tidak murni dan ditolak menjadi buku yang termasuk dalam Alkitab.

Marilah kita menggambarkan prinsip dari otoritas sebagaimana hubungannya dengan kemurnian. Di dalam buku-buku dari para nabi, kita dengan mudah dapat melihat adanya prinsip otoritas ini.

Kata-kata yang sering diulang adalah “Dan Tuhan berkata kepadaku” atau Firman Tuhan datang kepadaku". Seringnya kata-kata ini diulang, memberikan bukti yang begitu nyata bahwa kata-kata ini berasal dari wewenang yang kudus.

Beberapa buku tidak mempunyai kata-kata yang dapat dianggap suci dan karena itu ditolak serta dinyatakan sebagai buku yang tidak murni.

Mungkin inilah yang terjadi dengan buku dari “Yaser” dan buku “Peperangan dari Tuhan”. Masih ada lagi buku-buku lain yang diragukan dan dipertanyakan tentang kemurnian otoritasnya tetapi yang akhirnya dapat diterima sebagai buku yang murni seperti halnya dengan Kitab Ester.

Kitab Ester ini disetujui dan dimasukkan sebagai buku yang murni dari orang Yahudi, karena di dalamnya jelas diceritakan tentang perlindungan dan kemudian pernyataan dari Allah atas umatNya sebagai suatu fakta yang tidak dapat dibantah lagi. Sungguh, fakta-fakta yang menunjukkan bahwa buku-buku yang suci harus lebih dulu dipertanyakan, menunjukkan bahwa orang-orang beriman itu selalu memilih-milih yang terbaik atau menyaring buku-buku yang baik. Apabila mereka tidak benar-benar diyakinkan bahwa buku itu mempunyai otoritas yang suci, maka buku itu ditolak.

b. Buku Yang Mempunyai Kuasa Nubuatan. Buku-buku yang mengandung wahyu ditulis hanya karena gerakan Roh Kudus oleh orang-orang yang dikenal sebagai nabi-nabi (2 Ptr 1:20-21). Firman Allah diberikan kepada umatNya hanya melalui nabi-nabiNya. Setiap pengarang buku alkitabiah mempunyai karunia nubuatan atau fungsi nubuatan, sekalipun pekerjaan mereka bukan sebagai seorang nabi (Ibr 1:1).

Di dalam kitab Galatia, rasul Paulus membantah bahwa tulisan dan pengajarannya harus diterima karena ia adalah seorang rasul, “bukan karena manusia juga bukan oleh manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa” (Gal 1:1). Bukunya harus diterima karena buku bersifat pengajaran kerasulan, yaitu berasal dari seorang pembicara atau seorang nabi yang ditentukan oleh Allah.

Buku-buku harus ditolak apabila buku-buku tersebut tidak berasal dari nabi-nabi Allah yang secara jelas diperingatkan oleh rasul Paulus, untuk tidak menerima buku dari seseorang yang dengan palsu menegaskan dirinya sebagai seorang rasul (2 Tes 2:2) dan juga diperingatkan oleh rasul Paulus pada sidang di Korintus tentang rasul-rasul yang palsu (2 Kor 11:13).

Peringatan Yohanes tentang Mesias palsu dan untuk menguji roh juga menyatakan kategori yang sama (1 Yoh 2:18, 19; 4:1-3).

Karena prinsip perbuatan inilah maka surat 2 Petrus suatu saat pernah juga disisihkan oleh beberapa orang pada zaman Gereja pertama. Buku ini sempat tidak dimasukkan ke dalam buku-buku yang permanen dari buku suci orang Kristen, sehingga nenek moyang kita atau bapak-bapak dari zaman dahulu benar-benar diyakinkan bahwa buku ini bukanlah suatu pemalsuan, tetapi benar-benar ditulis oleh rasul Petrus seperti disebutkan dalam 2 Petrus 1:1.

c. Otentiknya Sebuah Buku. Tanda kemurnian yang lain dari suatu inspirasi atau suatu wahyu adalah otentiknya buku itu. Buku apapun yang mempunyai kesalahan fakta atau kesalahan doktrin (dapat dinilai dari wahyu-wahyu sebelumnya) tidak mungkin merupakan inspirasi dari Allah. Allah tidak dapat berdusta; FirmanNya pasti benar dan konsisten.

Berdasarkan pada prinsip-prinsip itu, maka orang-orang Berea menerima pengajaran rasul Paulus dan menyelidikinya dalam Alkitab untuk melihat apakah yang diajarkan oleh Paulus itu benar-benar sesuai dengan wahyu Allah dalam Perjanjian Lama (Kis 17:11). Suatu Pengajaran yang tampaknya cocok dengan wahyu sebelumnya, belum dapat dipastikan bahwa pengajaran itu merupakan wahyu yang benar, jelas menunjukkan bahwa suatu pengajaran itu bukan merupakan wahyu yang benar.

Banyak dari buku-buku yang dinyatakan bukan merupakan ilham roh (Apocrypha) ditolak karena prinsip otentik ini. Keganjilan-keganjilan yang terjadi dalam sejarah dan pengajaran agama mereka yang salah, buku-buku tersebut tidak mungkin diterima sebagai sesuatu yang dari Allah walaupun format dari tulisan itu tampaknya mempunyai kuasa. Tulisan itu tidak mungkin berasal dari Allah dan sekaligus tulisan itu mengandung banyak kesalahan.

Beberapa buku-buku yang murni juga diperiksa dengan dasar dan prinsip yang sama. Dapatkah surat dari Yakobus merupakan inspirasi apabila berlawanan dengan pelajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman dan tidak oleh pekerjaan? Sebelum tampak persesuaian yang penting itu, maka buku Yohanes masih diragukan oleh beberapa orang.

Orang-orang lain mempertanyakan buku Yudas karena beberapa kutipannya dari buku-buku yang tidak otentik (lihat ayat-ayat 9 dan 14). Namun kemudian dapat dimengerti bahwa kutipan-kutipan dari Yudas itu tidak lagi menyatakan kebenaran dari buku-buku itu dan bahkan Paulus pun mengutip dari karangan yang bukan Kristen (lihat juga Kis 17:18 dan Tit 1: 12), kemudian tak ada lagi alasan untuk menolak surat Yudas.

d. Keadaan Alamiah Yang Dinamis Dari Sebuah Buku. Penguji ke empat untuk kemurnian tak sejelas tiga yang lainnya. Ujian keempat adalah kemampuan (dinamika) dari tulisan itu untuk mengubah satu kehidupan.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat” (Ibr 4:12). Sebagai hasilnya tulisan itu dapat dipakai untuk “mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16-17).

Rasul Paulus menyatakan bahwa kemampuan mengubah kehidupan dari karya tulis itu menentukan semua tulisan-tulisan untuk dapat diterima atau tidak. 2 Timotius 3:16,17 menunjukkan hal ini.

Paulus menulis surat pada Timotius, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (ayat 15 kjv). Petrus pun dalam suratnya mengatakan tentang pembangunan dan pemberitaan kekuasaan dari Firman (1 Ptr 1:23 ; 2:2).

Berita-berita dan buku-buku yang lain ditolak karena mereka mengemukakan harapan palsu (1 Raj 22:6-8) atau membunyikan sebuah tanda bahaya yang salah (2 Tes 2:2). Karena itu, karya-karya tulis tersebut tak dapat membangun orang beriman dalam kebenaran dari Kristus. Yesus berkata : “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Pengajaran yang palsu tak dapat memerdekakan; hanya kebenaranlah mempunyai kekuatan untuk beremansipasi.

Beberapa buku Alkitabiah seperti Kidung Agung dan Pengkhotbah dulunya diragukan karena beberapa orang menilai buku-buku tersebut kurang mempunyai kuasa membangun yang dinamis.

Sekali mereka diyakinkan bahwa Kidung Agung itu bukan hanya sensasi, tapi benar-benar rohani dan bahwa buku Pengkhotbah bukannya skeptis atau pesimis, tetapi positif dan membangun (umpamanya 12:9,10); maka kemurniannya tidak lagi begitu diragukan.

e. Penerimaan Dari Sebuah Buku. Tanda pengesahan yang terakhir dari tulisan yang penuh kuasa adalah pengakuan dari umat Allah yang sudah sejak semula ditentukan oleh Tuhan.

Firman Allah diberikan melalui nabiNya dan harus dapat diakui umatNya dengan kebenaran. Generasi-generasi orang beriman yang berikutnya berusaha untuk mendapat kepastian akan hal ini.

Karena bilamana buku itu diterima, dikumpulkan dan dipakai sebagai Firman Allah oleh mereka yang aslinya wahyu itu ditujukan, maka kemurnian buku itu dapat diteguhkan.

Karena sulitnya komunikasi dan transportasi pada zaman dahulu maka diperlukan cukup banyak waktu dan usaha dari bapak-bapak Gereja zaman dahulu untuk menetapkannya. Untuk alasan inilah pengakuan yang penuh dan yang terakhir akan kemurnian dari ke enam puluh enam buku itu oleh seluruh Gereja, memerlukan berabad-abad lamanya.

Buku-buku dari Musa secara langsung diterima oleh umat Allah. Buku-buku itu telah dikumpulkan, dikutip, disimpan dan bahkan diamankan bagi generasi-generasi yang akan datang.

Surat-surat Paulus juga dengan segera dapat diterima oleh gereja-gereja yang dituju (1 Tes 2:13) dan bahkan juga oleh rasul-rasul yang lain (2 Ptr 3:16).

Beberapa tulisan dengan segera ditolak oleh umat Allah karena kurangnya otoritas rohani (2 Tes 2:2). Nabi-nabi palsu (Mat 7:21-23) dan roh-roh penipu juga telah diuji dan ditolak (1 Yoh 4:1-3) dimana contoh-contohnya telah banyak ditulis dalam Alkitab itu sendiri (Yer 5:2 ; 14: 14).

Prinsip tentang penerimaan buku-buku ini, telah membuat buku-buku seperti 2 dan 3 Yohanes masih dipertanyakan (dipertimbangkan).

Karena bentuk tulisan yang bersifat pribadi itu dan karena surat itu tidak begitu tersebar (hanya terbatas pada kalangan kecil saja), maka dapatlah dimengerti jika dapatnya diterima buku ini agak diragukan. Tetapi setelah mereka diyakinkan bahwa buku-buku tersebut telah diterima dalam abad pertama oleh umat Allah yang menerimanya langsung dari rasul Yohanes, maka kedua buku-buku itu akhirnya diterima.

Hampir tidak perlu seorangpun menambahkan sesuatu pada berita seorang nabi. Allah membenarkan nabi-nabiNya dan melawan mereka yang menolak nabi-nabi tersebut (contohnya, 1 Raj 22:1-8) dan apabila ditantang, Allah benar-benar akan menghancurkan (merendahkan) umat tersebut. Ketika otoritas Musa ditantang oleh Korah dan lain-lainnya, bumi terbelah dan menelan mereka hidup-hidup (Bil 16).

Peranan utama Allah sangat menentukan pengakuan Firman Allah ini. Allah menetapkan otoritas dari buku-buku yang murni itu, tetapi umat Allah dipanggil untuk menemukan buku-buku yang mana yang mengandung otoritas dan mana yang tidak. Untuk membantu mereka mengadakan penemuan ini ada lima uji coba kemurnian seperti yang digariskan di atas.

  1. Proses Menemukan Kemurnian

Kita tak usah membayangkan adanya sebuah panitia dari bapak-bapak Gereja dengan tumpukan buku-buku dan lima pinsip bimbingan ini berada di hadapan mereka, apabila kita berbicara tentang proses pemurnian itu prosesnya jauh lebih alamiah dan dinamis.

Beberapa prinsip hanyalah melengkapi proses tersebut.

Sekalipun ke lima ciri-ciri tersebut ada dalam semua tulisan yang diwahyukan, tak semua syarat-syarat pengakuan itu tampak dalam tiap keputusan terhadap masing-masing buku yang dianggap murni. Umat Allah pada zaman dahulu tidak dapat selalu melihat dengan segera dan jelas bahwa buku-buku yang bersejarah itu punya “kekuatan dinamik” atau punya “kuasa otoritas”. Bagi mereka yang lebih jelas adalah fakta dari beberapa buku yang bersifat “nubuatan” dan “diterima”.

Seseorang dapat dengan mudah melihat bagaimana kata-kata “Demikianlah firman Tuhan” telah memainkan peranan yang paling menyolok dalam penemuan kemurnian buku-buku yang menyatakan seluruh rencana keselamatan Allah.

Sebaliknya, kadang-kadang benar bahwa kuasa dan otoritas dari buku itu lebih nyata dibanding dengan penulisnya (umpamanya kitab Ibrani).

Dalam hal apapun, kelima ciri-ciri itu terlibat dalam menemukan kemurnian sebuah buku walaupun beberapa ciri itu hanya dipakai sebagai pelengkap saja.

Alasannya sederhana saja, karena buku yang diterima di suatu tempat oleh beberapa orang beriman itu, wahyunya sulit dibuktikan. Penerimaan yang pertama kali oleh umat Allah yang merupakan penguji yang terbaik dari otoritas buku tersebut, sangat penting dan dibutuhkan.

Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap tentang keadaan (situasi) saat wahyu itu diturunkan dari tiap-tiap lapisan generasi yang satu ke generasi yang lain, memerlukan waktu yang cukup lama. Begitulah, penerimaan sebuah buku itu penting; tetapi harus ada dukungan dari keadaan alamiah di sekitarnya.

Dasar yang paling penting dapat mengganti semua dasar yang lainnya. Di bawah semua proses pengakuan sebuah buku itu terletak sebuah prinsip dasar ialah keadaan alamiah dari buku yang bersifat nubuatan itu.

Apabila sebuah buku ditulis oleh seorang nabi Allah yang sudah diakui, yang sudah mengklaim bahwa ia telah menerima otoritas dari Allah untuk menyampaikan berita itu, maka buku itu tidak lagi perlu dipertanyakan.

Pertanyaan apakah tidak otentiknya sebuah buku itu dapat melemahkan kedudukan sebuah buku nubuatan adalah benar-benar diragukan. Tak sebuah bukupun yang diberikan oleh Allah dapat keliru. Apabila sebuah buku yang dikatakan mempunyai kuasa nubuatan itu tampaknya mengandung kepalsuan, maka kebenaran nubuatan-nubuatan itu harus diperiksa kembali. Allah tidak mungkin berdusta, dengan jalan ini ke empat prinsip yang lain itu merupakan penguji ciri-ciri nubuatan yang ada dalam sebuah buku yang dianggap murni.

Bab 2
Buku-buku yang Tidak Termasuk dalam Kanon Alkitab

A. APOKRIPA DAN PSEUDEPIGRAFA

Istilah Apokripa dipakai untuk sebutan sebuah koleksi tulisan-tulisan Yahudi kuno yang ditulis antara tahun 250 sebelum Kristus dan Abad-Abad Permulaan dari tahun Masehi. Buku-buku Apokripa ini telah dipandang sebagai tulisan wahyu Allah dalam theologi dari Gereja Katolik Romawi, tetapi dalam pandangan kelompok Protestan dan Yahudi menurut sejarah mereka, buku-buku tersebut tidak memberikan inspirasi yang nyata pada mereka.

  1. Mengapa Kelompok Protestan Menolak Buku-Buku Tersebut?

Selama kalangan Protestan mempelajari tentang kebenaran buku-buku Apokripa, di mana mereka menuliskan tentang kehidupan dan cara berpikir orang Judaisme yang ada sebelum Kristus, buku-buku itu ditolak sebagai tulisan yang merupakan wahyu Allah karena alasan-alasan sebagai berikut:

a. Tidak Digunakan Oleh Yesus Atau Gereja Abad Pertama.

Buku-buku yang bersifat Apokripa bukanlah termasuk bagian dari Perjanjian Lama yang dipakai oleh Yesus dan Gereja abad pertama. Pembagian kelipatan tiga dari Perjanjian Lama: Hukum, Nabi-Nabi dan Tulisan-Tulisan yang masih digunakan dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama versi Yahudi, tak termasuk dan tak pernah termasuk buku-buku yang tergolong dalam buku Apokripa.

Yesus dan murid-muridNya sebenarnya tahu tentang buku Apokripa ini, tetapi mereka tidak pernah mengutipnya sebagai nats Alkitab yang berotoritas.

b. Tak Pernah Dipakai Sebagai Nast Alkitab. Penulis-penulis Yahudi kuno yang menggunakan Alkitab bahasa Ibrani, yang dikenal bernama Philo dan Josephus telah mengetahui Apokripa, tetapi tak pernah menggunakannya sebagai ayat Alkitab. Buku-buku Apokripa Esdras II mempunyai duapuluh empat buku-buku yang ada hubungannya dengan Alkitab bahasa Ibrani yang kita kenal sekarang, dan tujuh puluh tulisan lainnya yang isinya agak misterius (II Esdras 14:44-48).

Penting untuk diketahui bahwa buku Apokripa ini mendukung kemurnian Perjanjian Lama yang dipakai dalam kaabah-kaabah Yahudi dan dalam gereja-gereja Protestan.

c. Bapa-Bapa Gereja Melihat Adanya Satu Perbedaan. Bapa-bapa Gereja yang sudah mengenal kemurnian Ibrani dapat dengan jelas membedakan antara tulisan-tulisan yang murni Alkitabiah dengan tulisan-tulisan yang bersifat Apokrip. Tulisan-tulisan dari Melito dari Sardis, Cyril dari Yerusalem dan St. Yerome menunjukkan adanya perbedaan antara tulisan yang berasal dari wahyu dan yang Apokrip.

d. Tulisan-Tulisan Apokrip Dinyatakan Tidak Mempunyai Kuasa Hingga Abad Ke16. Buku-buku Apokrip tak pernah dinyatakan sebagai tulisan yang mempunyai kuasa otoritas sebelumnya, dan baru diakui oleh Badan Musyawarah Umat Katolik (tahun 1546 Tarikh Masehi). Pada saat itu buku-buku Apokrip yang dinyatakan murni adalah : Tobit, Yudit, Kebesaran Salomo, Pengkhotbah, Barukh (termasuk surat dari Yeremia), I dan II Makabe, tambahan pada Kitab Esther dan tambahan pada Kitab Daniel (yaitu: Susana, nyanyian dari tiga orang pemuda dan Bel dan Naga).

Banyak orang-orang pandai di Katolik Romawi membedakan antara buku protokanonikal (murni Alkitab) dan deuterokanonical (Apokripa).

e. Mengandung Banyak Hal Yang Tidak Tepat. Kebanyakan para ahli agama merasa bahwa buku-buku Apokrip mewakili buku-buku yang tingkatannya lebih rendah dibanding dengan tulisan-tulisan yang murni Alkitabiah. Buku-buku Apokrip tersebut jelas mengandung banyak ketidak tepatan dan ketidak sesuaian yang bersifat sejarah dan geografis, dan tidak bernafaskan roh nubuatan.

  1. Tulisan-Tulisan Apokrip Jarang Digunakan Oleh Kalangan Protestan.

Pengakuan Westminster (Westminster Confession 1643) yang ditulis oleh kalangan pemimpin-pemimpin Protestan menyatakan bahwa “buku-buku yang umumnya disebut Apokripa yang tidak terjadi oleh inspirasi yang ilahi, tidak termasuk buku yang murni Alkitabiah, dan karena itu tak mempunyai kuasa otoritas dari Gereja Allah ataupun yang dapat diterima ataupun dipakai sebagai buku yang absah murni dari Allah; kecuali hanya sebagai buku-buku biasa yang ditulis oleh seorang manusia”.

Gereja-gereja Pembaharuan tidak menganjurkan pemakaian dari Apokripa ini, dan sebagai konsekwensinya buku tersebut sangat jarang digunakan dalam kalangan Protestan.

Gereja Anglikan (dari Inggris) dalam ke tiga puluh sembilan artikelnya mengambil posisi meditasi dan berpegang pada “Gereja memang membaca (Buku-buku Apokripa itu) sebagai teladan dan pegangan untuk hidup; namun hidup mereka tak menunjukkan bahwa mereka memegang satu doktrinpun”.

  1. Pseudepigrafa

Sebagai tambahan buku-buku yang disebut Apokripa, ada bermacam-macam karya sastra kuno yang lain, baik dari Yahudi maupun dari kalangan Kristen yang sering disebut dengan nama Pseudepigrafa.

Apokrip, Pseudokrip dan karya tulis sektarian dari Gua-gua Qumran, dan beraneka ragam tulisan kuno lainnya telah banyak membantu untuk mengerti Perjanjian Baru dan Gereja-gereja Pertama. Walaupun tidak sama bobotnya dengan Alkitab yang diwahyukan, tulisan-tulisan itu memerlukan pemeriksaan.

B. BUKU-BUKU YANG BIASANYA DISEBUT APOKRIPA

  1. I Esdras (Vulgate, III Esdras)

Buku pertama dari Esdras merupakan suatu seri dari episode-episode dari sejarah Perjanjian Lama yang dimulai dari Paskah yang dilaksanakan di Yerusalem oleh Yosiah (kurang lebih 621 sebelum masehi) dan diakhiri dengan pembacaan Hukum secara umum oleh Ezra (kurang lebih 444 sebelum Masehi).

Kisahnya menceritakan tentang Tiga Orang Pengawal. Tiga orang muda yang bertindak sebagai para pengawal pribadi Raja Darius yang berdebat (hingga tidak tidur) mengenai kekuatan yang terbesar yang ada di dunia ini. Seorang berkata anggur karena pengaruhnya yang aneh pada manusia; yang lain menyebutkan kekuatan itu adalah raja dengan kekuasaannya yang tak terbatas atas bawahan-bawahannya; dan yang ketiga (Zerubabel) yang dengan tegas mengatakan bahwa wanitalah, yang melahirkan seorang laki-laki merupakan terkuat, namun kebenaran adalah suatu kemenangan di atas semua perkara.

Adapun raja, yang diminta untuk menentukan siapa pemenangnya; memilih jawaban Zerubabel dan menawarkan hadiah apapun yang dipilihnya. Zerubabel meminta izin untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Kaabah.

Bagian ini berakhir dengan kisah berangkatnya orang Yahudi dalam perjalanan mereka dari Babilonia ke Yerusalem. Kebanyakan para cendekiawan menganggap bahwa I Esdras dikarang di Mesir beberapa saat setelah 150 sebelum Masehi.

  1. II Esdras (Vulgate, IV Esdras)

Inti dari II Esdras (pasal 3-14) bermaksud untuk menggambarkan tujuh wahyu apocalyptic (Wahyu Nubuatan) yang didapat Ezra di Babilonia. Mereka prihatin dengan masalah dari penderitaan Israel dan berusaha “mengenal jalan Allah pada manusia”.

Pengarangnya jelas seorang Yahudi yang menantikan kedatangan Mesias Israel dan masa kelimpahan yang akan menyertainya. Kata pendahuluannya (pasal 1 dan 2) dan kesimpulannya (pasal 15,16) terisi tambahan-tambahan yang ditulis dari sudut pandang keKristenan.

Intinya kemungkinan tertulis dalam bahasa Aram hingga akhir dari abad pertama setelah Masehi. Pada kira-kira pertengahan abad kedua, kata pendahuluan dari buku itu ditambahkan (dalam bahasa Yunani) dan satu abad kemudian pasal-pasal kesimpulan ditulis. Versi-versi Oriental (daerah Timur) dan banyak naskah-naskah terbaik yang berbahasa Latin hanya mengandung inti buku itu saja.

  1. Tobit

Tobit adalah sebuah buku dari fiksi yang bersifat keagamaan, kemungkinan ditulis dalam bahasa Aram selama abad kedua sebelum Kristus. Buku ini mengisahkan tentang seorang Yahudi yang saleh dari suku Naftali di Galilea yang bersama istrinya Anna dan putra mereka yang bernama Tobias, dibawa ke Niniwe oleh Shalmanaser (kurang lebih 721 sebelum Masehi; 2 Raj 18:9-12).

Dalam tempat pengasingan itu (pembuangan) mereka sangat menghormati dan mentaati Hukum Yahudi.

Ketika Tobit kehilangan penglihatannya, ia mengirimkan putranya ke Rages di Media untuk menagih hutangnya. Seorang malaikat memimpin dia ke Ekbatana dimana dia kemudian jatuh cinta pada seorang janda cantik yang ke tujuh suaminya secara berturut-turut terbunuh oleh roh jahat pada hari perkawinan mereka.

Tobias menikahi janda yang masih perawan ini dan lolos dari kematian dengan jalan membakar organ bagian dalam seekor ikan, asapnya dianggap dapat menerbangkan roh jahat tadi. Sebagai berkat tambahan, empedu yang ada pada ikan itu dipakai untuk menyembuhkan kebutaan Tobit yang sudah tua itu.

  1. Yudit

Cerita tentang Yudit kemungkinan ditulis dalam bahasa Ibrani oleh seorang Yahudi Palestina menjelang revolusi Makaben. Cerita ini mengatakan bagaimana Yudit, seorang janda Yahudi membebaskan umatnya dari komandan Siria Holofernes yang sedang dalam perjalanan menuju Bethulia untuk mengepung kota itu.

Merelakan dirinya masuk dalam suatu bahaya yang besar, Yudit memasuki tenda orang-orang Holofernes dimana ia berhasil membujuk orang-orang Siria dengan daya tariknya. Yudit membuatnya mabuk, kemudian ia mengambil pedang Holofernes, memotong kepala Holofernes dan membawanya kembali ke Bethulia sebagai bukti bahwa Allah telah memberikan umatNya kemenangan atas bangsa Siria. Yudit mungkin dapat disamakan dengan Yoel di Alkitab yang membunuh jendral orang Kanaan, Sisera (Hak 4:17-22).

  1. Tambahan Pada Kitab Ester.

Menjelang abad ke II atau abad ke I sebelum Kristus lahir, seorang Yahudi Mesir menterjemahkan buku dan kitab Ester yang telah dianggap murni dalam bahasa Yunani; dan pada saat yang sama ia memasukkan sejumlah 107 ayat ke dalam enam tempat yang dirasanya perlu diberi tambahan kutipan-kutipan rohani.

Sisipan-sisipan yang bernilai rohani itu menyebutkan Nama Allah dan doa-doa yang tidak ada dalam kitab Ester yang diterima (telah dianggap murni) untuk gereja.

Sisipan-sisipan yang bersifat apokrip ini menambahkan 10 ayat pada kitab Ester dan 6 pasal tambahan yaitu pasal 11-16.

Walaupun demikian, pada Perjanjian Lama versi Yunani, ayat-ayat sisipan tadi tersebar di seluruh bacaan tersebut hingga sepertinya membentuk suatu cerita yang berkesinambungan.

  1. Hikmat Salomon.

Seorang Yahudi Alexandria yang hidup antara tahun 150-50 sebelum Masehi, mengarang sebuah buku tentang pelajaran moral yang dinamainya Hikmat Salomon dengan maksud agar buku itu lebih banyak dibaca orang. Ia berusaha melindungi orang-orang Yahudi di Mesir dari kejatuhan dalam skeptisisme, materialisme dan penyembahan berhala. Dia ingin mengajarkan pembaca-pembacanya yang atheis, kebenaran tentang Judaisme dan meyakinkan mereka tentang kesalahan-kesalahan yang ada pada ajaran kekafiran.

Buku ini dimulai dengan teguran bagi pemimpin-pemimpin dunia agar mereka mencari hikmat dan mengikuti kebenaran. Paham teologinya di dasarkan pada Perjanjian Lama, dengan modifikasi yang diambil dari gagasan-gagasan filosifis Yunani yang sedang berlaku di Alexandria pada waktu itu.

Tidak seperti Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menghormati tubuh, Hikmat Salomon ini menganggap tubuh sebagai sesuatu yang “membebani jiwa” tidak lebih baik daripada “kemah duniawi” yang “membebani pikiran yang penuh perhatian” (9:15).

Keadaan jiwa sebelum dilahirkan (8:19,20) dan kekekalan dari jiwa dipertahankan (3:1-5), walaupun dalam doktrin agama Kristen Ibrani tak diajarkan tentang kebangkitan tubuh jasmani.

  1. Pengkhotbah

(Atau hikmat Yesus anak Sirakh).

Pengkhotbah, buku yang berisikan pelajaran moral yang meninggikan kebaikan-kebaikan hikmat ini ditulis dalam bahasa Ibrani antara 200 - 175 Sebelum Masehi oleh seorang pandai yang rohani dari Yerusalem, yaitu Yesus anak Sirakh.

Cucu dari pengarang ini, seorang Yahudi Alexandria menterjemahkan karya ini ke bahasa Yunani dan memberi tambahan pada pendahuluannya (kurang lebih tahun 132 sebelum Masehi). Kitab ini adalah kitab yang paling panjang dari semua kitab Apokripa dan hanya satu-satunya buku yang diketahui pengarangnya. Seperti kitab Amsal yang telah diakui kemurniannya, Pengkhotbah ini terisi dengan bermacam-macam pokok bahasan yang praktis dan luas, semuanya dari pantang makanan sampai hubungan domestik !

Bagian yang terpanjang yang dalam buku ini (bab 44 - 50) adalah pujian dari orang-orang yang terkenal yang dengan singkat menggambarkan ciri-ciri dari orang-orang Ibrani yang amat dihormati (dihargai) seperti Henokh, Nuh dan Abraham, kemudian ke Zerubabel dan Nehemia, akhirnya Imam Besar Simon seorang sahabat pada masa hidup penulis.

  1. Barukh

Kitab Barukh yang ditulis secara rahasia oleh kawan dan sekretaris Yeremia (Yer 32:12 ; 36:4; 51:59) adalah karya yang bagian-bagiannya tidak lengkap sampai abad pertama sebelum Masehi atau lebih. Walaupun bagian terakhir kitab ini ditulis dalam bahasa Yunani, beberapa bagian dari kitab ini ditemukan bahwa aslinya adalah dalam bahasa Ibrani.

Kitab ini dimulai dengan sebuah doa penyesalan, yang menunjukkan suatu keadaan bahwa tragedi yang terjadi pada Yerusalem hanyalah akibat dosa-dosanya (3:8).

Bagian kedua yang puitis dari buku ini menjelaskan bahwa ketidak beruntungan Israel disebabkan karena ia mengabaikan hikmat (3:9 s/d 4:4). Hikmat ini, yang pujiannya dinyanyikan oleh penulis yang mempunyai pikiran filosofis, dapat disamakan dengan Hukum Allah (4:1-3).

Bagian ketiga dari buku ini yang juga bersifat puitis, adalah suatu pesan yang menghibur dan memberi harapan bagi Israel yang sedang tertekan. Musuh akan dihancurkan dan umat Israel akan kembali dalam kemenangan! Barukh adalah salah satu dari buku Apokripa yang bernafaskan semangat dari nabi-nabi Perjanjian Lama, walaupun padanya masih kurang dalam keasliannya.

  1. Surat Yeremia

Kurang lebih tahun 300 Sebelum Masehi, seorang pengarang tidak dikenal menuliskan khotbah yang penuh semangat yang didasarkan pada Yeremia 11:10. Di dalamnya pengarang menunjukkan kelemahan ilahilah dari kayu, perak dan emas.

Khotbah ini dikenal sebagai surat Yeremia, yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani (atau bahasa Aram) walaupun khotbah yang masih ada hanya dalam bahasa Yunani dan terjemahan-terjemahan ke bahasa lainnya juga dari bahasa Yunani.

Karena banyaknya tulisan-tulisan dalam bahasa Yunani dan Siria, sebanyak versi-versi Latin yang menghubungkan surat Yeremia dan kitab Barukh; dari kitab Apokripa, tampaknya pasal yang ke enam dari kitab Barukh itu yang sebagian besar diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Walaupun demikian, surat Yeremia tidak ada hubungannya dengan kitab Barukh dan beberapa pengamat kuno telah menempatkan surat Yeremia tersebut di belakang kitab Ratapan yang Alkitabiah.

  1. Doa Azariah Dan Nyanyian Dari Tiga Orang Pemuda

(Ini adalah tambahan dari kitab Daniel, disisipkan antara Daniel 3:23 dan 3:24).

Beberapa saat menjelang abad ke II dan I sebelum Masehi, tiga “tambahan” bagi kitab Daniel yang murni, asli yang merupakan kitab Apokripa yang terpisah, ditulis oleh pengarang-pengarang yang tidak dikenal.

Bagian pertama dari doa Azariah dan nyanyian dari tiga orang muda ini, kemungkinan ditulis dalam bahasa Ibrani oleh seorang Yahudi yang saleh pada masa kesengsaraan umatnya di tangan Antiokus Epipanes atau pada masa pemberontakan Makabean yang mengikutinya.

Menjelang ujian dari dapur api yang menyala-nyala, Azariah dilukiskan sedang memuji Allah, mengakui dosa-dosa umatnya dan berdoa untuk pembebasan bangsanya.

Kemudian malaikat Tuhan datang ke dalam dapur api dan menghentikan nyala api dan dalam dapur tersebut hingga tidak mencelakakan ketiga anak muda itu. Kemudian dari dapur api tadi mereka menyanyikan puji-pujian pada Allah dalam nyanyian yang isinya mengingatkan kita pada Mazmur 148 dan bentuknya seperti Mazmur 136.

  1. Susanna

Tidak jelas apakah kitab Susanna yang asli ditulis dalam bahasa Ibrani atau Yunani. Pengarangnya tidak dikenal dan hidup antara abad I dan II sebelum Masehi, tetapi kita tak begitu mementingkan detail-detail lain tentang kehidupannya. Walaupun demikian buku ini dikenal sebagai satu dari cerita-cerita pendek yang terkenal/besar di dunia kesusasteraan.

Kitab ini menceritakan bagaimana dua orang tua-tua/pemimpin yang tidak bermoral mengancam untuk bersaksi bahwa mereka melihat Susanna, istri dari seorang Yahudi Babilonia yang berpengaruh, berada dalam pelukan seseorang, jika dia tidak menyerah pada mereka. Ketika dia menolak desakan mereka ini, mereka menuduhnya berzinah dan oleh kesaksian dua orang itu, ia kemudian dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Tetapi kemudian seorang pemuda yang bernama Daniel memasuki pemeriksaan pengadilan dan memberi pertanyaan-pertanyaan kepada kedua saksi itu secara terpisah. Pada masing-masing dia bertanya untuk menunjukkan pohon dimana saksi-saksi itu telah melihat Susanna dan kekasihnya yang seperti mereka tuduhkan itu.

Oleh jawaban-jawaban mereka sendiri yang tidak konsisten itu pemimpin-pemimpin/tua-tua yang bersalah itu dihukum mati dan Susana pun diselamatkan. Dalam Septuagin, buku Susana di tempatkan sebelum kitab Daniel; dalam Vulgate, kitab Susana berada setelah kitab Daniel.

  1. Bel Dan Naga

Cerita tentang Bel dan Naga kemungkinan ditulis dalam bahasa Ibrani kurang lebih pada pertengahan abad I Sebelum Masehi dan ditambahkan pada kitab Daniel oleh penterjemahnya ke bahasa Yunani. Pada Septuaginta cerita ini secara langsung mengikuti kitab Daniel, sedangkan pada Vulgate, cerita ini berada setelah cerita Susanna.

Cerita tentang Bel adalah satu dari cerita-cerita detektif yang tertua di seluruh dunia. Ceritanya adalah tentang bagaimana Sirus, raja Persia bertanya pada Daniel mengapa Daniel tidak menyembah Bel, dewa orang Babel.

Sirus memberitahu Daniel berapa banyak tepung dan minyak serta berapa banyak domba yang dihabiskan Bel, dewa Babel itu setiap harinya. Segera setelah itu Daniel membujuk Sirus untuk menyimpan persembahan-persembahan yang biasa dipersembahkan di dalam kuil, kemudian menutup dan mengunci pintu-pintu kuil tersebut.

Sementara itu Daniel menyebarkan abu di sekeliling lantai kuil itu. Keesokan harinya makanan itu hilang dan lantainya penuh dengan jejak-jejak kaki para imam, isteri dan anak-anak mereka yang masuk ke dalam kuil melalui pintu rahasia yang ada di bawah meja, yang pada malam hari mereka datang masuk ke kuil dan memakan habis persembahan-persembahan tersebut.

Karena diyakinkan atas kelicikan imam-imam Bel ini, maka raja memerintahkan agar mereka dibunuh dan kuil mereka dihancurkan.

Naga sesungguhnya adalah seekor ular yang disembah raja sampai Daniel membunuh ular itu dengan memberi makan aspal, gemuk/lemak dan rambut.

Orang-orang Babel menjadi sangat marah karena allah/dewa mereka hancur dan menuntut supaya Daniel dihukum mati. Dengan terpaksa raja menyetujuinya dan Daniel dimasukkan dalam gua singa-singa (lihat Dan 6:1-28).

Tetapi singa-singa itu tidak menganggu Daniel karena secara ajaib diberi makan oleh nabi Habakuk yang dibawa oleh seorang malaikat dari Judea ke gua singa-singa itu di Babel.

Pada hari yang ketujuh raja membawa Daniel keluar dari gua singa dan memasukkan/melemparkan musuh-musuhnya ke dalam gua itu dan mereka langsung diterkam oleh singa-singa itu. Cerita dari Bel dan Naga ini dimaksudkan untuk menganggap penyembahan berhala itu sesuatu yang menggelikan dan untuk menunjukkan bahwa imam-imam kafir itu tidak benar.

  1. Doa Manasye.

Kitab ini mungkin ditulis sekitar dua abad terakhir Sebelum Masehi oleh seorang Yahudi Palestina. Para ahli tidak dapat mengetahui secara pasti apakah kitab ini ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram atau Yunani. Doa ini mungkin ditujukan pada Manasye, raja Yehuda yang menurut 2 Tawarikh 33, diangkat ke Babel dan di sana ia bertobat dari penyembahan berhala yang sudah mendarah daging pada tahun-tahun pemerintahannya.

Karya ini dibuat berdasarkan doa dari Manasye (2 Taw 33:19) dan seorang Yahudi yang saleh tampaknya berusaha untuk menulis sebuah doa yang mestinya telah diucapkan Manasye.

Doa tersebut adalah doa Yahudi kuno yang mempunyai bentuk liturgi yang khas. Doa itu dimulai dengan pujian pada Allah yang kemuliaanNya nampak pada Penciptaan (1-4) dan KemurahanNya pada orang-orang berdosa (5-8). Kemudian disusul dengan pengakuan pribadi (9-10) dan permohonan ampun (11-13). Doa itu berakhir dengan permohonan kemurahan (14) dan akhirnya pujian pendek pada Allah (15).

  1. I Makabe

I Makabe adalah rekaman sejarah dalam kurun waktu empat puluh tahun yang dimulai dari Antiokus Epipanes yang naik tahta di Siria (175 Sebelum Masehi) dan berakhir dengan kematian Simon Makabe (135 Sebelum Masehi). Kitab ini mungkin ditulis oleh seorang Yahudi Palestina dalam bahasa Ibrani sekitar tahun 100 Sebelum Masehi.

Kitab ini memberi kita keterangan yang terbaik akan perlawanan orang-orang Yahudi terhadap Antiokus dan perang Makabe yang akhirnya membawa kemerdekaan bagi negara Yahudi. Mattatias adalah imam yang menentang Antiokus dan yang mengorbankan revolusi.

Ini ada hubungannya dengan penindasan anak-anak Mattatias:

Yudas (3:1 sampai 9:22) ; Yonathan (9:23 hingga 12:53) dan Simon (13: 1 sampai 16:24)

Pesta tahunan orang Yahudi dari Hanukkah, merayakan musim seperti Natal yang memperingati tentang pentahbisan kembali kaabah karena keberanian orang-orang Makabe. pesta itu disebutkan dalam Perjanjian Baru sebagai “Hari Raya Pentahbisan Bait Allah” (Yoh 10:22).

  1. II Makabe

II Makabe ini sejajar dengan tujuh pasal pertama dari I Makabe, dalam kurun waktu dari 175 - 160 Sebelum Masehi. Kitab ini dinyatakan sebagai ringkasan dari sejarah lima jilid yang ditulis oleh Jason dari Kirene (2:19-23), yang identitasnya masih diragukan.

Pengarang dari II Makabe jelas seorang Yahudi Alexandria yang menulisnya dalam bahasa Yunani. Ia mungkin telah menulisnya seawal-awalnya pada 120 Sebelum Masehi atau paling akhir pada abad I Tarikh Masehi.

II Makabe mempunyai nilai sejarah lebih sedikit dan nilai sastra yang lebih banyak dibanding dengan I Makabe. Kitab ini ditulis dari sudut pandang ke Parisian dan penekanannya lebih pada keajaiban dan keindahan, tidak seperti I Makabe yang lebih berbentuk prosa dan bersifat obyektif.

bukankah alkitab itu inspirasi illahi?

:slight_smile:
GBU

Reformasi Protestan adalah sebuah gerakan yang timbul di abad ke-16 sebagai suatu rangkaian upaya untuk melakukan pembaruan terhadap Gereja Katolik Roma di Eropa Barat. Reformasi utama dimulai oleh Martin Luther dan 95 dalilnya. Reformasi ini berakhir dengan pembagian dan pendirian institusi-institusi baru, di antaranya Gereja Lutheran, Gereja-gereja Reformasi, dan Anabaptis. Gerakan ini juga menimbulkan Reformasi Katolik di dalam Gereja Katolik Roma. Rancangan teologis dan latar belakangnya disusun pada Konsili Trente (1548–1563), ketika Roma memukul balik gagasan-gagasan fundamental yang dibela oleh para Reformator, seperti Luther.

Akar dan pendahulu abad ke-14 dan abad ke-15

* Gerakan Anti-hirarki: Katharisme, Waldensianisme, dan lainnya
* Kepausan Avignon ("Pembuangan Gereja di Babel"), Avignon, Skisma Besar
* Jan Hus, John Wycliffe, William Tyndale
* Renaisans Utara

Kemelut di Gereja Barat dan Kekaisaran Romawi Suci memuncak dengan Kepausan Avignon (1308 - 1378), dan skisma kepausan (1378-1416), membangkitkan peperangan antara para pangeran, pemberontakan di antara petani, dan keprihatinan yang meluas terhadap rusaknya sistem kebiaraan. Suatu nasionalisme baru juga menantang dunia abad pertengahan yang relatif internasionalis.

Salah satu perspektif yang paling menghancurkan dan radikal pertama-tama muncul dari John Wyclif di Universitas Oxford, kemudian dari Jan Hus di Universitas Praha. Gereja Katolik Roma secara resmi menyimpulkan perdebatan ini di Konsili Konstanz (1414-1418). Konklaf mengutuk Jan Hus yang dihukum mati, padahal ia datang dengan jaminan keamanan. Sementara Wyclif secara anumerta dihukum bakar sebagai seorang penyesat.

Konstans mengukuhkan dan memperkuat konsepsi abad pertengahan yang tradisional tentang gereja dan kekaisaran. Konsili ini tidak membahas ketegangan nasional, ataupun ketegangan teologis yang muncul pada abad sebelumnya. Konsili tidak dapat mencegah skisma dan Perang Hus di Bohemia.

Gejolak historis biasanya melahirkan banyak pemikiran baru tentang bagaimana masyarakat seharusnya ditata. Hal inilah yang mengakibatkan tercetusnya Reformasi Protestan.

Setelah runtuhnya lembaga-lembaga biara dan skolastisisme di Eropa pada akhir abad pertengahan, yang diperparah oleh Pembuangan ke Babel dari Kepausan Avignon, Skisma Besar, dan kegagalan pembaruan oleh Gerakan Konsiliar, pada abad ke-16 mulai matang perdebatan budaya yang besar mengenai pembaruan keagamaan dan kemudian juga nilai-nilai keagamaan yang dasariah. Para ahli sejarah pada umumnya mengasumsikan bahwa kegagalan untuk mereformasi (terlalu banyak kepentingan pribadi, kurangnya koordinasi di kalangan koalisi pembarua), akhirnya menyebabkan gejolak yang lebih besar atau bahkan revolusi, karena sistemnya akhirnya harus disesuaikan atau runtuh, dan kegagalan Gerakan Konsiliar melahirkan Reformasi Protestan di Eropa bagian barat. Gerakan-gerakan reformis yang frustrasi ini merentang dari nominalisme, ibadah modern, hingga humanisme yang terjadi berbarengan dengan kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan demografi yang ikut menyebabkan ketidakpuasan yang kian meningkat terhadap kekayaan dan kekuasaan kaum agamawan elit, membuat masyarakat semakin peka terhadap kehancuran finansial dan moral dari gereja Renaisans yang sekular.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh wabah pes mendorong penataan ulang secara radikal ekonomi dan akhirnya juga masyarakat Eropa. Namun demikian, di kalangan pusat-pusat kota yang bermunculan, bencana yang terjadi pada abad ke-14 dan awal abad ke-15, dan kekurangan tenaga kerja yang ditimbulkannya, merupakan dorongan kuat bagi diversifikasi ekonomi dan inovasi teknologi.

Kepausan Avignon dalam sejarah Gereja Katolik Roma adalah periode dari 1305 hingga 1378 ketika Uskup Roma, yaitu Paus, tinggal di Avignon (kini bagian dari Prancis) dan bukan di Roma. Tujuh paus, semuanya orang Prancis, tinggal di Avignon pada masa ini:

* Paus Klemens V: 1305–1314
* Paus Yohanes XXII: 1316–1334
* Paus Benediktus XII: 1334–1342
* Paus Klemens VI: 1342–1352
* Paus Innosensius VI: 1352–1362
* Paus Urbanus V: 1362–1370
* Paus Gregorius XI: 1370–1378

Pada tahun 1376, Paus Gregorius XI memindahkan takhta kepausan kembali ke Roma dan meninggal di sana pada tahun 1378. Karena adanya pertikaian mengenai pemilihan penggantinya, sekelompok kardinal mendirikan apa yang disebut anti-paus di Avignon:

* Klemens VII: 1378-1394
* Benediktus XIII: 1394-1423 (yang diusir dari Avignon pada tahun 1403)

Ini adalah suatu masa sulit dari tahun 1378 hingga 1417 yang disebut oleh para cendekiawan Katolik sebagai “Skisma Barat” atau kontroversi besar mengenai para anti-paus (yang juga disebut sebagai Skisma Besar Kedua oleh sejumlah ahli sejarah sekular dan Protestan), dimana golongan-golongan di lingkungan Gereja Katolik terbagi-bagi kesetiaannya terhadap sejumlah orang yang mennyebut diri mereka berhak atas takhta paus. Konsili Konstanz pada 1417 akhirnya menyelesaikan kontroversi ini dengan mencabut sisa-sisa terakhir dari kepausan Avignon.

Negara Kepausan (yang kini terbatas hanya pada kota Vatikan) meliputi daerah di sekitar Avignon (Comtat Venaissin) dan sebuah kantong di sebelah timur. Daerah-daerah itu tetap menjadi bagian Negara Kepausan hingga saat Revolusi Perancis, dan menjadi bagian dari Perancis pada tahun 1791.

Benar atau tidak, asli atau tidak tradisi2 lisan spt yg anda tulis diatas bagi saya tidak sama sekali mempengaruhi iman percaya org Kristen. Apakah tempat kematian Petrus mempengaruhi dasar2 kepercayaan Kristen? Masok bro.

Sementara saya pikir membahas ajaran Katolik banyak membantu saya memahami ajaran2 Katolik secara baik dan benar, saya malah lebih suka kalau menghadapi org2 dari seberang juga kelompok2 menyimpang spt SSY, Oneness, TJC dll. Kalau kita membuat penelitian, org2 Kristen banyak yg murtad ke Islam juga ke kelompok2 menyimpang. SSY aja yg lahir pada tahun 1870-an dalam tempoh kurang 140 tahun telah memiliki anggota sebanyak 8 juta. Hampir 95% daripada dahulunya Katolik dan Prostestan! Baru2 ini sy dikunjungi oleh sekumpulan missionaris dari Korsel, kelompok mrk disebut Internasional Church of CHRIST, lahir sekitar tahun 1940-an, dirintis oleh seorg Pdt SDA (Advent) yg kemudian keluar dari SDA lalu mengklaim dirinya KRISTUS yg telah datang kedua kalinya, namanya Pdt Ansangmun, sang KRISTUS itu. Mrk menolak tritunggal, beribadat pada hari sabbat, menganggap perayaan natal dan hari kebangkitan sebagai hari2 perayaan kafir, umat KRISTUS sejati akan datang dari timur (menurut nubuat Yesaya kata mrk) iaitu Korsel dll. Saya tidak melanjutkan diskusi dgn mereka tapi saya memohon supaya mrk bisa memberi saya CD2 tentang aktivitas mrk dan itu mrk dgn senang hati memenuhinya. Dari penelitian saya, anggota kelompok menyimpang ini yg 50 tahun dulu berjumlah hanya 5000 jiwa sekarang hampir 700, 000 jiwa (dari mana kalau bukan Katolik & Protestan) dan kelompok ini sekarang terdapat dihampir seluruh dunia!

So, please my brother, kalau kalian pikir Katolik bukan saudara seiman kita, sila lanjutkan tapi kalau saudara pikir sebaliknya, silakan diskusi untuk saling pengertian dan menguatkan bukan saling memecah dan mencari perbedaan. Kasus perbedaan jumlah kitab2 dalam Al-Kitab aantara GK dan GP tidak seharusnya dipermasalahkan, esensinya Al-Kitab GK memiliki semua kitab2 (66 buah) Al-Kitab GP, that is what count. Marilah kita melihat bahwa ancaman terbesar Gereja2 YESUS KRISTUS ialah Islam (yg saya pikir sebuah sekte Kristen) dan kelompok2 menyimpang yg dalam bahasa theologia disebut 'cults" ini. Inget, mrk ini sangat agresif dan menganggap org2 Kristen (Katolik dan Protestan) sebagai org2 yg perlu diselamatkan karena memperkosa kebenaran2 Tuhan! Kitalah target mereka. Amat disayangkan, kita menghabiskan banyak waktu menyerang2 iman percaya saudara2 seiman kita. Dan paling celaka, kita mempermasalahkan hal2 yg remeh-temeh, hal2 yg kecil, yg tidak fundalmental seolah2 perbedaan itu menjadi mrk penghuni neraka jahanan. Maaf kawan2, dikit keras…but I have to say what I have to say.

Salam semua.

tradisi tidak semuanya model para rasul harus diikuti, namun prinsip2 dasarnya tetap dipegang teguh. petrus menikah, namun paus penerusnya memutuskan untuk selibat, apakah ada buruknya? kalau anda menyalahkan hidup selibat, maka mulai dari sekarang jangan percaya tulisan rasul paulus… :slight_smile: kalau petrus mengetahui hal selibat, maka mungkin diapun akan setuju…
rasul bukan hanya petrus, namun paulus juga rasul. agustinus, ignasius, dan bapa2 gereja lainnya. namun, terlepas dari itu semua tradisi katolik membantu, mengenali alkitab secara penuh.