sosok kemanusiaan sejati-fransiskus asisi

Santo Fransiskus dari Assisi atau Asisi (lahir di Assisi, Italia, 5 Juli 1182; meninggal di sana pada 3 Oktober 1226) mendirikan Ordo Fransiskan atau “Friars Minor”. Dia adalah santo pelindung hewan, pedagang, dan lingkungan.
Sejak muda ia sudah kecewa terhadap dunia sekitarnya. Salah satunya tampak dalam kisah perjumpaannya dengan seorang pengemis. Dalam cerita ini, ia sedang bermain dengan teman-temannya, lalu datanglah seorang pengemis dan meminta sedekah. Ketika teman-temannya tidak memedulikan permohonan pengemis itu, Fransiskus memberikan orang itu semuanya yang ada di kantongnya. Teman-temannya dengan cepat memaki dan mengoloknya atas kebodohannya, dan ketika ia sampai di rumah, ayahnya memakinya karena marah.

Konon pada suatu waktu, ketika ia menghindari olokan bekas teman-temannya, dan mereka bertanya sambil tertawa apakah ia pernah berpikir untuk menikah, dia menjawab, “Ya, seorang pengantin yang lebih cantik dari yang pernah kalian lihat.” Maksudnya adalah “putri kemiskinannya”, seperti yang biasa dia katakan kelak.

Dia menghabiskan banyak waktunya menyendiri, meminta penerangan kepada Tuhan. Pada suatu saat dia mengambil untuk merawat korban paling menjijikkan di rumah sakit kusta dekat Assisi.

Setelah ziarah ke Roma, di mana dia mengemis pada pintu gereja untuk orang miskin, dia mendapat penglihatan di mana dia mendengar suara yang memanggilnya untuk memulihkan Gereja Tuhan yang rusak. Dia berpikir ini tentunya gereja St. Damianus yang telah rusak dekat Assisi. Ia menjual kudanya bersama sejumlah kain dari toko bapaknya, lalu memberikan hasilnya kepada pastur untuk maksud ini.

Kembali ke kotanya di mana ia menghabiskan dua tahun waktunya, ia memulihkan beberapa gereja yang telah runtuh, di antaranya adalah kapel kecil St Maria para Malaikat, Assisi, sedikit di luar kota, yang kemudian menjadi tempat tinggal kesukaannya.

Pada akhir periode ini (menurut Jordanus, pada 1209), ia mendengar sebuah khotbah dari Injil Matius 10:9 yang memberikan kesan yang teramat dalam kepadanya. Dalam khotbah itu Yesus mengajarkan pengikutnya bahwa mereka harus pergi dan memberitakan bahwa kerajaan surga sudah dekat, dan bahwa mereka dilarang membawa uang, tongkat untuk perjalanan itu, ataupun memakai sepatu. Fransiskus memutuskan untuk menyerahkan dirinya seluruhnya ke kehidupan kemiskinan kerasulan.

Memakai pakaian kasar, bertelanjang kaki, dan mengikuti petunjuk Injil, tanpa tongkat atau bekal, dia mulai mengajarkan pertobatan. Seorang teman sekotanya yang terkenal, Bernardo di Quintavalle, segera bergabung dengannya. Ia menyumbangkan segala miliknya untuk pekerjaan tersebut. Begitu pula rekan-rekannya yang lain, yang dalam setahun mencapai sebelas orang. Fransiskus menyebut mereka “fratres minores”, dalam bahasa Latin, atau “saudara-saudara hina”. Kaum Fransiskan kadangkala disebut “frater”. Istilah ini berasal dari kata “saudara” dalam bahasa Latin.

Saudara-saudara ini tinggal di rumah kusta yang tidak digunakan lagi di Rivo Torto dekat Assisi. Tetapi mereka banyak menghabiskan waktu mereka berkeliling di daerah-daerah pegunungan Umbria, selalu gembira dan bernyanyi, namun juga memberikan kesan yang mendalam kepada para pendengarnya oleh ketulusan mereka.