[SPIRITUALITY] Meditasi Yesus - Doa Batin Yang Berakar Dalam Tradisi Gereja

Pengantar

Pada kesempatan ini saya ingin membagikan sebuah doa batin yang semangatnya berakar dalam tradisi Gereja, yaitu Meditasi Yesus. Saya percaya bahwa bentuk doa ini sangat umum, tidak hanya dapat dipraktekkan oleh teman-teman yang beragama Katolik, tapi juga semua pengikut Kristus lainnya. Karena tujuan topik ini untuk membagikan pengetahuan rohani, maka saya berharap tanggapan yang ada sejalan dengan semangat itu, bukan berupa perdebatan atau polemik. Meskipun demikian, bukan hak saya untuk membatasi tanggapan ataupun komentar apapun dari anggota forum yang lain.

Semoga bermanfaat.

Keheningan Yang Langka

Sekarang ini kita sulit membedakan antara pergi untuk beribadah kepada Tuhan di gereja dan pergi untuk menghadiri pesta rakyat atau pertemuan sosial. Sudah sangat umum kita melihat ada banyak sorak sorai, tepuk tangan, dan kegaduhan-kegaduhan lainnya di dalam gereja. Bahkan juga ada hiburan musik yang meriah dan tari-tarian, seperti dalam sebuah konser, yang menjadi bagian dari perayaan liturgi. Dan setelah menghadiri semua itu banyak orang yang sudah merasa telah memenuhi kewajibannya untuk berbakti pada Tuhan sebagai seorang pengikut Kristus. Tapi bagi sebagian orang yang lain, perayaan liturgi dengan semangat yang semakin profan semacam ini menyisakan kekosongan dan dahaga spiritual yang tak terpuaskan.

Apakah kita sudah melupakan cara berdoa yang diajarkan Tuhan sendiri? Tuhan mengajarkan kita untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu untuk bertemu dengan Tuhan di tempat yang tersembunyi (Mat. 6:6). Dengan kata lain Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa dalam keheningan batin, bukan dalam kegaduhan dan sorak-sorai yang meriah. Lalu dimana keheningan itu sekarang? Bahkan di gereja sekalipun saat ini kita sudah sulit menemukannya.

Ada ungkapan “Lex Orandi Lex Credendi”, cara kita berdoa mempengaruhi kualitas iman kita. Ketika kita kehilangan keheningan dalam berdoa maka kualitas iman kita juga menjadi pudar. Hidup kita kehilangan kekuatan rohaninya dan menjadi kering, Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dengan bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan.

Gereja tidak muncul begitu saja di abad ini, melainkan berasal dari suatu tradisi panjang selama berabad-abad. Jika di gereja saat ini kita kesulitan menemukan semangat doa dalam keheningan, kita dapat berpaling dan belajar pada tradisi gereja. Disanalah terdapat kekayaan doa batin yang menjadi sumber kekuatan rohani Gereja yang sesungguhnya.

to be continued…#6

Semua Sharing / membagikan pengetahuan rohani, selayaknya INDAH karena gunanya kita “berjema’at adalah agar saling nengingatkan dan menambah Hikmat Alkitabiah kita !” (Salah satu Surat Rasul Paulus)
Diskusi yg Baik tidak akan menjadi suatu perdebatan atau polemik bila didalamnya menggunakan “banyak mendengar (+menyimak) (dua telinga) dan sedikit berbicara (satu mulut)” dengan semangat membangun rohani sehingga diperlukan Kelapangan Hati untuk memperbaiki apa yg SALAH, menambah apa yg KURANG dan membagikan apa yg LEBIH !
Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.

Semoga bermanfaat.

Harus pak, Bila seseorang bisa memilih Ambilah yg Baik dan memilah “memisahkan” apa yg Buruk !

[b]Keheningan Yang Langka[/b]

Sekarang ini kita sulit membedakan antara pergi untuk beribadah kepada Tuhan di gereja dan pergi untuk menghadiri pesta rakyat atau pertemuan sosial.
Sudah sangat umum kita melihat ada banyak sorak sorai, tepuk tangan, dan kegaduhan-kegaduhan lainnya di dalam gereja. Bahkan juga ada hiburan musik yang meriah dan tari-tarian, seperti dalam sebuah konser, yang menjadi bagian dari perayaan liturgi. Dan setelah menghadiri semua itu banyak orang yang sudah merasa telah memenuhi kewajibannya untuk berbakti pada Tuhan sebagai seorang pengikut Kristus. Tapi bagi sebagian orang yang lain, perayaan liturgi dengan semangat yang semakin profan semacam ini menyisakan kekosongan dan dahaga spiritual yang tak terpuaskan.

Apakah kita sudah melupakan cara yang berdoa yang diajarkan Tuhan sendiri? Tuhan mengajarkan kita untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu untuk bertemu dengan Tuhan di tempat yang tersembunyi (Mat. 6:6). Dengan kata lain Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa dalam keheningan batin, bukan dalam kegaduhan dan sorak-sorai yang meriah. Lalu dimana keheningan itu sekarang? Bahkan di gereja sekalipun saat ini kita sudah sulit menemukannya. (???)

Ada ungkapan “Lex Orandi Lex Credendi”, cara kita berdoa mempengaruhi kualitas iman kita. Ketika kita kehilangan keheningan dalam berdoa maka kualitas iman kita juga menjadi pudar. Hidup kita kehilangan kekuatan rohaninya dan menjadi kering, Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dalam bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan.

Gereja tidak muncul begitu saja di abad ini, melainkan berasal dari suatu tradisi panjang selama berabad-abad. Jika di gereja saat ini kita kesulitan menemukan semangat doa dalam keheningan, kita dapat berpaling dan belajar pada tradisi gereja. Disanalah terdapat kekayaan doa batin yang menjadi sumber kekuatan rohani Gereja yang sesungguhnya.
to be continued…


Karena masih to be continued…, belum saya SHARING atas Pengajaran dan Pelajaran ini … HANYA saya melihat TS tidak bisa membedakan antara Berdoa dan Beribadah makanya banyak Argumen diatas yg salah tempat ! Pernahkah anda melihat ada Doa yg GADUH dan sorak-sorai, yg ADA adalah Ibadah yg merangsang Emosional makanya timbul Sukacita/Keharuan dalam ekspresi Tepuk Tangan / Haru menetes air mata !
Ditunggu kelanjutannya, pak ! :coolsmiley: :happy0062:

Tentu ada bedanya.
Tapi dari cara ibadah kita bisa melihat apakah keheningan itu masih dihargai ataukah tidak.

Sebagai contoh kita bisa melihat perbedaan antara misa latin dengan misa novus ordo karismatik. Disitu terlihat mana yang masih menghargai keheningan dan mana yang kurang.

Apakah anda tidak pernah membaca Mazmur Daud disana tertulis … Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah
Selama anda bisa LARUT dalam Situasi Emosional maka anda akan bisa menghayati Ibadah jenis Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah nah baru pada saat BERDOA dengan Kalimat2 Bebas yg tidak di ulang2 , ya timbulkan Keheningan, Chidmat dan rasa Hormat pada Yang Maha Tinggi itu, dong !
LIHAT semua Ibadah itu dalam Keheningan Batin dan dengan mata rohani maka baru kita mampu menghayati Jenis Ibadah tsb.
Seorang Pencinta Musik Seriosa/Keroncong tak akan bisa menghayati dan memaknai Indahnya Musik Hip Hop dan Break Dance kalau dia tidak mampu merubah Persepsinya dalam mendengarkan dan melihat Tingkah Polah Street Dancer tsb ! :coolsmiley: :happy0062:
Nah itu yg saya lakukan sebagai jemaat Gereja Kelompok Methodist dan Presbyterian yg SEPI Nyanyikanlah Pujian dengan sorak sorai dan gunakalah Gambus serta Kecapi dalam melakukan Ibadah di Bait Allah, saat saya menghadiri Ibadah Kelompok Baptis,Pantekosta dan Kahrismatik sehigga Rasa Ngantuk dan Jemu tidak saya alami seperti saat saya mendampingi anak istri saya ibadahan di Gereja yg mengedepankan yg mereka sebut Tradisi Gereja karena acapkali saya temui Khotbah … Kita membaca Kitab Suci, namun tidak mengerti maknanya. Kita mengetahui ajaran Yesus namun tidak memahami maksudnya dan tidak mampu menjalankannya. Kita memuji Tuhan dalam dengan bibir namun hati kita semakin jauh dari Tuhan akibat Khotbah yg MONOTON dan KAKU ! :coolsmiley: :’(

Kamu pernah ikut misa latin? Kamu pernah dengar lagu-lagu gregorian?
Bandingkan dengan lagu-lagu karismatik.
Kamu akan merasakan bedanya, mana ibadah yang menghargai keheningan dan mana yang kurang.

Jawabannya sudah Termaktub dan Termasuk didalam INI :
Seorang Pencinta Musik Seriosa/Keroncong tak akan bisa menghayati dan memaknai Indahnya Musik Hip Hop dan Break Dance kalau dia tidak mampu merubah Persepsinya dalam mendengarkan dan melihat Tingkah Polah Street Dancer tsb ! :coolsmiley: :happy0062:
Bila sudah “IN” maka tanpa Terasa saat menaikkan Pujian, Tangan pun Bertepuk Tangan dan Pinggulpun turut Goyang ber SAMBA Cha Cha dan Sukacita Sorgawipun Turun atas Jema’at saat itu !

Mosok nyanyikan Lagu Sukacita Tanpa Ekspresi Sukacita dan tanpa Musik dengan Tempo Sukacita juga sih ?

Berdoa Dalam Keheningan Dan Tradisi Gereja

Kita bisa melihat bayangan bulan dengan jelas di atas air danau atau kolam yang tenang. Lemparkanlah sebuah batu kecil ke dalamnya hingga permukaannya tidak lagi tenang, maka bayangan bulan tadi akan kacau balau. Demikian juga dalam hati yang tenang, kita dapat lebih baik merasakan kehadiran Tuhan sehingga kita juga dapat berdoa dengan lebih baik.

Itu sebabnya Yesus sendiri sering menyendiri untuk bisa memperoleh keheningan yang dibutuhkan agar dapat berdoa kepada Bapa (contohnya, Mat. 14:23, Mrk. 1:35, dan lain-lain). Bahkan satu-satunya cara berdoa yang diajarkan Yesus adalah masuk ke dalam kamar dengan menutup pintu untuk berdoa kepada Bapa di tempat yang tersembunyi (Mat.6:6). Ini tidak lain adalah berdoa dalam keheningan batin.

Rasul Petrus juga mengatakan, “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1Ptr.4:7). Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa berdoa dalam keheningan batin adalah cara berdoa yang diajarkan oleh Yesus dan diikuti juga oleh para murid-murid-Nya. Kenyataan ini menginspirasi orang-orang Kristen awal untuk melakukan praktek serupa dengan menjalani kehidupan asketik untuk mengupayakan keheningan agar dapat berdoa seperti yang diajarkan Yesus.

Pada abad ketiga upaya untuk mencari keheningan batin ini memasuki tahap yang baru yang menjadi cikal bakal kehidupan monastik. St. Antonius dari Mesir yang mendengarkan perintah Yesus dalam Injil, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”, segera menjual semua kekayaannya dan memilih hidup sebagai pertapa di padang gurun. Memang sejak awal sudah banyak orang Kristen yang memilih hidup asketik, tapi tidak secara ekstrim dengan menyendiri di padang gurun yang jauh dari komunitas. Cara hidup St. Antonius ini menarik minat banyak orang untuk mengikutinya, hingga akhirnya terbentuklah komunitas pertapa yang menjadi inspirasi hidup doa Kekristenan. St. Antonius kemudian dikenal sebagai pelopor kehidupan monastik Gereja.

Meskipun demikian St. Antonius bukanlah orang Kristen pertama yang hidup bertapa di padang gurun. St. Paulus dari Thebes sudah melakukannya beberapa puluh tahun sebelumnya. Demi menghindari penganiayaan terhadap orang-orang Kristen pada masa Kaisar Decius, St. Paulus pergi menyendiri ke padang gurun dan tidak pernah kembali selama lebih dari 90 tahun lamanya. Menjelang akhir hidupnya St. Paulus bertemu dengan St, Antpnius sehingga kita bisa mengenal kisahnya. Kisah hidup St. Antonius sendiri ditulis oleh sahabatnya, St. Athanasius, uskup suci penakluk arianisme.

Kedua orang ini, St. Antonius Bapa Kehidupan Monastik dan St. Paulus Pertapa Pertama, menjadi sumber inspirasi banyak orang Kristen untuk mengikuti cara berdoa yang diajarkan Yesus, yaitu berdoa dalam keheningan. Cara berdoa seperti ini juga yang seharusnya tetap menjadi cara berdoa kita sekarang. Tidak ada cara yang lebih baik dari itu, jika ada tentu Yesus sudah mengajarkannya.

to be continued…#9
,

Kalau Berdoa memang BENAR butuh Keheningan dan Fokus ! Berdoa bagian dari Ibadah tetapi Ibadah isinya BUKAN Doa Semata, ada Pujian, Pembahasan Firman Tuhan, Pengakuan Dosa , Kolekte, Berkat dan Saat Teduh didalam Liturginya serta pada saat tertentu ada Perjamuan Kudus didalamnya !.

Bagus, kamu sudah setuju kalau berdoa itu butuh keheningan.
Yang dibahas dalam topik ini memang doa batin.
Tapi bagaimana suatu tradisi agama menghargai keheningan dapat dilihat dari cara ibadahnya juga.
Ibadah yang meriah seperti layaknya konser musik dan pesta rakyat saya kira kurang menghargai nilai keheningan yang dibutuhkan dalam doa. Bukankah dalam ibadah juga ada doa? Jika demikian seharusnya keheningan juga perlu ada.

Keheningan itu harus dibangun dalam keseluruhan liturgi, tidak bisa dalam kemeriahan bak konser tiba-tiba orang berkesempatan mendapatkan keheningan yang dibutuhkannya untuk berdoa. Absurd.

Itu sebabnya ibadah yang meriah bak konser musik dan pesta rakyat sulit dikatakan sebagai ibadah yang benar karena tidak mampu menyediakan ruang untuk keheningan yang dibutuhkan dalam berdoa. Atau, kalaupun keheningan juga diupayakan dalam ibadah semacam itu, kemungkinan besar kualitasnya dangkal.

Continue from #6

Hesychasme Dan Doa Yesus, Tradisi Spiritual Gereja Timur

Jika kita menggali tradisi sejarah Gereja, semangat untuk bertemu Tuhan dalam keheningan ini sudah mengakar sejak awal sejarah Gereja. Kisah-kisah heroik para bapa padang gurun dalam mencari Tuhan di keheningan pada abad-abad awal Kekristenan bisa menjadi inspirasi betapa berharganya keheningan untuk membangun kehidupan doa yang penuh kuasa rohani.

St. Antonius Yang Agung Dan St. Paulus Pertapa Pertama adalah dua tokoh yang paling berpengaruh dan menjadi pelopor hidup monastik dalam sejarah Gereja. Keduanya menjadi sumber inspirasi bagaimana keheningan dan semangat penyangkalan diri untuk berdoa dan mengikuti Kristus menjadi jalan untuk menuju kesempurnaan hidup yang dipenuhi roh. Semangat ini kemudian ikut mempengaruhi gerakan spiritual hesychasme yang tumbuh subur di Gereja Timur di abad-abad berikutnya.

Hesychasme berasal dari kata hesychia yang dalam bahasa Yunani kurang lebih berarti ‘hening’. Hesychasme adalah sebuah metode spiritual yang berkembang pesat di Gereja Katolik ritus timur sejak abad 4 dan kemudian berkembang di Gereja Ortodoks / Byzantin sampai sekarang. Istilah hesychasme mulai dikenal sejak masa St. Yohanes Krysostomus dan bapa-bapa Kapadokia. Istilah ini juga muncul dalam tulisan-tulisan tentang kehidupan asketik Kristen yang berasal dari Mesir sebagaimana ditulis oleh Evagrius Pontikos (345 - 399). Selain itu hesychasme secara sistematis juga dibahas dalam buku-buku mistik Kristen timur klasik, “Tangga Pendakian Ilahi” karya St. Yohanes dari Sinai (523 -603) dan Philokalia yang merupakan kumpulan tulisan para pertapa sejak abad 4 sampai 15.

Hesychasme merujuk pada metoda doa yang dilakukan dengan mengupayakan keheningan sebagaimana terinspirasi oleh ajaran Yesus tentang cara berdoa:

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.“ (Mat.6:6)

Dalam hesychasme ayat ini diartikan sebagai perlunya upaya menutup atau membatasi indera, termasuk juga upaya untuk memfokuskan pikiran secara total pada doa sehingga roh mendapatkan keheningan dan terbebas dari segala bentuk gangguan luar saat berdoa kepada Tuhan. Oleh para pertapa padang gurun prinsip hesychasme ini kemudian diaplikasikan dalam bentuk doa sederhana berulang-ulang yang diselaraskan dengan irama pernafasan dalam mengisi hari-hari kehidupan asketik mereka. Bentuk doa seperti ini muncul secara alamiah karena para -pertapa ini hidup menyendiri dan jauh dari komunitas sehingga mereka sangat jarang menghadiri upacara-upacara liturgi yang biasa.

Formula yang digunakan dalam doa singkat ini juga berkembang dari waktu ke waktu, hingga akhirnya menjadi sebuah bentuk doa dengan rumusan standar yang kemudian dikenal sebagai “Doa Yesus”:

“Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa”

Praktek Doa Yesus yang sederhana ini selanjutnya menjadi sangat populer di Gereja Timur sampai sekarang. Biasanya didaraskan dengan menggunakan komboskini, sebuah untaian tali dengan sejumlah simpul untuk membantu dalam menghitung jumlah pengulangan doa. Fungsinya mirip dengan untaian kalung rosario yang populer di Gereja Barat. Di komunitas-komunitas religius seperti di biara pertapaan Gunung Athos, Doa Yesus ini didaraskan sampai ribuan kali setiap hari. Karena bentuknya yang sederhana dan mudah, Doa Yesus tidak hanya dipraktekkan oleh para pertapa dan kaum religius, tapi juga di oleh awam.

to be continued…#14

Elo itu terlalu TAKABUR dan meng ILAH kan Gereja yg mengedepankan TRADISI sih makanya Kelihatan kek umat suatu Ajaran BIDAT !
Tuhan hanya mendirikan SATU GEREJA, SEKALI untuk SELAMANYA, dan hanya menunjuk Petrus sebagai pemimpinnya, SEKALI untuk SETERUSNYA. Apa yang sudah ditetapkan Tuhan tidak boleh diubah manusia.
Komentar untuk Point :

  1. Elo mah Plin Plan deh. Yg dibahas adalah Keheningan saat kita Berdoa bukannya dalam Beribadah !
    Kalau SOAL saya kira , jangan elo bawa2 dan paksain ke umat lain, atuh !
    :coolsmiley: :happy0062:
    Dalam BERIBADAH yg diharapkan adalah seluruh HATI (perasaan dan emosi), Jiwa dan Akal Budi kita serahkan SEPENUHNYA (mutlak 100% TOTAL) kepada “Sikap Mengasihi kepada Tuhan Allahmu” (Hukum Kasih I)
    Kalau sikap BEKU dan KAKU kek Patung tanpa Emosi mah itu belum TOTAL 100% / SEPENUH dalam menjalankan Hukum Kasih I ! :coolsmiley: :happy0062: :mad0261:

  2. Sesaat setelah kita disadarkan oleh Penyampaian Firman Tuhan dalam Khotbah yg Bagus, emangnya Berapa susahnya sih menggiring Umat mendapatkan keheningan Hati, Jiwa dan Akal Budi yang dibutuhkannya untuk berdoa.

[u][b]Absurd.[/b][/u]
Ya , ITU sih hanya diperuntukkan bagi umat yg Santapan Rohaninya berasal dari Khotbah yg MONOTON, MENJEMUKAN dan merangsang NGANTUK . Keluar dari tempat Ibadah udeh lupa deh sama Santapan Kurang Garam dan Bumbu Penyedap itu ! :coolsmiley: :tongue: :cheesy:
  1. Yang tidak mampu menyediakan ruang untuk keheningan yang dibutuhkan dalam berdoa adalah Umat yg NGANTUK atuh pak ! :coolsmiley: :happy0062:
Atau, kalaupun keheningan juga diupayakan dalam ibadah semacam itu, kemungkinan besar [b]kualitasnya dangkal.[/b]
Gimana gak [b]DANGKAL[/b] lha Khotbah udehan SELESAI aja elo gak sadar diri , lagi asyik masyuk pikiran dan fantasinya sedang "melanglang buana" kemana mana ! Elo bisa NANGIS apa kagak saat mendengarkan Khotbah di Tempat Ibadah elo gara2 Khotbah yg MONOTON, MENJEMUKAN dan merangsang NGANTUK ? Keluarnya tetes2an air mata menunjukkan [b]Kedalaman[/b] saat Firman Tuhan itu dijabarkan , tahu !

Gereja Katolik sejak dulu ada, mulai sejak didirikan oleh Yesus sampai hari ini.
Saya kira justru Protestan itu yang baru muncul sebagai penyimpangan dari Gereja Katolik yang satu, kudus, dan apostolik. Dari sisi sejarah saja sudah cukup jelas mana Gereja yang asli dan mana yang KW alias bidaah.

Tapi maaf, saya tidak akan membahas masalah ini lebih jauh… OOT.

1. Elo mah Plin Plan deh. Yg dibahas adalah [u][b]Keheningan[/b][/u] saat kita [b]Berdoa[/b] bukannya dalam Beribadah !....
Disitu masalahnya... Bukankah dalam ibadah kita juga berdoa? Bagaimana mungkin kita bisa berdoa dengan baik jika ibadah tersebut tidak membangun suasana keheningan yang dibutuhkan dalam berdoa.

Absurd atau tidak paham ajaran Yesus?

Saya tidak menyangkal, keheningan juga diupayakan dalam ibadah-ibadah fasik semacam itu, tapi ya itu tadi… itu keheningan yang dangkal. Bukan seperti itu keheningan yang dimaksud Yesus dan dicari oleh pertapa-pertapa padang gurun yang luar biasa seperti St. Antonius Yang Agung atau St. Paulus Pertapa Pertama.

Nah elo coba nanya sama Rohaniwan kepala ditempat elo, Siapa yg merubah Syarat masuk Sorga melalui Iman pada Maha Karya Penebusan Allah menjadi melalui Surat Visa Masuk Sorga dan Api Penyucian segala ?? :coolsmiley: :’( :angel:

OOT

Continue from #9

Doa Rosario, Tradisi Spiritual Gereja Barat

Semangat doa dalam keheningan di Gereja Barat juga berkembang, tapi dalam arah yang berbeda dan menghasilkan sebuah doa luar biasa yang sekarang kita kenal sebagai Doa Rosario. Dalam beberapa dokumen resmi Gereja, menurut sejarahnya Doa Rosario diberikan secara langsung oleh Bunda Maria kepada St. Dominikus melalui sebuah penglihatan untuk digunakan dalam upayanya melawan bidaah albigensianisme pada tahun 1213. Tapi banyak sumber lain mengatakan bahwa Doa Rosario juga terbentuk secara bertahap melalui proses yang panjang jauh sebelum itu. Dan setelah St. Dominikus menggunakannya dalam melawan bidaah, bentuk Doa Rosario juga masih terus berkembang.

Doa Rosario berawal dari kebiasaan para religius untuk mendaraskan 150 mazmur setiap hari. Umat yang ingin mengikuti kebiasaan itu mengganti pembacaan Mazmur dengan Doa Bapa Kami yang lebih sederhana. Maka untaian kalung dengan 150 butir manik-manik pada masa itu dikenal dengan istilah ‘Paternoster’. Selanjutnya untuk alasan kepraktisan jumlah manik-manik berubah menjadi 50 butir yang digunakan dalam tiga putaran, ini awal dari penggunaan kalung rosario seperti yang dikenal sekarang.

Tapi dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan semakin tingginya semangat devosi terhadap Bunda Maria dalam Gereja Katolik, untaian kalung dengan 50 manik-manik ini digunakan juga untuk mendaraskan bagian pertama dari Doa Salam Maria (bagian kedua dari Doa Salam Maria, “Santa Maria Bunda Allah…” sebenarnya baru ditambahkan setelah abad 17).

St. Dominikus kemudian menggunakan untaian rosario ini untuk mendaraskan Doa Salam Maria yang diselingi dengan Doa Bapa Kami sebagaimana yang umum digunakan sekarang. Ia menggunakan Doa Rosario sederhana ini sambil mewartakan misteri iman untuk mempertobatkan hati kaum bidaah albigensianisme yang mengancam Gereja Katolik pada masa itu. Doa Rosario tidak hanya mampu mengalahkan kekerasan hati para bidaah tapi juga mampu mengalahkan mereka secara fisik. Kemenangan ajaib 800 ksatria Katolik yang dikumpulkan oleh Paus Inosentus III di bawah pimpinan Simon de Montfort ketika menghadapi 34000 prajurit Katar yang bidaah adalah berkat kuasa Doa Rosario yang dilakukan oleh St. Dominikus pada tanggal 12 September 1213 di Muret, dekat Toulouse, Perancis. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah Gereja sebagai kemenangan pertama Doa Rosario.

Kemenangan Doa Rosario yang paling dramatis dan paling dikenang sepanjang sejarah Gereja adalah kemenangan pada pertempuran laut di Lepanto pada tanggal 7 Oktober tahun 1571. Kondisi Eropa yang saat itu sedang dilanda perpecahan akibat reformasi Martin Luther membuat keadaan kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa sangat lemah dan mudah diserang musuh. Kekalifahan Islam di Turki melihat kesempatan ini sebagai kondisi yang ideal untuk menginvasi daratan Eropa. Saat itu armada laut Turki adalah yang terkuat di dunia dan sama sekali bukan tandingan armada kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa. Mereka segera menyiapkan armada yang besar untuk menyerbu dan menguasai Eropa. Paus Pius V yang mendengar ancaman ini segera dengan susah payah mengupayakan bantuan dari kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa untuk bergabung dalam Liga Suci guna menangkal serangan armada Turki.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, pada hari pertempuran terjadi, Paus Pius V berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore sejak dini hari bersama seuruh umat Katolik untuk memohon pertolongan Bunda Maria. Saat pertempuran, terjadilah sebuah keajaiban. Angin yang sebelumnya menguntungkan armada Islam Turki tiba-tiba berubah dan berbalik arah sehingga membuat kondisi armada Katolik yang jauh lebih lemah mendapat keuntungan besar pada saat yang menentukan. Akhirnya armada Katolik yang lebih lemah mampu menghancurkan armada terkuat Islam dan memenangkan pertempuran laut yang bersejarah ini.

Paus Pius V sudah mengetahui kemenangan ajaib ini sebelum armada Liga Suci kembali dari pertempuran. Ini adalah kemenangan pertempuran laut yang paling menentukan dalam sejarah. Sejak saat itu armada Islam tidak pernah lagi menjadi ancaman serius bagi Eropa. Tanggal 7 Oktober selanjutnya dirayakan dalam kalender resmi Gereja Katolik sebagai pesta kemenangan Doa Rosario sampai hari ini.

Tapi pada waktu itu penggunaan narasi misteri Injil, yang sekarang menjadi bagian penting dari Doa Rosario, sebenarnya belum digunakan. Sekitar tahun 1700 penggunaan narasi misteri Injil mulai dikenalkan oleh St. Louis de Monfort sehingga akhirnya bentuk Doa Rosario menjadi seperti apa yang dikenal dalam Gereja Katolik hingga hari ini.

Jika Doa Yesus adalah buah dari tradisi doa batin yang menjadi kekayaan Gereja Timur, maka Doa Rosario adalah buah dari tradisi doa batin yang menjadi kekuatan dan kekayaan spiritual Gereja Barat.

to be continued…#18

Kalau udah Schakmat=Mati Langkah , langkah membela diri selanjutnya cukup bilang OOT lalu kiTAKABUR :coolsmiley: :cheesy: :ashamed0004:

Dari sisi sejarah saja sudah cukup jelas mana Gereja yang asli dan mana yang KW alias bidaah.
Dari sisi sejarah juga kita mengetahui [b]Ajaran Murni para Rasul[/b] sudah [b]tercampur Anggur Kecabulan Wanita Izebel[/b] dengan JARGON[b] "Tradisi dan Kebiasaan" [/b] kek artikel elo diatas itu ! Jadi mana yg KW I dan KW II , apakah yg [b]Back to Bible[/b] atau yg kecampuran Kenajisan [b] "Tradisi dan Kebiasaan" [/b] ???

Maka tergusurlah Doa Bapa Kami dari Tuhan Yesus oleh Doa Rosario buatan manusia itu !
Jadi terulang lagi deh Umpatan Tuhan Yesus di Markus 7:
6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. 10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. 11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–, 12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. 13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”
:’( :ashamed0004: :cheesy:
TasBih yg ganti nama jadi Rosario itu adalah Ajaran Diluar Alkiktab yg dipaksakan masuk dari Tradisi dan Kebiasaan Non Kristiani ! :’( :ashamed0004:

Apa kamu tidak tahu bahwa dalam Doa Rosario terdapat juga Doa Bapa Kami?
Betapa sempitnya pengetahuanmu.
Jauh lebih baik kamu belajar yang banyak dari pada berbicara yang banyak.

Saya tanya, berapa banyak kamu berdoa Bapa Kami dalam sehari?
Selain itu apa kamu mampu mewujudkan kehendak Tuhan dalam Doa Bapa Kami, “…jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga…” sementara kamu tidak mengakui satu-satunya Gereja Kristus yang menjadi sarana untuk mewujudkan itu?

Doa Rosario buatan manusia?
Apa kamu tidak sadar bahwa semua Kitab Suci yang kamu percaya itu juga ditulis oleh manusia dan bukan turun dari surga?

Continue from #14

Dari Doa Yesus Menjadi Meditasi Yesus

Adalah suatu kehendak Tuhan bahwa suatu saat semua domba, baik yang berasal dari kandang (Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik) tapi terpisah karena skisma dan terseret ajaran bidaah, maupun yang bukan berasal dari kandang (dari agama-agama lain yang tidak mengenal Kristus) akan dikumpulkan menjadi satu kawanan dengan satu gembala (Yoh.10:16). Maka semua pengikut Kristus dipanggil untuk berpartisipasi mewujudkan itu.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Doa Yesus adalah kekayaan spiritual Gereja Timur sementara Doa Rosario merupakan kekayaan spiritual Gereja Katolik. Tapi perlu dicatat bahwa meskipun Doa Yesus sangat populer di Gereja Ortodoks, doa tersebut tidak berasal dari Gereja Ortodoks tapi berasal dari Gereja Katolik juga karena doa tersebut muncul jauh sebelum terjadinya skisma (sebelum skisma semua gereja adalah Katolik). Di dalam Meditasi Yesus semangat kedua doa batin yang luar biasa ini dipadukan secara harmonis menjadi sebuah doa batin transformatif yang sederhana. Ini menjadikan Meditasi Yesus sebagai salah satu sarana untuk berpartisipasi dalam kehendak Tuhan yang ingin mengumpulkan kembali semua domba-domba yang terpisah menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Meditasi Yesus berawal dari kegiatan sekelompok orang muda Katolik pada sekitar tahun 1995-1996 untuk menghayati berbagai tradisi doa batin dalam bimbingan Tuhan Yesus. Salah satunya adalah mencoba mempraktekkan Doa Yesus dalam kegiatan meditasi kelompok. Sebagai penganut Katolik, sarana yang digunakan untuk menghitung banyaknya pengulangan doa adalah menggunakan kalung rosario. Dari sini muncul ide untuk menambahkan doa lain pada butir ‘Bapa Kami’ sehingga bentuk doanya menjadi seperti ini:

Pada butir ‘Salam Maria’ (10x):
“Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa”

Pada butir ‘Bapa Kami’ (1x):
“Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau”

Perubahan ini tampaknya kecil dan sederhana, namun ternyata punya dampak yang luar biasa. Kelompok ini merasa diteguhkan dalam iman yang semakin kuat dan hikmat pengertian yang semakin dalam. Karena meyakini bahwa bentuk doa ini muncul dari bimbingan Tuhan Yesus sendiri maka untuk selanjutnya doa batin sederhana tersebut diberi nama “Meditasi Yesus” sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya.

Di balik kesederhanaan bentuknya, Meditasi Yesus mengandung kekayaan dan kekuatan rohani yang luar biasa. Saya akan membicarakan masalah ini nanti. Untuk saat ini saya akan fokus menjelaskan bagaimana kita bisa mempraktekkan Meditasi Yesus ini. Makna dan kekayaan spiritualnya hanya mungkin dipahami dengan baik oleh mereka yang mempraktekkannya. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana nikmatnya segelas anggur atau secangkir kopi yang sedang saya nikmati, anda harus mencobanya sendiri supaya dapat memahami apa yang saya maksud. Oleh karena itu saya berharap anda semua bisa ikut mencoba untuk mempraktekkan doa batin sederhana ini sebelum mengenal lebih jauh kekayaan dan kekuatannya yang mengagumkan.

to be continued…

Continue from #18

Meditasi Yesus Dan Berdoa Setiap Waktu

Di dalam sebuah buku spiritual klasik “The Way Of The Pilgrim” (di terjemahkan ke bahasa Indonesia dalam buku “Doa Tak Kunjung Putus - Kisah Seorang Peziarah”) dikisahkan bagaimana pengarang buku ini (anonim, tak dikenal) terobsesi oleh perintah Rasul Paulus, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh …” (Ef.6:18). Bagaimanakah seseorang bisa mempraktekkan perintah yang sulit ini dalam kehidupan sehari-hari? Seperti apa itu berdoa setiap waktu yang dimaksud oleh Rasul Paulus? Dalam pencariannya ia menemukan jawabannya dalam buku Philokalia, sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan para pertapa dan bapa-bapa Gereja Timur sejak abad ke 4 tentang hidup rohani.

Dari buku Philokalia tersebut ia mempraktekkan Doa Yesus dengan cara mendaraskannya secara terus menerus di dalam hati seirama dengan ritme pernafasan. Ia melakukannya baik dalam waktu yang khusus diluangkan untuk berdoa maupun dalam aktivitas sehari-hari. Berkat doa ini ia mendapat banyak karunia yang memperkaya kehidupan rohaninya.

Buku “The Way Of The Pilgrim” yang kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa dan tersebar di seluruh dunia membuat Doa Yesus menjadi sangat terkenal dan banyak orang-orang di luar Gereja Timur ikut mempraktekkannya.

Meditasi Yesus dapat dipraktekkan dengan cara sederhana seperti orang mendaraskan Doa Yesus. Baik pada waktu yang khusus diperuntukkan untuk itu, di sela aktivitas sehari-hari, ataupun pada saat kita melakukan aktivitas sehari-hari. Caranya sangat mudah, cukup fokuskan pikiran kita pada rumusan doa dalam Meditasi Yesus saat kita mengucapkannya secara perlahan dengan penuh kesungguhan di dalam hati:

Pada rumusan doa pertama:
Saat menarik nafas, “Tuhan Yesus Kritus Putra Allah…”
Saat mengeluarkan nafas, “…kasihanilah aku orang berdosa…”
Ulangi doa ini sebanyak sepuluh kali.

Lalu lanjutkan dengan rumusan doa kedua:
Saat menarik nafas, “Tuhan Yesus Kristus…”
Saat mengeluarkan nafas, “… aku mengasihi Engkau…”
Hening sejenak selama satu tarikan nafas, lalu ulangi lagi rumusan doa yang pertama… demikian seterusnya berulang-ulang.

Ini adalah bentuk dasar dari Meditasi Yesus dan dapat dipraktekkan oleh semua pengikut Kristus, baik yang Katolik ataupun bukan. Untuk membantu menghitung jumlah doa, kita bisa menggunakan kalung rosario. Jika tidak ada, jari-jari tangan bisa kita gunakan.

Luangkan waktu secara khusus, 20 menit (minimal) sampai dengan satu jam atau lebih setiap hari, untuk mempraktekkan Meditasi Yesus yang sederhana ini. Kita sudah diberi Tuhan waktu 24 jam sehari, meluangkan waktu hanya 20 menit (tidak sampai 2% per hari) bukan sesuatu yang berat dan merugikan aktivitas sehari-hari kita. Praktekkan ini pada pagi hari setelah bangun tidur, atau malam hari menjelang tidur. Bangun tidur 20 menit lebih awal ataupun tidur 20 menit lebih malam saya kira tidak akan mengurangi kualitas tidur kita, dan aktivitas sehari-hari juga tidak akan terganggu. Itu kalau anda berhitung soal waktu yang akan digunakan untuk berdoa. Yang terbaik tentu saja memberikan dengan gembira tanpa berhitung dan tanpa beban apapun waktu tersebut sebagai ungkapan kasih dan syukur kita kepada Tuhan. Teladanilah Yesus Kristus Tuhan kita yang setiap hari selalu meluangkan waktu untuk mengundurkan diri ke tempat sunyi dan berdoa (Luk. 5:16).

Kitapun bisa mempraktekkan Meditasi Yesus ini saat melakukan aktivitas sehari-hari. Saat kita sedang di dalam angkutan umum, saat berada di dalam mobil (tapi jangan saat kita mengendarai mobil), saat menunggu sesuatu, atau bahkan saat kita berjalan kaki, kita bisa mendaraskan doa-doa sederhana Meditasi Yesus di dalam hati tanpa menarik perhatian orang lain. Intinya kita bisa mempraktekkan Meditasi Yesus ini dalam setiap aktivitas yang tidak membutuhkan kerja aktif pikiran dan tidak menodai kekudusan doa. Dengan cara ini kita bisa mempraktekkan ajaran Rasul Paulus untuk berdoa setiap waktu dan mengisi seluruh waktu yang mungkin dalam kehidupan kita dengan doa serta membangun relasi yang akrab dengan Tuhan.

Jangan cuma membaca dan menjadikan tulisan ini sebagai tambahan kekayaan pengetahuan intelektual, tapi coba praktekkan dan jadikan Meditasi Yesus yang sederhana ini menjadi bagian dari kehidupan rohani anda sehari-hari. Pada waktunya anda akan merasakan perubahan hidup rohani yang luar biasa. Jangan buang waktu, kita tidak pernah tahu kapan Tuhan memisahkan gandum dan lalang, mulailah sekarang juga. Jadilah bagian dari gandum dan kultur kehidupan, Tuhan menghendakinya.

Saya akan sangat senang jika anda mau membagikan pengalaman anda dalam mempraktekkan Meditasi Yesus ini. Demikian juga jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau didiskusikan mengenai Meditasi Yesus ini, saya siap membantu sejauh apa yang saya ketahui.

to be continued…