Survei BPS : 27% Rakyat Indonesia tak merasa perlu Pancasila

Dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang diadakan secara acak dari berbagai institusi baru-baru ini, Ketua Fraksi PKB di MPR Lukman Edy menyatakan bahwa ada 27% rakyat Indonesia yang merasa tidak memerlukan Pancasila. Berapakah jumlah rakyat dalam bentuk angka? Ternyata, ada sekitar 50 juta rakyat Indonesia yang anti Pancasila. Suatu angka yang mengejutkan bukan?

Selain itu, di dalam penelitian seorang Profesor dari UIN menyimpulkan ada 28% rakyat yang setuju dengan radikalisasi dan lembaga kajian di Jakarta menyatakan ada 19% pemuda Indonesia menghendaki syariat Islam sebagai dasar negara. “Angka sebesar ini seharusnya lampu kuning buat Indonesia, dan sekaligus seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah,” katanya.

Upaya internalisasi ideology kebangsaan harus dilakukan dengan berbagai bentuk dan massif. “Di sektor pendidikan sudah selayaknya ada kurikulum tentang ideology kebangsaan, di kalangan aparatur negara, ideology Pancasila harus dijadikan program pengembangan kapasitas birokrasi, sedangkan di partai politik 4 pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi bagian tugas pendidikan politik…” demikian beberapa sarannya. Lukman juga menyarankan agar ada wajib militer sehingga dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dan Pancasila.

Fakta yang mengejutkan ini tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Bisa jadi radikalisme akan terus meningkat, teroris akan semakin gencar, rasa persatuan dan kesatuan semakin pudar, nilai-nilai kebangsaan tidak dianggap penting lagi sehingga menyebabkan bangsa terpecah belah. Siapkan segala sesuatunya mulai dari mahasiswa, pemerintah, warga, maupun aparatur negara dan mulailah bertindak saling bersatu. Yang paling penting, lawan radikalisme dengan penerapan Pancasila, baik di hati maupun dalam setiap tindakan kita sehingga Pancasila benar-benar menjadi nafas hidup bangsa Indonesia

Sumber : suarapembaharuan/lh3


Judul diedit untuk menyesuaikan dengan fakta yang disajikan dalam posting
Edited by oliver
Harap perhatikan Peraturan Forum !
Thanks untuk pengertiannya.

Dilarang membuat judul topik yang misleading (topik tidak sesuai dengan isi post)

mereka butuh YESUS sob…

nggak heran, sejatinya Garuda Pancasila itu sudah sekarat sejak Nawaksara ditolak dan Komunis dilarang.

tanpa kaum sosialis-komunis yg perjuangannya adalah keadilan sosial, maka pembangunan hanya menguntungkan kapitalis-birokrat seperti yg terjadi sekarang.
pada akhirnya muncul ketidakpuasan dari rakyat, mereka melihat Pancasila tidak lebih dari slogan/lambang saja. dan kemudian mendorong pesatnya perkembangan ideologi lain, terutama yg berbasis agama.

Kalau saya perhatikan, sila ke-5 dari Pancasila itu yang paling nggak konsekwen dengan kondisi bangsa ini sekarang ini. Sila ke 5 bunyinya: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan kita menganut ekonomi kapitalis. Mana ada keadilan dalam sistem kapitalis? Dlam sistem kapitalis yang kaya tambah kaya, sedangkan yang miskin akan bertambah miskin karena tiap hari kerja banting tulang cuma cukup buat makan!
Mau terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Ya ganti dengan komunis! Pasti merata! Gak ada si kaya, gak ada si miskin. Beres! :slight_smile:

Ya ganti dengan komunis! Pasti merata! Gak ada si kaya, gak ada si miskin. Beres!
konon, korut itu komunis.

Gak ada si kaya dan gak ada si miskin … merata … karena semuanya miskin.

Dalam ujian matapelajaran IPA di sebuah kelas ada sepuluh pertanyaan yang harus dijawab oleh para murid di kelas itu. Ada yang menjawab semua pertanyaan dan benar semua, ada yang menjawab semua pertanyaan dan benar lima, ada yang menjawab semua pertanyaan dan salah semua, ada yang menjawab lima pertanyaan dan benar semua, ada yang menjawab lima pertanyaan dan salah semua, dan ada yang sama sekali tidak menulis apapun di lembar jawaban.

Tetapi karena guru mereka tidak ingin dianggap pilih kasih dan dirinya sendiri menganut prinsip merata, maka semua muridnya itu diberi nilai yang sama.

Teman-teman semua pasti pernah mendengar atau membaca Dongeng Dua Korea dan Legenda Dua Jerman.

Ada satu bangsa yaitu Korea yang dibelah oleh ideologi : Korea Utara yang komunis dan Korea Selatan yang kapitalis. Korea Utara ini cuma menghasilkan banyak senjata unggulan untuk perang dan rakyatnya yang kelaparan itu cuma bisa menyembah-nyembah pemimpinnya. Sedangkan Korea Selatan yang kapitalis bisa menghasilkan banyak alat elektronik yang biasa kita pakai di Indonesia dan rakyatnya yang kreatif itu menjadi idola ABG-ABG di Indonesia.

Ada satu bangsa yaitu Jerman yang dibelah oleh ideologi : Jerman Barat yang kapitalis dan Jerman Timur yang komunis. Jerman Barat menghasilkan mobil-mobil berkualitas baik yang biasa kita pakai di Indonesia sedangkan Jerman Timur menghasilkan senjata perang yang biasa dibeli pejabat kita untuk propaganda keamanan. Rakyat Jerman Timur hidup dengan “bebas dan sejahtera” sehingga banyak di antara mereka kabur ke Jerman Barat dengan sembunyi-sembunyi demi masa depan yang lebih baik.

Merasa tidak membutuhkan Pancasila tidak sama dengan anti Pancasila. Kalau 27 % lawan 73 % kira-kira siapa yang menang ?

Mohon maaf kalau ada salah kata.
Salam. :wink:

Dalam ujian matapelajaran IPA di sebuah kelas ada sepuluh pertanyaan yang harus dijawab oleh para murid di kelas itu. Ada yang menjawab semua pertanyaan dan benar semua, ada yang menjawab semua pertanyaan dan benar lima, ada yang menjawab semua pertanyaan dan salah semua, ada yang menjawab lima pertanyaan dan benar semua, ada yang menjawab lima pertanyaan dan salah semua, dan ada yang sama sekali tidak menulis apapun di lembar jawaban. Tetapi karena guru mereka tidak ingin dianggap pilih kasih dan dirinya sendiri menganut prinsip merata, maka semua muridnya itu diberi nilai yang sama.
setau saya, dalam konsep komunis itu, semua menjawab dengan benar seluruh pertanyaan. sisanya adalah kontra-revolusioner. ;D

konon, belum ada negara yg mengaplikasikan komunisme. negara2 seperti Jertim, Korut, bahkan SovietRusia bukanlah komunisme, karena disana kelas pekerja berada dibawah kelas birokrat-elit partai-elit militer-bonapartis.

utopis untuk mempunyai negara bedasarkan komunisme-yg tanpa kelas (samsara-sama rasa sama rata), karena aplikasi di lapangan pasti ujung2nya seperti negara2 self-proclaimed communist diatas.

tapi unsur sosialis-komunis itu seharusnya tetap ada dalam suatu negara untuk menyeimbangkan dan mendukung perjuangan kelas pekerja dari kelas kapitalis birokrat dan ketidak-adilan sosial. maka Soekarno merumuskannya dalam Nasakom, itulah Pancasila.

Merasa tidak membutuhkan Pancasila tidak sama dengan anti Pancasila. Kalau 27 % lawan 73 % kira-kira siapa yang menang ?
diluar kemungkinan 27% itu hanya pucuk gunung es..memang kalau adu gontok2an tentu kaum 27% itu kalah.

tapi jika yg diketahui sebagai kaum 27% itu bersatu dalam sebuah partai menyuarakan ideologi yg lain, maka partai tersebut akan menjadi pemenang pemilu, jauh diatas Demokrat yg 2009 lalu suaranya “hanya” 20%an saja.