Tak Ingin Sangkali Yesus, 3 Pria Rela Meninggal di Penjara

Dalam empat bulan terakhir, ada tiga orang Kristen yang ditahan di penjara militer di negara Eriteria yang telah meninggal dunia. Jumlah ini sudah termasuk dengan peristiwa kematian seorang pria berusia 42 tahun Jumat (5/8) lalu, demikian laporan sebuah organisasi Kristen internasional.

Menurut sumber Open Doors, Mehari Gebreneguse Asgedom meninggal di pusat Inap Militer Mitire karena mengalami penyiksaan dan menderita penyakit diabetes. Asgedom adalah anggota jemaat Church of The Living God yang berdiri di Mendefera.

Kematiannya diikuti oleh kematian satu orang Kristen lain di penjara yang sama. Mogos Hagos Kiflom, 37, dikabarkan telah meninggal dunia karena mengalami siksaan demi siksaan selama di tempat tersebut. Open Doors tidak mengetahui kapan tanggal pasti kematian Kiflom. Pria yang merupakan anggota jemaat Rhema Church itu meninggalkan seorang anak, seorang istri dan seorang Ibu.

Untuk diketahui, umat Kristen yang dipenjara di seluruh Eritrea telah dipindahkan ke penjara Mitire di timur laut negara itu. Pada tahun 2002, rezim yang berkuasa di Eritrea melarang kegiatan keagamaan kecuali mereka yang berasal dari aliran Ortodoks, Katolik, Lutheran ataupun mereka yang beragama Islam.

Pada Oktober 2010, Open Doors mempelajari kematian Teklesenbet Gebreab Kiflom, 36 tahun, yang meninggal di pusat Inap Militer Wi’a. Dari hasil penyelidikan mereka, diketahui pria cinta Tuhan Yesus itu meninggal setelah komandan penjara menolak untuk memberinya bantuan medis. Padahal saat itu, ia sedang menderita Malaria.

Pada Juni 2008, Azib Simon, 37 tahun, juga mengalami hal yang sama. Berdasarkan kesaksian salah seorang narasumber terpercaya yang berhasil diwawancarai oleh Compass Direct News, Simon menghembuskan nafas terakhir setelah satu minggu menderita malaria.

Jika digabungkan dengan peristiwa kematian yang terjadi pada bulan ini, orang Kristen yang meninggal di penjara karena iman mereka di Eritrea, berjumlah delapan orang.

Dalam proses mengikut Tuhan Yesus selalu ada harga yang harus dibayar. Tak perlu takut dengan hal itu, justru mengucap syukurlah jika kita menderita karena nama-Nya.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)

Source : cbn.com

kisah ini mengingatkan akan kisah daniel… :slight_smile:

bro cakka saya teringat akan huss… dan bapa bapa protestant awal…
terus terang saya merinding…
ternyata keadaan sekarang begitu “terang” penganiayaan akan pengikut Kristus…
Doaku Tuhan berikan kami kelegaan dan jadilah sesuai kehendak-Mu…
sayang bro cakka banyak anak2 Tuhan tidak sadar dan asyik bingung sendiri di dalam gereja

s