Tanya : Apakah Tradisi Saudara Katolik Mendoakan Arwah Orang Mati Alkitabiah?

Sering dalam ibadah peringatan orang mati, jemaat Katholik mendoakan arwah orang mati supaya orang mati tersebut diringankan dalam api penyucian.

Berdasar apakah Alkitab bagian mana yang mendasari doa ritual tersebut…?

Doktrin ini ada didalam pengajaran iman Katholik – tidak ada didalam iman Kristen [protestan]

Jelas – bila ditinjau dari iman Kristen, pengajaran ini tidaklah alkitabiah

Namun iman katholik mendasarkan pengajarannya pada :

  1. kitab [apa yg disebut] deuterokanonika [apokripa – sebutan kristen yg artinya tersembunyi --namuntidka termasuk kitab yg dikanonkan sbg dasar pengajaran/doktrin]

kisahnya tercatat dalam kitab makabe – disana dikisahkan saat terjadi perjuangan melawan penjajah, yahudi dipimpin klan [yudas] makabe [artinya --palu]. Dalam pertempuran ini banyak pejuang2 yang gugur – dan ketika mereka mau dikuburkan – didapati mereka menyimpan jimat2 – mereka kemudian didoakan

  1. Tradisi suci Gereja [katholik]

Bagaimana sejarah KITAB MAKABE…?

kisahnya tercatat dalam kitab makabe -- disana dikisahkan saat terjadi perjuangan melawan penjajah, Yahudi dipimpin klan [yudas] makabe [artinya --palu]. Dalam pertempuran ini banyak pejuang2 yang gugur -- dan ketika mereka mau dikuburkan -- didapati mereka menyimpan jimat2 -- mereka kemudian didoakan

Ada di ayat mana…?

Makabe adalah termasuk Kitab sebelum Yesus lahir di dunia
Dan Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan untuk mendoakan orang mati, jika hal mendoakan orang mati adalah penting dan benar pastilah Jesus juga akan memberi pengajaran mendoakan orang mati.

Bahkan udah jelas kisah Lazarus dan orang kaya, disana dijelaskan dunia orang mati dan orang hidup tidak dapat saling berhubungan

2Mak 12:40 Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. 2Mak 12:41 Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. 2Mak 12:42 Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. 2Mak 12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. 2Mak 12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. 2Mak 12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.
http://www.ekaristi.org/bible/index.php

Saya sarankan anda masuk ke forum ini , silakan pelajari dan cermati baik2 sebelum anda join atau posting sesuatu disana - pastikan belum ada threa yg sama

Maaf saya memang tidak punya kitad Makabe (Apokrif)

2Mak 12:40 Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. 2Mak 12:41 Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. 2Mak 12:42 Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. 2Mak 12:43 Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. 2Mak 12:44 Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. 2Mak 12:45 Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

Bila saya baca di atas:

Tindakan di 2Mak 12:43, atas perintah dan ide siapa? TUHAN tidak memerintahkan untuk melakukan hal tersebut (mengumpulkan uang untuk korban penghapus dosa)

Itu inisiatif orang-orang saat itu termasuk Yudas, walaupun saya tidak tahu ketokohan dan peran Yudas dalan kisah ini (setahuku Kitab Makabe termasuk kanon sejaman Perjanjian Lama, bukan sejaman Perjanjian Baru)

Bandingkan Lukas 16:20-31

20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

terus terang saya tidak bisa mewakili katholik untuk menjawab pertanyaan anda :slight_smile: – bila kita bahas hanya akan bersifat membicarakan orang lain dibalik punggung mereka

jadi silakan bersabar menunggu pihak kathlik meresponi anda atau anda join kembali dg ekaristi.org

Saudara ku, saya kurang setuju kalau anda katakan, bahwa berdoa untuk orang mati adalah : Ajaran dari Katholik, yang benar adalah : Doa untuk orang mati adalah Ajaran dari Katholik yang berkiblat ke Vatikan. Sementara pada Katholik Timur yang tidak tunduk pada Vatikan, seperti Ordo Antiokhia, sampai saat ini, Tidak dibenar kan untuk berdoa bagi mereka yang sudah mati.

Yang lebih menarik adalah : Ordo Antiokhia bukan saja Tidak membenarkan berdoa bagi orang yang sudah mati, tetapi Ordo Antiokhia juga tidak membenarkan Tata Cara Kebaktian untuk mengantar orang mati, dimana Setelah Penguburan, barulah dilakukan Tata Cara Kebaktian penghiburan bagi Keluarga yang ditinggalkan.

Menurut saya, Protestan juga melakukan Tata Cara Kebaktian untuk mengantar mereka yang sudah mati, apalagi jika yang mati tersebut adalah Pendeta atau Hamba Tuhan, maka Jenazah sering dibawa ke Gereja, untuk dilakukan Tata Cara Kebaktian pelepasan Jenazah. ==> Apakah ini Alkitabiah ?

Salam Kasih dalam Damai.

Untuk Bro. Bejoanbejo,
Saya himbau Bro untuk tidak menulis judul dg CAPS LOCK semuanya.

Entahkah Anda bmaksud atau tidak,
Tp pembaca bisa menangkap kesan bahwa Anda berlaku kurang sopan,
Khususnya terhadap saudara-saudara Katolik.

Diskusi silakan diskusi,
Tapi marilah kita belajar menghormati orang lain meski ia berbeda pandangan dengan kita.


Judul saya edit dan saya pindahkan ini ke Diskusi Umum Kristen.

Saya berikan waktu 3 hari untuk ada rekan Katolik mnanggapinya.
Jika tidak ada,
Saya akan tutup.

Terima kasih.

ntuk Bro. Bejoanbejo, Saya himbau Bro untuk tidak menulis judul dg CAPS LOCK semuanya.

Entahkah Anda bmaksud atau tidak,
Tp pembaca bisa menangkap kesan bahwa Anda berlaku kurang sopan,
Khususnya terhadap saudara-saudara Katolik.

Memang ada apa dan kenapa denagn CAP LOCK…?
Tidak ada maksud apa-apa

Bukankan setiap judul umumnya Huruf Besar

Sudah saya tuliskan maksud saya dg jelas.

Terima kasih.

Ya, itulah bedanya, kalau Deuterokanonika dipercaya sah oleh Katholik ya maka mereka mengambil ayatnya (meskipun manusia yang mengatakan) tetap sah. Sama halnya kalau para nabi berkata-kata (belum tentu juga ada tulisan dari Allah kan?) dalam Perjanjian Lama karena dianggap sah oleh Kristen Protestan maka ayatnya tetap sah kendati itu pendapat para nabi. Karena kita percaya mereka diinspirasi Roh Kudus.

Bandingkan Lukas 16:20-31

20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Jika ini yang diajukan untuk menentang mendoakan orang mati, maka tidak ada relevansinya, karena:

  1. Cerita itu hanya menunjukkan bahwa ada jurang pemisah antara Sorga dan Neraka. Sedangkan orang Katholik mendoakan orang di Purgatory (bukan Neraka, mungkin setara dengan Firdaus dalam Kristen Protestan)–ayat 26.
  2. Cerita itu hanya menunjukkan bahwa sekalipun ada orang yang bangkit dari mati belum tentu dapat menobatkan hati manusia–ayat 31.
    Ya Katholik juga percaya bahwa ada jurang pemisah antara Sorga dan Neraka, so what?

Best Regard,
Daniel FS

Jika ini yang diajukan untuk menentang mendoakan orang mati, maka tidak ada relevansinya, karena: 1. Cerita itu hanya menunjukkan bahwa ada jurang pemisah antara Sorga dan Neraka. Sedangkan orang Katholik mendoakan orang di Purgatory (bukan Neraka, mungkin setara dengan Firdaus dalam Kristen Protestan)--ayat 26. 2. Cerita itu hanya menunjukkan bahwa sekalipun ada orang yang bangkit dari mati belum tentu dapat menobatkan hati manusia--ayat 31. Ya Katholik juga percaya bahwa ada jurang pemisah antara Sorga dan Neraka, so what?

Jelas ada relevansinya, anda termasuk Katholik ya…? Saya beruntung jika memang anda Katholik, berarti saya bisa lebih jauh dan bertanya tentang topic ini.

Dari Luk 16:20-31

Dapat dipahami ;

  1. Orang benar dihadapan ALLAH yang mati, langsung ke Sorga (pangkuan Abraham)
  2. Orang berdosa yang mati langsung ke alam maut (neraka)
  3. Dunia orang hidup dengan sorga tidak dapat berhubungan
  4. Dunia orang hidup dengan alam maut tidak dapat berhubungan
  5. Pertobatan hanya bisa di dunia orang hidup
  6. Setelah orang mati maka sudah selesai, tidak ada yang dapat menolong orang yang mati tersebut.

Disamping itu, tidak ada satupun ajaran Tuhan Yesus untuk mendoakan arwah orang mati. Jika hal mendoakan orang mati adalah penting, pastilah Tuhan Yesus akan memberikan penekanan dan perhatian tentang doa buat orang mati. Tuhan Yesus juga tidak pernah mengulang dari ajaran sebelumnya (PL) tentang adanya doa buat arwah.

[b]Sebenarnya dengan mendoakan arwah orang mati berarti tanpa sadar, “umat percaya Tuhan Yesus” sebenarnya tidak mengimani dan mengamini :

Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
[/b]

Apa yang saudara jelaskan diatas adalah benar, karena itu “Orang-orang percaya tidak dibenarkan untuk mendoakan orang yang sudah mati”. Supaya tidak terjadi perdebatan terhadap hal ini, maka disini akan saya paparkan Fakta Alkitab, tentang permasalahan ini, yang tertulis dalam Pengkhotbah 9 ayat 4 - 6, dimana pada Ayat ini dinyatakan dengan “Tegas”, pemisahan antara Orang yang hidup dan yang mati, ayat ini berbunyi demikian :

Ayat 4 : Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan …
Ayat 5 : …Tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
Ayat 6 : … Dan selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi dibawah matahari.

Perlu diketahui kepada semua pembaca dalam Forum diskusi ini, dari semua hasil penelitian saya di Alkitab, tentang hubungan orang yang hidup dan yang mati, Hanya Ayat yang terdapat dalam Pengkhotbah ini saja, yang secara tegas memisahkan hubungan antara orang hidup dan orang mati.

Salam Kasih dalam Damai

Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan: Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).

Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu

  1. yang masih mengembara di dunia,
  2. yang sudah jaya di surga dan
  3. yang masih dimurnikan di Api Penyucian.

Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka. Ini sesuai dengan pengajaran di kitab 2 Mak 12:42-46.

Memang, umat Protestan tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang terlepas dari perbuatan. Sedangkan bagi kami umat Katolik, kami diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6).Maka dapat dimengerti bahwa umat Protestan menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman itu sangat berguna bagi keselamatan kita. Sehingga, jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2). Perbuatan ini berguna baik bagi jiwa yang sedang kita doakan maupun keselamatan kita sendiri, sebab itulah maka ada yang disebut sebagai Indulgensi.

Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa yang orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu saat pemurniannya. Dan dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya juga pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, dan kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, maka memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita doakan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, mohon pengampunan dosa mereka dan istirahat kekal, jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Berikut ini saya sampaikan pengajaran ini yang termasuk De fide (Dogma):

[i]Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:
Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).

Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).[/i]

Jadi meskipun umat Protestan tidak mengakui ajaran pada kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di jaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:

  1. Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya.

  2. St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal

  3. Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma.

Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang dijalankan orang Katolik. Tentu saja, kami tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang memang menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan.

Jelas ada relevansinya, anda termasuk Katholik ya..? Saya beruntung jika memang anda Katholik, berarti saya bisa lebih jauh dan bertanya tentang topic ini.

Sayangnya saya bukan Katholik, saya Kristen Protestan, yang sedikit mengetahui tentang dasar doktrin Katholik.

Dari Luk 16:20-31

Dapat dipahami ;

  1. Orang benar dihadapan ALLAH yang mati, langsung ke Sorga (pangkuan Abraham)

Jadi, apakah Anda tidak percaya bahwa ada Firdaus (tempat sementara) seperti yang banyak dipercaya Gereje Protestan?

2. Orang berdosa yang mati langsung ke alam maut (neraka) 3. Dunia orang hidup dengan sorga tidak dapat berhubungan

Rasa-rasanya tiap denominasi (termasuk Katholik) juga percaya hal ini.

4. Dunia orang hidup dengan alam maut tidak dapat berhubungan

Apa maksud Anda dengan “alam maut”? Sorga dan Neraka? atau yang lain?

5. Pertobatan hanya bisa di dunia orang hidup 6. Setelah orang mati maka sudah selesai, tidak ada yang dapat menolong orang yang mati tersebut.

Rasa-rasanya tiap denominasi (termasuk Katholik) juga percaya hal ini. Katholik bukan mendoakan orang yang masuk Neraka supaya masuk Sorga namun orang yang masuk Purgatory (dan tanpa didoakan mereka juga pasti masuk Sorga meskipun lebih lama).

Disamping itu, tidak ada satupun ajaran Tuhan YESUS untuk mendoakan arwah orang mati. Jika hal mendoakan orang mati adalah penting, pastilah Tuhan YESUS akan memberikan penekanan dan perhatian tentang doa buat orang mati. Tuhan YESUS juga tidak pernah mengulang dari ajaran sebelumnya (PL) tentang adanya doa buat arwah.

Tergantung bagaimana Anda menafsirkan suatu ayat, suatu ayat bisa ditafsirkan secara Katholik (sehingga ada unsur mendoakan orang mati) ataupun ditafsirkan secara Protestan (sehingga tidak ada unsur mendoakan orang mati). Hal ini, karena Yesus Kristus sendiri tidak berkata “doakanlah orang mati” ataupun juga tidak membatasi bahwa “tidak boleh untuk mendoakan orang mati” sehingga doktrin tentang hal mendoakan orang mati adalah tafsiran semata-mata dari kedua belah pihak.

Sebenarnya dengan mendoakan arwah orang mati berarti tanpa sadar, "umat percaya Tuhan YESUS" sebenarnya tidak mengimani dan mengamini :

Yoh 14:6 Kata YESUS kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jika demikian, juga untuk mereka yang hidup tidak perlu didoakan syafaat oleh karena adanya ayat tersebut? Sekali-kali tidaklah demikian tafsirannya, mendoakan dan keselamatan adalah dua perkara yang sejajar namun tidak berkorelasi langsung.

Best Regard,
Daniel FS

saya rasa ngga ada salahnya juga kalo kita yang masih hidup ini mendo’akan mereka yg telah tiada…

Manakah yg lebih baik…berbuat kebaikan ataw mematuhi aturan…??

coba anda baca Lukas 6:1-5 yg mengenai murid2 Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat…

syalom, saya tertarik dengan diskusi ini karena selama ini saya juga penasaran dengan mendoakan mereka yang telah lebih dahulu meninggal. saya pribadi merasa tertarik, dan saya pikir tidak ada salahnya mendoakan anggota keluarga atau siapapun itu yang telah mati. soal doa itu Alkitabiah atau tidak menurut saya itu persoalan dogmatis…fine-fine saja mendoakan mereka yang sudah mati, sebagai tanda kasih kita kepada mereka…namun menurut saya jauh lebih penting mendoakan mereka yang masih hidup :)…
jika ada saudara/i dari katolik yang berporos pada (Vatikan) yang bisa memberi penjelasan tentang hal ini, saya sangat berterimakasih,atau mungkin ada dari saudara/i yg bisa menjelaskan sejarahnya, selain dari kitab Makabe? syalom. Gbus

klo utk pemakaman keknya sah2 aja(biarpun mustinya yg lebih penting adalah penghiburan thd keluarga yg ditinggalkan).yg dimaksud TS mungkin orang yg meninggal udah dimakamkan tp berbulan-bulan kemudian atau bertahun-tahun kemudian masih didoakan terus arwahnya dlm kebaktian khusus.

kalo paulus mendoakan orang meninggal gmn…?

bener atau salah…? atau bahkan paulus blo’on karena sudah tau ‘sia2 tetapi masih dilakukan’…?