teman kristen dan teman non kristen

kurang lebih 5 tahun terakhir ini saya memiliki banyak masalah dan datang silih berganti, dari macam2 sakit hingga masalah2 finansial. dulu teman/relasi saya yang kristen ada mungkin sekitar 100an, sedangkan teman/relasi saya yang non kristen mungkin hanya setengahnya. teman2 saya yang kristen itu jauh diberkati dari teman2 saya yang non kristen, mereka mempunyai cerita2 kesaksian yang luar biasa. mereka dalam berkata tentang Firman Tuhan dan hidup seperti di the golden ways. tapi dari 5 tahun terakhir ini mungkin hanya 5 orang kristen yang masih berhubungan dengan saya dan sering tanya kabar saya, sedangkan teman2 non kristen mungkin ada sekitar 10-15 yang masih kontak dan tanya kabar saya. sewaktu dulu saya tidak mempunyai masalah, teman2 saya yang kristen baik2 saja dalam hubungan dengan saya. setelah saya kena banyak masalah kok persentase yang meninggalkan saya lebih banyak daripada yang non kristen. entah kenapa mereka sepertinya takut tertular masalah2 saya. dulu kalau omong2 biasa, sekarang sepertinya pandangannya merendahkan dan ingin cepat2 mengakhiri, tidak seperti teman2 saya yang non kristen yang pandangannya biasa saja/tetap meskipun tahu saya kena banyak masalah dan bicara panjang lebar seperti dulu. entah kenapa, sepertinya karena ayat “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” diterima dengan tidak benar oleh orang2 kristen, sepertinya orang2 yang bermasalah akan membuat orang2 kristen juga terkena masalah. mereka sepertinya lebih suka kumpul2 dengan orang2 yang juga sukses dan kaya (diberkati) dan mendengarkan ilmu cara kaya dan peluang2 bisnis.
memikirkan hal ini saya jadi sangat sedih sekali, bukan karena saya kehilangan teman, tapi karena kecewa dengan orang2 kristen. saya jadi berpikir bagaimana kalau banyak orang2 kristen sedang dalam kesusahan dan lemah imannya, tapi tidak ada orang kristen yang bisa diajak bicara, sedangkan agama lain lebih bisa diajak bicara dan dicurhati. apakah mereka bakal pindah agama karena orang2 kristen menjauhi orang2 bermasalah, sedangkan non kristen mau duduk dan mendengarkan masalah orang2. saya ingat2 tentang "takut"nya orang2 kristen yang bicara tentang agama lain gencar menarik orang2 kristen untuk masuk agamanya, kok saya merasa kemungkinan besar orang kristen pindah agama karena mengalami seperti yang saya alami. saya cuma berharap hati orang2 kristen lebih seperti Yesus yang datang untuk orang2 yang lemah fisik dan imannya, bukan cuma berubah down to earth hanya waktu pelayanan misi.
cuma mau curhat tentang pemikiran saya beberapa hari ini tentang pengalaman saya selama 5 tahun terakhir.

Yaitulah realita hidup, semua orang ingin yang terbaik menurut pandangannya. Namun kenyataannya dunia tidaklah sempurna dan lagi dunia ini yang berkuasa adalah si jahat. Hanya kepada TUHAN lah sandaran kita. Kita akan lelah jika hanya terus-terusan melihat manusia karna tidak ada manusia yang sempurna. Namun tinggal tenang dalam hadirat dan kasih sayang TUHAN kita pasti aman dan baik-baik saja. Hidup di dalam TUHAN, fokus kita adalah TUHAN bukan manusia dan segala kelemahannya. Kita akan kehilangan energi positif jika mengingat hal-hal yang negatif terus menerus.

Saya bisa saja menulis banyaknya kata-kata atau pandangan atau apapun yang menurut saya baik atau tidak, tapi saya berfikir ketika saya melontarkan hal tersebut faedahnya apa??? Pada saat menuliskan hal tsb, apakah TUHAN saya disenangkan atau hanya memuaskan hasrat manusia saya. Semakin banyak manusia berfikir dan semakin banyak manusia berkata-kata, kita juga harus mengkoreksi diri apakah itu dari buah2 roh. Karna apa yang terjadi dalam hidup manusia tidak terjadi seperti itu saja, ada latar belakang seseorang dan ada juga buah fikiran kita sendiri dan saya percaya adanya tabur tuai dan karma.

Apa yang kita tanam difikiran kita setiap harinya itulah yang terjadi, apakah yang terjadi dalam hidup kita adalah kebetulan??? Tidak sama sekali, semua sudah diatur TUHAN sesuai rancanganNYA bagi setiap manusia dan orang percaya. Begitulah pendapat saya tentang curhatan @gusgus.

Tidak ada yang sempurna, dan di sudut manapun kita bisa menjadi tidak puas akan suatu kejadian dan peristiwa namun hanya orang-orang yang bergantung dan bersandar pada TUHAN beroleh selamat. Kita bisa belajar bagaimana Daniel dkk menghadapi situasi pelik dan tekanan di Babel namun mereka keluar sebagai pemenang.

Sudah begitulah kondisi dunia ini, kita tidak dapat mengkontrol apa yang terjadi disekitar kita apalagi hanya mengandalkan kemampuan manusia kita yang terbatas, yang ada manusia bisa berdarah-darah hatinya dan terluka. Menjaga tanah hati kita ini untuk tetap bersih tidak mudah, karna dunia di kuasai oleh si jahat. Jadi serahkan semua persoalan manusia kita kepada TUHAN YESUS dan berdoalah dan serahkan padaNYA maka DIA akan bertindak. Saya sih realistis saja jalanin hidup ini, jika ada yang buat hati saya sedih biasanya saya banyak berdoa dan menyerahkan beban di hati saya agar saya terlepas dari beban yang menghimpit di hati. Setelah itu saya beroleh kelegaan dan kelepasan dan hati saya lebih kuat. Ya namanya juga manusia hidup, siapapun dia adanya pasti tidak luput dari yang namanya persoalan hidup cuman tingkat kedewasaan dan keimanan orang-oranglah yang membedakan hal tsb.

GBU :angel:

Ga semua orang kristen itu benar2 pengikut Tuhan Yesus dan melaksanakan Firman loh. Aku pernah terpikir bahwa orang terjahat sedunia itu orang kristen, dan orang terbaik sedunia juga orang kristen. Org kristen bisa jadi terjahat karena mereka punya akses ke Firman Tuhan, representing Lord Jesus tapi jalan hidup mereka malah membuat orang semakin buta melihat kebenaran (mungkin seperti teman2 yg meninggalkan anda).
Orang yang benar2 mengikuti Firman Tuhan dan dekat dengan Tuhan malah jadi org terbaik sedunia ( mungkin kaya 5 org teman kristen yg bersama anda sekarang).

Dan apakah teman2 kristen yg meninggalkan anda mengerti apa yang anda alami, punya akses komunikasi dengan anda? Barangkali tanpa anda ketahui ( semua / beberapa) mereka berdoa buat kebaikan anda. Klo ga, berarti mungkin ini yang Tuhan maksud dengan serigala berbulu domba.
Aku berharap anda dapat memaafkan orang2 yg meninggalkan anda itu meskipun itu sangat sulit tapi Tuhan pasti bantu.
Dan semoga anda ingat kasih dan kebaikan Tuhan Yesus, meski semua orang meninggalkan anda tapi Ia tak pernah meninggal kan anda.

Saya orang introvert, jadi lebih suka menyendiri, tidak peduli punya teman atau tidak. Tapi ketika baca 4 kitab pertama PB tentang bagaimana Tuhan dekat dengan semua orang, apalagi Dia juga berkata “marilah padaKu yang letih lesu dan berbeban berat”, kemudian ingat tentang pengalaman saya dimana orang non kristen justru yang memptaktekan ini membuat saya malu dan marah kepada sesama orang kristen. Entah kemarahan ini dari Roh Kudus atau tidak, karena merasa ini bukan seperti emosi saya, saya orangnya sangat datar, orang menghina saya tapi merasa biasa, diancam preman tapi tidak ada perasaan takut. Biasanya yang membuat emosi itu kalau ada campur tangan Roh Kudus. Waktu ada pembicara terkenal dan gerejanya penuh, Roh Kudus bicara kalau kesepian di dalam gereja karena orang2 datang (hatinya) untuk si pembicara dan saya bisa merasakan kesedihan Roh Kudus dan berhari-hari saya sangat sedih. Dan ketika saya merasakan sukacitanya Tuhan (lupa karena apa), saya berhari-hari juga merasakan sukacita dan orang2 berkata wajah saya seperti bercahaya. Kali ini entah kok bisa ada perasaan sangat marah waktu baca Firman dan ingat2 pengalaman saya. Semoga curhatan ini bisa merubah saudara2 seiman lebih baik dengan bantuan Roh Kudus.

Wow pengalaman anda dengan Tuhan keren sekali, bisa merasakan perasaan-Nya.
Barangkali itu dari RK ( ga tau deh).
Aku cuma ngebayangin klo aku ketemu org yg lagi ada masalah / sakit, kemungkinan aku kaya teman2 bro pergi meninggalkan karena melayani / memberi motivasi org lagi kesusahan itu super susah. Nanti klo salah ngomong, gimana coba. Mending pergi kali.
Tapi habis mikir kaya gitu, aku kepikiran (atau dikasih tau Tuhan?), klo aku kaya gitu Papa pasti sedih sekali. Papa ga ngajarin anak-Nya kaya gitu. Jadi klo anda rasa itu perasaan dari Roh Kudus, mungkin benar.

:afro: Saya juga merasakan kegelisahan yang sama seperti yang kamu alami. Jika tak ada di dunia nyata, dunia maya siap. Lewat PM aja kali ya… unt kasus2 tertentu yg agak2 sensitif gituw :azn: Jangan khawatir, di sini ada sodari Poppy, Salt Light, Saya (khusus jam kerja aja yak :tongue:), dst yang siap membantu Anda. Curhat saja di mari, jika di dunia nyata tidak kamu temukan :azn: Di sisi lain, ‘Tak ada pesta yang tak usai’ brow… Mungkin mereka sibuk, lagi pny mslh juga. dst. Jangan padamkan Roh, tetap hidupi kegelisahan Anda supaya Anda tetap bisa berdoa bagi yang mulai cuek. Ini adalah kesempatan emas untuk curhat berdua (minjem istilahnya sodari Saltlight) with Father. Just U en Him ! Wow!!

hahaha bisa saja sinchan :wink:

cemungud aja ya Gus :slight_smile:

itulah anehnya, saya ini introvert, malas kalau mau curhat2 ke orang (baik di dunia nyata atau maya) atau kumpul2, kalau ada masalah lebih suka doa atau baca buku2 atau browsing2. biasanya orang2 yang datang ke saya dan tanya2 kabar saya. tapi ada saatnya ada dorongan yang sangat2 kuat untuk “curhat” atau membicarakan sesuatu terutama tentang hal2 yang berkaitan dengan kekristenan. biasanya meskipun ada masalah dengan kekristenan, reaksi saya dalam hati hanya “ok, ada masalah” tapi malas untuk menindak lanjuti, mendoakan paling hanya sekali waktu tau, kemudian sudah lupa.

Sssst… jangan bilang siapa-siapa ya… Saya ini juga introvert tauuk… Sangat jarang banget curhat. Tapi, klo dicurhatin… Ampun dah ! Puji Tuhan, sekarang nemu org yg tepat unt dicurhatin. Siapa tu ? Ibu Pembimbing Rohani saya di kelompok kecil en Kakak Rohani di Menara Doa Kota. Sebagai timbal balik, mereka berdua juga sering kok curhat sama saya. :ashamed0002: Kebetulan, dua-duanya punya jiwa yang sama dengan saya. Punya kepekaan yang sama So, ada baiknya kmu cari yang sejiwa dengan kamu, sepeka kamu dan sealiran sama kamu. Biar kagak setress… ;D Keprihatinan itu, harus disalurkan sodaraku, bisa lewat berbicara; berdoa; ato bahkan tulis-menulis seperti saya lakukan hingga sekarang. My point is… you are not alone. :azn: Saya tertarik sama statementmu biasanya orang-orang yang datang ke saya dan tanya-tanya kabar saya. Mereka masih care sama kmu brow, mereka masih inget sama kamu! Kesempatan tuh, make karuniamu entah menasehati, mengajar dst. Di sisi lain, seberapa sering sih kamu yang nyapa mereka ? Sesekali, enggak ada salahnya kita yg inisiatif nyapa. :happy0025:

10 tahun lalu saya pernah kena gegar otak, jadi saya kurang bisa merasakan emosi (flat affect) seperti bahagia, sedih, marah, takut. menurut dokter tidak ada masalah waktu dilihat MRInya, kata 3 psikiater kena depresi pasca trauma otak tapi obatnya tidak ngefek. waktu baca2 di internet, banyak yang kena gitu setelah gegar otak tapi tidak lama, hanya sedikit yang seumur hidup. Beberapa tahun lalu jadi parah karena terlalu capek bekerja dan tidak bisa kembali. karena tidak adanya emosi jadi kurang ada motivasi mau melakukan apa2, termasuk mau ketemu orang lain, kumpul2 atau curhat2. dulu suka dicurhati, setelah kena banyak masalah gak pernah, mungkin “orang buta kok menuntun orang buta”, orang banyak masalah kok malah dicurhati. susah mau menulis setelah kena gegar otak, susah konsentrasi, baru nulis 1 kalimat sudah melamun atau ingin melakukan hal lain. paling hanya doa, itupun sekarang cuma bisa sebentar, kalau lama bisa “hilang” pikirannya. sebelum gegar otak saya suka kalau ada acara2 persekutuan doa, dan bisa tanya jawab dan berbagi kesaksian.
nah itu, justru yang banyak datang tanya2 kabar itu non Kristen, yang kristen2 kok sepertinya hilang setelah saya kena berbagai masalah. yang Kristen yang peduli justru lebih jarang tanya kabar. saya justru malas mau ketemu orang2 lain, lebih menikmati kesendirian. itulah anehnya, saya yang tidak peduli orang lain mau dekat/menyapa saya atau tidak, tiba2 merasa ada dorongan kuat untuk marah waktu baca tentang Firman “marilah padaKu …” dan ingat betapa yang non Kristen lebih peduli pada orang2 yang bermasalah.

:scared0015: segitu parahkah dampak depresi pasca gegar otak ? Sampe membuat kita enggak punya esmosi dan susah konsen? :mad0261: Hmm… keliatannya, kamu cenderung ke rasa kecewa deh brow karena saat kamu butuh, semuanya pada ngilang sendiri2. Jangan berlarut2 dlm kekecewaan ya… Soal firman, “Marilah kepada-Ku” itu khan merefernya ke Tuhan Yesus ? So, tepatlah jika u kecewa dan lesu lari sama DIA. Soal kenapa orang-orang Kristen pada cuek, khan udah ditulis di Alkitab klo pada akhir zaman tu orang-orang pada kehilangan kasih ? Tapi, jangan lantas kamu bitter gara-gara kelakuan mereka… Jangan lantas kmu kecewa orang Kristen kok gini ? Ocee… :azn:

entah itu karena psikologi atau karena gegar otak menyebabkan kerusakan permanen pada otak. tapi sudah ke beberapa psikiater dan katanya dari fisik otaknya, jadi mungkin fisik otaknya yang bermasalah. saya yang dulu orangnya ramai dan suka ngomong berubah jadi pendiam dan pemikir setelah gegar otak.
rasa kecewa atau sakit hati kepada orang juga hampir gak ada, kalau disindir/dihina kok ya biasa saja, hinaan paling parah pun hanya terasa “jleb” sebentar di hati (ini yang saya bilang hampir gak ada), kemudian tidak ada perasaan apa2 lagi. setelah itu omong2 biasa lagi ke orang yang menghina/menyindir saya. tapi waktu ada orang menghina orang tua saya baru marah. tidak hanya marah, saya lihat sesuatu yang kata orang lucu juga tidak merasa lucu. melihat film horor kok ya biasa2 saja meski orang bilang menakutkan. dulu suka basket, renang dan main game, tapi sekarang tidak ada perasaan senang lagi. jadi saya sendiri merasa aneh waktu bisa ada kemarahan seperti itu.
kok saya malah curhat soal akibat gegar otak.
entah soal ayat, tapi sepertinya kalau melihat orang kristen itu harusnya mempresentasikan Kristus. kalau ada Roh Kudus pada orang kristen, (menurut saya) harusnya seperti tindakan Kristus. ya mungkin memang akhir zaman, tapi tetap ada harapan semoga orang2 kristen masih dapat berubah lebih baik.

Setuju semoga org kristen menjadi lebij baik, dan kasus kaya Matma Gandi (sorry salah spell nama) yg ga jadi pengikut Tuhan karena umat-Nya semoga ga terjadi lagi.
Itu miris bgt sih tapi klo aku baca kisah org2 ex-extremist suatu agama pas ke gereja umumnya ya ditolak karena ketakutan.

Tapi jujur bro keren (ttg dihina ga sakit hati), soalnya memaafkan itu super susah.

bukan kehebatanku itu, tapi karena pernah gegar otak, kemungkinan ada kerusakan otak, jadi kurang memiliki empati secara emosi. misal ada orang memarahi saya, otak saya menafsirkan seperti orang itu ngomong dengan nada biasa, saya tahu dia marah tapi tidak ada perasaan dimarahi. orang menangis di depan saya, saya tidak merasa sedih meski dia curhat. jadi mungkin saya kesusahan mempraktekan Roma 12:15

Maz 1 : 1 ¶ Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

4 ¶ Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Hmm… ya aku baru lihat.
Maaf suka lamgsung ngomong tanpa pikir panjang.
Tapi sering ketika org diberi karunia perasaan seperti marah, sedih, dsb yg ada malah kekeacauan saking egois dan langsung melakukan sesuai perasaan.
(baca kesaksian bro aku baru sadar / ngerti / tau klo itu juga karunia Tuhan)

Anyway, aku rasa pasti ada maksud baik Bapa dari semua yg ada di hidup bro.