Tentang Syariat Islam

Bagaimana Jika Syariat Islam diterapkan di Indonesia?
Mengingat perkembangan akhir-akhir ini dimana dinamika dalam kehidupan berbangsa dan negara yang semakin mengarah ke arah Islamisasi dalam berbagai Aspek kehidupan tidak lagi merupakan sesuatu yang sifatnya underground lagi dan cenderung memaksa untuk menyeragamkan sudut pandang golongan dalam menyikapi berbagai masalah yang menimpa negara ini.Jika hal tersebut hanya sebatas dari upaya-upaya dakwah secara damai tanpa mengutak-utik dasar dari pendirian bangsa dan negara ini yaitu Pancasila yang membuat berbagai suku-bangsa di wilayah Nusantara ini sepakat untuk ikut serta dalam kontrak sosial pendirian negara Indonesia dan tidak memaksakan pandangan suatu golongan dalam Norma dasar pendiriannya serta memperhatikan segala perbedaan yang ada dalam sebuah konsep Bhineka Tunggal Ika, bagi setiap insan yang beradab hal tersebut merupakan suatu hal yang biasa.Namun kenyataannya dari berbagai fakta yang terjadi di Bangsa Indonesia ini beberapa tahun terakhir, kenyataannya mereka sengaja menciptakan dualisme hukum dengan mamasukkan prinsip-prinsip syariat Islam ke dalam berbagai peraturan-peraturan daerah, bahkan salah satu provinsi di Indonesia nyata-nyatanya sudah menganut Syariat Islam (beberapa provinsi lagi segera menyusul).

Selain itu atas dasar gerakan-gerakan moral dengan intimidasi-intimidasi dalam bentuk psikologis maupun fisik mulai muncul Polisi-polisi moral yang secara tidak langsung memaksakan sudut pandangnya dalam pemahaman yang tentunya tidak akan sama karena beranjak dari logika ideologi yang berbeda.Bahkan dengan dalil sebagai penduduk mayoritas, mereka beranggapan bahwa sudah sepantasnya bahwa Indonesia menganut paham Syariat Islam.Hal ini bukanlah suatu isapan jempol lagi karena gerakan mereka sudah jelas-jelas dilakukan secara terorganisir, dan bukan tidak mungkin bahwa dalam waktu dekat Syariat Islam akan “benar-benar” diberlakukan di Indonesia.

ada beberapa pertanyaan yang sebagai ajukan sebagai pengantar untuk diskusi:
1.Setujukah jika Syariat Islam diterapkan di Indonesia? Kenapa?
2.Tindakan yang anda lakukan jika Syariat Islam diterapkan di Indonesia?
3.Tindakan apa yang anda lakukan agar syariat Islam tidak diberlakukan di Indonesia??
4.Menurut Anda berbahayakah syariat Islam bagi pemeluk agama lain selain agama Islam dan merasa terancamkah jika hal tersebut benar-benar diterapkan?
5.Bagaimana pandangan Anda mengenai Syariat Islam itu sendiri?

Diskusinya yg terarah dan no SARA…

emang isinya syari’at tu apa yah? :rolleye0014:
contoh penerapannya yg kaya apa, biar ga beda persepsi, bole kan nanya, hehe… :angel:

maaf sebelumnya…
ini ada artikel bagus sebagai bahan pertimbangan untuk vote.

JEJAK regulasi bernuansa Islami di Sulawesi Selatan seolah mengikuti perjalanan karier Patabai Pabokori, 54 tahun. Ketika ia kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, DPRD mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan Al-Quran, 18 April lalu. Patabai bangga. “Inilah satu-satunya perda tentang pendidikan,” katanya. Wakil Gubernur Syahrul Yasin Limpo pun berharap, perda ini dapat mempercepat penurunan buta aksara Al-Quran.

Sebelum itu, saat menjabat sebagai Bupati Bulukumba untuk dua periode (1995-2005), Patabai menggolkan empat perda berspirit syariat Islam. Perda Minuman Keras; Zakat, Infak, dan Sedekah; Baca-Tulis Al-Quran bagi Siswa dan Calon Pengantin; serta Pakaian Muslim/Muslimah. Keempatnya lahir pada 2003. Kabupaten ini pun populer sebagai pionir penerapan syariat Islam di Sulawesi Selatan.

Eksperimen syariah di Bulukumba bahkan menembus pemerintahan terendah: desa. Sebanyak 12 desa dijadikan areal percontohan penerapan syariat Islam sejak awal 2005. Sedemikian kondangnya nama Bulukumba di mata pendukung syariah, sampai Kongres Umat Islam Sulawesi Selatan III, Maret 2005, pun digelar di sana. Kongres ini kental warna syariahnya. Ada rekomendasi agar umat Islam memilih kepala daerah yang punya komitmen pada syariat Islam.

Sepeninggal Patabai, implementasi syariat Islam di desa-desa pilot project itu kian pesat. Malah melampaui perda kabupaten dan provinsi. Karena desa itu berani menerapkan pidana hudud. Desa Padang, Kecamatan Gantarang, misalnya, menetapkan “peraturan desa”. Isinya, aturan tentang delik perzinaan (cambuk 100 kali), qadzaf alias menuduh zina (cambuk 80 kali atau dilimpahkan ke polisi), minuman keras (cambuk 40 kali), dan pidana qishash (balasan setimpal) bagi tindak penganiayaan.

Kabupaten di Sulawesi Selatan selain Bulukumba juga tak mau ketinggalan. Pangkep, Gowa, dan Wajo seolah berlomba membuat perda syariah. Tapi dinamika ini bukan khas Sulawesi Selatan, yang pada 2002 pernah menuntut otonomi khusus penerapan syariat Islam. Suara serupa berkembang di Provinsi Banten dan Riau. Juga beberapa kabupaten/kota, semisal, Cianjur, Tasikmalaya, Pamekasan, Mataram, dan Dompu.

Gelora bersyariat-ria di berbagai daerah ini sudah bergulir lima tahunan terakhir. Tepatnya sejak otonomi daerah ditetapkan. Tapi akselerasi geliat itu terasa kian melesat belakangan ini, di tengah ingar-bingar polemik nasional tentang Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Meski RUU ini tak eksplisit mengusung idiom syariah, polemik yang mengitarinya diwarnai sentimen pro-kontra syariat Islam. Sampai ada tudingan Arabisasi dan Islamisasi di balik RUU itu.

Belum tuntas berdebat RUU APP, publik tergiring membincangkan ihwal Perda Pelacuran di Kota Tangerang. Lalu muncul kabar tentang Raperda Anti-Maksiat di Kota Depok. Tak mau ketinggalan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta juga menyiapkan Raperda Anti-Maksiat untuk DKI Jakarta.

Silang pendapat pun makin keras. Berbagai simpul pengusung syariat seolah berkejaran diburu tenggat. Perkembangan ini seperti mengamini survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, tentang tingginya dukungan orang pada tawaran penerapan syariat Islam. Dari 2001 hingga 2004, trennya naik. Dukungannya di atas 70%.

Di lapangan, dukungan itu ditandai dengan maraknya simpul pejuang syariat. Ada Majelis Mujahidin yang memang dibentuk untuk penegakan syariat Islam. Mereka menyusun draf revisi KUHP berdasarkan syariat. Ada Komite Persiapan Syariat Islam Banten, Gerakan Penegak Syariat Islam Yogyakarta, Lembaga Pengkajian, Penegakan, dan Penerapan Syariat Islam Garut, Badan Pengkajian dan Pengembangan Syariat Islam Sukabumi, Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam Pamekasan di Madura, dan Komite Penegakan Syariat Islam di Sulawesi Selatan.

Dalam pada itu, kampanye khilafah Islamiyah (imperium Islam trans-nasional) terus-menerus disuarakan kelompok Hizbut Tahrir. Lewat berbagai aksi demonstrasi, spanduk-spanduk, ceramah, pengajian, diskusi, buku-buku, majalah, dan sebagainya. Mereka menempatkan khilafah sebagai alternatif kegagalan sistem politik (demokrasi) dan ekonomi (kapitalisme) yang tengah berlangsung.

Meski berbagai simpul itu memiliki spektrum agenda berbeda-beda, kesan yang berkembang, agenda penerapan syariat satu paket dengan kampanye khilafah dan negara Islam. Berbagai kalangan di kawasan minoritas muslim, seperti Sulawesi Utara, Bali, Papua, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), umumnya risau melihat semarak syariat. Ada kekhawatiran pada keutuhan nasional. Agama, bagi mereka, tidak bisa masuk dalam hukum negara, termasuk dalam undang-undang.

“Agama apa saja, Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu, tidak bisa memasukkan syariatnya dalam undang-undang,” kata Victor Mailangkay, anggota DPRD Sulawesi Utara. “Karena kita telah berkomitmen dalam bingkai NKRI (negara kesatuan Republik Indonesia) yang berdasar Pancasila dan UUD 1945,” ujar Sekretaris Partai Golkar Sulawesi Utara itu kepada Jurichal Antameng dari Gatra.

Ancaman pada integrasi pun dikhawatirkan Ince Sayuna, anggota DPRD NTT. “Ujung-ujungnya merupakan ancaman disintegrasi bangsa,” kata Ince Sayuna kepada Antonius Un Taolin dari Gatra. “Jika syariat Islam berhasil diundangkan, kami warga NTT tidak tertutup kemungkinan akan memisahkan diri dari NKRI. Karena kami hanya satu prinsip, Pancasila harga mati landasan hukum NKRI,” Ince menambahkan.

Wakil Gubernur Bali, I.G.N. Kesuma Kelakan, berpandangan bahwa semua peraturan harus dibuat lintas agama dan lintas suku. “Di Bali, kalau ada perda yang sangat Hindu, saya juga akan tentang,” katanya kepada koresponden Gatra Komang Erviani. Kelakan menyerukan kembali pada komitmen awal, UUD 1945. Kalau ada yang ingin memberlakukan syariat Islam bagi Indonesia, menurut Kelakan, “Mereka berarti tidak paham UUD 45.”

Anggota DPRD Papua, Yance Kayame, menilai gerakan penerapan syariat Islam tak sampai mengancam integrasi bangsa. “Tapi bisa mengancam, menyulut konflik horizontal,” katanya kepada Gatot Ariwibowo dari Gatra. “Memang tidak akan sampai pada disintegrasi bangsa, namun syariat Islam itu kan ideologi. Sangat memicu konflik horizontal bila diterapkan di daerah yang Islamnya minoritas.”

Sekjen Partai Damai Sejahtera, Denny Tewu, juga berpandangan bahwa ajaran spesifik agama, seperti kewajiban berjilbab bagi muslimah atau keharusan jadi pengikut Kristus, tak perlu masuk undang-undang atau perda. Denny tidak menolak bila nilai agama masuk perda atau undang-undang. “Tapi nilai agama yang universal,” ujarnya. Misalnya, semua agama mengajarkan kebaikan, saling mengasihi, dan bekerja sama.

Arskal Salim, kandidat doktor hukum Islam di Universitas Melbourne, Australia, pernah menyusun lima tingkat penerapan hukum Islam, sebelum sampai pada agenda negara Islam. Pertama, hukum kekeluargaan (perkawinan, perceraian, dan kewarisan). Kedua, masalah ekonomi dan keuangan, seperti perbankan Islam dan zakat.

Ketiga, praktek ritual keagamaan, seperti kewajiban jilbab, larangan alkohol dan judi. Keempat, hukum pidana Islam, terutama penerapan sanksi model cambuk, potong tangan, dan rajam. Kelima, penggunaan Islam sebagai dasar negara.

Lima level itu disusun secara hierarkis, mulai terendah sampai tertinggi. “Tuntutan penerapan lima level hukum Islam mengimplikasikan pembentukan negara Islam,” kata Arskal. “Makin tinggi level tuntutan, makin dekat menuju negara Islam,” dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta itu menambahkan. “Sebaliknya, semakin rendah level tuntutannya, semakin rendah tingkat komitmen pada negara Islam.”

Bila dicermati, unsur level pertama sampai keempat saat ini sudah ada yang terserap dalam legislasi nasional. Hukum kekeluargaan, sejak 1974, terserap dalam Undang-Undang Perkawinan. Perbankan Islam mendapat payung hukum sejak 1992. Ritual agama seperti haji, zakat, wakaf, dan busana Islami sudah masuk undang-undang dan perda. Sedangkan pidana Islam telah diadopsi dalam beberapa qanun di Aceh dan peraturan desa di Bulukumba.

Hanya tingkat kelima yang gagal pada sidang Konstituante 1955. Apakah ini berarti pewujudan negara Islam tinggal selangkah lagi? Arskal menilai belum. “Saya belum melihat semua perda itu sudah sampai level keempat,” katanya. Prinsip hudud dan qishash dalam Quran-hadis belum dipraktekkan. Mestinya, pencuri dipotong tangan, pezina dicambuk 100 kali, atau pemabuk dicambuk 80 kali.

Kalau pezina hanya didenda atau dipenjara, itu bukan pidana hudud, melainkan tazir (sanksinya dibikin penguasa untuk tujuan pembinaan). Pidana hudud bisa turun jadi tazir bila syarat jatuhnya sanksi hudud tak terpenuhi. Misalnya, orang berzina tapi tak disaksikan empat saksi. “Selama hudud dan qishash belum terjelma dalam perda, tapi masih lebih banyak berupa ta`zir, maka itu masih transisi dari level ketiga ke level keempat,” ujarnya. Jadi, negara Islam masih cukup jauh.

Dua ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, tetap setia dengan Indonesia sebagai negara-bangsa. Partai Keadilan Sejahtera dan Hizbut Tahrir juga menyatakan hal serupa. Besarnya dukungan pada syariat Islam tampaknya tidak berbanding lurus dengan sokongan pada negara Islam. Indonesia saat ini baru marak sebagai “negeri syariah”, bukan “negara syariah”.

Asrori S. Karni dan Bernadetta Febriana, dan Anthony (Makassar)
[Laporan Utama, Gatra Edisi 25 Beredar Senin, 1 Mei 2006]

Wah …tidak deh , gak cocok dgn negara kita yg bhineka tunggal ika. Memangnya zaman barbar , pencuri harus di potong tangannya? ih sadis amat. Gak ada kesempatan buat bertobat dan jika iya dia bertobat tp tanpa tangan lalu apa yg musti diperbuat dia? gak banget deh kejammmmm.

emange iki negorone mbahe…ana-ana wae…ya jelas ente kagak setuju…

:character0110: :character0110: :fighting0028: :fighting0028: :character0110: :character0110: :fighting0028: :fighting0028:

Setuju ma sista V2ho, diriku ngga setuju… :smiley:

kalo negara INDONESIA diberlakukan SYARIAT ISLAM ntar semua masyarakatnya malah sebagian besar menjadi TERORIS lho!!! sekarang aja udah banyak teroris apalagi diberlakukan tuh peraturan ganas… udah gitu ntar para wanitanya diKAWINin KONTRAK doang, abis “dihisap” sarinya bisa “dibuang” alias CERAI… TOLAK deh nih peraturan yang SOK SUCI!!!

Syariah gak akan dibatalin hanya gara-gara segelintir orang tidak setuju kan? He he he…
Tapi buat saya sih kalaupun dijalanin artinya ada sesuatu yang Tuhan rencanakan untuk Indonesia.

Lagipula mungkin dengan adanya syariah justru akan membuka mata mereka bahwa “PERBUATAN BAIK” tidak bisa membuat masyarakat menjadi lebih baik. Dari sekian banyak peraturan dan hukum-hukum saya yakin tidak ada 1 manusiapun yang bisa menjalankannya dengan 100% sempurna (ingat saja orang Israel).

Siapa tahu dengan syariah dijalankan, mereka malah sadar bahwa hukum dan peraturan tersebut bukanlah jawabannya (Turki sudah menjadi saksi sejarah dalam hal ini).

Keselamatan hanya ada karena inisiatif dan kasih karunia Tuhan, bukan karena perbuatan baik manusia.

JBU :happy0025:

Hal mau diterapkan Syariat Islam bukanlah hal yg baru buat umat Muslim, sebab tujuan mereka, (sesuai dengan ajarannya), adalah utk membuat Islam menjadi global. Makanya sekarang kita lihat terutama dinegara2 barat (eropa), dimana ada mulai suatu gerakan yg sedang menuju kepada adanya suatu domination dari pihak mereka utk menguasai dunia.

Hanya saja, oleh karena negara2 barat dipopulasi oleh org2 non-muslim, maka mereka harus berhati-hati dan menggunakan cara halus sementara ini (tidak spt di Indonesia atau negara muslim lainnya, yaitu dgn cara kekerasan), walaupun ada juga yg menggunakan terrorisme.
Juga harus diingat bahwa adanya immigrasi dari negara2 muslim ke Eropa dan Amerika akan mempengaruhi status mereka nanti, mengingat ratio pertambahan penduduk yg beragama Islam jauh melebihi penduduk aslinya, dan ini akan membuat mereka semakin kuat, apalagi kalau kita ingat bahwa pemerintah masyarakat diEropa sangat liberal dan takut dituduh tidak toleransi, racist, dsb

Ada suatu kutipan dari sorang cleric India bernama Ashraf Mohamedy yg ditayangkan dalam program TV yg berjudul Peace TV mengenai bagaimana org2 Muslim harus menjadi “terroris”:

I would stress that every Muslim should be a terrorist. I repeat: Every Muslim should be a terrorist. A terrorist is a person who terrifies others, who terrorizes others. That is precisely the reason we have the police. As soon as the robber sees the policeman, he is terrified, he is terrorized. Similarly, the Muslims should terrorize the anti-social elements in society. He should terrorize the robber, the decoy, the rapist. I know that "terrorist" is taken as a concept of a person who terrorizes the common man. But we Muslims should be terrorists for the anti-social elements in society
link: http://www.memritv.org/clip_transcript/en/1751.htm

Gimana kalo negara ini dibagi 2 aja, setengah buat muslim setengahnya lagi buat non muslim. Jadi mereka bebas mo ngatur wilayah mereka sendiri tanpa utak atik teritoty orang laen. So mo pake syariah kek, mo pake apa kek… atur atur sendiri wae lah…

Setau aku Malaysia juga memberlakukan Syariat ini? tp hanya kepada warga negara nya yang menganut agama Islam saja, (benar ga yah?)

Aku ga setuju sekali :rolleye0019:

Kalau syariat Islam diberlakukan, sepertinya hampir seluruh Ideologi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika kita juga harus di rombak, kerena itu bertentangan, dan bertolak belakang.

Syariat Islam hanya mengedepankan Hukum dari salah Satu agama di Indonesia, dan itu tidak sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika, “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Perjuangan kemerdekaan Indonesia yang berhasik diraih bukan hanya hasil dari satu Agama saja, atau dari salah satu suku saja, tapi karena kesatuan dr bangsa ini, yang berbeda2 suku, agama, ras dan adat.

Apakah Ideologi bangsa ini akan dirubah hanya kerena membela kepentingan Suku, atau Agama, Atau RAs, atau istiadat salah satu yang ada di Indonesia?

Segala sesuatu yang terjadi pasti ada rencana Tuhan didalamnya atas Indonesia.
Kita hanya bisa berdoa, agar pemerintah diberi kebijaksaan dalam memimpin bangsa yang besar dan memiliki berbeda2 agama, dan culture ini. Amien :angel:

“Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”

tanggapan2 anda2 semua hanya mengekor kpd media/perkataan orang yg tdk ada dasarnya.
anda2 semua dalam menanggapi isu seperti ini lebih menggunakan emosi daripada hati. taukah dengan cara seperti itu, anda2 sendiri justru memperlebar jarak antar umat beragama. cobalah utk memahami masalah dengan hati, apa yang harus anda lakukan jika anda ingin belajar sesuatu/at least ingin tau ttg sesuatu?

kalau anda ingin tau ttg sesuatu, hal yang paling baik dilakukan adalah belajar kpd sumbernya, tidak dengan menarik kesimpulan sendiri berdasarkan pendapat2 yang sumbernya tdk jelas. ini penting sekali, dalam segala bidang.

anda2 semua tidak paham sama sekali ttg syariat, saya yakin sekali, kalau anda paham, maka anda akan mendukung (tapi tetap dalam keimanan anda), karena islam tidak mengharuskan seseorang memeluknya.

Al Baqarah:256
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

pertama2, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, dan siapakah yang lebih mengerti ttg ciptaan kalau bukan penciptanya, Tuhan YME. islam diturunkan sebagai pedoman hidup umat manusia, ibaratnya kalau anda beli barang elektronik, dibungkusnya juga disertakan buku manual, panduan ttg cara pakai barang itu.

islam adalah solusi utk segala macam masalah yang timbul didunia, ekonomi, sosial, politik, dll. dan nabi Muhammad adalah seorang contoh yang sempurna dalam mengamalkan seluruh ajaran islam ini.

contoh: alkohol
umat islam dilarang minum minuman yang memabukkan, kenapa? anda pernah lihat orang mabuk? menyebalkan bukan? dia tidak sadar dengan dirinya sendiri, ngomong juga asal, orang mabuk bisa2 menyetubuhi ibunya sendiri. lalu apa solusinya? tdk boleh minum kalo belum 17 tahun? lalu klo yang minum umur 25 trus mabuk gmn? apakah klo setiap kali minum harus sedikit saja, dengan batasan? tidak bisa, namanya manusia, sekali diberi pasti minta lebih. maka dari itu, islam memberi solusi, alkohol dilarang (bukan alkohol), meskipun setetes saja. lalu kenapa alkohol diciptakan? semua yang diciptakan Allah ada manfaat dan dampak negatifnya, alkohol jelas ada manfaatnya, lalu apakah meminumnya menimbulkan manfaat?

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” QS 5:90

contoh: poligami
wah, kayaknya ini topik yang “panas” (kalau memang belum mengerti), kenapa Allah memperbolehkan poligami? tentu ada alasannya dan ada pula persyaratannya coba kita lihat ayat2 Al Qur’an dibawah;

[i][1] Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

[2] Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

[3] Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

[4] Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.[/i]

Allah mengijinkan pria utk menikahi (max) 4 wanita, namun, jika tidak sanggup berbuat adil, maka cukup 1 saja. anda tau artinya adil kan? lalu kalau ada praktek poligami di masyarakat yang tidak sesuai dengan islam, entah dia tidak adil, tidak ijin dgn istri pertama, dll, yang salah peraturannya atau orangnya?
Lalu sekarang, kenapa Allah memperbolehkan poligami? wahai para wanita, saya tanya, bagaimana perbandingan jumlah penduduk wanita dan pria di indonesia? gmn perbandingannya di asia? gmn perbandingannya di dunia? contoh di Amerika. jumlah wanita 5 juta lebih dari jumlah pria, lalu jika semua pria menikah dengan 1 wanita, yang 5 juta mau dikemanain? itu belum laki2 yang homo lho.

Poligami adalah solusi/jalan keluar atas masalah jumlah pria dan wanita, bukan merupakan trend hidup/sesuatu yang wajib dilakukan setiap muslim (laki2).

inilah contoh2 syariah islam dalam kehidupan sehari2, masih banyak lagi hukum2 syariah yang ada. dalam hidup berdampingan dengan umat agama lain, islam sangat menjaga hak2 para pemeluk agama lain, mereka boleh beribadah, mereka boleh melakukan apa saja dalam batas2 hukum yang berlaku. udh nonton ayat2 cinta blm? atau baca novelnya? bagaimana tokoh utama disitu membela orang amerika dari serangan orang2 mesir lokal.

lihatlah segala masalah dengan mata hati anda, jgn dengan emosi dan akal saja. apalagi kalau anda mengaku orang yang berpendidikan.

semoga bermanfaat.

menurut gw sih peraturan apapun itu ga ada masalah…
justru dengan adanya syariat islam akan semakin menambah iman percaya umat kristiani,jadi tidak perlu mempersoalkan atau takut…( sori bro…apa yang kamu bilang hanya berdasarkan penilaian semata kamu,bukan poling).

soal poligami…itu hak umat islam boleh ato tidaknya dan bukan dan seperti kamu bilang punya alasan tertentu…
tp bagi orang kristen poligami itu tidak dibenarkan…thx

@ Bro Militan, thx buat penjelasannya, kita jadi mengerti tentang syriat Islam. :coolsmiley:

Dari seluruh penjelasan anda, bisa dibilang kalau Hukum-hukum Islam, tidaklah sesuai dengan hukum-hukum agama-agama lain yang ada di Indonesia, saya tidak bilang itu tidak baik. Tp mengingat agama yang ada di Tanah Air kita ini, bukan hanya agama Islam saja, pendapat aku pribadi, syariat Islam tidaklah sesuai jika diterapkan di Negara Bhinneka Tunggal Ika ini, setiap orang/ individu bebas memilih agama apapun yang sesuai dengan ideologinya, Namun jika Negara mengambil salah satu Ideologi atau Hukum secara mutlak dari salah satu Aliran (baik itu agama ataupun aliran lainnya), apakah itu adil? lain halnya jika Negara mengambil dari semua agama, lalu memilah dan mengambil yang sesuai serta dapat menjembatani seluruh perbedaan yang ada, itu baru adil.

Dari seluruh apa yang anda jabarkan, anda hanya mengambil sudut pandang dari agama yang anda anut yaitu Islam, saya maklumi hal itu.

Ada lagi teman-teman lain yang mau memberikan pendapatnya :happy0062:

yah bro militan, namanya juga pendapat iya ngga? kalo kita ngeliat ya sepertinya kurang bagus lho syariat islam diterapkan di indonesia, kan di indonesia ngga semuanya punya agama islam, apa mampu semua masyarakatnya dengan peraturan ini? saya rasa ngga deh. negara indonesia adalah NEGARA berAGAMA dan bukan NEGARA AGAMA :wink: so… bagi pemerintah yang ingin menerapkan peraturan ini boleh liat2 juga atau ‘sadar’ masih ada agama yang lain gitu lho…

satu lagi ya… bro, bagi saya pribadi POLIGAMI bukanlah solusi seperti yang anda bilang di posting atas, masa dengan jumlah cewe yang lebih banyak dari cowo itu bisa dibilang “sah” untuk berpoligami asalkan “adil”?

untuk film ayat2 cinta ngga perlu dibahas, temen saya yang adalah pemeluk islam aja ngga suka dengan poligami kok padahal dia cowo dan dia sampe bikin status Ayat-ayat Syaitan… :rolleye0019: bagi saya kalo mo diliat dari segi romantisme ya bolehlah, tapi dari edukasi ngga bagus tuh… :wink: (my opinion)

kalau gw nerapin syriat Islam di indonesia, gw nga setuju, negara indonesiakan negara republik bukan negara agamais, negara agamais aja cumen nerapkan syriat Islam untuk mereka yg beragama islamkan, kalo skrg mau nerepin syriat Islam di indonesia nga bisa donk harus kesepakatan 5 agama, kan qta berlandaskan bhineka tunggal ika bukan berlandaskan agama masing2, kalau pgn ganti landasan buka negara sendiri lagi kali yah? (emang pesawat ganti landasan? :ashamed0004:)
lagian ngapain sih ngurusin kyk gt?
mending urusin tuh bbm mau naek kasian rakyat miskin tambah byk di indonesia n udah byk yg mati kelaparan.
thx u

Syariat islam…? enggak banget tuh…! itu namanya pemaksaan terhadap orang lain. Melanggar Hak Azasi manusia…!

udah ada kan… liat aja tu Aceh!!! heheeee…

Ketika melihat fungsi keseluruhan syariat, seharusnya Islam mengintegrasikan semua aspek realitas dengan memberikan perspektif moral terhadap kehidupan manusia. ketika Islam menjadi sebuah ideologi dalam program aksi dari sekelompok orang yang berkepentingan, maka ia akan kehilangan kemanusiaannya dan menjadi medan perang di mana moralitas, nalar, dan keadilan siap dikorbankan demi emosi ideologis semacam itu. syariat harus dipandang secara holistik, yaitu bahwa setiap aspek hukum atau ketentuannya terkait secara vertikal maupun horizontal dengan aspek lainnya. Dengan kata lain, syariat harus lebih mengutamakan prinsip etisnya. Pen-sakral-an syariat yang dipaksakan oleh masyarakat yang ada ini sebenarnya warisan dari masa lalu yang masih dibawa dan dilestarikan zaman sekarang. Di lain pihak, kita bersama telah sepakat untuk melihat perjumpaan Islam dan agama lain (yang berdampak pada kekerasan) sebagai sebuah fenomena yang berakibat fatal pada kelestarian hidup manusia. menegakkan syariah tanpa negara Islam itu merupakan pelanggaran terhadap Islam dan itu sangat jelas menunjukkan jikalau mereka yang ingin menegakkan syariah ini tidak paham tentang tata negara. Memang benar Muslim mempunyai dua tugas yaitu, sebagai Muslim yang harus menegakkan Islam dan tugas sebagai “khalifah” yang baik. Oleh karena negara kita Indonesia ini bukan milik satu orang / sekelompok orang, maka ditegaskan kembali bahwa mendirikan negara Islam itu tidak wajib. Dengan diadakannya PERDA berbasis syariat Islam itu mengundang kecemburuan sosial yang tinggi. Selain itu, bertolak belakang pula dengan fungsi dan peran syariat itu sendiri pada masyarakat yang majemuk (bukan hanya Islam). Ketika syariat itu bukan berada pada negara Islam sendiri, maka yang berlaku guna mengembangkan moralitas bangsa adalah norma-norma etika yang dimiliki syariat. Bukan malah menjadi suatu acuan sakral yang harus dijalankan demi terwujudnya emosi ideologis yang berkuasa. Dengan kata lain, adanya unsur kepentingan penguasa juga bermain dalam permainan syariat pada aras PERDA. Pelegitimasian dan pen-sakral-an mampu menutupi maksud tersembunyi dari penguasa yang hendak berlaku semena-mena. Apakah itu wacana umat Islam zaman sekarang? Tentu bukan. Hanya segelintir orang saja yang melakukan demikian, namun, dampaknya besar sehingga membawa nama institusi yang berakhir pada rasialisme. (baca: Ziauddin Sardar, Kembali ke Masa Depan: Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah. Jakarta: Serambi. 2005)

:huh:weleh-weleh, tp kenapa dalam urusan negara teraman versi PBB adalah Arab saudi yah???notabene nerapin aturan islam.bingung???