Teologi Kemakmuran :)

saya telah puluhan kali mengikuti ibadah di gereja protestan, khususnya di GPdI, sampai pada pecahan2nya misal; GBI, Tiberias, Bethel, dll… setidak2nya ada hal yang saya tangkap dari pengalaman saya itu. dan melalui forum ini ingin saya bagikan pengalaman dan pendapat saya.

semoga bisa ditanggapi oleh yang “merasa”, khususnya untuk umat gereja yg saya sebut itu.

umat gereja yg saya sebut diatas pasti sangat akrab dengan ayat ini:

Maleakhi 3:10
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

ayat itu biasanya di pasang di amplop perpuluhan. mungkin untuk memberi motivasi dalam menyumbang perpuluhan.

beberapa kesaksian tentang yg memberi perpuluhan:

http://www.gpdi-lippocikarang.com/index.php?option=com_search&Itemid=99999999&searchword=tingkap&searchphrase=any&ordering=newest&limit=25&limitstart=0

dan setiap ibadah, lagu ini sering dinyanyikan:

" umur panjang ditangan kanan,
ditangan kiri kekayaan… dan kehoorrmataan…
… sampai slamanya…"

sama ga dengan gereja mu teman? :slight_smile:

ok langsung saja…

[b]

  1. Latar belakang teologi kemakmuran.[/b]

Teologi kemakmuran mulai dipopulerkan di Amerika pada waktu belakangan ini, terutama dengan menjamurnya televangelist yang cukup populer, dengan gaya penginjilan yang khas dan berapi-api. Secara prinsip, teologi kemakmuran mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan berkat spiritual, namun terutama adalah berkat kesehatan dan kekayaan. Dan kerap kali kesehatan dan kekayaan dapat diterima sebagai akibat dari tindakan menabur (seeding), yaitu dengan memberikan perpuluhan. Bahkan dikatakan bahwa kekayaan adalah suatu tanda bahwa akan kasih Tuhan kepada umat-Nya.

Kita dapat melihat akan beberapa pernyataan dari beberapa televangelist maupun pendeta-pendeta terkenal, salah satunya adalah Joel Osteen yang mengatakan di salah satu kotbahnya:

“Bagaimana untuk hidup dalam kemenangan total? YESUS yang mati, telah bangkit pada hari ke-tiga. YESUS berkata “karena saya hidup, maka engkau juga akan memperoleh kehidupan.” Diinterpretasikan bahwa YESUS menginginkan kita semua untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan: hidup yang bukan dipenuhi dengan kebiasaan buruk, bukan hidup yang biasa-biasa saja. Bukan kemenangan setengah-setengah, di mana kita mempunyai keluarga yang baik, kesehatan yang baik, namun senantiasa mempunyai masalah dengan masalah keuangan. Ini bukanlah kemenangan yang total. Kalau Tuhan melakukan sesuatu di satu area, Dia akan melakukan juga di area yang lain. Orang yang mengalami masalah kesehatan dan menerimanya sebagai sebuah salib, adalah tidak benar, karena YESUS telah membayar semuanya, sehingga kita dapat bebas secara total – yang berarti bebas dari kebiasaan buruk maupun kecanduan, bebas dari ketakutan dan kekuatiran, bebas dari kemiskinan dan kekurangan, bebas dari kerendahan diri. Karena YESUS telah membayar harga agar kita bebas, maka kita harus bebas secara total. Untuk dapat bebas, maka kita harus tahu siapa diri kita, yang adalah anak-anak Allah, yang bukan orang-orang yang biasa, telah direncanakan oleh Allah sebagai pemenang, yang mempunyai kesehatan yang baik, dan juga banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan, …”

Kalimat-kalimat di atas adalah merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga diri yang baik, kesehatan yang baik, dan juga mempunyai kekayaan – sebagai manifestasi dari kebebasan yang total, yang seolah-olah ditawarkan oleh YESUS, karena YESUS telah membayar lunas seluruhnya. Dikatakan, dengan pengorbanan KRISTUS, maka seluruh umat Allah harus hidup dalam kelimpahan, termasuk dalam urusan kesehatan dan kekayaan. Namun, apakah benar bahwa pesan ini adalah sesuai dengan semangat Injil?

2. Pengaruh materialisme terhadap teologi kemakmuran.

Kalau kita melihat secara lebih cermat, maka kita dapat melihat bahwa materialisme yang melanda dunia ini mempengaruhi teologi kemakmuran. Dunia yang dilanda materialisme – paham di mana kesuksesan, kehormatan dan kemampuan seseorang menjadi parameter apakah seseorang menjadi berharga atau tidak, masuk ke dalam teologi kemakmuran. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan teologi kemakmuran yang baru marak di abad ke-20 ini, di mana materialisme melanda dunia dalam segala bidang.

Materialisme – paham yang percaya bahwa yang benar-benar ada adalah sesuatu yang bersifat materi – memberikan pengaruh kepada teologi kemakmuran. Rahmat Allah yang terbesar – yaitu janji akan kebahagiaan Sorgawi – direduksi menjadi kebahagiaan yang bersifat duniawi dan bersifat material, seperti rumah, kesehatan, kekayaan. Dengan demikian, efek dari pengorbanan KRISTUS di kayu salib direduksi menjadi kebahagian semu yang ada di dunia ini. Alasan untuk mendapatkan kebahagiaan material yang dibayar dengan pengorbanan KRISTUS, rasanya menjadi terlalu murah dan terlihat menjadi kesia-siaan, karena memang KRISTUS bukan datang ke dunia untuk memberikan kebahagiaan duniawi namun kebahagiaan sorgawi. Mari kita membandingkan teologi kemakmuran dengan prinsip-prinsip Alkitab.

so,…

Apakah kebahagiaan itu?
dan bagaimanakah spirit Kristen yg sejati?
bagaimanakah dengan ayat (satu saja dulu :slight_smile: ) :Lukas 9:23

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

apa yang dimaksud dengan berkat kelimpahan?

Tuhan dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa orang miskin dan tertindas adalah yg berbahagia, dan memiliki kerajaan surga.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mt 5:3)

ustad juga bilang: cobaan itu bukan hanya kemalangan, tapi kesuksesan juga bisa menjadi cobaan. orang kaya, sehat, lebih mudah lupa pada Tuhan (secara psikoloigis) kalau udah lupa… kan bahaya… :slight_smile: saya kenal pendeta besar yg demikian, saya kenal “sebagai orang dalam” namun umatnya justru tidak tau karena mereka memang bukan “orang dalam”

kalau menurut saya sih, kothbah yg saya ikuti digereja-gereja itu lebih mirip seminar sukses yg juga banyak saya ikuti. tapi gereja harusnya semua tentang spiritual.

bukan spiritual yg ujungnya material, tapi apapun harus berujung pada spiritualitas. karena tujuan manusia adalah spirtualitas, karena manusia juga makhluk spiritual.

salam

ond32lumut :afro:


ibadah di tempat saya memang menghimbau adanya sersepuluhan
tetapi tidak disisipi dengan iming2 teologi kemakmuran
hukum tabur tuai, dsb

so…bro onde…kayanya semua tergantung ke Gembalanya deh
bukan ke “nama” gerejanya

Ini pun tergantung cara kita memandang juga

yup juga…
orang yang tulus ikut Yesus ngga akan teriming2i oleh Teologi Kemakmuran :smiley:

itulah perlunya hubungan pribadi dengan Tuhan selain di gereja. keduanya saling melengkapi, Gereja dan hub pribadi sama2 diperlukan.
kembali ke motivasi kita saja

Bro Ond3, kita mengalami hal yg sama :slight_smile: Coba deh cari arti gereja yg sebenarnya. Di dalam gereja yg sebenarnya, gereja yg kekal, tidak ada hal2 smacam itu… Dan di gereja itulah kita bisa benar2 bertemu Bapa yg ada di tempat yg tersembunyai.

saya kira memang begitu sista… dan semoga saja begitu, :slight_smile: di KKR 2 / di tipi2 (john hartman)“menurut saya” juga menganut teologi itu. saya juga di GBI sekitar 3 tempat semua sama.

namun sebenarnya saya ga ingin bahas yg subyektif, saya hanya ingin tahu apakah theologi kemakmuran itu bisa dibenarkan menurut teman2 dan ajaran protestan? :slight_smile: thx…

so, dengan contoh2 yg saya sebut diatas, bagaimana cara pandang anda? :slight_smile:

se 7… yg jelas “Spiritnya”… :slight_smile: aplikasinya boleh sama, tapi jika spiritnya beda akan memberi makna dan nilai yg beda juga. thx

Bagaimana bisa menginjil tanpa dana?

Yesuspun punya bendahara yang mengatur penerimaan dan pengeluaran / pembiayaan mereka dalam penginjilan Nya.

menurut gw pribadi gak tepat tu…karena berarti kalo ada umat kristen yang gak berkecukupan tu tandanya dia gak sungguh2 dong?? karena pernah saya denger kesaksian bahwa di daerah2 terpencil banyak hamba2 Tuhan yang secara materi hidup dalam kekurangan…nah berarti mereka gak sungguh2 dong pelayanannya?

makanya, anda pun juga bisa membantu dalam pelayanan ke pedesaan
kasihan mereka.

maksudnya? hubungannya dengan teologia kemakmurannya dimana?

Justru saya lihat menjadi makmur pun bukanlah menjadi dosa, asal kita tahu Tuhan lah yang memberi dan semua harus digunakan untuk kemuliaanNya(dalam keluarga, dalam hidup kerja, dan berjemaat. serta menjadi terang)ok^^
Tuhan Yesus memberkati anda

ada 2 cerita untuk direnungkan sejenak saja :slight_smile:

cerita 1

ada seseorang yg sudah ikut gereja 40 tahun tapi hidupnya masih serba kekurangan materi

apakah hal itu adalah TANDA bahwa orang tsb tidak sungguh-sungguh ?

bahkan beberapa teman Kristen kaya meledeknya “dia pasti punya banyak dosa”. hidupnya pasti ga benar.
karena dosa itulah dia masih miskin walaupun sudah ke gereja 40 tahun.

kalau hidupnya benar. dalam waktu 2 minggu saja dia pasti sudah kaya.
salah sendiri dia hidup dalam dosa selama 40 tahun seperti bangsa Israel

cerita 2

ada seseorang lain lagi yaitu Rasul Paulus.

Rasul Paulus dipenjara . bahkan setiap suratnya ditulis di penjara.

imajinasikan sejenak.

seorang pendeta besar bernama Paulus hidup di penjara

menurut kacamata teologi kemakmuran
YESUS memang hanya memberi kemenangan yg setengah-setengah kepada Paulus.

dari segi keluarga :
Paulus tidak punya istri
Paulus tidak punya anak

dari segi ekonomi :
Paulus tidak kaya

dari segi sosial :
Paulus dipenjara berkali-kali.

jadi menurut teologi kemakmuran
YESUS memang hanya memberi kemenangan yg setengah-setengah kepada Paulus.

bagaimana pandangan anda setelah merenungkan 2 cerita diatas

teologi kemakmuran = orang Kristen WAJIB kaya

Apakah Teologi kemakmuran sudah sesuai dengan ajaran YESUS ?

kalau saya pribadi, tidak setuju dengan teologi kemakmuran

same here :slight_smile:

saya pribadi juga tidak setuju dengan TOLOLGIA teologi kemakmuran

saya suka dengan ceritanya bro repento…tidak sesuai…berkat yang Tuhan maksud itu tidak melulu harus materi…

memang yang penting adalah cara pandang dan hati kita
Kekristenan bukanlah masalah harta , tetapi kebenaran di dalam Kristus Tuhan
dan kaya maupun “miskin” semua punya kesempatan
yang penting motivasi kita ke Yesus
Tuhan Yesus memberkati

persembahan = persepuluhan = 10% (seperti Pajak Pemerintah “PPN - Pajak Pertambahan Nilai”) :slight_smile:

Dalam Perjanjian Baru:

Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7)

Rasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.

YESUS mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)
YESUS menekankan akan hakekat dari pemberian, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. YESUS tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar perpuluhan.

maka Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.