TIDAK ADA BUKTI KETUHANAN YESUS !!!

  1. Bukti yang Tidak Memadai.

    Yesus lahir dalam keadaan suci. Orang Kristen sering menyebut berbagai keajaiban yang ditunjukkannya sebagai bukti ketuhanannya. Jelas, dasar pemikiran ini lemah. Di dalam Alkitab dikisahkan penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu (Kejadian 2), juga tentang mukjizat Nabi Elisa (2 Raja-raja 4,5,6). Bahkan, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa Melkisedek, raja Salem, adalah seorang imam yang tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, tidak berawal, dan tidak berakhir, karena ia sama dengan anak Allah (Kejadian 14:18; Ibrani 7:3). Meskipun ketiga pribadi tersebut secara umum memiliki kualifikasi yang sama dengan Yesus, tidak ada seorang Kristen pun yang menuhankannya.

Di dalam teks Alkitab, Yesus menggunakan istilah “anak manusia”, “anak Allah”, “mesias”, dan “saviour” (juru selamat), namun istilah2 tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang2 selain Yesus. Misalnya, Yehezkiel disebut sebagai “anak manusia” (Yehezkiel 3:1). Selain itu, Yesus menyebut para pembawa kedamaian sebagai “anak-anak Allah” (Matius 5:9). Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata “mesias” yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai “orang yang Kuurapi”. Misalnya, Koresy, raja Persia, diterjemahkan sebagai “orang yang Kuurapi” (Yesaya 45:1), padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Lihat juga Mazmur 2:2, dimana “mesias” yang menunjuk kepada Daud diterjemahkan sebagai “yang diurapi-Nya”, padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Sementara itu, ayat2 yang menunjuk kepada Yesus mereka terjemahkan dengan “mesias” atau padanan kata Yunani “kristus”. Dengan cara ini, mereka berusaha memberikan kesan bahwa hanya ada satu Mesias. Untuk orang selain Yesus, mereka menggunakan kata “penolong” (2 Raja-raja 13:5), tetapi untuk ayat2 yang menunjuk Yesus, mereka terjemahkan sebagai “juru selamat”, padahal sama2 mengemban misi “saviour”.

Persekongkolan dalam aktivitas penerjemahan modern dapat ditunjukkan dengan mudah. Alkitab King James 1611 tersebar secara luas. Bandingkan Alkitab tersebut dengan versi terjemahan yang lebih akhir, misalnya New American Bible. Pada Alkitab yang pertama, di dalam 2 Raja-raja 13:5 kita dapatkan kata “saviour”, sedangkan pada New American Bible, kata itu diganti dengan sinonimnya, “deliverer”.

Jelasnya, menurut Alkitab sendiri, “juru selamat” itu tidak hanya menunjuk kepada Yesus maupun Tuhan (Yesaya 43:3), tetapi juga menunjuk kepada orang2 lain selain Yesus, hanya saja mereka menerjemahkannya secara tidak fair (2 Raja-raja 13:5, Nehemia 9:27 dan Obaja 1:21, saviours, bentuk jamak).

Ada pernyataan lain yang dapat disebutkan di sini. Dalam Yohanes 8:58 dikatakan, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Seandainya Yesus bermaksud mengklaim bahwa ia telah hidup sebelum Abraham, apakah itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia adalah Tuhan? Orang Kristen mungkin tidak mengira bahwa Nabi Yeremia juga telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5). Seharusnya, mereka menafsirkan pernyataan di dalam Yeremia tersebut dengan cara yang sama ketika mereka menafsirkan Yohanes 8:58, yaitu secara harfiah. Namun, mengapa mereka tidak menerapkan pemahaman yang sama?

  1. Bukti yang Mendua.

Di dalam Yohanes 14:10 Yesus berkata, “…Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” dan di dalam Yohanes 10:30 Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Bahasa Yunani menerjemahkan “satu” dengan “hen”. Beberapa sarjana menegaskan bahwa satu2nya pemahaman yang mungkin dari kata tersebut adalah “satu dalam esensi atau wujud”. Namun, kedua pernyataan itu tidak berdasar, satu contoh untuk membantahnya sudah cukup. Kata2 yang sama dipakai oleh Yesus di dalam Yohanes 17:11,21,22,23 menunjukkan bahwa Yesus dan murid2nya berada di dalam satu kesatuan. Dengan demikian, kedua pernyataan yang dinisbahkan penulisnya ke dalam mulut Yesus di atas belumlah cukup untuk menunjukkan ketuhanan Yesus.

Kalimat lain yang sering dikemukakan oleh kalangan Kristen adalah apa yang dikatakan sebagai pernyataan Yesus di dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” Orang Kristen mengatakan bahwa kata “tunggal” dalam ayat itu secara khusus mengacu kepada Yesus, bukan “anak-anak Allah” yang lain. Ini juga menunjukkan sikap mereka yang tidak konsisten, sebab dalam Keluaran 4:22 dikatakan bahwa Israel adalah anak sulung Allah, dan dalam Yeremia 31:9 dikatakan bahwa Efraim adalah anak sulung Allah. Jadi, bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai anak tunggal Allah? Lebih jauh, kata “tunggal” juga terdapat dalam Ibrani 11:17 yang mengacu kepada Ishak. Sementara itu, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa kakak Ishak, Ismael, hidup lebih lama daripada ayahnya (Kejadian 25:9). Dengan demikian, Ishak tidak pernah secara tegas mengatakan dirinya sebagai anak tunggal Abraham. Sadar akan kejanggalan ini, sarjana Kristen tidak menafsirkan kata tersebut secara harfiah. Namun, mengapa hal itu tidak mereka terapkan juga pada Yohanes 3:16? Sekali lagi, sikap mendua ini membuktikan bahwa Yohanes 3:16 adalah bukti yang tidak meyakinkan.

Diakui atau tidak, istilah “Bapa” yang dipakai Yesus ketika ia berbicara dengan Tuhan juga menimbulkan kontroversi. Tetapi, pada kesempatan ini, kami sekedar ingin menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut oleh Yesus bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan adalah Bapa dari Yesus. Semua orang Kristen memakai kata “Bapa” ketika menyebut Tuhan. Bahkan, orang Yahudi pun memakai istilah itu (Yohanes 8:41).

Sementara itu, sarjana tertentu menggunakan ayat Markus 14:36 (yang di dalamnya Yesus menggunakan kata “Abba” untuk Bapa) sebagai landasan argumentasi. Menurut mereka, penggunaan kata “Abba” menunjukkan adanya hubungan yang sangat unik antara Yesus dan Tuhan, yaitu antara Tuhan Anak dan Tuhan Bapa. Namun, argumentasi ini sangat lemah karena bagian2 kitab suci seperti Roma 8:15 dan Galatia 4:6 menyebutkan bahwa setiap orang Kristen dianjurkan memakai istilah “Abba” jika menyebut Tuhan.

  1. Bukti yang Lemah.

Di dalam sebuah kisah dalam Perjanjian Baru (Yohanes 20:2Cool, disebutkan bahwa Tomas mengatakan, “My Lord and my God” (Tuanku dan Tuhanku). Orang Kristen bersikukuh bahwa Tomas menyebut Yesus dengan kedua sebutan itu. Orang Islam tidak keberatan terhadap istilah “lord” karena kata tersebut (sebagaimana dijelaskan di dalam Alkitab) mempunyai arti “tuan”, kecuali bagian2 tertentu dalam Perjanjian Lama, kata “lord” bisa disetarakan dengan “God”. Misalnya, dalam Mazmur 110:1 terdapat dua kata “lord”, yang pertama berarti “Tuhan”, sedang yang kedua berarti “tuan”. Sara juga memanggil suaminya dengan sebutan “Lord” (1 Petrus 3:6). Pendapat Tomas yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Tuhan” adalah masalah lain. Yesus menunjukkan bahwa kitab2 Perjanjian Lama sendiri menyebut orang2 sebagai “Allah” atau “God” (Yohanes 10:34, Mazmur 82:6), bahkan Musa diangkat Tuhan sebagai “Allah” atau “God” (Keluaran 7:1).

Menurut “doktrin trinitas”, perbedaan antara Bapa dan Anak adalah esensial. Namun, prinsip ini dikaburkan oleh Yohanes 14:9. Di sini Yesus berkata kepada seseorang bernama Filipus, “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” Pernyataan yang secara harfiah sangat tegas itu mengandung sebuah doktrin yang sulit diterima, yaitu Yesus adalah Bapa. Para penafsir mengatakan bahwa “Bapa” adalah sinonim “Tuhan”. Kita bisa memahami maksud ucapan yang dinisbahkan ke dalam mulut Yesus sebagai “melihat dia adalah sama dengan melihat Tuhan karena ia adalah Tuhan”. Padahal, penulis yang sama juga menuturkan di dalam Yohanes 5:37, yang merupakan pernyataan Yesus sebaliknya. Dalam ayat ini, Yesus berkata mengenai Bapa kepada orang banyak, “…Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat.” Jelaslah, bahwa Yohanes 14:9 adalah bukti yang lemah.

  1. Bukti secara Menyeluruh.

Orang Kristen bersandar pada ayat di dalam Yohanes 5:18, “…karena ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapanya sendiri dan dengan demikian menyamakan dirinya dengan Allah.” Mereka melewatkan ayat2 selanjutnya yang menjelaskan bahwa Yesus menundukkan dirinya di hadapan Tuhan dan menjelaskan kerendahan posisinya di hadapan Tuhan, bahkan secara tegas Yesus menyatakan dirinya sebagai rasul/utusan Tuhan (Yohanes 5:30-31).

Di dalam Matius 2:5, Yesus berkata kepada seorang yang lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Beberapa orang ahli Taurat yang hadir di situ merasa kaget dan bertanya2 di dalam hati, “Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah sendiri?” Sementara itu, di dalam ayat Yohanes 12:49 Yesus menafikan inisiatif pribadi dengan berkata, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.” Lihat juga Yohanes 8:40-42 yang sangat tegas menyatakan bahwa Yesus hanyalah seorang rasul/utusan Tuhan untuk umat Israel.

Yohanes 8:43-44
43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. 44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Dear Ajun, mau diskusi dengan saya? Sepakati dulu aturan mainnya, PM saja … 24 Jam non stop.

  1. Cuman orang guoblok yg menerima Yesus sebagai Tuhan hanya karena Ia dilahirkan secara ajaib, bisa atraksi sulap mujizat, dsb. Engga ada orang Kristen yg ajarannya orthodox yg pakai “remah2 roti” ini sebagai bukti keilahian Yesus.

  2. Melkisedek disebut seperti itu bukan karena dilahirkan tanpa peran laki2 dan perempuan, tapi karena ia dilahirkan sebagai yatim piatu dan silsilahnya tidak diketahui. John Wesely: "Without father, without mother, without pedigree - Recorded, without any account of his descent from any ancestors of the priestly order. "

Di dalam teks Alkitab, Yesus menggunakan istilah "anak manusia", "anak Allah", "mesias", dan "saviour" (juru selamat), namun istilah2 tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang2 selain Yesus. Misalnya, Yehezkiel disebut sebagai "anak manusia" (Yehezkiel 3:1). Selain itu, Yesus menyebut para pembawa kedamaian sebagai "anak-anak Allah" (Matius 5:9).
1. Anak-anak Allah adalah sebutan bagi umat Allah yg diadopsi Allah untuk menjadi kecintaannya.
  1. Yesus disebut Anak Tunggal Allah (Yohanes 1:14, 18) yg menunjukkan bahwa status dan kualitas beda dengan sekedar sebutan anak-anak Allah biasa. Yesus adalah Anak Tunggal Allah karena Ia adalah Firman Allah yg berinkarnasi. Allah adalah esa, sehingga esa pulalah Firman-Nya, dan oleh karena itulah Firman / Logos / Hikmat / Pikiran yg “dilahirkan” oleh Allah ini adalah Firman yg tunggal.

  2. Anak Manusia yg digunakan Yesus adalah beda.

Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.” (Matius 26:64-65)

Yesus justru menggunakan “Anak Manusia” untuk menunjukkan bahwa Ia adalah Mesias Ilahi yang dijanjikan dalam kitab Daniel:
“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (Daniel 7:13-14)

Perkataan Yesus yg gamblang bahwa pemerintahan Allah ada di tangan-Nya itu tentu saja adalah suatu penghujatan bagi orang Yahudi. Makanya Imam Besar mengoyakkan pakaiannya (Matius 26:65), karena siapapun yg pertama kali mendengar bentuk penghujatan harus merobek pakaiannya. Hal ini bisa dibaca dari sumber Yahudi sendiri:
“The blasphemer is not guilty until he have expressly uttered the Name. According to R. Jehoshua, the son of Karha, the witnesses throughout are examined by means of pseudonyms: for example " Jose strikes Jose.” But when the trial is over the sentence is not carried out under a pseudonym: all are sent out of the room except the chief witness, and it is said to him: “Say expressly what you heard.” He does so, whereupon the judges stand up and rend their clothes; and they may not mend them again. The second witness then says, “I heard the same,” and the third says, “I too heard the same.” (Mishnah Sanhedrin VII:5, bisa di-check online di http://sacred-texts.com/jud/tsa/tsa20.htm)

Merobek baju ini sebagai tanda “berkabung” (i.e. Kejadian 37:34) karena penghujat tersebut pasti dihukum mati. Jadi jelas, “Anak Manusia” yg digunakan Yesus adalah justru untuk menekankan keilahian-Nya, dan karena itu Sanhedrin / Mahkamah Agama menuduh-Nya sebagai penghujat Allah.

Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata "mesias" yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai "orang yang Kuurapi". Misalnya, Koresy, raja Persia, diterjemahkan sebagai "orang yang Kuurapi" (Yesaya 45:1), padahal kata asli Ibraninya adalah "mesias". Lihat juga Mazmur 2:2, dimana "mesias" yang menunjuk kepada Daud diterjemahkan sebagai "yang diurapi-Nya", padahal kata asli Ibraninya adalah "mesias". Sementara itu, ayat2 yang menunjuk kepada Yesus mereka terjemahkan dengan "mesias" atau padanan kata Yunani "Kristus". Dengan cara ini, mereka berusaha memberikan kesan bahwa hanya ada satu Mesias. Untuk orang selain Yesus, mereka menggunakan kata "penolong" (2 Raja-raja 13:5), tetapi untuk ayat2 yang menunjuk Yesus, mereka terjemahkan sebagai "juru selamat", padahal sama2 mengemban misi "saviour".
Engga cuman Koresy saja mas yg "diurapi"... semua raja2 israel juga "diurapi" waktu dilantik jadi raja.. batu yg dipakai Yakub tidur juga diurapi, lalu apa semua itu disebut Mesias?

Halah halah… jelasin dulu gih deskripsi yg lengkap mengenai Mesias di mata orang Yahudi, baru ngemeng…

Ada pernyataan lain yang dapat disebutkan di sini. Dalam Yohanes 8:58 dikatakan, "...sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Seandainya Yesus bermaksud mengklaim bahwa ia telah hidup sebelum Abraham, apakah itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia adalah Tuhan? Orang Kristen mungkin tidak mengira bahwa Nabi Yeremia juga telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5). Seharusnya, mereka menafsirkan pernyataan di dalam Yeremia tersebut dengan cara yang sama ketika mereka menafsirkan Yohanes 8:58, yaitu secara harfiah. Namun, mengapa mereka tidak menerapkan pemahaman yang sama?
Sejak kapan "keluar dari kandungan" = " telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5)"? [b]Bisa baca engga sih?[/b]

Yeremia 1:5 yang berbunyi “…sebelum engkau keluar dari kandungan…”, sementara Yesus berkata Ia sudah ada sebelum Abraham ada, dan bahkan sebelum dunia ada (Yohanes 17:5). Ini justru memperjelas perbedaan antara Yeremia (nabi biasa) dan Yesus (Allah). Ayat tersebut jelas2 menyatakan klaim pre-eksistensi Yesus sebelum segala jaman (bandingkan Yohanes 8:58-59), sementara Judaisme menolak pre-eksistensi roh manusia selain Roh Allah sendiri.

Memang Yohanes 10:30 bukan satu dalam artian Co-Substance lagi. John Calvin pun juga beranggapan yg sama. Yang benar adalah satu dalam artian Co-Equal kuasa Bapa dan kuasa Yesus. Silahkan lihat konteks Yohanes 10 sebagai bukti.

Pada Yohanes 10:28, Yesus mengatakan “seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”.
Pada Yohanes 10:29, Yesus mengatakan “seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

Mengenai kata ‘tangan’, anda bisa melakuka check terhadap kitab Anagioskomeina (Gereja Barat menyebut sebagai Deuterokanon) Kebijaksanaan Salomo / Wisdom 3:1: “But the souls of the righteous are in the hand of God, and there shall no torment touch them.”

Terlihat jelas bahwa ‘tangan Yesus’ memiliki kuasa yang sama asal dan besarnya dengan ‘kuasa Bapa’, bahwa Yesus menyamakan tangan-Nya dengan tangan Bapa. Co-equal Bapa dan Anak ini bisa dilihat pada ayat selanjutnya: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).

Namun, kedua pernyataan itu tidak berdasar, satu contoh untuk membantahnya sudah cukup. Kata2 yang sama dipakai oleh Yesus di dalam Yohanes 17:11,21,22,23 menunjukkan bahwa Yesus dan murid2nya berada di dalam satu kesatuan.
Engga ada yg salah: kata "satu" dalam Yohanes 17 adalah satu dalam hal kesamaan visi. Tapi Yohanes 10:30 adalah beda.
Kalimat lain yang sering dikemukakan oleh kalangan Kristen adalah apa yang dikatakan sebagai pernyataan Yesus di dalam Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..." Orang Kristen mengatakan bahwa kata "tunggal" dalam ayat itu secara khusus mengacu kepada Yesus, bukan "anak-anak Allah" yang lain. Ini juga menunjukkan sikap mereka yang tidak konsisten, sebab dalam Keluaran 4:22 dikatakan bahwa Israel adalah anak sulung Allah, dan dalam Yeremia 31:9 dikatakan bahwa Efraim adalah anak sulung Allah.
Israel adalah anak sulung Allah dalam artian bahwa melalui bangsa ini keselamatan akan turun pula kepada bangsa2 lain. Apanya yg engga konsisten? Pikiranmu?
Jadi, bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai anak tunggal Allah?
Yesus adalah inkarnasi Firman Allah (Yohanes 1:1). Allah adalah esa sehingga esa pula Firman-Nya. Firman / Logos / Rasio satu2nya dari Allah yg satu2nya ini yg disebut Anak Tunggal Allah (Yohanes 1:14).
Lebih jauh, kata "tunggal" juga terdapat dalam Ibrani 11:17 yang mengacu kepada Ishak. Sementara itu, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa kakak Ishak, Ismael, hidup lebih lama daripada ayahnya (Kejadian 25:9). Dengan demikian, Ishak tidak pernah secara tegas mengatakan dirinya sebagai anak tunggal Abraham.
Ishak adalah anak tunggal dalam hal Perjanjian Allah kepada Abraham. Perjanjian Allah [b]hanya[/b] diberikan kepada Ishak, sementara Ismael mendapat berkat 7 kerajaan melalui keturunannya. Itulah sebabnya Ishak disebut sebagai anak tunggal.
Sadar akan kejanggalan ini, sarjana Kristen tidak menafsirkan kata tersebut secara harfiah. Namun, mengapa hal itu tidak mereka terapkan juga pada Yohanes 3:16? Sekali lagi, sikap mendua ini membuktikan bahwa Yohanes 3:16 adalah bukti yang tidak meyakinkan.
Mendua apa? Situ yg harus meneliti sumber kopi-pastenya..
Semua orang Kristen memakai kata "Bapa" ketika menyebut Tuhan. Bahkan, orang Yahudi pun memakai istilah itu (Yohanes 8:41).
By God's adoption.. jd engga ada yg salah.

Sebagai Sang Firman / Rasio / Hikmat yg ‘dilahirkan’ oleh Bapa (seperti saya melahirkan pikiran2 saya), Yesus adalah beda dengan umat Allah yg menyebut Bapa sebagai bukti God’s adoption terhadap umat kesayangan-Nya.

3. Bukti yang Lemah.

Di dalam sebuah kisah dalam Perjanjian Baru (Yohanes 20:2Cool, disebutkan bahwa Tomas mengatakan, “My Lord and my God” (Tuanku dan Tuhanku). Orang Kristen bersikukuh bahwa Tomas menyebut Yesus dengan kedua sebutan itu. Orang Islam tidak keberatan terhadap istilah “lord” karena kata tersebut (sebagaimana dijelaskan di dalam Alkitab) mempunyai arti “tuan”, kecuali bagian2 tertentu dalam Perjanjian Lama, kata “lord” bisa disetarakan dengan “God”. Misalnya, dalam Mazmur 110:1 terdapat dua kata “lord”, yang pertama berarti “Tuhan”, sedang yang kedua berarti “tuan”.


Jadi kamu Islam… okay…

  1. Coba kamu tanya orang Kristen di Inggris. Kira2 ketika mereka menyebut Yesus sebagai Lord, maka yg mereka maksud adalah Tuhan ataukah hanya sekedar tuan?

  2. Lord (Inggris) = Kyrios (Greeka) = Adonay (Hebraika) = Rabb (Arabic). Kenapa kamu menerjemahkan ‘rabb’ pada aulloh swt sebagai Tuhan dan bukan sekedar tuan? Jawabnya adalah karena basic presupposition-mu bahwa aulloh=penguasa langit dan bumi. Lalu kenapa orang Kristen menerjemahkan ‘rabb’ pada Yesus sebagai Tuhan dan bukan sekedar tuan? Jawabannya sama.

  3. Kata “Tuhan” (“Kyrios”) yang digunakan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru mempunyai 3 latar-belakang:

a. Kata ini menterjemahkan kata “YHWH” sebagai Nama Allah sendiri dalam Alkitab Ibrani. Orang Yahudi menganggap kata ini sangat suci sekali sehingga takut untuk mengucapkannya, sebagai gantinya setiap ada kata “YHWH” ini mereka baca dengan bunyi “Adonay” (“Tuhanku”). Pada waktu Alkitab Ibrani diterjemahkan oleh ummat Yahudi ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), maka setiap kali ada kata “YHWH” bunyi bacaannya (Qere) “Adonay” (Yunaninya: Kyrios) itulah yang ditulis (Ketiv) dalam terjemahan. Maka “Kyrios” bermakna Nama Allah sendiri.

  1. Kata Kyrios dalam makna harafiahnya menunjuk kepada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang dipertuan. Pada saat Yesus hidup di atas dunia ini kata “Kyrios” yang digunakan orang-orang sezamanNya untuk menyapa Dia seharusnya memang dimengerti sebagai sebutan penghormatan saja: ”Tuan, Pak, Master, Sir”.

  2. Namun ketika Yesus telah dimuliakan, sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) untuk Yesus ini mempunyai makna sebagai “Penguasa” dalam hal tauhid uhulliyah. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) di sini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Yesus Sang Penguasa”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini: “…Yesus adalah Tuhan… Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “Allah, yang membangkitkan Tuhan…” (I Korintus 6:14) “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Korintus 8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Ayat-ayat di atas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini.
    Sejak kapan Yesus menerima gelar “Tuhan” ini? Sejak kebangkitanNya. Karena sesudah bangkit dari antara orang mati Dia mengatakan kepada para muridNya: “KepadaKu telah diberikan (berarti: ada yang “memberikan”, yaitu Allah sendiri) SEGALA KUASA (Kepenguasaan mutlak: Jabatan Tuhan) di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Dengan demikian karena Allah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”. Yesus diangkat sebagai Penguasa Mutlak atau “Kyrios” (“Tuhan”) ini memiliki tiga tujuan:

  • Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Adam yang terakhir yang telah memulihkan kepenguasaan Adam atas alam, yang hilang karena kejatuhan.
  • Untuk menunjukkan bahwa Yesus yang manusia itu sungguh-sungguh Kalimatullah yang menjelma sebagai manusia. Karena Allah selalu melaksanakan kepenguasaanNya atas alam melalui kalimatNya, sekarang kuasa yang sama atau ke-Tuhan-an Allah yang sama dan hanya satu itu, dilaksanakan melalui manusia Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut Tuhan, dengan demikian Yesus tetaplah Kalimatullah yang satu dan yang sama, karena melalui Kalimatullah itu Allah melaksanakan kuasa KetuhananNya sendiri. Dengan demikian baik Allah maupun KalimatNya tak berubah, baik dalam hakekatNya maupun dalam hubunganNya, meskipun Kalimat itu telah nuzul sebagai manusia.
  • Untuk tujuan keselamatan manusia, karena dengan kuasa mutlak sebagai “Penguasa” atau “Tuhan” ini Yesus Kristus akan mengubah tubuh manusia yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia pada Hari Kebangkitan nanti (Filipi 3:20-21).

Itulah makna kata “Tuhan” yang dikenakan kepada Yesus Kristus, maka jelas jika kita sekarang menyebut “Tuhan Yesus Kristus” maka makna ketiga itulah yang kita maksud. Sedangkan ketika para Malaikat (Lukas 2:11) menyebut Kristus sebagai Tuhan, dan terutama sekali ketika Elisabet menyebut Maria sebagai “Ibu Tuhan” (Lukas 1:43), jelas yang dimaksud bukan makna ketiga ini, karena Yesus baru atau belum lahir, belum bangkit, dan belum dimuliakan. Bukan pula makna kedua, karena seorang bayi tak akan disebut “Pak” atau “Tuan”, namun itu menunjuk makna pertama “Kyrios” (“YHWH”), yaitu sebagai Nama Allah sendiri, untuk menunjuk bahwa bayi yang sedang lahir itu adalah “YHWH” yaitu “Firman YHWH” sendiri yang sedang menjelma sebagai manusia.

Yesus menunjukkan bahwa kitab2 Perjanjian Lama sendiri menyebut orang2 sebagai "Allah" atau "God" (Yohanes 10:34, Mazmur 82:6), bahkan Musa diangkat Tuhan sebagai "Allah" atau "God" (Keluaran 7:1).
[u][b]Mazmur 82:6-7:[/b][/u] Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. Namun seperti manusia kamu akan mati dan [b]seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas[/b]."

Bahasa Hebrew: miskin struktur tapi kaya ekspresi. Sama2 menggunakan kata ‘elohim’, tapi orang Yahudi mudah membedakan kapan kata tersebut berarti ‘YHWH’ atau berarti yang lain. Dan ayat di atas adalah contoh penggunaan ‘elohim’ untuk arti yg lain.
Kata “kamulah allah” merupakan sindiran keras untuk para hakim yg sewenang2 memegang kekuasaan yang diberikan. Karenanya mereka akan mati seperti pembesar2 culas terdahulu.

Yohanes 10:34
Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?

Pada ayat tersebut, Yesus secara sengaja mengutip Mazmur 82:6 karena konteks yang sama, yaitu sama2 menghadapi para pemimpin (dalam hal ini pemimpin agama) yang licik dan semena2 dalam menjalankan wewenangnya.

Keluaran 7:1
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.

Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai ‘Allah’, tetapi ada tambahan kata-kata ‘bagi Firaun’. Ini jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti sesungguhnya, karena tidak mungkin Allah bersifat ‘lokal’ bagi Firaun seorang.

Lalu bagaimana mengartikannya?

…I have made thee a god to Pharaoh…
–“made,” that is, set, appointed; “a god”; that is, he was to act in this business as God’s representative, to act and speak in His name and to perform things beyond the ordinary course of nature… (Eksposisi Jamieson, Fausset, Brown)

Saat itu, Allah memang memberikan wewenangNya kepada Musa untuk menegur Firaun. Hanya saat itu saja, tidak lebih. Lalu apakah batasan ‘lokal’ ini anda temukan pada Yesus. Tidak. Alih2 dibatasi, Alkitab justru mengatakan bahwa penciptaan langit dan bumi adalah melalui Yesus (Yohanes 1:3) yang berarti Ia adalah Allah dalam arti sebenar.

Menurut "doktrin trinitas", perbedaan antara Bapa dan Anak adalah esensial. Namun, prinsip ini dikaburkan oleh Yohanes 14:9. Di sini Yesus berkata kepada seseorang bernama Filipus, "...Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa..." Pernyataan yang secara harfiah sangat tegas itu mengandung sebuah doktrin yang sulit diterima, yaitu Yesus adalah Bapa.
[b]Trinitas opo?[/b] Doktrin Trinitas [b]tidak[/b] mengajarkan bahwa Yesus=Bapa. Yesus adalah Firman Bapa dan walaupun Firman Bapa ini di dalam Bapa,tapi Firman Bapa bukanlah Bapa itu sendiri.

1 Dzat 3 hypostasis: Bapa, Firman-Nya, dan Roh-Nya. Okay?

Makanya jangan asal ngemeng…

Para penafsir mengatakan bahwa "Bapa" adalah sinonim "Tuhan". Kita bisa memahami maksud ucapan yang dinisbahkan ke dalam mulut Yesus sebagai "melihat dia adalah sama dengan melihat Tuhan karena ia adalah Tuhan". Padahal, penulis yang sama juga menuturkan di dalam Yohanes 5:37, yang merupakan pernyataan Yesus sebaliknya. Dalam ayat ini, Yesus berkata mengenai Bapa kepada orang banyak, "...Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat." Jelaslah, bahwa Yohanes 14:9 adalah bukti yang lemah.
[b]Bukti lemah opo?[/b] Anda yg engga ngerti Yohanes 14:9.

Memang engga ada yg melihat Bapa, “…tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yohanes 1:18)
Bapa memang tidak pernah dilihat, tapi Yesus, Kalimatullah yg nuzul menjelma, yg menyatakan Sang Bapa. Makanya Yesus di Yohanes 14:9 berkata: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”

Jelas?

@ willie
Good explanation bro :afro:

Anyway… ngomong2 tentang bukti yg menyeluruh

Sebagai Orthodox Christian, biar saya jawab begini saja:

Keilahian dan karya penebusan Kristus adalah isi pokok berita (kerygma) dari para murid setia Yesus yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peristiwa turunNya Roh Kudus yang dijanjikan Kristus atas mereka, pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2). Kristus itulah inti Injil yang semula diberitakan secara lisan. Karena Kristus tak pernah menulis Kitab ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya, ini terjadi karena Dia sendiri adalah Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14). Lebih jauh lagi, Iman akan keilahian Kristus dan Gereja (Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru) dituliskan.

“Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus 1:20-21)

Setelah membaca Alkitab, muslim memandang Yesus hanya sebagai nabi biasa. Saksi Yehuwa, Arianisme, dan Unitarianisme memandang Yesus sebagai Tuhan yang posisinya 1 level di bawah Allah (demi-God / demiurgos). Mormonisme memandang Yesus sebagai Allah sejati yang benar-benar terpisah total dari Allah sang Bapa, dan sebagainya, dan sebagainya…
Lalu siapa yang harus dipercaya? Siapa yang benar?

Para pembaca Alkitab boleh memiliki pandangan yang berbeda atas arti Alkitab dan memelintir ayat-ayat Alkitab untuk kepentingan pribadinya, tapi semua orang waras pasti meyakini bahwa arti yang paling benar tentunya adalah yang dimaksud oleh penulis Alkitab (para rasul). Penafsiran yang paling benar akan kitab suci haruslah dengan menggunakan kacamata Para Rasul (yang menulis kitab-kitab Perjanjian Baru), dan kacamata rasuli tersebut tetap diteruskan secara turun-temurun kepada Gereja melalui garis khilafah rasuliah (suksesi apostolika) yang telah diberikan kuasa untuk mengajar oleh Yesus Kristus sendiri (Matius 16:18-20) sebagai jaminan validitas suatu ajaran terhadap ke-bagaimana-an Kristus.

Sesuai 2 Petrus 1:20-21, maka tulisan-tulisan dalam kitab suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus hanya bisa ditafsirkan secara tepat oleh Roh Kudus, dan Roh Kudus ini tidak ke mana-mana kecuali di dalam Gereja, karena Gereja adalah tiang penopang kebenaran dan tempat di mana kebenaran itu berada (1 Timotius 3:15). Oleh karena itu, kitab suci hanya dapat ditafsirkan secara mutlak benar oleh Gereja, dan bukan oleh bidat.

Dan bagaimanakah pandangan para rasul dan Gereja purba tentang Yesus?

Sudut Pandang Para Rasul Penulis Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru Mengenai Siapa Yesus

Rasul Petrus:

“Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:1)

Petrus menyebut Yesus sebagai Allah dan Juruselamatnya.

Rasul Yohanes:

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” (1 Yohanes 5:20)

Yohanes menyebut Yesus sebagai Allah yang benar.

Rasul Yudas Tadeus:

“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin” (Yudas 1:24-25)

Yudas Tadeus menyebut Yesus sebagai Allah yang esa dan Juruselamat.

Rasul Paulus:

“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” (Kolose 2:9-10).

Pandangan para rasul akan keilahian Kristus inilah yang kemudian diwariskan terus-menerus dan turun-temurun kepada murid-murid mereka dan kepada Gereja untuk terus dijaga dan dipertahankan.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 1:3).

Frase “iman yang telah disampaikan” ini dalam bahasa aslinya adalah “hapax”, yang berarti: diwariskan oleh para rasul sekali untuk selamanya, tanpa ada penambahan maupun pengurangan. Karena itu, tentulah sangat wajar jika kita menyebut ajaran yang bertentangan dengan ajaran rasuli ini sebagai ajaran sesat jika ternyata ajaran tersebut mengurangi status Yesus sebagai “Allah sejati” (sebagaimana yang diwarisi Gereja dari Para Rasul itu sendiri) menjadi hanya sebatas “Tuhan tetapi bukan Allah” seperti yang diajarkan oleh bidat Unitarianisme dan saksi Yehuwa.
Ajaran-ajaran itulah yang disebut sebagai ”Yesus yang lain” dan berasal dari ”roh yang lain” (2 Korintus 11:4), dan tentu saja, kitab suci sendiri sudah jelas mengutuk orang-orang yang mengajarkan “Injil yang lain” dan “Yesus yang lain” itu (Galatia 1:7-9).

Lalu apa bukti bahwa para rasul telah mewariskan “iman yang sekali untuk selamanya” itu kepada Gereja? Tentu saja dengan melihat bagaimana pandangan murid-murid para rasul terhadap Yesus Kristus, karena memang mereka (murid-murid para rasul) diajar sendiri dan mendapatkan iman-pengetahuan mereka secara langsung dari para rasul yang menuliskan dokumen-dokumen Perjanjian Baru itu sendiri.

Sudut Pandang Murid-Murid Para Rasul (Apostolic Fathers)

Agar tidak terlalu banyak, maka hanya akan ditampilkan beberapa murid dari garis rasul Yohanes:

Ignatius dari Antiokhia:

Ignatius, yang notebene adalah murid Rasul Yohanes dan ditahbiskan oleh Rasul Petrus menjadi pemimpin Gereja Antiokhia, menyebut Yesus sebagai Allah-Nya. Di samping itu Ignatius yang menerima pengajaran secara langsung dari rasul Yohanes juga menyebut Yesus sebagai Firman Allah yang kekal:

“Allah itu esa yang menyatakan diri-Nya sendiri dalam Yesus Kristus Anak-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal…” (Epistle to the Magnesians)

Tentu saja ini berarti bahwa Sang Firman (Logos) yang disebut Anak Allah itu sendiri adalah kekal, sehingga Ia (Logos) adalah BUKAN CIPTAAN (seperti pada ajaran Arianisme, Saksi Yehuwa, dan Unitarianisme). Karena itulah ia disebut sebagai Alpha-Omega, dan tidak ada yang disebut demikian kecuali Allah itu sendiri. Hal itu ditegaskan kembali oleh Ignatius sebagai berikut:

“… Yesus Kristus, Allah yang membuat kamu bijaksana, Tuhan kita, yang menurut daging sungguh-sungguh keturunan Daud, dan menurut kehendak dan kekuatan Allah adalah Anak Allah, sungguh-sungguh dilahirkan dari seorang perawan” (Epistle to the Smyrnaeans 1:1)

Polikarpus dari Smyrna (murid Rasul Yohanes)

"If then we entreat the Lord to forgive us, we ought also ourselves to forgive; for we are before the eyes of our Lord and God, and “we must all appear at the judgment-seat of Christ, and must every one give an account of himself.”

Terjemahan bebas:
“Jika kita kemudian memohon kepada Tuhan untuk mengampuni kita, kita sebaliknya juga harus mengampuni; karena kita berada di depan mata Tuhan dan Allah kita, dan ‘kita semua harus hadir pada tahta pengadilan Kristus, dan setiap orang harus memberikan catatannya sendiri-sendiri’]” (Epistle to the Phillipians 6)

Menurut Polikarpus yang notabene adalah juga murid langsung dari rasul Yohanes, Yesus adalah Tuhan dan Allah, dan Yesus-lah yang nantinya akan menjadi hakim pada pengadilan akhir, sementara Perjanjian Lama dan tradisi Judaisme sendiri menyaksikan bahwa pengadilan akhir adalah hak prerogatif Allah seorang dan Yahwe sendirilah yang akan turun sebagai Hakim: “Maka pada hari itu YAHWE akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi.” (Yesaya 24:21)

Irenaeus dari Lyon (murid Polikarpus)

“Karena Gereja, meskipun tersebar diseluruh dunia sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul serta dari murid-murid para rasul akan iman akan satu Allah, Sang Bapa Maha Kuasa… dan dalam satu Yesus Kristus, Anak Allah, yang menjadi manusia demi keselamatan kita, dan kepada Roh Kudus… serta beriman kepada kedatangan, kelahiran Yesus dari seorang perawan, penderitaan dan kebangkitanNya dari antara orang mati, dan kenaikan secara badai dari Tuhan kita Yesus Kristus yang terkasih dan kedatanganNya yang kedua kali… supaya Dia (Yesus Kristus) menjadi hakim yang adil atas semua orang” (Against Heresies 1:10:1)

Menurut Irenaeus yang notebene adalah murid dari Polikarpus, Yesus Kristus adalah Putra Allah, bukan dalam artian adopsi, melainkan berdasarkan kodrat-Nya sebagai Firman Allah yang menjadi manusia. Dan karena Irenaeus adalah sama-sama menerima pengajarannya dari garis rasul Yohanes, maka secara logis, tentu pandangan Irenaeus tentang frase “Anak Allah” adalah sama dengan pengertian “Anak Allah” yang dipahami oleh Ignatius dari Antiokhia yaitu bahwa “Anak Allah” adalah “Firman Allah yang kekal dan bukan ciptaan melainkan adalah Allah itu sendiri”.

Dan tentu saja, pernyataan Irenaus bahwa Yesus Kristus adalah hakim pada pengadilan terakhir adalah paralel dengan pengajaran gurunya, yakni Polikarpus, dan dengan demikian menegaskan kembali bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri.
Selain itu, Irenaeus juga mengajarkan bahwa Yesus Kristus, Sang Firman Allah, adalah KEKAL dan BUKAN CIPTAAN:

“…yang oleh Firman-Nya, yaitu Anak-Nya, telah menyatakan diri-Nya sendiri di atas segala sesuatu, sehingga kita mengenal Allah hanya melalui Firman itu. Firman Allah secara kekal ada bersama Sang Bapa, yang terdahulu, dan yang tidak diawali oleh waktu.” (Against Heresies II:30:9)

Jadi, apa yang dapat kita pelajari?

Pengajaran akan ke-Allah-an Yesus tersebut ternyata diteruskan turun-temurun dengan konsisten dan tanpa terputus sampai kepada Gereja masa kini yang juga mengakui bahwa Yesus adalah Allah. Tulisan-tulisan murid-murid Para Rasul yang disebut sebagai Bapak-Bapak Rasuli (The Apostolic Fathers) itu memang bukan Alkitab, tapi mereka adalah catatan-catatan sejarah yang memberikan gambaran jelas tentang apa yang diajarkan oleh Rasul Yohanes Sang Penulis Injil itu sendiri. Dan, tulisan-tulisan tersebut diakui tidak hanya oleh pihak Kristen, tapi juga oleh para skeptis yang memang tidak bisa membantah fakta sejarah.

Silahkan dilihat basic presupposition dari komunitas Para Rasul dan komunitas Bapak-Bapak Rasuli sebagai penulis dan saksi mata dokumen-dokumen Perjanjian Baru ini tentang ke-bagaimana-an Yesus. Ini membuktikan bahwa ortodoksi Kristen yang mengajarkan mengenai Allah Tritunggal dan ke-Allah-an Yesus adalah ajaran yang dapat dibuktikan secara historis berasal dari para rasul penulis kitab suci Perjanjian Baru itu sendiri. Dan ya, saya menantang kaum Unitarianisme, saksi Yehuwa, dan Islam untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa ajaran mereka tentang Yesus memang diajarkan sendiri oleh Bapak-Bapak Rasuli yang hidup dan berkomunitas dengan Para Rasul dan Yesus itu sendiri. Silahkan dibuktikan kalau memang mampu.

Silahkan tampilkan kepada saya tafsiran-tafsiran yang sok Yunani, sok Ibrani, sok Aramaika, atau apalah dari teolog abad 21 dengan gelar apapun, tapi logika yang waras tentu akan lebih menerima pengertian Yesus melalui Para Rasul murid-Nya dan pengertian murid-murid dari Para Rasul dari abad pertama yang menulis dan berbicara dalam konteks bahasa Yunani pada waktu yang sama dengan dokumen-dokumen Perjanjian Baru itu ditulis.

Atau ada yang mau main badut-badutan dengan mengaku lebih tahu maksud dari Injil Yohanes daripada rasul Yohanes dan murid-muridnya yang menerima pengajaran dari rasul Yohanes itu sendiri? Bercanda jangan kebangetan… :ashamed0002: :ashamed0002:

Demen banget gue. He he he he … . Top abizzz!

Dear Ajun, harap tdk perlu sampai kehilangan kepercayaan diri, ok? Pandanglah kebenaran-kebenaran ini dengan pikiran terbuka dan hati yang berserah kepada “jalan yang lurus” itu, dan marilah aktif berdialog bersama kami. Anda beruntung bertemu orang-orang pilihan yang memadai di sini, jarang ada bung! Jadi, jangan sia-siakan.

Isa 9:6 (9-5)
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

1Co 12:3b
…dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Col 1:15b Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, …

Joh 14:9
Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

Wow! Kurang apalagi coba jun? Sekarang tinggal Anda menghubungi kami untuk mengatur jadual pengajaran lebih lanjut dan kemudian memparsiapkan baptisan bagi Anda. :happy0062:

nah lu mengerti tuh JUNaedi… Yesus lahir suci… karena DIA Tuhan… whahahha !!

Apakah jika bukti bukti ttg ke-Tuhan-an Yesus itu Ada, diucapkan Yesus :

Sembahlah Aku , Yesus Kristus, sebab aku Adalah Allahmu!!
Apakah ajun mau menyembah Yesus??

hemmm baru gabung udah diskusinya berat-berat pusing deh :cheesy:
Ada satu hal untuk percaya Yesus memang tidak mudah. karena Yesus yg sekarang adalah Yesus yang Ilahi (Roh).
Jadi proses untuk mengenal Yesus siapun itu harus menangkap Yesus secara Roh atau dalam injil yohanes lahir kembali (lahir baru).
Lahir baru gambaran secara awan arti bertobat total, meninggalkan segala dosa masa lalu, lalu mulai hidup dalam ‘rel’ jalan Tuhan.

udah dulu

salam strike

[b]…memang…Nabi Isa (yesus) justru menyuruh umatnya menyembah ALLOH Yang Esa…tetapi kenyataannya…umtanya justru menuhankan Yesusu itu sendiri… :mad0261: :mad0261:

Bantahan Ketuhanan Yesus.

[QS. 5:17. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Mesias anak Maria”. Katakanlah: “Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehenda k Allah, jika Dia hendak membinasakan Mesias anak Maria itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.]

[QS. 5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Mesias anak Maria”, padahal Mesias (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.][/b]

@islamic ,

Peringatan pertama dan terakhir.

Disini yang dipakai dalam berdiskusi adalah Alkitab. Bukan kitab lain!

[b]…oouuuww…ya maaf buat administrator…

…tp ini topiknya kan “kritik dan saran dari member non-kristen”…

…knp kok dibatasi al kitab aja??..

…berarti nggak konsekuen dg judul threadnya donk…??[/b]

Untuk Para Pencari Kebenaran spt Ajun, Islamic dkk…

Baca, renungkan dan imanilah apa yang Alkitab katakan…

Tentang YESUS KRISTUS

Roma 9:5
Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Ibrani 1:8
Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.

Alkitab dengan jelas menyebutkan bahwa Yesus adalah Allah. Itu adalah KEBENARAN bro. Bukankah mengimani kitab suci Kristen (Taurat, Injil, Zabur=mazmur) adalah salah satu dari rules di I***m
Kiranya Roh Kudus membuka cakrawala pemikiran dan hati setiap orang yg sedang mencari KEBENARAN sejati
disini.

Blessings,

Kenapa? Karena ini adalah forum Kristen, bukan forum islam, hindu, atau budha.

Bukan tujuan forum ini untuk belajar kitab lain.

Jika anda bilang Kristen itu sesat karena Alquran anda bilang begini, berarti saya juga bisa bilang islam itu sesat karena Alkitab saya bilang begitu?

Tentu saja tidak! Jika ingin mengkritik kenapa seseorang mempercayai sesuatu, harus dilihat dari apa yang menjadi pedoman kepercayaannya, bukan dilihat dari apa yang bukan menjadi pedomannya.

Tidak akan ada titik temu jika anda memakai metode itu.

Karena itu, itu sudah menjadi peraturan forum. Jika bisa menerima, silahkan berdiskusi dengan sopan. Jika tidak, silahkan cari tempat lain yang peraturannya sesuai keinginan anda.

Back to topic.

Adi.

[b]…ya…ya…

…yg penting kita saling menghormati…no SARA…ok[/b]

Bgaimana cara supaya org seperti rekan muslim atau atheis atau kafir mengimani apa yg ALKITAB katakan, sedang butuh tuntunan rohkudus untk mengimaninya?
bagaimana anda yakin bhwa dgn penjelasan panjang lebar seperti itu, kami bisa mengerti, apa ada penjelasan singkat, konkrit, tapi mengena?

Kadang2 dg kata2 singkat,
Orang bisa mengerti dan bertobat.

Tgantung bgmana Roh Kudus bkerja.