Tidak penting punya pacar

Saya ga bicara soal pacaran yang ga bener. coba perhatikan lagi… :afro:

Kenapa kaum hawa lebih banyak dr kaum adam???

Mungkin karna ada salah perhitungan tuh,
hehhehehhehe ;D

saya juga belom punya pacar nih. :afro:

haha, tergantung orangnya juga kali ya. kalo saya sih maunya pacaran dulu, abis itu baru nikah. takut kaya beli kucing dalem karung kalo langsung nikah gitu. :ashamed0004:

pacaran ga pacaran, pokoke salam metal …
:azn:
hwee,
*demam jokowi:p

;D

kasih unek2 donk meski cuma sedikit :cheesy:

unek-unekku buanyaaakk…ga cuma dikin…
kasian ntar yang baca malah jadi enek :afro:

dicoba aja dulu. kalo udah kebanyakan ntar bakalan bilang kog ;D

:afro: sama…

Perhatikan ga bahwa banyak mereka yang menikah karena cinta kata mereka lebih banyak yang cerai. sementara yang jamannya siti nurbaya… nikah dijodohin sepertinya orang2 tua kita yang rata-rata di atas 60th… tetep awet sampai kakek nenek…

Problem utama masa kini adalah pergaulan yang tidak sehat.

Hmm, karena cintanya cinta eros, cinta seksual berdasarkan nafsu dan bukan kasih agape…

hmmm, mungkin beda value nya kali ya…

nah ini lho yang saya bilang di awal, ga bisa digeneralisasikan.

ini ada blog dari luar, tentang seseorang yang berjuang untuk ngga ciuman sampai menikah (orang luar lho, dimana sex sebelum menikah merupakan hal yang lumrah).

“The Case for the First Kiss” Part 1
Note: If you haven’t read it already, than I suggest you first read my blog post “Sweet 16 and Never Been Kissed” to understand why I felt led by God personally to save my first kiss for my Wedding Day. You can read it here; “Sweet 16 and Never Been Kissed”

I get a lot of questions about saving my first kiss for my wedding day. I don’t mind answering them at all, and I don’t mind if someone still decides not so save their first kiss for their Wedding. Like I said previously in a post on this topic, it’s more of personal choice and calling, not a law or sin not to.
So today, I’m going to answer a few questions I’ve received, or heard from others, about saving my first kiss for my Wedding day…but just remember, I’m not at all saying you have to! You don’t, though I do believe the person you kiss should be really special–like “marriage” special. Listen to God, and hear what He whispers to you about it, and set your boundaries from there.

lanjutannya: http://becomingahopefulromantic.blogspot.com/2010/05/case-for-first-kiss-part-1.html

Saya sudah bertemu dengan banyak orang yang katanya “Pelayan Tuhan” dan “Pelayan Altar” yang hamil diluar nikah… :’( itu realita…

Berapa persen bro?

Saya realistis aja… bahwa memang tidak semua seperti bobrok. tapi apakah pernah anda mendapat keluhan dari seorang perempuan yang selalu dijadikan ajang pelampiasan nafsu dari seorang song leader?

Gak ada yg mau kali… :slight_smile:

yahhh, kog jadi maen persen2an?? :cheesy:

buat saya biar pun itu cuma 0,00001%, tetap saja tidak bisa digeneralisasikan semuanya bobrok. saya sih akan berjuang untuk menjadi yang kecil tsb.

interupsi:

baca diskusi Zod & Satya

sepertinya bro Zod belum memahami lawan bicaranya
pantas lah jadi demikian kelanjutannya :smiley:

intinya istilah “pacar” itu ngga penting :slight_smile:

yang saya tangkap dari TS: pacaran = mengumbar napsu

jelas saya ga setuju.

emang momod nangkepnya gimana? :tongue:

oh ya, perlu dimengerti, baik opini TS maupun opini saya dibentuk dari contoh2 nyata yang dijumpai. Cuma bedanya, TS mengambil contoh dimana berpacaran itu berujung kepada kemaksiatan, sementara saya mengambil yang mengarah kepada kekudusan. Contoh2 ini yang membentuk mindset masing2, bahwa berpacaran itu . . . :onion-head83:

Manusia tentunya tau mana yang baik dan tidak baik, tapi kecenderungan hatinya selalu ke arah yang tidak baik, pacaran memang baik dan pastinya harus menjaga kekudusan, tetapi kedagingan sangat kuat. Bagi manusia itu mustahil, tapi bagi Allah…^^