Tradisi Suci SIMONI Bagi-bagi Roh Gereja Katolik

Saudara averill, KUASA ILAHI PAUS dari Simon Magis yang anda minta buktinya merupakan ajaran Gereja Katolik. Dan saya bukan pengikut PAUS/ Katolik saudara averill

Bagaimana tanggapan anda mengenai KUASA ILAHI PAUS yang sebelumnya anda tuduhkan sebagai FITNAH kepada saya?

KUASA ILAHI POTETAS SACRA yang saya sertakan buktinya kamu sebut NGAWUR?

Kamu yakin masih beragama katolik? sebaiknya bertanya dulu dengan pastor paroki anda mengenai akibat menyangkali dasar Iman Katolik itu bagaimana hukumnya sebelum menyangkali di depan umum.

Oh ya, keterangan kamu kalau KUASA ILAHI PAUS POTETAS SACRA itu sebagai NGAWUR bisa dikategorikan fitnah loh

Yang anda katakan benar sekali. Perwakilan GK di forum ini bukan saja menolak sejarah gereja, namun juga menolak Dogma, Doktrin dan ajaran bapa gereja katolik.

Benar sekali brur, kita harus melihat secara Objektif mengenai ajaran2 Gereja Katolik yang TIDAK mungkin diajarkan oleh Yesus dan para rasul. Ajaran2 ini berasal dari TRADISI SUCI SIMON MAGIS sepertii yang disampaikan oleh rekan2 katolik dari Kis 8:18 berikut:

Kis. 8:18 Ketika SIMON melihat, bahwa pemberian ROH KUDUS terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,

Kis. 8:19 serta berkata: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima ROH KUDUS.”

ADALAH KEPUTUSAN ROH KUDUS.

ROH KUDUS turun kepada kita karena PENUMPANGAN TANGAN

PENUMPANGAN TANGAN PARA RASUL—> APOSTOLIK

APOSTOLIK Hanya ada di Gereja Katolik

Para Rasul (terutama PAUS penerus Petrus yang memegang Kunci Surga) dan Bunda Maria (Salam Maria kepada Elisabeth dan Zakharia)lah yang dipercayakan oleh TUHAN YESUS untuk menetapkan orang2 yang akan mendapatkan ROH KUDUS, termasuk “hanya mendengar” SUARA MEREKA BERDUA (PAUS & MARIA).

Jadi, selain PAUS dan MARIA, semuanya WAJIB PENUMPANGAN TANGAN APOSTOLIK.

SIMON dalam Kis 8:18 ini adalah SIMON MAGIS.

SIMONI MAGIS MENGIRA/ SALAH PENGERTIAN dengan berpikir turunnya ROH KUDUS terjadi lewat penumpangan tangan, dan akhirnya dia juga mengingini dan minta KUASA MEMBERI ROH KUDUS.

Sama seperti SIMON MAGIS yang MENGIRA ROH KUDUS HANYA bisa turun keatas manusia kalau ditumpangi tangan, PAUS yang mengikuti tradisi ini juga SALAH MENGIRA kalau ROH KUDUS HANYA bisa turun pada manusia kalau ditumpangi tangan.

Bahkan lebih buruk lagi, Paus menambahinya menjadi TRADISI SUCI SIMONI MAGIS, yaitu ROH KUDUS dan KESELAMATAN HANYA bisa turun ke manusia kalau ditumpangi tangan PAUS dan imam2nya.

Lambat laun seiring bertambahnya KUASA PAUS yang diberikan Kaisar Roma Pontifex Maximus, Tradisi Suci ini berkembang sedemikian rupa sehingga menimbulkan ajaran2 yang BERTENTANGAN dengan Firman Tuhan yang bersumber dari sosok ilahi Takhta Paus Apostolik.

Tradisi Suci SIMONI MAGIS ini bukan saja dasar dari ajaran Gereja Katolik bahwa HANYA PAUS DAN ORGANISASINYA yang bisa memberi ROH KUDUS dan KESELAMATAN pada manusia, namun juga DASAR dari hampir SELURUH IMAN KATOLIK lain

Mungkin ada yang brur Gandrunk kurang mengerti dari ajaran2 GK ini?

bag. 1
.
Kitab Hukum Kanonik 1983 dibawah judul
De potestate regiminis (kuasa kepemimpinan) menjelaskan secara rinci
tentang kepemimpinan Gereja (bdk.
kann. 129-144). Kepemimpinan Gereja
mengacu pada kuasa ilahi yang diperoleh
seseorang beriman melalui penerimaan
sakramen tahbisan. Oleh karena melalui
tahbisan itu ada kuasa yang dalam
kodeks disebut dengan potestas sacra
(bdk. LG, 10b; 18a). Dalam kodeks lama
KHK 1917 disebut dengan potestas
ordinis yang memiliki gradasi atau hirarki
atas dasar tahbisan (bdk. kan. 108, §1,
KHK 1917). Dari penerimaan tahbisan
seseorang menerima kuasa untuk
memimpin hal itu dinyatakan dalam
kanon 1008, KHK 1983: “dengan
sakramen tahbisan menurut ketetapan
ilahi sejumlah orang dari kaum beriman
kristiani diangkat menjadi pelayan-
pelayan suci, dengan ditandai meterai
yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan
dan ditugaskan untuk menggembalakan
umat Allah, dengan melaksanakan dalam
pribadi Kristus Kepala, masing-masing
menurut tingkatannya, tugas-tugas
mengajar, menguduskan dan memimpin”.
Dibedakan dalam kodeks lama potestas
ordinis (kuasa tahbisan) dan potestas
iurisdictionis (kuasa kewenangan).
Potestas ordinis diperoleh dengan
penerimaan sakramen tahbisan yang
menuntut adanya jabatan, sedangkan
potestas iurisdictionis diperoleh melalui
pemberian kewenangan dari otoritas yang
lebih tinggi. Dalam kodeks yang baru
KHK 1983, keduanya menjadi satu,
seorang beriman memiliki potestas
iurisdictionis setelah menerima potestas
ordinis melalui tahbisan suci.
Dari satu kuasa untuk anekaragam
pelayanan
Konsili Vatikan II mengamini apa yang
dinyatakan di atas bahwa kuasa
(potestas/exousia) kepemimpinan dalam
Gereja diperoleh melalui penerimaan
tahbisan. LG, 21: “Untuk menunaikan
tugas-tugas yang mulia itu para Rasul
diperkaya dengan pencurahan istimewa
Roh Kudus, yang turun dari Kristus atas
diri mereka (bdk. Kis 1:8). Dengan
penumpangan tangan mereka sendiri
meneruskan kurnia rohani itu kepada
para pembantu mereka (bdk. 1 Tim
4:14). Kurnia itu sampai sekarang ini
disalurkan melalui tahbisan Uskup sebagai
kepenuhan tahbisan imamat”. Dari kurnia
ilahi yang diterimakan seseorang melalui
tahbisan lahirlah kuasa kepemimpinan
Gereja secara hierarkis sesuai dengan
tahbisan yang diterimanya: Diakonat,
Presbiteriat dan Episcopat. Penerimaan
sakramen tahbisan tersebut mengandung
aneka ragam pelayanan kepada umat,
yang terbagi dalam tugas pelayanan
menguduskan, mengajar dan memimpin
(tria munera in persona Christi) atas
nama Kristus (bdk. kann 1008-1009).
Dengan potestas sacra yang ada pada
imam pejabat membentuk dan memimpin
umat beriman, menyelenggarakan korban
Ekaristi atas nama Kristus dan
mempersembahkannya pada Allah atas
nama segenap umat. Imamat jabatan itu
mereka laksanakan pada saat merayakan
sakramen-sakramen, berdoa dan
bersyukur, memberi kesaksian dan
pengingkaran diri serta cinta kasih yang
aktif (bdk. LG 10b).
Kuasa kepemimpinan kaum awam
Kanon 129, §1 menengaskan pernyataant
Konsili: “menurut ketentuan norma
hukum, yang mampu mengemban kuasa
kepemimpinan yang oleh penetapan ilahi
ada dalam Gereja dan juga disebut kuasa
yurisdiksi, ialah mereka yang telah
menerima tahbisan suci”. Baru dalam
paragrap kedua kanon yang sama
menyatakan letak kepemimpinan kaum
awam: “dalam pelaksanaan kuasa
tersebut, orang-orang beriman kristiani
awam dapat dilibatkan dalam kerjasama
menurut norma hukum”. Di sinilah letak
kepemimpinan kaum awam yakni: berkat
penerimaan sakramen pembaptisan awam
mengambilbagian dalam tiga tugas
Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja.
Kaum awam memperoleh imamat umum
yang membedakan dari imamat jabatan/
hirarkis yang diterima melalui tahbisan
imamat. Kendati berbeda dan juga
tingkatannya imamat umum dan jabatan
satu sama lain saling terarahkan. Sebab
keduanya dengan caranya yang khas
masing-masing mengambilbagian dalam
satu imamat Kristus (bdk. LG. 10,b).
Jadi kepemimpinan awam merupakan
pengambilbagian dari “exercitio eiusdem
potestatis” yang dimiliki oleh Imam/
Uskup.
bersambung. …

bag 2
.
Ad normam iuris cooperari possunt
Kanon 129 menyatakan sebuah solusi
tentang masalah siapa yang memiliki
kuasa memimpin (munus regendi) di
dalam Gereja. Masalah timbul dari
determinasi hubungan antara imamat
umum dan ministerial dan kuasa
memimpin di dalam Gereja. Paragrap satu
kanon 129, menetapkan bahwa ada dua
jalan untuk pelayanan di dalam Gereja:
pertama pelayanan Gereja yang
membutuhkan kuasa dari sakramen
tahbisan dan misi kanonik. Kuasa
sakramen itu merujuk pada kemampuan
yang bersumber atas nama Kristus secara
spiritual dan pengudusan dari ikatan
tahbisan. Misi kanonik diberikan oleh
pemimpin Gereja sebagai kuasa yang
didelegasikan “potestas delegata” (bdk.
kan. 131) seturut norma kanonik kepada
seseorang untuk melaksanakan tugasnya.
Perbedaan ini secara eksplisit dalam
paragrap kedua kanon 129 dinyatakan:
“in exercetio eiusdem potestatis,
christifideles laici ad normam iuris
cooperaro possunt”.
Apa maksud dari kalimat ad normam iuris
cooperari possunt? Kodeks memberikan
aneka kemungkinan bagi kaum awam
untuk bekerjsama (kooperatif) dengan
Imam dalam pelaksanaan kuasa yurisdiksi
yang dimilikinya. Kerjasama dalam bentuk
ambilbagian dalam kuasa kepemimpinan
Gereja oleh kaum awam terwujud dalam
tugas-tugas Gereja baik dalam eksekutif
maupun yudikatif level. Sebagai contoh
kaum awam dapat menjadi notarius, atau
defensor vinculi dalam tribunal Gereja,
atau menjadi anggota Dewan Keuangan
Keuskupan/Paroki, atau Dewan Pastoral
Keuskupan/Paroki. Jadi baik Imam
(clerus) maupun kaum awam (laicus)
dapat bekerjasama dalam pelaksanaan
kuasa yurisdiksi oleh seorang berkat
penetapan ilahi yang diterimanya atau
oleh kuasa yang didelegasikan.
Kepemimpinan kaum awam dalam Gereja
didasarkan pada penerimaan sakramen
baptis dan imamat umum yang
diterimanya. Kuasa memimpin awam
dalam Gereja dimungkinkan sejauh
pelaksanaan kuasa memimpin itu tidak
memerlukan kuasa tahbisan seturut
norma hukum. Contoh, awam tidak bisa
menjadi pastor paroki karena untuk
menjadi pastor paroki dibutuhkan kuasa
kepemimpinan berdasarkan tahbisan
“potestas ordinaria” (bdk. kan. 521,
§1, ).
Sisi demokratisasi kepemimpinan dalam
Gereja
Meski kepemimpinan dalam Gereja
didominasi oleh seorang yang menerima
kuasa kepemimpinan melalui penerimaan
tahbisan suci (bdk. kan 129), kaum
awam bukanlah kelas nomor dua dalam
Gereja. Mengapa? Karena konsep Gereja
sebagai Umat Allah (bdk. kan. 204)
dimana semua umat beriman kristiani
(Uskup, Imam, Awam, Biarawan/
Biarawati) berkat penerimaan sakramen
pembaptisan diinkoperasi pada Kristus,
mengambilbagian dalam tugas Kristus
dengan caranya sendiri. Disini tidak ada
lagi pembagian kelas dalam Gereja,
semua sama dan wajib berpartisipasi
dalam kepemimpinan Gereja sesuai
dengan fungsinya. Keputusan dalam
kepemimpinan Gereja ada ditangan
pemimpin yang memiliki kuasa ilahi
(potestas sacra) namun sebelum
mengambil keputusan, dia wajib
mendengarkan umat beriman demi
kebaikan bersama. Oleh karena itu, babak
baru dalam kepemimpinan Gereja adalah
membangun sebuah kerjasama yang
harmonis antara Uskup/Imam dan umat
beriman awam dalam memimpin
umatnya. Kepemimpinan Gereja tidaklah
clerical (kaum tertahbis) sentris lagi atau
laical (kaum terbaptis non tertahbis)
sentris tetapi Kristus sentris dimana
semua anggota Gereja berpartisipasi
dalam kepemimpinan Gereja sesuai
dengan jabatan dan fungsinya.

dibaca ya jes… pasti ngawur lg interpretasinya…

Sudah saya baca thanks

Lantas kenapa sebelumnya anda MENYANGKALI kuasa ilahi Paus (Potetas Sacra) ini? juga seluruh rahmat ilahi GK yang bersumber dari kuasa ilahi Paus ini?

Jangan suka tradisi memfitnah, nggak baik itu.

Saudara averill, KUASA ILAHI PAUS dari Simon Magis yang anda minta buktinya merupakan ajaran Gereja Katolik. Dan saya bukan pengikut PAUS/ Katolik saudara averill

Bagaimana tanggapan anda mengenai KUASA ILAHI PAUS yang sebelumnya anda tuduhkan sebagai FITNAH kepada saya?

KUASA ILAHI POTETAS SACRA yang saya sertakan buktinya kamu sebut NGAWUR?

Kamu yakin masih beragama katolik? sebaiknya bertanya dulu dengan pastor paroki anda mengenai akibat menyangkali dasar Iman Katolik itu bagaimana hukumnya sebelum menyangkali di depan umum.

Oh ya, keterangan kamu kalau KUASA ILAHI PAUS POTETAS SACRA itu sebagai NGAWUR bisa dikategorikan fitnah loh

yg diatas tuh yg jelas2 kamu memFITNAH!!!

apa yg kamu ulas adalah FITNAH, hasil pemikiranmu-lah yg saya tuduhkan sebagai FITNAH!!
Pemahaman yg keliru yg bida menyebabkan hasutan yg telah km lakukan!

Loh, yang bener yang mana ini???

Kuasa Ilahi Paus (Potetas Sacra) yang kamu kutip itu fitnah apa bukan?

kutipan saya mengenai potestas sacra itu benar adanya!!!
.
tapi ulasan2 dan tulisan2mu yg berdasar atas pemikiranmu pribadi itu adalah salah!!!
.
dan kamu tetap mempertahankan pendapatmu yg keliru itu biarpun sudah dikasih tau yg benar.
.
apa pengetahuan dan imanmu hanya kamu gunakan untuk membuat hasutan atas interpretasimu yg tidak benar.
apa begitu yg diajarkan pendetamu(kalau kamu seorang kristen).
.
boleh di-share : denom kamu apa? setiap kali saya tanya, kamu ga pernah jawab?
malu mengakui denommu?

Justru itu bro, Potetas Sacra itu KUASA ILAHI. Ngapain anda ngotot terus untuk menutupi kebohongan anda?

Oh ya, saya Protestan yang dikutuk konsili Trente karena menolak kuasa ilahi Paus sebagai juru selamat manusia.

eh bro… “juru selamat manusia” menurut kamu itu siapa y?

Yah Yesus lah, BUKAN Paus dengan kuasa ilahinya itu menurut ajaran Gereja Katolik

masa sih???
.
kok bisa km bilang
" … Paus dengan kuasa ilahinya itu menurut ajaran Gereja Katolik " ???
.
ada rujukan resmi yg bukan hipotesamu??

ada, yaitu ajaran2 GK beserta dokumennya yang sudah disertakan thread ini mulai dari hal pertama.

semua dokumen gereja katolik tdk ada satupun yg menyatakan bahwa paus adalah sang juru selamat.
.
kamu bisa lebih teliti lagi dalam membaca dan sedikit lbh cerdas dlm menginterpretasikan?

Tradisi Simon Magus, anda mengaitkan ini dengan GK.
sanggahan saya: yang jadi patokan saudara dalam argumentasi hanya: Kis 8:15-25. apa yang saya lihat dari ayat diatas tidak cocok dengan tuduhan anda.

  1. Filipus Menginjil dan membaptis Umat di Samaria, serta Simon magus juga dibaptisnya.
  2. Petrus dan Yohanes pergi Ke samaria.
  3. Karena umat di-Samaria hanya dibaptis saja, Maka Petrus melakukan penumpangan tangan kepada Umat di Samaria.
  4. Simon Magus melihat apa yang dilakukan oleh Petrus, sehingga Ia menginginkan Kuasa Penumpangan Tangan itu. dan dia ingin “Menyuap” Petrus dengan Uang, supaya Petrus memberikan “kuasa itu”(Penumpangan Tangan) kepadanya.
  5. Petrus Menghariknya karena Simon Magus Berpikir Bisa membeli "Karunia Allah Dengan uang.
  6. kemudian Simon magus takut akan perkataan Petrus.

dari susunan pemahaman dari bacaan diatas, tidak sesuai konteksnya dengan tuduhan anda.
begitupun dengan Tulisan dari St. Igantius Loyola, tidak mendukung tuduhan anda.

EENS: Pahamkah anda tentang EENS? atau sesuaikah EENS itu dengan apa yang anda maksudkan?. silahkan cari tahu dulu tentang EENS ini baru anda mengeluarkan pendapat atau tuduhan anda.

sebagai catatan: agar argumentasi anda bisa dipertanggung jawabkan, saya dengan penuh rendah hati berharap anda menyetarkan Bukti atau teks Kitab suci “yang mendukung” dari anda.

Salam Kasih Kristus Tuhan

Salam Brur Jesuit,

Bagaimana mungkin? anda Baca baik-baik tidak komentar saya?
kok jawaban anda tidak nyambung sama sekali?

sekali lagi Baca komentar sanggahan saya yang konteksnya tidak relevan dengan pernyataan anda.
kelihatan anda sedang ingin membuat saya bingung.
sampai-sampai sanggahan anda berputar-putar. saudara ku, dalam forum ini, bukan cuman kita berdua, ada banyak netter yang melihat diskusi kita. jadi cobalah berdiskusi dengan sehat.

Tanggapan saya sudah saya sampaikan.
saya kembali kepada anda:

[b]A. Tradisi Simon Magus, anda mengaitkan ini dengan GK.
sanggahan saya: yang jadi patokan saudara dalam argumentasi hanya: Kis 8:15-25. apa yang saya lihat dari ayat diatas tidak cocok dengan tuduhan anda.

  1. Filipus Menginjil dan membaptis Umat di Samaria, serta Simon magus juga dibaptisnya.
  2. Petrus dan Yohanes pergi Ke samaria.
  3. Karena umat di-Samaria hanya dibaptis saja, Maka Petrus melakukan penumpangan tangan kepada Umat di Samaria.
  4. Simon Magus melihat apa yang dilakukan oleh Petrus, sehingga Ia menginginkan Kuasa Penumpangan Tangan itu. dan dia ingin “Menyuap” Petrus dengan Uang, supaya Petrus memberikan “kuasa itu”(Penumpangan Tangan) kepadanya.
  5. Petrus Menghariknya karena Simon Magus Berpikir Bisa membeli "Karunia Allah Dengan uang.
  6. kemudian Simon magus takut akan perkataan Petrus.

dari susunan pemahaman dari bacaan diatas, tidak sesuai konteksnya dengan tuduhan anda.
Kuasa iitu ada pada Rasul Petrus, dan Penerus Petrus tidak membeli dengan Uang kepada Rasul Petrus kuasa itu. jika memang apa yang terjadi tidak sesuai dengan pernyataan saya ini. sekali lagi sertakan bukti. jika tidak saya menganggap anda hanya memberikan “kabar burung” atau tafsiran pribadi.

begitupun dengan Tulisan dari St. Igantius Loyola, tidak mendukung tuduhan anda.[/b]

[b]B. EENS: Pahamkah anda tentang EENS? atau sesuaikah EENS itu dengan apa yang anda maksudkan?. silahkan cari tahu dulu tentang EENS ini baru anda mengeluarkan pendapat atau tuduhan anda.

sebagai catatan: agar argumentasi anda bisa dipertanggung jawabkan, saya dengan penuh rendah hati berharap anda menyetarkan Bukti atau teks Kitab suci “yang mendukung” dari anda.[/b]

jadi tolong untuk mengutip komentar saya, jangan kutip embel-embelnya, tetapi kutip yang intinya, atau secara satu bagian.

Salam Kasih Kristus Tuhan

Salam,

Nah… diskusi kita akan lebih menarik.
pertama, bukti anda tentang “Kis 8:15-25” ini saya rasa tidak objektif, dan tidak cocok dengan kenyataan.
jadi bacaan diatas tidak bisa di kaitkan kepada “Apostolik”.

kedua, tambahan sanggahan anda tentang EENS.
sesuai dengan referensi yang saya terima dan sebagaimana ajaran Gereja tentang EENS ini, sebagai berikut:

EENS ini memiliki arti:
a. kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia
b. pentingnya Gereja untuk keselamatan manusia

(untuk point “b” lebih lengkap lihat di: http://katolisitas.org/3482/dominus-iesus dan http://katolisitas.org/3489/penjelasan-tentang-deklarasi-dominus-iesus)

kemudian untuk prinsip EENS, Yesus Sendiri yang memberikannya:
a. Gereja tidak pernah terlepas dari Kristus
b. Ajaran iman dan baptisan yang diperlukan untuk keselamatan dipercayakan kepada Gereja
c. Gereja menjadi sarana keselamatan.

dalam Kol 1:18; Ef 5:22-33, Kristus menyatakan Bahwa dia adalah Kepala dan Gereja yang menjadi Tubuh Mistik Kristus, danjuga Kristus adalah Mempelai Pria dan Gereja yang menjadi Mempelai wanita-Nya.
begitupun dalam Mat 16:16-19, Kristus Mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus. jadi Gereja-Nya satu sama seperti Dia Adalah Satu, sama seperti tubuh yang tak terpisahkan dari Kepala.
Oleh Karena Kristus ingin menjadikan Gereja-Nya sebagai sarana Keselematan, maka EENS ini memiliki arti seperti yang telah disebutkan diatas.

jadi kita harus memahami 2 artian tersebut secara seimbang,agar tidak memberikan pemahaman yang salah.
dalam satu sisi, lihat 1Tim 2:4, Kristus keselamatan bagi seluruh Dunia. dan dalam satu sisi lainnya, Kristus ingin agar Keselamatan itu disampaikan keseluruh dunia melalui Gereja-Nya (Mat 28:1-20).
dan seperti yang kita ketahui, Keselematan itu kita terima karena Kasih Karunia Allah, oleh Iman yang bekerja atas kasih. Karena tanpa Iman tak seorang pun dapat menyenangkan Allah dan Iman ini yang menjadi syarat mutlak keselamatan.
(Ef 2:8; Gal 5:6; Ibr 11:1)

–Bersambung–

–Sambungan–

Jadi Gereja yang menjadi Tubuh Mistik Kristus, diperlukan untuk keselamatan, karena persatuannya dengan Kristus sendiri.
EENS sesuai dengan Katekismus Gereja Katolik:

[i]KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa [b]seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:[/b] “Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa [b]Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan.[/b] Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu [b]andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” [/b](Lumen Gentium 14).

KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).

KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.[/i]

yang menjadi catatan adalah, siapakah yang termasuk dalam Gereja Katolik itu:

  1. Semua orang yang dipanggil ke dalam kesatuan katolik umat Allah
  2. Mereka yang tergabung sepenuhnya dalam serikat Gereja
  3. Mereka yang disebut Kristen walaupun tidak mengakui iman Katolik secara keseluruhan, atau tidak memelihara kesatuan di bawah kepemimpinan Paus sebagai penerus Rasul Petrus

dan ini sudah dijabarkan dalam katekismus Gereja Katolik:

[i]KGK 836 “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).

KGK 837 Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).

KGK 838 “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).[/i]

Sumber referensi: http://katolisitas.org/

semoga ini dapat merubah pandangan anda tentang EENS ini.

Salam Kasih Kristus Tuhan.

Entah Bagaimana cara Anda membaca. sekali lagi saya tekankan Bukti diatas yang anda berikan tidak akurat.
jadi Apakah, Ketika saya dibaptis, Roh kudus tidak menyertai saya??(secara Paus Benediktus XVI, belum menumpangan kan tangan nya kepada saya)
anda jangan berlebihan. jadi Karunia Bagi Petrus itu tidak berasal dari SIMON MAGUS. melainkan dari Kristus Sendiri, jadi Penerus Petrus yaitu Paus, tidak berbicara atas nama pribadi, melainkan dalam Kapasitasnya sebagai Penerus Petrus.

Salam Kasih Kristus Tuhan.