Transendensial 2: God, Timelessness, Foreknowledge, Will or Free Will

OMNISCIENCE DILEMMA: WILL OR FREE WILL.

Diberikan t1 dan t2, dimana, secara temporal, t1 mendahului t2, kasus berikut memberi kita suatu dilema dalam omniscience:

  1. Pada t1, saya sedang memilih suatu nama yang akan digunakan sebagai user name dalam situs Forum Kristen, pilihan saya adalah “SworDPen” atau “Squarepant”.
  2. Pada t1, Allah mengetahui bahwa saya akan memilih nama SworDPen pada t2.
  3. Berdasarkan Kemahatahuan Allah yang tidak pernah gagal, maka pilihan saya pada user name SworDPen pada t2 adalah fakta.
  4. Pada t1, sebenarnya saya tidak bebas memilih, karena pada t2 saya selalu memilih nama SworDPen.

NEXT: Pemuluran dan Ekivalensi Waktu Sebagai Petunjuk

Pemuluran dan Ekivalensi Waktu Sebagai Petunjuk

  1. Ekivalensi satu hari dengan seribu tahun
    Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. 2Petrus 3:8
  2. Ekivalensi satu nanodetik dengan seratus milyar tahun
    Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu nanodetik sama seperti seratus milyar tahun dan seratus milyar tahun sama seperti satu nanodetik. 2 SworDPen 3:8
  3. Ekivalensi satu pikodetik dengan seratus trilyun tahun
    Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu pikodetik sama seperti seratus trilyun tahun dan seratus trilyun tahun sama seperti satu pikodetik. 2 SworDPen 3:9

Dan yang paling kontroversial, ekivalensi nol detik (timelessness) dengan seluruh garis waktu
4. Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan nol detik sama seperti seluruh tahun dan seluruh tahun sama seperti nol detik. 2 SworDPen 3:10

Jika pengamatan aktual dapat dilakukan dalam 1, 2, 3, 4, maka

  1. pengamat A, dalam satu hari, dapat melihat seribu tahun kehidupan objek B secara lengkap dari awal hingga akhir.
  2. pengamat A, dalam satu detik, dapat melihat sejuta tahun kehidupan objek B secara lengkap dari awal hingga akhir.
  3. pengamat A, dalam nol detik, dapat melihat seluruh tahun kehidupan objek B secara lengkap dari awal hingga akhir.
  4. Allah, dalam nol detik (timelessness), dapat melihat seluruh garis waktu. Dinosaurus yang hidup dan berkuasa di bumi, Manusia purba yang sedang berburu Mamoth, Adam yang jatuh dalam dosa, Sokrates yang sedang mencari kebenaran, Shiddarta yang sedang bertapa di bawah pohon bodi, Hittler kecil yang bermimpi masuk sekolah seni, Rasul Petrus yang sedang menebarkan jala menangkap ikan, Matius yang sedang menerima tawaran Yesus untuk menjadi muridNYA, peristiwa penyaliban, Bali blast, hingga kemenangan FC Barcelona di Final Liga Champion 2011. Tentu saja Allah juga mengetahui siapa saja dari kita yang tetap mempertahankan imannya hingga akhir.
  5. Jika 4 benar, maka Pengetahuan Allah atas apa yang telah, sedang, dan akan terjadi, dalam dimensi timelessness-NYA, tidak melanggar kehendak dan pilihan bebas manusia dalam dimensi temporal mereka, dan dilema dalam omniscience nampaknya telah memiliki resolusi.

NEXT: EKSTENSI EKSTENSI?

EKSTENSI EKSTENSI?

  1. Jika 4 benar, dapatkah hal itu dijadikan sebagai argumentasi yang mendukung kebenaran B-Theory, yang merupakan tenseless view of time yang mengatakan bahwa masa lalu, masa kini dan masa sekarang adalah sesuatu yang “sama sama real” dan bahwa perbedaan antara ketiganya adalah ilusi?
  2. Skip for a while.
  3. Manusia terkadang memiliki ilusi bahwa waktu “telah menghapus dosa mereka”, terkadang kita bercerita tentang kenakalan kita sewaktu kecil, atau kelakuan kita semasa belum menerima Kristus, jika, 1 benar, maka sebenarnya manusia itu sendiri adalah kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan dari masa lalu mereka, masa lalu dan masa depan adalah benar benar realita “sekarang” dan mereka bertanggung jawab secara penuh atas hal ini.

NEXT: “PEMULURAN” WAKTU, MUNGKINKAH?

“PEMULURAN” WAKTU, MUNGKINKAH?

Berdasarkan relativitas khusus dari Albert Einstein, durasi waktu yang dialami obyek A dan obyek B dapat mengalami perbedaan yang signifikan. Lebih lanjut, dengan menggunakan transformasi Lorentz, kita mengetahui bahwa semakin cepat suatu benda melaju mendekati kecepatan cahaya, maka durasi waktu yang dirasakan benda tersebut akan semakin panjang. Dengan kata lain, apabila obyek B adalah obyek yang diam, dan obyek A adalah benda yang bergerak dengan kecepatan yang mendekati laju cahaya, maka “waktu” pada obyek A akan berjalan leeeee…………bbbbbbbbbbbbbbb………………ihhhhhhhhhhhhhhh………………hh……………………………………hhh pppppppppppppppppppppeeeeeeeeeeeeeelllllllllllllllllllllllllaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnn……………………n.

Inilah yang disebut fenomena pemuluran waktu. Sehingga, satu tahun obyek A dapat ekivalen dengan seratus tahun obyek B. Apabila kita menambahkan energi untuk meningkatkan kecepatan obyek A, maka kita bisa mendapatkan kenyataan “satu detik obyek A setara dengan seratus juta tahun obyek B”

Dan….apabila kita memiliki suatu obyek A yang dapat bergerak dengan kecepatan cahaya, maka kita memperoleh keadaan dimana nol detik (timelessness) setara dengan seluruh garis sang waktu.

Salah satu “benda” di alam semesta yang memiliki natur demikian adalah cahaya itu sendiri, mengutip John Gribbin dan Brian Greene (no connection with Ashley Greene)

A photon, naturally, travels at the speed of light, and this means that for a photon time has no meaning. A photon that leaves a distant star and arrives at the earth may spend thousands of years on the journey, measured by clocks on earth, but takes no time at all as far as the photon is concerned. A photon of the cosmic background radiation has, from our point of view, has been traveling through space for perhaps 15 thousand million years since the Big Bang in which the universe as we know it began, but to the photon itself the Big Bang and our present are the same time. (John Gribbin, In Search of Schrodinger's Cat, p.190)
Light, which always travels at light speed through space, is special in that it always achieves such total diversion. And just as driving due east leaves no motion for traveling north, moving at light speed through space leaves no motion for traveling through time! Time stops when traveling at the speed of light through space. A watch worn by a particle of light would not tick at all. Light realizes the dream of Ponce de Leon and the cosmetics industry: it doesn't age. (Brian Greene, The Fabric of the Cosmos, pp. 49, 496-497)

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tulisan ini tidak sedang menjelaskan eksistensi Allah, melainkan hanya menjelaskan bagaimana dimensi timelessness dapat melihat (apabila memungkinkan) suatu keseluruhan garis waktu tanpa harus merampas kebebasan obyek obyek yang berada di garis waktu tersebut.

EKSTENSI NOMOR 2: PREDESTINASI?

Data yang telah kita peroleh dari tulisan tulisan sebelumnya:

Jika Allah “berada dalam” suatu dimensi yang bersifat timeless, maka sesungguhnya Allah telah melihat kesudahan alam semesta ini, termasuk semua peristiwa yang terjadi di dalam ruang dan waktu.

Oleh sebab itu, ajaran Calvin mengenai predestinasi mungkin saja benar, dengan chronological order sebagai berikut:

  1. Allah menciptakan ruang dan waktu.
  2. Pada saat yang sama, dalam dimensi timeless, Allah “telah melihat” kesudahan alam semesta, ruang dan waktu ini, siapa saja yang tetap mempertahankan imannya dan siapa saja yang menyangkal diriNYA.
  3. Pada saat yang sama, dalam dimensi timeless, Allah menentukan siapa saja yang akan diselamatkan.
  4. Dalam dimensi temporal, ruang dan waktu itu mulai berjalan, alam semesta mulai terbentuk, tetapi, pada saat itu, Allah sesungguhnya telah menetapkan siapa saja yang akan diselamatkan, bahkan sebelum “orang orang terpilih” itu dilahirkan ke dunia atau bahkan jauh sebelum bumi itu dijadikan.

Sedangkan dalam urutan logis (logical order, ontological order), tetapi masih sebagai pengetahuan “timelessness” yang “terjadi” secara simultan (at the same instant), adalah sebagai berikut:

  1. Allah menciptakan ruang dan waktu.
  2. Manusia berdosa.
  3. Dengan kehendak bebas mereka, beberapa manusia menerima Kristus
  4. Beberapa manusia tersebut diselamatkan.

Menurut saya, secara chronological, Calvin benar, tetapi, secara ontological (or causal, or logical), Armenian juga benar.

Allah tidak menciptakan waktu,… Allah menciptakan materi dari energi dari roh oleh firman.
waktu muncul sebagai konsekwensi dari rotasi partikel sub atom… semua materi yg ada di alam semesta sebenarnya hanyalah partikel2 yg kemudian bergabung menjadi… batu,daging,air,awan,planet,matahari,dll.
jika benda/materi bergerak dalam/sama dengan kecepatan cahaya. rotasi partikel penyusun benda/materi itu akan melambat terhadap benda/materi lain (dalam keadaan normal). ini yg seakan-akan materi pertama tadi menuju masa depan.

@swordpen

Nice post bro, jadi mikir berat nih otak.

@marosa

Menarik bro, berdasarkan theory apa nih yang diampbil, sehingga anda berkesimpulan bahwa Allah tidak menciptakan waktu,… Allah menciptakan materi dari energi dari roh oleh firman ?

Syalom

hahaha… am not one of those guys… tak ada theory yg saya ambil. I like sains, I learn a lot about it. but sains without knowing our God. it’s just lost in the outer space… beautiful, but deadly.

Dear All,

Terima kasih untuk komentarnya, yah, mungkin sedikit berbeda, saya sendiri yakin ada korelasi antara iman dan sains, begitu pula dengan iman dan akal. Walaupun masih jauh dari memuaskan, yang saya sampaikan dalam thread ini hanyalah suatu spekulasi, bahwa predestinasi (mungkin) dapat direkonsiliasikan dengan Free will.

Tuhan Memberkati.

uraian anda sangat baik sekali, saya beri 3 jempol untuk anda :afro: :afro: :afro:

saya hanya tidak setuju poin 2 diatas karena disana allah hanya “melihat saja” tanpa turut campur.
apakah allah kita allah yg tidak campur tangan dalam setiap aspek hidup manusia?
alkitab menyatakan sebaliknya

menurut saya harusnya :

  1. Allah menciptakan ruang dan waktu.
  2. Pada saat yang sama, dalam dimensi timeless, Allah menentukan siapa saja yang akan diselamatkan.
  3. Allah mengatur bagaimana jalan keselamatan bisa dialami oleh orang yang dipilih melalui setiap “intervensi” yg dilakukan Allah terhadap dunia.
  4. Dalam dimensi temporal, ruang dan waktu itu mulai berjalan, alam semesta mulai terbentuk, tetapi, pada saat itu, Allah sesungguhnya telah menetapkan siapa saja yang akan diselamatkan, bahkan sebelum “orang orang terpilih” itu dilahirkan ke dunia atau bahkan jauh sebelum bumi itu dijadikan.

@kimz

1. Allah menciptakan ruang dan waktu. 2. Pada saat yang sama, dalam dimensi timeless, Allah menentukan siapa saja yang akan diselamatkan. 3. Allah mengatur bagaimana jalan keselamatan bisa dialami oleh orang yang dipilih melalui setiap "intervensi" yg dilakukan Allah terhadap dunia. 4. Dalam dimensi temporal, ruang dan waktu itu mulai berjalan, alam semesta mulai terbentuk, tetapi, pada saat itu, Allah sesungguhnya telah menetapkan siapa saja yang akan diselamatkan, bahkan sebelum "orang orang terpilih" itu dilahirkan ke dunia atau bahkan jauh sebelum bumi itu dijadikan.
  1. Betul, walau secara lebih luas, sebenarnya Allah menciptakan Alam semesta dengan aturan aturannya (termasuk segala hukum alam, termasuk waktu dan materi)

  2. Tidak sependapat. Apa motivasi Allah menentukan seseorang selamat atau tidak bahkan pada saat timeless?

  3. Jika Allah mengintervensi, apakah Allah berada dalam waktu atau berada pada kondisi di luar waktu, bro?

  4. Kembali kepada pertanyaan no.2 karena sama, apa motivasi Allah ?

Syalom

Tetap saja untuk “mengukur”, maka haruslah ada “acuan” bukan? :slight_smile:

Mari bicara “Waktu” :slight_smile:

Ini Timeline yang dapat dihitung manusia:
Very early universe

Planck epoch: Up to 10–43 seconds after the Big Bang

Grand unification epoch: Between 10–43 seconds and 10–36 seconds after the Big Bang

Electroweak epoch: Between 10–36 seconds (or the end of inflation) and 10–12 seconds after the Big Bang

Inflationary epoch: Unknown duration, ending 10–32(?) seconds after the Big Bang

Baryogenesis

Early universe

Supersymmetry breaking

Quark epoch: Between 10–12 seconds and 10–6 seconds after the Big Bang

Hadron epoch: Between 10–6 seconds and 1 second after the Big Bang

Lepton epoch: Between 1 second and 10 seconds after the Big Bang

Photon epoch: Between 10 seconds and 380,000 years after the Big Bang

Nucleosynthesis: Between 3 minutes and 20 minutes after the Big Bang

Matter domination: 70,000 years

Recombination: ca 377,000 years

Dark ages

Structure formation

Reionization: 150 million to 1 billion years

Formation of stars

Formation of galaxies

Formation of groups, clusters and superclusters

Formation of our solar system: 8 billion years

Today: 13.7 billion years

Ultimate fate of the universe

Big freeze: 1014 years and beyond

Big Crunch: 100+ billion years from now

Big Rip: 20+ billion years from now

Vacuum metastability event

Heat death: 10150+ years from now

Bagaimana dengan Waktu Bumi?

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a6/Geological_time_spiral_-sharper.png/265px-Geological_time_spiral-_sharper.png

The basic timeline of a 4.5 billion year old Earth, with approximate dates:
3.8 billion years of simple cells (prokaryotes),
3 billion years of photosynthesis,
2 billion years of complex cells (eukaryotes),
1 billion years of multicellular life,
600 million years of simple animals,
570 million years of arthropods (ancestors of insects, arachnids and crustaceans),
550 million years of complex animals,
500 million years of fish and proto-amphibians,
475 million years of land plants,
400 million years of insects and seeds,
360 million years of amphibians,
300 million years of reptiles,
200 million years of mammals,
150 million years of birds,
130 million years of flowers,
65 million years since the non-avian dinosaurs died out,
2.5 million years since the appearance of the genus Homo,
200,000 years of anatomically modern humans,
25,000 years since the disappearance of Neanderthal traits from the fossil record.
13,000 years since the disappearance of Homo floresiensis from the fossil record.

Nah, sekarang, bagaimana dengan Waktu Tuhan?

Bersambung… :smiley:

Nah, sekarang, bagaimana dengan Waktu Tuhan?

Konsep itu sendiri berdasarkan tata bahasa manusia:

http://liek59.com/wp-content/uploads/2009/10/Indoeuropean-language-family-tree.jpg

http://www.nature.com/nature/journal/v426/n6965/images/nature02029-f1.2.jpg

Nah, bagaimana dengan “Waktu Tuhan”?

2:1 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu YESUS ada di situ;
2:2 YESUS dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
2:3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu YESUS berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”
2:4 Kata YESUS kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”
2:5 Tetapi ibu YESUS berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
2:6 Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.
2:7 YESUS berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata YESUS kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya.
2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”
2:11 Hal itu dibuat YESUS di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

2:4 λεγει αυτη ο ιησους τι εμοι και σοι γυναι ουπω ηκει η ωρα μου

ωρα: hora ho’-rah: Waktu.

Inilah “Waktu Tuhan”, dan bagaimana kita mengetahui dan memahami?

Silahkan resapi ayat-ayat tersebut :slight_smile:

Dear All, thx for replying.

Saya merasa perlu menyampaikan tujuan penyusunan thread ini. Dengan merubah paradigma kita terhadap ruang waktu (saya lebih senang menggunakan istilah ini daripada “ruang dan waktu”), maka, saya berusaha:

a. Menjelaskan “Foreknowledge” itu merupakan sesuatu yang mungkin, dan Allah tidak sekedar memprediksi sesuatu yang pasti terjadi, tetapi Ia benar benar melihatnya, mengutip ODEN:“God doesn’t think, He Knows”, saya sendiri, sekalipun setuju dengan istilah Foreknowledge, lebih senang memakai istilah “Foresee”.
b. Menjelaskan bahwa Omniscience itu bukanlah sesuatu yang menimbulkan dilema.
c. Menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia bertanggung jawab secara penuh atas dirinya, dan pemikiran bahwa waktu telah “menghapus” dosa dosa kita adalah suatu “ilusi”.
d. Menjelaskan, dengan ASUMSI* bahwa Predestinasi, yaitu Pemilihan Allah akan keselamatan manusia bahkan sebelum bumi ini dibentuk itu benar, dan dengan ASUMSI bahwa ARMENIAN, yaitu bahwa keselamatan itu anugrah yang direspon dengan menggunakan free will, juga benar, maka keduanya tidak perlu bertentangan dan keduanya bisa saling berjabat tangan.
e. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa selain transenden, Allah juga imanen, artinya Ia juga melibatkan diri dengan makhluk ciptaanNYA yang berada di dalam waktu.

Terima Kasih, Tuhan Memberkati.

Studi yang lebih memadai untuk d dapat ditemui dalam topik SCIENTIA MEDIA.
*Saya tidak sedang membahas kebenaran tiap pandangan, saya hanya berusaha menunjukkan bahwa bila keduanya benar, keduanya tidak harus bertentangan.

  1. kita sepakat, tidak perlu dibahas

  2. apakah kita harus tahu motivasi Allah untuk mengimani sesuatu kebenaran? tentu tidak kan?
    kalau anda tanya ayatnya saya bisa jawab, kalau motivasi Allah saya tidak bisa jawab karena FT tidak beritahu

kebenaran adalah absolut kebenaran, tidak bergantung bagaimana manusia memahami motivasi kebenaran tsb

  1. Allah tidak berada dalam waktu, tetapi waktu yg berada “di dalam” (kuasa) Allah
    dalam arti lain Allah tidak tergantung waktu,
    jadi saya tidak mengerti maksud pertanyaan anda, khususnya berhubungan dg intervensi Allah thd dunia

  2. sama dg no 2, dijadikan satu pembahasannya dg no 2

saya bisa mengerti maksud baik anda bro… :afro:

point dari argumentasi saya sebelumnya adalah chronological order predestinasi yg anda tulis tidak sesuai dengan ajaran predestinasi calvinisme

karena ajaran predestinasi berlawanan arah dengan ajaran arminian dan tidak mungkin ada titik temu

Dear Kimz, Terima Kasih.

Anda benar, chronological order itu dapat diubah sesuai dengan yang Sdr sampaikan. Secara urutan kronologis, ajaran Predestinasi memang benar.

Tuhan Memberkati

@kimz

3. Allah tidak berada dalam waktu, tetapi waktu yg berada "di dalam" (kuasa) Allah dalam arti lain Allah tidak tergantung waktu, jadi saya tidak mengerti maksud pertanyaan anda, khususnya berhubungan dg intervensi Allah thd dunia

Pengertiannya tidak semudah itu bro. Betul Allah berkuasa terhadap waktu, tetapi manusia terikat pada waktu.

Begini, untuk mudahnya, kita pakai analogi yang biasa kita lihat di film science fiction aja ya.

  1. Apakah menurut anda, Allah yang sekarang bersama kita ini, juga Allah yang bersama dengan Abraham?
  2. Apakah sejak Abraham hingga hari ini, Allah ‘menyaksikan’ manusia hari demi hari?
  3. Apakah Allah sudah menyaksikan akhir jaman, ataukah masih menantikan akhir jaman itu terjadi, walau sudah tahu apa yang akan terjadi kelak?
  4. Bagaimana Allah ‘menyusuri’ waktu ke masa depan? Secara real hadir atau secara vision?

GBU

TEMPORAL(CHRONOLOGICAL) PRIORITY dan ONTOLOGICAL(CAUSAL) PRIORITY

Penjelasan mengenai terminologi di atas:

Suatu objek A dikatakan “temporally prior to” obyek B apabila eksistensi obyek A mendahului obyek B, yaitu jika obyek A mulai ada pada t1, dan obyek B mulai ada pada t2, dimana t1 mendahului t2.
contoh:

  1. Triceratop telah punah sebelum jaman Majapahit (memiliki hubungan kronologis, tetapi tidak kausatif dan ontologis)
  2. Cesare Maldini lahir sebelum Paolo Maldini (memiliki hubungan kronologis, kausatif dan ontologis, yaitu bahwa Cesare Maldini adalah ayah (penyebab) kelahiran Paolo Maldini)

Suatu objek A dikatakan “causally prior to” atau “ontologically prior to” obyek B apabila eksistensi obyek A merupakan penyebab eksistensi obyek B, yaitu obyek B tidak akan pernah ada apabila obyek A tidak ada.
contoh:

  1. Cesare Maldini adalah ayah Paolo Maldini (memiliki hubungan kronologis, yaitu eksistensi Cesare Maldini mendahului Paolo Maldini)
  2. Suatu substansi merupakan penyebab warna (tidak memiliki hubungan kronologis, karena keduanya eksis pada saat yang bersamaan)

Nah, yang saya sampaikan adalah bahwa Predestinasi benar secara urutan kronologis, dan Armenian benar secara urutan ontologis.

  1. ya
  2. hadir
  3. tidak menantikan
  4. hadir