Treasure Hunter

“ Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,… jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” (Amsal 2 : 1. 4-5)

            Treasure Hunter, Bounty Hunter, Gold Digger...semuanya itu adalah istilah-istilah yang dipakai bagi mereka yang mengerahkan segenap waktu, pikiran dan tenaganya untuk mencari dan menemukan harta terpendam. Dan untuk segala usahanya itu, kadang kita akan melihat bagaimana banyak hal yang mustahil pun akan mereka tempuh, meskipun hal itu akan membahayakan nayawanya, mereka tidak perduli. Sepertinya yang ada dalam pikiran mereka cuma satu, bagaimana caranya mereka akan menemukan dan memperoleh harta tersebut.

            “Indiana Jones” adalah satu kisah terkenal yang legendaris, tentang seorang petualang yang begitu gigih dalam mencari dan menemukan benda-benda bersejarah yang ada hubungannya dengan kisah-kisah di Alkitab. Sekalipun dibuat dengan sangat fiktif, tapi kisah ini sangat menarik. Kita dapat melihat bagaimana Indiana Jones ini membuat semua persiapan perjalanannya, dan memulai kisahnya dengan begitu sempurna.

            Sebuah peta akan menjadi panduan utama yang ia miliki, dan beberapa orang pribumi akan ia bawa untuk menunjukkan jalan, dengan tujuan memudahkan semua prosesnya. Apalagi kebanyakan ia akan berjalan ke daerah-daerah yang belum ia kenal sebelumnya. Belum lagi dengan masalah bahasa setempat yang tentunya akan menjadi kendala kalau ia tidak bisa berkomunikasi nantinya.



           Selalu menyenangkan jika kita bisa mengikuti sebuah proses perjalanan mencari harta karun tersebut. Karena sekalipun ada banyak ketegangan di dalamnya, kita tahu bahwa itu cuma sebuah rekayasa. Dan kita yang menonton tentu akan menganggap bahwa dalam waktu yang tidak lama, setiap tantangan itu pasti akan ada jalan keluarnya, dan bintang utama itu pun akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Barang yang dicari pun ditemukan, dan mereka pun bisa pulang dengan kemenangan yang luar biasa. Walaupun ada kalanya, untuk tidak merusak jalannya sejarah yang ada, barang yang ditemukan itu akhirnya tidak benar-benar bisa dibawa pulang secara fisik, entah karena ada ‘kekuatan’ yang tidak menginginkan hal itu terjadi, sehingga akhirnya barang itu pun kembali tenggelam dalam bumi dan tidak ada yang bisa menyentuhnya lagi, atau barang itu kemudian hancur dengan sendirinya. Apapun hasilnya, tetap saja perjalanan itu sangat menarik untuk diikuti.

            Apa yang kita anggap sebagai harta karun itu, semuanya selalu yang bisa kita lihat dalam bentuk materi. Entah itu uang, emas, perak, berlian, tanah, kendaraan, atau semua benda apapun yang dianggap berharga bagi manusia secara umum. Harta karun adalah satu kumpulan benda yang sangat berharga, yang bagi kebanyakan orang dianggap bisa memuaskan segala keinginan dan kebutuhannya. Sesuatu yang bisa ditukar atau dijual dengan harga yang tinggi, dan hasilnya bisa kita nikmati untuk segala kesenangan kita. Itulah harta karun. Anda setuju dengan saya?

            Sewaktu saya masih kecil, bahkan sebenarnya sampai hari ini, setiap kali saya mendengar kata ‘harta karun’, maka yang akan muncul dalam bayangan saya adalah gambar sebuah kotak kayu yang besar dengan tutup yang melengkung bagian atasnya, dan dengan kunci gembok yang kuat, dan jika dibuka, maka didalamnya akan ditemukan setumpukan uang emas dan perhiasan-perhiasan tak ternilai harganya, yang terbuat dari emas dan bebatuan berharga. Wuihh..khas filem-filem bajak laut jaman kuno kan? (senyum). Tapi itulah selalu yang jadi khayalan saya, mungkin karena terlalu banyak menonton  filem kartun petualangan. Dan saya yakin, gambaran itu bukan hanya mampir di benak saya, tapi pasti juga mampir di benak anda.

            Saat ini, setelah saya makin dewasa, saya semakin menyadari bahwa semua itu tidak dapat dibandingkan dengan pengenalan akan Tuhan. Tepatlah yang dikatakan Tuhan sendiri, ‘Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? ‘ Matius 16:26 

            Ya, seandainya saja engkau memperoleh seluruh dunia dengan segala isinya itu, tapi jika engkau tidak memiliki pengertian yang benar tentang siapa Allah itu, dan tidak pernah memiliki Dia di dalam hatimu, maka tidak akan ada gunanya semua yang kaumiliki itu.

            Seandainya di dalam kisah Indiana Jones itu, sang bintang benar-benar menaruh seluruh hatinya pada harta yang dicarinya tersebut, maka ketika ia melihat harta itu akan terkubur kembali, pastilah ia akan ikut terjun demi menyelamatkan harta tersebut, sekalipun nyawanya akan menjadi taruhannya ketika itu. Untungnya ia tidak sebodoh itu. Sebab kalau itu sampai terjadi, maka filem itu tidak akan pernah ada sequelnya. Tamatlah riwayat Indiana Jones pada ketika itu juga.

            Kurang lebih seperti itulah peranan kita.

            Kalau kita hanya menaruh hati kita pada harta kita, maka seringkali kita akan kehilangan segalanya. Dan jika sudah demikian, apa lagi gunanya memiliki semua harta itu, karena kita tidak akan pernah bisa menikmatinya.

            Tapi kalau kita menaruh hati kita pada pencarian akan pengertian takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah, maka bukan hanya jiwa kita yang diselamatkan,  bahkan seluruh isi dunia inipun bisa Dia berikan jika Dia anggap perlu.

            Sangat kontras memang dalam prakteknya.

            Kita bisa memberikan seluruh diri kita habis-habisan jika hal itu ada hubungannya dengan harta karun secara materi. Tapi sulit untuk memberikan bahkan sepuluh menit untuk mencari Tuhan setiap hari.

            Banyak orang sampai rela mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangun kerajaan bisnisnya, tapi sedikit orang yang mau menuangkan pikirannya untuk membangun Kerajaan Allah. Sangat bertolak belakang.

            Tapi jika hari ini, bukan kebetulan anda membaca artikel ini, maka artinya masih ada harapan bahwa akan bertambah sejumlah orang yang mau dengan sungguh-sungguh mencari dan menemukan pengenalan akan Allah, dengan sebuah perjuangan yang sama dengan ketika anda mencari uang atau harta karun dunia ini.

            Saya pribadi ingin menyaksikan, bahwa semakin saya menggali pengenalan akan Tuhan, semakin menyadari betapa berharganya Dia bagi hidup saya, dan betapa dalamnya dimensi Tuhan itu. Tidak cukup rasanya, sekalipun jika seluruh tahun hidup saya ini dipakai untuk hal itu. Dia sangat mulia, dan maha kuasa, dan sangat berharga. Seluruh kemuliaan, kemahakuasaanNya tidak akan pernah bisa diukur dengan apapun.

            Apa yang saya tahu dan yang saya kenal saat ini, bukan karena hasil usaha saya, tapi sungguh-sungguh karena kerelaanNya untuk membuka diri dan menunjukannya kepada saya. Hanya, jika saya tidak pernah sungguh-sungguh mencari Dia, maka Dia pun tidak akan membuka diriNya seperti hari ini.

            Bagaimana dengan anda? Jika anda tiba pada kesadaran bahwa anda membutuhkan Dia lebih dari apapun, maka sepatutnyalah anda mulai menggali dan mencari harta karun yang sesungguhnya itu. Hikmat dak kepandaian tidak akan bisa dimiliki tanpa Tuhan sendiri yang mengaruniakannya kepada kita. (Amsal 2 : 6).

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung