Tsunami n Gempa Mentawai

Tsunami & Gempa Mentawai Korban Meninggal Sudah 311 Orang
Padang - Jumlah korban gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR), yang disusul tsunami pada Senin malam lalu (25/10), di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), terus bertambah. Seperti dilaporkan Padang Ekspres (Jawa Pos Group), data di Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar tadi malam (27/10) menyebutkan bahwa korban tewas mencapai 311, 412 hilang, dan 15 luka berat. Lebih dari 4 ribu warga mengungsi.

Kondisi Pagai Utara porak-poranda. Keterbatasan sarana dan prasarana maupun kendala akses langsung ke lokasi bencana menyebabkan penanganan korban berjalan seadanya. Wartawan Padang Ekspres yang tiba di Sikakap, setelah berlayar dari Padang kemarin pagi, melaporkan beberapa lokasi terparah.

Data yang dihimpun di posko bencana di Sikakap menyebutkan, di antara 33 dusun di Mentawai yang dihantam tsunami, banyak yang belum melaporkan kondisi mereka. Kawasan yang terparah terhantam tsunami adalah Kecamatan Pagai Utara, tepatnya Dusun Sabeu Gunggung. Sebanyak 68 warga di sana tewas dan telah dikuburkan. Sekitar 160 lainnya hilang dan masih dicari.

Dari informasi masyarakat sekitar, ada tiga dusun di sana yang hilang atau rata dengan tanah. Ratusan warganya belum ditemukan. Korban luka berat dan ringan dibawa dengan perahu kecil ke Sikakap untuk dirawat. Namun, karena keterbatasan jumlah tim medis, puluhan pasien dirawat seadanya dalam tenda darurat.

Jeri, 26, anggota tim SAR, mengatakan bahwa kebanyakan warga yang tewas ditemukan tersangkut di pohon dan di dalam air. Mereka tewas karena terhimpit pohon dan rumah yang diterjang tsunami. “Kami langsung menguburkan warga yang tewas karena jenazahnya sudah berbau,” ujarnya.

Hingga kemarin, warga memilih tetap tinggal di perbukitan. Mereka takut gelombang besar muncul lagi. Di Sikakap, warga hanya merasakan gempa sesaat. Lalu, tiba-tiba gelombang laut setinggi tiga meter muncul.

Ratusan rumah kayu dan bambu di Kepulauan Pagai musnah tersapu tsunami. Gelombang laut juga melanda jalan dan kawasan hingga sejauh 600 meter dari pantai. Di Muntei Baru, sebuah desa di Pulau Silabu, sekitar 80 persen rumah warga hancur atau rusak parah.

Sepuluh warga negara asing (WNA) yang selamat saat menumpang kapal pesiar kemarin tiba di Padang. Mereka terdiri dari delapan warga Australia, seorang warga AS, dan seorang asal Selandia Baru. Mereka pun menceritakan pengalaman mereka selamat dari amukan tsunami.

“Kami berada di buritan kapal ketika gelombang tsunami datang. Kapal yang kami tumpangi lantas menghantam kapal lain di dekatnya. Kapal kami pun terbakar,” cerita Daniel North, warga AS yang juga kru kapal. “Semua langsung terjun dari kapal.”

Selanjutnya, mereka berpegangan pada benda apa saja yang terapung. Mereka bergegas berenang ke darat dan memanjat pohon yang agak tinggi. Setelah menunggu lebih dari 90 menit, mereka baru berani turun. Tidak lama kemudian, mereka diselamatkan kapal lain.

Dari Washington DC, Presiden AS Barack Obama menyampaikan duka cita atas musibah tsunami di Mentawai. Dalam kesempatan itu, Obama berjanji untuk memberikan bantuan kepada Indonesia.

“First Lady Michelle Obama dan saya benar-benar sedih atas jatuhnya korban jiwa dan kerusakan yang terjadi akibat gempa dan tsunami di Sumbar,” kata Obama dalam pernyataannya seperti dikutip Agence France-Presse (AFP) kemarin.

“Saya juga salut atas ketahanan rakyat Indonesia dan komitmen pemerintah mereka dalam menangani para korban. Sebagai teman Indonesia, AS siap membantu dengan cara apapun,” lanjutnya. Selain gempa tsunami di Mentawai, pada saat berbarengan Gunung Merapi di Jateng meletus dan membawa korban jiwa. Obama dijadwalkan datang ke Indonesia bulan depan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah berada di Padang kemarin. SBY memutuskan untuk meninggalkan KTT ASEAN di Hanoi, Vietnam. Hari ini (28/10) SBY akan meninjau Mentawai.

Sementara itu, Wapres Boediono kemarin melihat lokasi gempa dan tsunami di Mentawai. Setelah mendengarkan ekspos Gubernur Sumbar Irwan Hidayat, rombongan Wapres berangkat ke Mentawai dengan menggunakan helikopter.

Dalam kesempatan itu, wapres menegaskan perlu penanganan segera terhadap korban dan pengungsi yang sangat memerlukan bantuan. Wapres meminta gubernur Sumbar menangani distribusi bantuan itu kepada warga. Tidak menumpuk di gudang seperti pada gempa 30 September lalu.

TNI-AL juga akan mengirimkan kapal terapung KRI dr Soeharso. Kapal tersebut akan bertolak dari Surabaya hari ini dengan membawa bantuan logistik, personel TNI-AL, serta 22 dokter dan perawat.

Kemarin pagi BNPB Pusat, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan juga telah mengirimkan bantuan dengan pesawat kargo. Bantuan yang telah dikirimkan BNPB, antara lain, 500 tenda gulung, 50 tenda keluarga, 500 tikar, 80 lembar selimut, dan 650 paket lauk-pauk. “Kemensos juga mengirimkan lima ton paket makanan. Kementerian Kesehatan mengirimkan obat-obatan sebanyak empat ton,” kata Sekretaris Menko Kesra Indroyono Soesilo.

Deputi Kedaruratan BNPB Sutrisno mengatakan, pemukiman terparah yang terkena tsunami sudah ditinggal penghuninya mengungsi. Desa terparah itu, antara lain, Masukat, Batiat, Bulat Munggu, dan Sibogunang di Pagai Utara. Selain itu, Desa Bulak Siat dan Desa Tiup di Pagai Selatan. Di Dusun Munte sebanyak 58 orang tewas. Di Dusun Malakopak, 56 orang meninggal.

sumber http://www.lihatberita.com/2010/10/tsunami-gempa-mentawai-korban-meninggal.html

Ratusan korban hidup belum terjangkau

Empat hari setelah tsunami menerjang Kepulauan Mentawai situasi semakin kritis.

Wartawan BBC Dewi Safitri yang berada di Sikakap, Pagai Utara, melaporkan diperkirakan masih ada ratusan korban yang hidup, tetapi luka parah dan berada di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau di berbagai titik di Kecamatan Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Tim penolong masih berpacu dengan waktu untuk menemukan mereka dan membawa mereka ke Sikakap.

Saat ini Sikakap adalah satu-satunya tempat yang menyediakan bantuan medis yang memadai.

Namun ini merupakan hal yang sulit karena tidak cukup sarana transportasi untuk mengangkut mereka.

Tukar format AV

Sampai saat ini hanya tersedia beberapa kapal kecil yang jauh dari aman bila dipakai untuk perjalanan laut selama berjam-jam menuju para korban dan membawa mereka kembali ke Sikakap.
Tak tampak pesawat udara

Beberapa jam yang lalu wartawan kami, Dewi Safitri ikut dalam sebuah kapal yang mengangkut tim penyelamat berlayar ke desa Sabeugungung yang masih terletak di Pulau Pagai Utara.

Pelayaran itu seharusnya memakan waktu sekitar satu jam. Namun kapal kemudian terpaksa berputar balik dan perjalanan dibatalkan karena angin kencang dan ombak yang tinggi.

Pengiriman kapal bantuan juga terpaksa ditunda menunggu cuaca membaik sepanjang hari ini.

Wartawan kami mengatakan, situasi ini bisa dibantu bila operasi pengiriman dilakukan dengan pesawat kecil atau helikopter.

Namun sejak kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin ke lokasi bencana di Mentawai, belum ada tampak satu pun pesawat udara untuk mengangkut bantuan maupun korban di Sikakap sampai hari ini, kata wartawan kami.

Foto Mentawai dan Bantuan