TUHAN

Nah, begini. Dalam penetapan konstanta tsb ada 2 macam pendekatan, yaitu EMPIRIS (INDUKSI) dan DEDUKSI.
Gravitasi, berat jenis (massa jenis), kecepatan cahaya, kecepatan suara dsb itu ditetapkan secara EMPIRIS.
Sesuatu yang ditetapkan secara empiris, tergantung dari asumsi2nya yang menyertainya, dalam hal ini keadaan alam semesta dalam kenyataan. Betul kan?
Jadi, bila keadaan alam semesta ini BERBEDA, dari sekarang, misalnya kontelasi matahari dan planet2nya, Isi Bima Sakti bahkan sampai “black hole” (kalau ada) berbeda dari sekarang, saya yakin, konstanta2 yang didapat dari penyimpulan secara empiris ini bisa berbeda pula.
Kita menganggap konstanta2 ini sebagai konstanta (tetapan) karena asumsi kita Bumi “dan sekitarnya” (Bagian Alam semesta di sekeliling Bumi) adalah TETAP.

Berbeda dengan Pi. Pi adalah konstanta yang diperoleh secara DEDUKSI teoritis ketika membandingkan lingkaran dengan garis tengahnya atau jari jarinya. Tidak perduli dalam kondisi apapun, Pi tetap segitu. Itu PERSIS pastinya seperti 1+1=2.
Istilahnya, “Mbahnya Tuhan” juga tidak bisa merubah besarnya Pi itu. Inipun, asumsinya tetap ada, yaitu bila garis lurus sebetulnya adalah garis lengkung. Tapi ini sudah masuk ke Empirisme yang melibatkan kecepatan cahaya dsb yang tentu saja empiris lagi sifatnya.
Sejauh dalam batasan teoritis, segitiga sama sisi misalnya, tetap bersudut 60 derajat, tidak kurang tidak lebih “seipritpun”.

Lagi lagi anda merefer kepada tulisan orang lain dan memakainya sebagai dasar berpijak argumentasi anda.
“Derajat kekekalan” itu tidak bisa saya pahami sama sekali. Sama seperti - kalau ada - “derajat keberadaan”. Ada sesuatu yang ada, agak ada, sangat ada, kurang ada, tidak ada dsb. Itu makin jauh tersesat dalam absurditas alias kemuskilan.

“+” adalah POLA. Pola itu, kita sendiri yang menentukan, alias kacamata kita.
Kalau 22+1=23, 23+1=24, 24+1=25 adalah Pola “+1” untuk menjelaskan persoalan sebagai analogi kausalitas, maka janganlah analoginya sendiri yang diserang, melainkan SUBSTANSI yang diwakili oleh analogi itu.

“+” atau “-” atau “+1”, “+1000” atau berapapun ditetapkan sebagai POLA, tentu saja kita tidak ubah, karena itu maksudnya analogi tentang POLA sebab akibat.
Makanya, saya menunjukkan kekeliruan orang yang mengkritik “Allah kok beranak seperti kucing” untuk simbolisme Jesus yang diyakini sebagai Putra Allah oleh orang Kristen, adalah karena kesalahan yang SAMA, tidak bisa melihat substansi sebuah analogi.
Orang Kristenpun, yang dikritik (diolok) dengan cara yang sama sejak ratusan tahun, tidak bergiming, karena yai itu, bukan substansinya.

Alias tembakannya meleset dari sasaran. Kafilahnya berlalu saja.

Yang #192?
Sudah saya tanggapi di posting #193.

Nah, begini. Dalam penetapan konstanta tsb ada 2 macam [b]pendekatan[/b], yaitu EMPIRIS (INDUKSI) dan DEDUKSI. . . . ...tidak kurang tidak lebih "seipritpun".

Nah, itu bro, pemahaman Indeterministik, yaitu skeptism,
bahwa pendekatan bukan lah realitas sebenarnya, sehingga tidak cukup layak dijadikan acuan penyimpulan akhir, berakibat segala pembahasan menjadi “abu-abu”, melayang, mengambang…
ok, no problem bro,
itu memang sebuah keniscayaan, saya memakluminya… :slight_smile:

Lagi lagi anda merefer kepada tulisan orang lain dan memakainya sebagai dasar berpijak argumentasi anda.

Hehe,
itu sebenarnya link yg sesuai dg gambaran ide saya itu sih…
jadi biar statement saya hemat-padat-montok-berisi… :smiley:

"Derajat kekekalan" itu tidak bisa saya pahami sama sekali. Sama seperti - kalau ada - "derajat keberadaan". Ada sesuatu yang ada, agak ada, sangat ada, kurang ada, tidak ada dsb. Itu makin jauh tersesat dalam absurditas alias kemuskilan.

Confirmed…

"+" adalah POLA. Pola itu, kita sendiri yang menentukan, alias kacamata kita. Kalau 22+1=23, 23+1=24, 24+1=25 adalah Pola "+1" untuk menjelaskan persoalan sebagai analogi kausalitas, maka janganlah analoginya sendiri yang diserang, melainkan SUBSTANSI yang diwakili oleh analogi itu.

“+” atau “-” atau “+1”, “+1000” atau berapapun ditetapkan sebagai POLA, tentu saja kita tidak ubah, karena itu maksudnya analogi tentang POLA sebab akibat.
Makanya, saya menunjukkan kekeliruan orang yang mengkritik “Allah kok beranak seperti kucing” untuk simbolisme Jesus yang diyakini sebagai Putra Allah oleh orang Kristen, adalah karena kesalahan yang SAMA, tidak bisa melihat substansi sebuah analogi.
Orang Kristenpun, yang dikritik (diolok) dengan cara yang sama sejak ratusan tahun, tidak bergiming, karena yai itu, bukan substansinya.

Alias tembakannya meleset dari sasaran. Kafilahnya berlalu saja.

Ok, sekarang kalau pertanyaannya begini bro Ferr:
Kalau Semua adalah akibat dari sebab. Apapun.
Apakah analogi tentang POLA sebab-akibat itu juga adalah sebuah akibat?

(ttg. olok2 itu, saya memaklumi, semua pemahaman religius agama potensial utk dijadikan bahan olok2 non-substantif oleh orang2 usil)

Itu yang tanggapan yang saya tulis, Pertanyaan saya apakah anda sudah paham atas uraian yang belum saya tulis ?

Saya butuh tulisan anda dulu untuk menjawab paham atau tidak

Bukan paham atau tidak paham yang saya tanyakan, tapi sudah paham atau belum paham ? :angel:

Belum tahu

mengapa anda belum tahu ? :angel:

Data belum mencukupi untuk menyimpulkan sebagai “tahu”

Kesimpulan apa yang didapat jika Data nya belum diketahui ?

Kesimpulan: Data belum mencukupi untuk menarik kesimpulan apapun. Insufficient data.

Bagaimana orang bodoh menterjemahkan Tuhan? Apakah hanya orang pandai yang dapat menguasai Tuhan?

@premium

Masing-masing potensi memiliki tugasnya sendiri-sendiri bro Premium, sebagai orang yang ber-Tuhan tentunya kita meyakini bahwa segala sesuatu memiliki tujuan yang mengandung makna…

Kalau mengikuti alur ini sebenarnya tidak konsekuen jika “TUHAN” pun ada “hanya” sebagai sebab……demikian juga menjadi akibat dari “sesuatu” yg menyebabkan “TUHAN”……

Dan Alur sebelum Z adalah Y…tidak bisa terputus disitu…karena A pun hanya sebagai “titik” awal yg “sudah ditentukan” ….kurang tepat rasanya diputus di satu titik

bagaimana jika simbolnya diganti : * # % ^ & …?

baik dalam wujud…wujud mungkin dan tak wujud…tidak selalu sekuen dari wujud mungkin menjadi wujud…dikarenakan suatu sebab…wujud mungkin dapat menjadi tak wujud…tanpa harus dipengaruhi sebab ataupun menjadi akibat…tidak bisa dipaksakan linear…

inilah kesulitan manusia yang dalam keterbatasannya mencoba mencari “sebab” kenapa Tuhan itu “harus” ada…

GBU

Saya tidak paham sepenuhnya dimana poin keberatan anda terhadap ARGUMEN keberadaan Tuhan ini. Kalau anda punya argumentasi lain yang logis untuk menunjukkan bawa Tuhan itu ADA, saya akan sangat gembira untuk mengulasnya.

Dan lagi yang anda sebut tidak konsekwen itu MEMANG adalah contoh-contoh yang salah yang SENGAJA saya bantah, terutama bagi yang meyakini bahwa sebab akibat berada dalam satu lingkaran raksasa.

Simple Logic :angel:

Saya pernah liat film seorang ilmuwan atheis yang brkata pada seorang pendeta “tidak ada 1 pun bukti ilmiah tentang keberadaan TUHAN.” Lalu pendeta itu menjawab “klo begitu tunjukan bukti kamu menyayangi ayahmu”. Kebetulan ayah ilmuwan itu meninggal beberapa tahun karena sakit. Dan ilmuwan itu diam. Sampai pada suatu kesempatan ilmuwan itu menerima transmisi luar angkasa yang berisi instruksi membangun portal komunikasi dengan alien. Dan setelah dibangun, ilmuwan itu yang diberi kesempatan melewati portal itu. Dia diberi alat perekam berupa kamera, perekam suara dan lain2. Dan benar. Setelah melewati portal itu dia bertemu alien. Bersambung.

Jadi kesimpulan dari film itu apa? …

Dia berbicara lama dengan alien itu. Sampai akhirnya disurung alien itu kembali. Dan ilmuwan itu keluar dari portal. Lalu sebuah komisi negara menanyai ilmuwan itu tentang apa yang didapat setelah melewati portal itu. Diapun bercerita panjang lebar tentang percakapannya dengan alien. Dan setelah dicrosscheck dengan bukti kamera dan perekam suara, ternyata alat perekamnya tidak merekam apa2. Alatnya menyala tapi tidak merekam apa2. Imuwan itu panik karena apa yang diceritakan tidak bisa dibuktikan dengan bukti fisiknya. Bersambung.

Dan kamera luar yang merekam dia masuk portal itu menunjukan bahwa dia berada dalam portal itu HANYA 3 DETIK!! “tidak mungkin anda bicara panjang lebar dengan alien itu hanya dalam 3 detik. Semua bukti menunjukan anda tidak berkomunikasi dengan alien itu.” komisi itu menolaknya… Lalu teringatlah dia akan kata2nya “tidak ada bukti Ilmiah Tuhan itu ada”. Lalu kata ilmuwan itu… “saya tau saya mengalaminya meskipun saya tidak memiliki buktinya. Anda berhak tidak percaya karena bukti2 itu tidak mendukung ucapan saya. Tapi APA YANG SAYA ALAMI, SAYA PERCAYAI”

Gimana dgn orang2 yg GAK mengalami tp dituntut utk percaya?
Kalo gak percaya, dibilang kurang iman ato ada dosa.