TULIP - DASAR POKOK AJARAN

Edwin Palmer
Buku TULIP tulisan Palmer ini membicarakan lima pokok dari calvinisme (thesis-thesis calvin) yang populer yaitu TULIP, yang sebenarnya perlu dipelajari juga secara lengkap pemikiran-pemikiran calvin sehingga kita dapat mengerti penuh apa yang ingin disampaikan calvinisme. Kelima pokok yang diangkat ini banyak membahas tentang sisi kedaulatan Allah dalam kehidupan manusia. TULIP terdiri dari total depravity (kerusakan total), unconditional election (pemilihan tak bersyarat), limited atonement (penebusan terbatas), irresistible grace (anugerah yang tidak dapat ditolak), dan perseverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus).

Kelima pokok yang lebih dikenal lagi dengan konsep pradestinasi ini mengatakan bahwa sesungguhnya setiap orang sudah ditentukan akan keselamatannya sejak dari semula, yaitu sebelum ia dilahirkan (Roma 9:13). Konsekuensi dari konsep ini adalah bahwa terdapat sebuah pemilihan terhadap orang-orang yang percaya. Disini kita akan lebih mendalami kebenaran bahwa bukan kita yang memilih Allah tetapi Allah yang memilih kita. Sebelum dunia ini diciptakan, orang-orang percaya sudah ditetapkan oleh Allah. Sebelum Esau dan Yakub dilahirkan, Allah sudah memilih Yakub dan melewatkan Esau, sebelum mereka bisa melakukan dosa apa pun.

Kelima pokok ini adalah lima yang bermula dari satu, dengan kata lain jika salah satu dari pokok ini benar,keempat pokok yang lain pun harus benar. Total depravity mengatakan bahwa sesungguhnya semua orang di dunia ini telah berdosa dan tidak ada satu pun yang dilakukan manusia lepas dari dosa. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada orang yang layak untuk diselamatkan oleh karena apa yang ia lakukan, sehingga jika ada orang yang selamat maka itu karena Allah telah memilih mereka dari semula tanpa syarat (unconditional election). Kemudian, oleh karena ada orang yang dipilih dan yang dilewatkan, maka penebusan yang dilakukan oleh Kristus pun tidak untuk semua orang, tetapi hanya untuk umat yang dipilh saja (limited attonement). Saat Allah sudah menentukan orang percaya, maka orang itu pun tidak bisa menghindar dari anugerah yang diberikan (irresistible grace) dan Allah sendiri yang akan menjaga iman dan keselamatan orang-orang tadi dengan yang membuat mereka tekun dalam iman mereka (perseverance of the saints), walaupun selama hidup berada dalam perjuangan melawan dosa.

Mebaca buku ini diperlukan kerendahan hati untuk mengakui memang begitulah kedaulatan Allah. Menerima bahwa dari awal memang sudah ditetapkan orang yang akan selamat dan orang yang akan menderita selamanya di neraka, mungkin akan membuat kita merasa ini sebuah kengerian dan ketidakadilan, tetapi yang akan kita rasakan sebaliknya adalah rasa syukur yang sangat luar biasa karena kita telah menerima anugerah yang sebenarnya tidak layak kita terima dan juga mengetahui bahwa sekali sekarang kita percaya, maka untuk selamanya Allah akan memastikan keselamatan kita.

Pemikiran yang yang harus dihindari setelah mengetahui kelima pokok ini adalah bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa atau tidak perlu berusaha dalam kehidupan kita, seperti mengerjakan keselamatan karena semua telah ditetapkan dari semula. Segala sesuatu berada dalam kedaulatan Allah, tetapi firman Allah juga mengatakan manusia (orang percaya) tetap mempunyai tanggung jawab. Walaupun bagaimana kedua hal itu bisa berjalan bersamaan merupakan misteri Allah yang bisa jadi tidak dibukakan untuk kita orang percaya. Kiranya kebenaran dalam buku ini semakin meneguhkan iman kita. Salam.

Reformasi & Theologi Reformed

Seberapa tahukah kalian mengenai perbedaan antara ajaran Luther dan Calvin? Apakah prinsip-prinsip dasar Theologi Reformasi yang dilakukan oleh para reformator? Apakah relevansi Theologi Reformasi pada masa sekarang ini? Pertanyaan-pertanyaan tadi adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang kadang tersembul di benak kita atau ditanyakan oleh orang-orang lain yang ingin tahu lebih banyak tentang Reformed. Pertanyaan-pertanyaan mendasar dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut ketika hendak dicari jawabannya. Buku berjudul Reformasi & Theologi Reformed ini berisi sebagian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul ketika menyelidiki Theologi Reformed.

Sejarah dan latar belakang reformasi diuraikan di dalam buku ini. Mulai dari filsafat yang mempengaruhi theologi Abad Pertengahan, latar belakang pemikiran Luther, kelemahan gereja Katolik Roma pada masa itu, pengaruh Agustinus dalam pemikiran reformasi, hingga pemakuan 95 tesis reformasi di pintu gerbang gereja Schloβkirche di Wittenberg, Jerman pada tanggal 31 Oktober 1517 oleh Martin Luther.

Martin Luther dan para reformator setelahnya seperti Calvin, Zwingli, dan Melanchthon pada dasarnya tidak ingin menyerang, merombak doktrin, dan memecahkan gereja, melainkan mempengaruhi gereja agar kembali setia kepada Allah. Mereka menolak tradisi yang telah berakar di gereja Katolik Roma seperti kekuasaan Paus adalah yang tertinggi, termasuk berhak meniadakan dosa, penjualan karcis penebusan dosa, ajaran Maria sebagai ratu sorga dan ibu Tuhan, dan lain-lain. Pengikut Kristus diharapkan untuk kembali pada pengajaran yang utuh, seimbang, dan sesuai dengan Alkitab, bukan filsafat atau pikiran manusia. Dalam praktiknya, Gerakan Reformasi diharapkan mampu merobohkan yang salah dan membangun kembali yang benar, serta ketat dalam menjalankan disiplin gereja. Adapun terdapat pula perbedaan pandangan antara Luther dan Calvin yaitu dalam doktrin Allah, Kristologi, doktrin dosa, dan doktrin gereja. Semuanya dijelaskan satu-persatu di dalam buku ini.

Pdt. Dr. Stephen Tong mengingatkan bahwa sikap positif mengoreksi diri terus-menerus mengakibatkan dampak sampingannya dalam sejarah gereja Reformed sehingga ada yang menjadi liberal atau terseret arus theologi modern. Tapi justru gereja yang liberal menjadi berkurang anggotanya. “Hal ini disebabkan dalam liberalisme tak ada lagi Injil yang murni dan iman kepercayaan yang akurat serta murni yang dapat dipelihara…” (hlm. 47). Maka dari itu hamba Tuhan yang telah melayani Tuhan selama lebih dari 50 tahun ini mendirikan Gerakan Reformed Injili supaya mempunyai dasar ajaran firman Tuhan yang mendalam dan ketat, selain itu juga aktif dalam mengabarkan Injil.

Adapun dijelaskan pula penentang dari Reformasi yaitu Kontra Reformasi dari Katolik Roma dan gerakan Reformasi Radikal dari orang-orang yang merasa kurang puas dengan para reformator. Dibentuklah kaum Jesuit oleh Loyola yang usahanya dalam mendidik seseorang untuk setia pada Katolik Roma dan keketatan pendidikannya patut diacungi jempol, tetapi menghalalkan segala cara dalam Kontra Reformasi. Sehingga lambat laun ditutuplah sekolah Jesuit tersebut.

Pandangan tradisi Reformed dan lima prinsip dasar dari doktrin keselamatan dan doktrin Allah yang dikenal dengan akronim TULIP dijelaskan dengan gamblang. Sebuah prinsip yang menyatakan perubahan status dari orang berdosa menjadi orang kudus oleh karena penebusan Kristus. TULIP terdiri dari:

  1. Total Depravity (kerusakan total manusia yang berdosa)

  2. Unconditional Election (pilihan Allah yang tanpa syarat)

  3. Limited Atonement (penebusan Kristus hanya terbatas bagi umat pilihan)

  4. Irresistible Grace (anugerah Roh Kudus yang tidak dapat ditolak)

  5. Perseverance of the Saints (ketekunan orang kudus sampai pada akhirnya)

Dijelaskan pula pengaruh Theologi Reformed di dalam penghargaan terhadap hak manusia, sastra, budaya, dan musik. Teknologi produksi yang paling akurat adalah berasal dari negara-negara yang dipengaruhi oleh Theologi Protestan seperti Jerman, Swiss, Swedia, dan sebagainya. Adanya mandat budaya memungkinkan orang Kristen menjadi terang di segala bidang kehidupan, mulai dari polisi, hakim, profesor, guru, pedagang, dan lain-lainnya. Ini terlihat dari nilai kejujuran lebih dijunjung tinggi di negara-negara Barat daripada negara-negara agama lain maupun komunis. Pdt. Dr. Stephen Tong menasihatkan bahwa gereja yang baik haruslah membenahi doktrinnya, hidup menurut etika yang sesuai ajaran Alkitab, membenahi makna hidup dan pelayanan, memuliakan Tuhan di bidang-bidang yang berbeda, dan mendorong pekabaran Injil.

Buku ini merupakan rangkaian dari seri Theologi Reformed karya Pdt. Dr. Stephen Tong, pendiri Lembaga Reformed Injili Indonesia, seorang yang telah mempersembahkan hidupnya melayani Tuhan sejak 1957. Ia memberikan contoh nyata dari pengalamannya di buku ini untuk mempermudah pembaca memahami isi yang disampaikan. Buku ini mudah dipahami dan bukanlah buku yang penuh dengan terminologi khusus serta filsafat yang berat. Diharapkan buku ini dapat menjadi pengantar untuk mengenal Reformed dan wawasan Theologi Reformed. Pembaca awam yang telah lama menjadi orang Kristen namun masih merasa belum banyak mengetahui tentang Theologi Reformed maupun orang yang baru mengenal Theologi Reformed dianjurkan untuk membacanya.

Hadi Salim Suroso

Total Depravity (kerusakan total manusia yang berdosa)
Kejadian 6:5 menegaskan bahwa dalam dosa, kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Hal ini justru mengerikan karena hati manusia merupakan pusat kehidupan manusia, yang sangat dekat dalam hidup manusia, tersembunyi dan terus bekerja. Kalau begitu, hidup manusia sudah begitu dalamnya jatuh dalam dosa. Secara horisontal, pencemaran dosa merasuk masuk ke dalam segala aspek manusia, baik kemampuan agama (sense of divine), kemampuan bahasa, kemampuan seni, rasionalitas, kreativitas, moralitas, relasional, dan sebagainya.

Pencemaran ini menyebabkan kerusakan. Kata ”rusak” berarti tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya. Itu sebabnya, segala aspek hidup manusia sebenarnya masih ada, tidak hilang, sebagaimana yang ditegaskan oleh John Calvin bahwa gambar Allah tidak hilang melainkan rusak alias tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Kemampuan akal dan agama misalnya, masih ada tetapi tidak lagi membawa akal dan agama kembali kepada Tuhan sejati tetapi kepada berhala dan allah palsu. Hal ini dapat diumpamakan dengan mobil dimana semua onderdilnya masih ada tetapi tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, tidak dapat bekerja seharusnya.

Jika seluruh aspek se dalam-dalamnya dan seluas-luasnya telah tercemar oleh dosa maka kita sekarang harus memikirkan kalau begitu apakah dosa itu, yang telah mencemari hidup manusia. Dosa secara esensi adalah perlawanan kepada Tuhan sebagaimana yang ditegaskan Daud dalam Mazmur 51:6: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat.”

Hal ini tidak berarti bahwa dalam dosa Daud, ia tidak sama sekali merugikan orang lain. Jelas Daud merugikan Batsyeba dan Uria. Lihat saja, setelah Batsyeba hamil, Daud begitu jahatnya ingin menutupi dosa dengan berbuat licik kepada Uria. Ia memanggil Uria, memberi hadiah dan memabukkannya dengan maksud supaya Uria pergi dan tidur dengan Batsyeba, dengan demikian janin itu adalah benih dari Uria. Tetapi Uria begitu setia kepada Raja, mengingat pasukan kerajaan yang sedang berperang, ia merasa diri tidak layak untuk beristirahat dan enak-enakkan. Uria begitu setia kepada Daud tetapi Daud begitu jahat kepadanya. Tetapi, dalam refleksi akan dosa-dosanya, Daud menegaskan bahwa dosa itu sesungguhnya adalah melakukan apa yang Tuhan anggap jahat.

Di sini, dosa tidak berarti sekedar perasaan tidak enak saja, sekedar mengganggu perasaan orang lain, sekedar kelemahan dan ketidaksempurnaan, sekedar kerugian secara materi. Dosa banyak kali mengenakkan perasaan, didukung banyak orang dan mendatangkan keutungan secara materi. Tetapi jangan lupa bahwa dosa adalah melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.

Kerusakan total ini memimpin kepada ketidakmampuan total. Ketidakmampuan total mencakup tiga aspek: tidak mampu memahami kebenaran sejati, tidak mampu menginginkan kebenaran sejati, tidak mampu melakukan kebaikan sejati. Ketidakmampuan mengenal kebaikan sejati tercermin dalam ungkapan “tidak ada yang berakal budi” (Mz.53). Di sini bukan soal ada tidaknya akal budi tetapi dalam bahasa Inggris jelas: no one who understand (tidak ada yang mengerti). Hal ini bahwa segala kebenaran itu bukan saja melampaui akal manusia tetapi bahwa tanpa pertolongan Roh Kudus, akal berdosa tidak bisa memahami kebenaran sejati. Itu sebabnya, penginjilan begitu sulit membuat orang memahami semua kebenaran ini.

Aspek kedua adalah tidak mampu menginginkan kebenaran sejati. Hal ini karena dosa adalah perlawanan kepada Allah sehingga semakin berdosa, semakin jauh dari Tuhan, berjalan bertolak belakang dengan Tuhan. Celakanya, semakin beragama, seperti dikatakan John Stott, semakin membawa manusia jauh dari Tuhan. Semakin beragama, semakin merasa diri benar, dan semakin tidak menginginkan Injil dan kebenaran sejati. Celaka!

Aspek ketiga adalah ketidakmampuan melakukan kebaikan sejati. Karena yang sejati hanyalah Allah Tritunggal maka kebaikan sejati haruslah memenuhi tiga standar: dalam iman kepada Tritunggal, menurut hukum Tritunggal dan bermotivasi memuliakan Tritunggal. Kalau begini maka tidak ada orang yang sanggup memenuhi apa yang seharusnya dan kebaikan yang dilakukan hanyalah kebaikan semu.

Hal ini yang tergambar jelas dalam perikop Lukas 18:18-27. Seorang pemimpin datang dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Terkandung beberapa kelemahan dalam pertanyaan ini. Pertama, ia memahami Tuhan Yesus sekedar sebagai guru yang baik. Kedua, ia merasa perbuatan baik manusia dapat diandalkan untuk mencapai keselamatan. Ketiga, ia merasa bahwa ia sanggup berbuat baik agar diselamatkan. Tuhan Yesus menjawab kelemahan-kelemahan ini dengan lugas dan tuntas.

Tuhan Yesus mengkritisi pengenalan sang pemimpin akan diri Tuhan Yesus, sekedar guru yang baik. Jika demikian, Tuhan Yesus berkata, tidak ada yang baik kecuali Allah. Kalau ia mengenal Yesus sebagai Allah, jelas baik. Sebab yang ditegaskan Tuhan Yesus adalah bahwa di antara manusai tidak ada yang baik. Tuhan Yesus juga menguji moralitas dengan memberikan lima hukum dari bagian kedua 10 hukum Taurat. Ia menjawab, “semuanya telah kuturuti sejak masa mudaku” (21). Kemudian Tuhan Yesus menguji moralitasnya: apakah sejati mencapai esensi atau tidak yaitu dengan menyuruhnya menjual segala harta dan memberi kepada orang miskin kemudian mengikuti Yesus.

Ada dua esensi dari 10 hukum: mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Tuhan Yesus sedang menguji benarkah ia mengasihi Allah lebih dari harta? Ternyata tidak. Tuhan Yesus juga sedang menguji benarkah ia mengasihi manusia? Ternyata tidak. Jadi, apa yang dia lakukan Cuma fenomena, tidak mencapai esensi. Karena itu, sulit bagi manusia dengan perbuatan baik bisa diselamatkan, ibaratnya seekor unta masuk lubang jarum.

Hasil search kata TULIP:
TULIP adalah nama sejenis bunga yang biasa dijumpai di Belanda.

Hasil search dari : TONG :

  • Kelas Kata: kata benda
  • Definisi: tempat (air, paku, semen, dsb) yg dibuat dr papan kayu, plastik, dsb bentuknya bulat torak; tahang:
  • Contoh: setiap penduduk diperintahkan menyediakan tong sampah di rumahnya
  • tong kosong nyaring bunyinya, pb ::
    Definisi: orang yg bodoh biasanya banyak bualnya (cakapnya)
  • tong penyamak ::
    Definisi: tong khusus tempat cairan penyamak untuk mencelup (merendam) kulit

Sumber: http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=tong&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=tabel

GBU

saudara sudah ad hominem

Loh, saya cari dari KBBI di internet dapatnya itu. Sumbernya Universitas indonesia, saya copy-paste doang. Ngomong sama rektor UI/kepala sekolah, suruh ganti.

GBU

jangan menghina sesamamu, saudara sudah menhina pendeta.
tidak benar tindakan saudara.

Silahkan klik link yang diberikan dan buktikan kalau salah.

GBU

Kalau ngaku sudah bertobat, lalu kemudian misalnya pindah agama tetangga. Ya bisa tidak selamat.

GBU

saudara sangat tidak sopan
yang saya berikan TULIP dari alkitab saudara bilang BUNGA.

saya berikan Pdt. Stephen Tong saudara bilang TONG BESI.

TULIP berikut TONG saya cari kagak ada di Alkitab, makanya kemudian dicari di kamus.

Yang nulis seperti itu adalah kamus KBBI yang saya baca. Cuma copy paste, tanpa copy paste pun memang sudah tertulis seperti itu.

GBU