Ubah Cara Berpikir: Menguntungkan atau Merugikan?

Sumber: Ubah Cara Berpikir: Menguntungkan atau Merugikan? - Gereja GKDI-Blog

Ubah Cara Berpikir: Menguntungkan atau Merugikan?

Seorang saudara pernah bersaksi bahwa sebelum mengenal Firman, ia adalah pemilik warung yang ramai pembeli. Setelah belajar Alkitab dan tahu bahwa merokok itu dosa—karena merusak kesehatan diri dan orang lain di sekitar—ia memutuskan tidak saja untuk berhenti merokok, tetapi juga berhenti menjual rokok. Akibatnya, warungnya semakin lama semakin sepi, bahkan akhirnya gulung tikar.

Namun, alih-alih down, keterpurukan ini justru mendorongnya untuk tetap berpikir positif dan gigih mencoba berbagai cara. Sampai suatu ketika, saudara ini menekuni sebuah bisnis yang tepat. Usaha tersebut memberinya penghasilan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bukan hanya mampu bangkit dari kebangkrutan, ia juga melejit secara finansial. Hidupnya kini berbalik 180 derajat.

Apa sebenarnya rahasia kesuksesan saudara ini?

Pengenalan akan Kristus “Membalikkan” Cara Berpikir

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. – Filipi 3:8

Sebagaimana Paulus menganggap sampah hal-hal yang dahulu ia banggakan—entah itu asal-usul, silsilah, prinsip, kegiatan, atau pengetahuannya—demikian pula saudara yang saya ceritakan di atas. Ia bisa saja menolak Firman yang jelas-jelas akan merugikan penghasilannya, tapi ia memilih tunduk pada kebenaran.

Keputusan itu membuat para langganannya terheran-heran dan menganggapnya aneh. Warung yang tidak menjual rokok adalah sesuatu yang langka. Satu-dua pembeli menghinanya, keluarga besar pun mencemoohnya, tetapi ia tetap teguh pada pendirian. Ia tidak malu untuk menyatakan dan membagikan keyakinannya yang baru kepada orang lain.

Mengapa demikian?

Pengenalan akan Kristus telah mengubahkan cara berpikir saudara tersebut. Secara ekonomi, ia mengalami kerugian, tetapi baginya kesehatan dan keselamatan jiwanya jauh lebih berharga. Hidup dalam sukacita karena dimerdekakan dari dosa jelas lebih mahal daripada segepok uang hasil penjualan rokok setiap harinya.

Pertobatan, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia, memiliki arti perubahan cara pikir. Bagaimana cara kita memandang segala sesuatu, itulah yang harus lebih dahulu kita ubah jika ingin bertobat. Perubahan perkataan, sikap, dan cara hidup berawal dari pikiran. Tanpa perubahan pikiran, sulit rasanya untuk melakukan kebenaran yang sesuai dengan pertobatan (Kisah Para Rasul 26:20).

Bagaimana Kalau Keadaan Malah Berbalik Buruk?
Berikut beberapa prinsip yang perlu kita pegang:

1. Menderita karena Yesus Adalah Kebahagiaan
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. – Matius 5:11

Kalau orang lain menderita karena dosa dan kejahatan, maka berbahagialah kita yang menderita karena melakukan kebenaran. Seperti Petrus yang gembira karena dianggap layak menderita demi nama Yesus (Kisah Para Rasul 5:41).

2. Pikirkan Hanya Hal yang Benar dan Mulia

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. – Filipi 4:8

Tuhan melengkapi manusia dengan akal agar kita dapat mencari solusi dalam menghadapi berbagai persoalan. Memikirkan apa yang benar dan mulia berarti kita senantiasa berpikir tentang hal-hal yang kudus dan positif. Dengan demikian, kita akan mudah bersyukur dan hidup terasa lebih mudah untuk dijalani.

3. Teruslah Berusaha
Ingat karakter Dory dalam film Finding Nemo? “Just keep swimming” adalah moto yang selalu ia ucapkan dalam perjalanan panjangnya mencari temannya Nemo.

Prinsip ini juga berlaku untuk perjalanan hidup kita. Dari 1001 pintu, pasti ada satu pintu yang terbuka. Mungkin saja itu pintu ke-1001. Kalau kita berhenti atau berdiam diri, pintu ke-1001 itu akan mustahil kita temukan.

4. Abaikan Komentar yang Tak Perlu
Jangan ambil hati setiap pendapat orang. Sering kali komentar negatif hanyalah sebuah refleksi dari ketidakmampuan yang mereka rasakan terhadap diri sendiri; sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anda. Atau, mereka kesulitan menerima cara berpikir Anda yang kurang populer menurut pandangan umum. Jadi, tetaplah lakukan yang terbaik sesuai dengan kebenaran yang Anda imani.

Karena pikiran kita adalah medan peperangan yang tiada henti, penting sekali untuk menjadikan Firman Allah sebagai dasar pertimbangan kita (Ibrani 4:12). Orang yang memiliki cara berpikir seperti Kristus (1 Korintus 2:15-16) akan meraih kemenangan demi kemenangan dalam hidupnya. Semangat!