Ucapanmu adalah Doamu

Salam…

Banyak orang sekarang ini sembarangan dalam berkata-kata, bahkan Umpatan, cacian, makian, sudah serasa menjadi hal yang biasa.
Bagaimana menurut rekan2 tentang hal ini.

Contoh sederhana: Seorang anak seringkali mendapat nilai yg jelek di sekolah, kemudian orangtuanya sering memarahi anak ini dengan berkata “Bodoh kamu…! begitu aja gak bisa…! Bikin malu orangtua…!” dan ini dilakukan setiap kali anaknya mendapat nilai jelek.
Singkat cerita si anak akhirnya benar2 tidak naik kelas, karena nilai raportnya merah semua alias jadi bodoh beneran…

Silakan yang mau membagi pengalaman (bersaksi) atau memberi sanggahan.

Salam. Tuhan memberkati.

Berkata-kata kotor/kasar tidak baik, tetapi kata-kata kasar yang"manjur" itu hanya mitos dan bukan berarti kutukan atau apapun namanya. Jadi kalau misal orang tua memarahi anaknya, boleh saja bilang “bodoh kamu…!!” tetapi setelah bilang begitu si Ortu segera menjelaskan bagaimana mengerjakan soal itu secara “benar” dengan baik…Demikianpun dengan guru misalnya, kalau lagi jengkel sama anak muridnya memaki “guoblok tenan !!” bisa saja, namun setelah memaki beliau menunjukan cara yang benar yang seharusnya dilakukan murid-muridnya. Yang 100% salah adalah manakala seseorang menggunakan kata-kata kasar untuk pelampiasan amarah saja tampa alasan yang jelas dan tujuannya untuk menyakiti/melukai perasaan lawan bicaranya, seperti contoh sederhana yang Fairly tuliskan diatas itu.

Jadi menurut saya, penggunaan/pengucapan kata-kata kotor/kasar tidak dapat disebut sebagai doa, apalagi kalau kita mengacu pada definisi doa yang adalah bicara dengan Tuhan.

Salam

Ucapan bukan lah Doa akan tetapi lebih menunjukan “perangai” dan te,peramental
bila perangai orang kasar biasanya ucapannya juga kasar apalagi disertai temperamen tinggi

untuk lebih santun kepada anak bodoh , jangan katakan “dasar bodoh” tetapi katakanlah Kamu harus lebih pandailagi dari apa yang kamu capai sekarang "
Tuhan Yesus memberkati
Han

Terima kasih Om Budiman.
Berdoa= berbicara kepada TUHAN
yg Om sampaikan berarti ada kontradiksi disini, ketika marah orang akan bicara ndak karuan, tetapi sesudah itu minta maaf (misal orang tua memarahi anaknya, boleh saja bilang “bodoh kamu…!!” tetapi setelah bilang begitu si Ortu segera menjelaskan bagaimana mengerjakan soal itu secara “benar” dengan baik.)
mungkinkah nantinya si “anak” akan bingung, “ini si papa gimana sih?” “kalo mau ngajarin gak usah pake marah2 kaleee?” (hehehe pinjem kata2 ABG sekarang)
Tapiiiiiii… Dalamnya Laut bisa diukur, dalamnya hati siapa tahu.

Kali ini saya setuju sama Om Han

memang ada pemikiran bahkan mungkin menjadi ajaran di gereja tertentu bahwa kata-kata kita harus digunakan hati-hati karena memiliki “efek mejik” yaitu kata-kata bertuah. kayak dicontohkan sodara di atas “bodoh kamu” maka anak itu akan bodoh.

kalo ditelusuri lebih jauh, pemikrian ini bukan berdasarkan dari Alkitab, tetapi dari agama lama yang mempercayai hal gaib dapat dikendalikan oleh kata-kata atau dunia perdukunan.

contoh yang sangat nyata adalah ajaran dari sebuah gereja Kristen dari Korea. Dengan latar belakang bangsa Korea yang menganut sistem kepercayaan yang dekat dengan perdukunan, maka ketika mereka memeluk iman Kristen, ajaran itu terbawa dan masuk ke dalam pemikiran dan ajarannya.

dan pemikiran itu bisa jadi juga terjadi atau terbawa ke Indonesia, yang notabene hampir semua agama suku di Indonesia menganut pemikiran perdukunan seperti di Korea, sehingga dengan sangat mudah pemikiran itu menemukan kemiripan dan kemudahan untuk diserap.

Ada aspek lain dari pemikiran di atas yang agak mengganggu, karena ada orang Kristen berkata : “hati-hati kalo bicara, kalo kau bicara jahat maka setan akan mewujudkan ucapan jahatmu itu”

sebenarnya setan itu terbatas kuasanya, terutama atas orang-orang beriman kepada TUHAN.
Malah sebaliknya, perkataan jahat yang keluar dari mulut itu bisa jadi atas keinginan orang itu sendiri atau dipengaruhi si jahat itu. tetapi perwujudannya dalam dunia nyata bisa saja terjadi, tetapi bagi orang percaya, kita telah dilepas dari pengaruh dan kuasa si jahat, karena kita tunduk di dalam kuasa dan pemeliharaan TUHAN.

Alkitab mengajarkan bahwa TUHAN lah satu-satunya yang mengabulkan doa, dan kata-kata manusia adalah kata-kata biasa.

Rasul Yohanes mengajarkan :

I Yohanes 5:14. Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.

kata kuncinya " “menurut kehendakNYA”.


kembali ke judul thread ini, Ucapanmu adalah doamu.

Pernyataan tersebut terlalu menggeneralisir, karena doa sendiri berarti percakapan dari manusia baik dengan suara kedengaran maupun dalam hati, kepada TUHAN. Jadi jika saya bercakap-cakap dengan seorang teman, maka itu bukan doa tetapi ucapan saya yang tidak ditujukan kepada Tuhan. APalagi jika perkataan dilakukan dengan cara dan sikap hati yang berdosa misalnya marah, dendam, sebel, emosi tinggi, dll yang sifatnya tidak benar di hadapan TUHAN, maka sudah selayaknya perkataan dalam suasana demikian tidak dapat dipandang sebagai doa.

Dan doa yang benar pasti disertai oleh Roh Kudus yang menolong kita berdoa.

salam

Terima Kasih buat ID Petra9

Sepertinya memang saya salah memberi judul, harusnya Doa disini adalah “doa” (dalam tanda kutip)
jadi maksudnya bukan Doa secara harfiah, tapi lebih kepada perkataan2 yg tidak membangun, alias perkataan yg sia2 (saya lupa ayatnya dimana, saya cari dulu yah…hehehe)

Soal perkataan yg memberi “efek Magic” nah…ini maksud saya… perkataan yg diulang-ulang akan menjadi “mantera”
Kalo si Ortu segera sadar dan meminta maaf kepada si anak atas ucapan yg kasar itu, mungkin efeknya tidak akan terasa, tetapi jika setiap hari, setiap saat, si anak dimaki-maki, di kata-katai, maka yg terjadi mental si anak ini akan “down” mentalnya runtuh…
jadi gimana ngejelasinnya yah…hehehehe, maap pengetahuan saya terlalu dangkal, jadi saya minta masukan dari para master disini…

Saya sangat tidak setuju bahwa ucapan adalah doa. Doa adalah komunikasi kita kepada Allah yang adalah Bapa kita. ga nyambung.

Salam kenal…
Terima kasih Komentarnya…
Tuhan Memberkati

Barangkali disini digunakan menejemen marah, sebab marah itu suatu yang wajar menjadi tidak wajar jika terus menerus marah-marah, murka yang tidak terkendali (ngamuk) atau bahkan dendam (Efesus 4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu).

Jadi dalam contoh diatas, taruh kata saya adalah anak dan bapak saya mengajar saya namun karena sudah diulang-ulang dikasih tahu ndak mudeng-mudeng, dalam marahnya bapak saya menghardik saya…"bodoh kamu, ayo baca lagi pelajaran tsb bla-bla-bla!! ". Maka saya yang jadi anakpun akan legowo menghadapi hardikan itu karena tahu bahwa marahnya bapak saya itu karena saya misal kurang rajin, atau waktu guru mengajar kurang perhatian sehingga materi pelajaran itu ketika diujikan bapak di rumah tidak bisa saya terangkan…( Amsal 15 : 5…Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak. )

Dalam kehidupan sesungguhnya, kata-kata keras dan tegas kadang harus juga kita gunakan dalam mendidik anak, supaya anak punya rasa takut, dan kalau dia salah segera sadar akan kesalahannya dan kembali pada jalurnya sebagai anak yang baik. Betul kita harus mendidik anak dengan lemah lembut dan dengan kasih tetapi hal-hal tersebut jangan diartikan mendidik anak secara lemah gemulai, terlalu lepas dan memanjakan anak dengan berlebih, melainkan yang sewajarnya ada kalanya lembut ada kalanya keras dan utamanya apa yang kita ajarkan pada anak kita sesuai dengan ajaran yang Tuhan ajar pada kita.

Sekali lagi saya tidak setuju, dengan banyak digunakannya cacian, makian dan kata-kata kotor yang digunakan untuk menyakiti sesama dan sayapun menolak 100% apabila orang tua marah-marah begitu saja tampa jelas ujung pangkalnya bukan karena kata-kata itu “manjur” tetapi karena firman Tuhan melarangnya (Efesus 4 : 29… Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.)

Salam

:
Itulah sebabnya Yesus berkata :

Matius 5
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Maksud yesus disini adalah Bahwa Nilai Agama dari “Raport” orang parisi dan ahli taurat nilainya dibawah lima
(Nilai Raportnya Merah)
Sehingga untuk naik kelas (masuk surga ) diperlukan hidup yang lebih “Baik”
Cuma yesus mengajarkannya dengan kata kata yang lebih santun.

Mungkin nip sudah mulai engga setuju lagi ya sama Om Ya ?? :slight_smile:

Tuhan Yesus memberkati
Han

Bagian ini yg saya suka…
Terlepas dari apakah perkataan itu berefek atu tidak yg jelas memang Firman Tuhan melarangnya…

Salam.

Yg ini juga saya masih setuju Om Han…

shalom…
saya setuju dengan “ucapanmu adalah doamu”
coba baca dalam amsal 18:21 " Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya"
jadi jika kita mengucapkan kata yg baik maka baiklah yang kita terima, demikian sebaliknya.
semoga bermanfaat
God bless

Re: Ucapanmu adalah Doamu
Pr 18:21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. :wink:

@jika membaca commentary atau tafsiran mengenai ayat tersebut di atas, maka kebanyakan penafsir Alkitab menghubungkan ayat tersebut dalam arti bahwa mulut dapat digunakan untuk mematikan orang (saksi dusta, fitnah, khianat, dll) atau menghidupkan orang.

penafsir lebih menekankan pada aspek “mematikan”, karena konteks dari perikop Amsal darimana ayat tersebut di ambil adalah cerita tentang semacam pengadilan dalam sebuah perkara, ada soal pengkhianatan terhadap saudara, ada soal perkara dalam pengadilan, undian oleh penguasa, ada pertikaian, dll.

===

sementara soal “kehidupan”, kita semua tahu bahwa Firman Tuhan memiliki salah satu kegunaan ini :

II Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Namun, perkataan meski itu membangun dan sarana mengajarkan iman, tidak selalu perkataan / ucapan itu tepat sasaran, karena Rasul Paulus juga membatasi perkataan dengan mengingatkan HAL YANG LEBIH TINGGI yaitu dalam

I Korintus 1:17. Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

jadi pemberitaan Injil itu bukan besar karena hikmat perkataan/ucapan, tetapi oleh Kuasa Allah, sehingga betapa hebatnya perkataan orang, betapa hebatnya khotbah pendeta, semua iu bukan intinya. Intinya adalah Roh Kudus yang mengerjakan berita Injil dalam hati orang.

===

Kesimpulan:

Ulasan singkat ini hanya memberikan gambaran yang sedikit lebih lengkap, agar ayat Amsal 18:21 di atas tidak diambil begitu saja keluar dari konteks ceritanya dan diberi arti atau dicocok-cocokkan sesuai keinginan.

salam

Setujuuuu!!!
karena perjanjian lama (kitab para nab ) berlaku sampai zaman yohanesi

P. Baru: Lukas: 16a
16:16 Hukum Taurat dan KITAB PARA NABI berlaku sampai kepada zaman Yohanes

Tuhan Yesus memberkati
Han

Buat Sist Ruth & Alice : Thanks…

Buat Bro Petra & Om Han : Thanks juga…

Coba setiap kita mengingat, mungkin ada sodara ato tetangga ato orang2 didekat kita yg pernah mengalami hal ini. Mungkin ada…
nanti saya lanjutkan, sebentar sy tinggal, si kecil menangis…

ahh…kembali lagi, si kecil sdh tenang.

pernah lihat iklan di TV yg bunyinya “Mulutmu Harimaumu”??
Ucapan2 yg memompa semangat (lihat Cheerleader) akan berefek positif, terlepas tim yg didukung menang ato kalah.
Seorang pelatih sepakbola yg memotivasi pemainnya diruang ganti, akan berefek positif pada pemainnya terlepas timnya menang ato kalah.

masih ingat pelatih TimNas Sepakbola Indonesia yg memaki-maki pemainnya di ruang ganti?? apa yg terjadi??

Apa yang keluar dari mulut, itu mencerminkan apa yang ada di dalam hati (kalau saya lebih setuju kepala), jadi memang harus dijaga, diatur, dan dikontrol oleh isi kepala kita.

Orang yang tidak punya isi kepala, biasanya mengeluarkan kata kata yang berisi limbah perut, orang yang punya isi, akan engeluarkan isi kepalanya dengan tujuan.

Tidak perlu sampai menganggap bahwa ucapan kita adalah ‘sumpah’ yang akan terjadi, tetapi cukuplah mengontrol apa yang keluar, agar kita tidak dinilai rendah karena kata-kata yang keluar sejajar dengan yang keluar di jamban.

Kisah nyata.
Ada seorang teman, yang maaf, memang kurang pendidikan, SMA pun tidak tamat. Hidupnya selalu dipenuhi dengan kesenangan dunia. Dugem adalah kebiasaannya. Ucapan yang keluar dari mulutnya, slalu berurusan dengan tubuh bagian bawah, entah depan entah belakang.
Sekali waktu, si teman punya anak, hingga usia dua tahun si anak belum bisa berbicara. Hingga suatu kali, secara mengejutkan, si anak berbicara (berteriak lebih tepatnya), kata kata pertama yang diucapkannya adalah ‘GOBLOK’. Si teman, dengan naive nya bercerita sambil tertawa kepada kami semua, yang cuma bisa senyum saja mendengar kisah ‘lucu’ nya yang sungguh menyedihkan.

Syalom