Umat berkantong tebal sasaran empuk gereja duit.

http://img207.imageshack.us/img207/5768/gerejaduit01.jpg

Injil == Kabar Baik, dalam bahasa Yunaninya adalah euanggelion, bukanlah suatu kabar seperti kesaksian yang manis-manis dan bisa membuat orang terharu. Bukan pula yang lucu-lucu agar jemaat bisa tertawa. Melainkan berita di mana orang diajak untuk bertobat. Itulah misi utama dari Injil!

Tujuan Injil bukannya untuk menghibur seperti bioskop atau Srimulat, melainkan agar orang yang mendengarnya mau merenung dan menyadari kesalahannya. Hal seperti ini bisa mengusik ketenangan pendengarnya, bahkan bisa membuat orang menjadi marah, karena ada yang berani membeberkan kebobrokannya. Beda dengan injil (sheker) yang hanya memberikan janji berupa kesuksesan materi maupun daging!

Khotbah-khotbah sekarang banyak dibumbui berbagai macam lelucon, dan lebih banyak menjurus ke hal-hal yang bersifat irendi, tetapi sebenernya harmless, seperti taichi, pokemon, Inul, dan sebagainya. Dan khotbah-khotbah tersebut lebih menjurus kepada “self-warship”, sehingga akhirnya kehilangan daya gigitnya-karena khotbah-khotbah tersebut tidak kritis dan tidak gegap gempita lagi.

Khotbah-khotbah sekarang lebih menitikberatkan tentang berkat-berkat duniawi seperti orang-orang yang berseru-seru, “Damai sejahtera, damai sejahtera, padahal tidak ada damai sejahtera” (Yeremia 6:14; 8:11; Yehezkiel 13:10). Maklum, khotbah-khotbah tersebut lebih ditujukan untuk membahagiakan para jemaatnya yang notabene “domba perahannya”, agar tetap rajin memberikan persepuluhan. Apalagi harus diakui bahwa zaman sekarang sudah mirip dengan zaman koboi Djon Wain nyolong domba sudah menjadi kebiasaan.

Bertanyalah kepada Pak Pendeta atau Romo, apakah mereka tidak sewot bila dombanya dicolong dan digaet untuk masuk ke kandang (baca: gereja) lain? Kalau gereja itu sama-sama rumah Allah, kenapa kita harus sewot? Bukankah ia hanya pindah dari rumah Allah yang satu ke rumah Allah yang lain?

Ah, masa sih Mang Ucup begitu telmi sehingga kagak tahu bahwa yang menjadi persoalan bukan masalah jiwa yang harus diselamatkan, melainkan menyangkut masalah DU-DU. Jumlah jemaat (baca: customers) yang hadir menentukan berapa banyak uang kolekte maupun perpuluhan yang masuk.

Begitu juga power atau kehebatan dari satu gereja atau seorang pendeta diukur berdasarkan jumlah yang hadir. Mirip pemberian bintang untuk hotel. Begitu …

Gereja itu ada kelasnya juga, la. Gereja kelas warteg pengunjungnya di bawah 30 orang, kelas restoran pengunjungnya ratusan, kelas hotel berbintang pengunjungnya mulai ribuan, dan world class ala McDonald adalah gereja yang sudah punya franchise di mana-mana, bahkan di manca negara!

Bintang satu untuk pendeta/romo kelas warteg, bintang dua untuk pendet.a/romo kelas restoran, bintang tiga untuk pendeta/romo kelas hotel berbintang, dan bintang empat untuk pendeta/romo yang sudah khotbah di mancanegara! Dan yang mendapatkan bintang lima adalah para pendeta/ romo yang sudah memiliki kesaktian-bisa khotbah di neraka atau mampu mengkhotbahi para arwah! Ini bukan joke, benaran ada la! Nah, Anda bisa menilai sendiri bintang mana yang layak dan cocok untuk disematkan di toga pendeta/romo Anda.

Mang Ucup usul, bagaimana kalau untuk pendeta/romo tiap tahunnya juga diadakan pemilihan seperti pendeta/romo terbaik yang layak mendapatkan hadiah Oscar atau Piala Citra dari Jamu cap Jago! Siapa yang akan Anda usulkan sebagai pemenangnya di tahun 2004?

Harus diakui bahwa sudah banyak pendeta yang mempraktikkan khotbah saling menjelekkan aliran satu dengan aliran lainnya. Walaupun sama-sama rumah Tuhan, mereka menganggap rekannya itu saingan berat! Jadi, tidaklah salah kalau saya menilai bahwa rumah Tuhan pada masa kini sudah menjadi ajang bisnis, di mana terjadi persaingan berat antara satu dengan yang lain, sehingga segala macam cara pun dihalalkan. Kalau perlu bakar tuh gereja saingan!

Walaupun Mang Ucup bukan seorang penginjil, kenyataannya belakangan ini sudah banyak pentungan dan fatwa mati yang dikirimkan kepada Ucup bin Landa, sama seperti Nabi Yeremia, karena ia berani membeberkan dan berani menelanjangi “sheker”-kabar dusta yang dibungkus kesalehan. Yeremia berani memerangi “firman bodong dan para nabi palsu” (Yeremia 23:31-40). Untuk itu Yeremia telah difatwa mati!

Yeremia telah membuat kesalahan besar di mata para nabi palsu dan para pemuka agama, karena ia berani menghujat rumah Tuhan yang dianggap sebagai penghujatan terhadap Tuhan itu sendiri. Bukankah rumah Tuhan merupakan sesuatu yang suci? Yeremia telah menggoncangkan ketenangan para nabi palsu maupun para pemuka agama. Hal yang sama dilakukan oleh Yerry Lewis bin Ucup yang telah mengguncang perasaan dan ketenangan para Pe-Kun maupun Ma-Kun! Jadi, wajarlah kalau si Ucup juga harus modyaaaar!

Mikha yang sezaman dengan Yesaya juga telah bernubuat tentang kehancuran Bait Allah. Begitu juga dengan Uria, seorang nabi lain yang menentang teologi kemakmuran seperti Yeremia, ia sengaja diculik dari Mesir, dan akhirnya dihukum pancung (Yeremia 26:20-23).

Tuhan Yesus juga menentang sheker. Dia membeberkan kepalsuan dan kemunafikan para pemimpin agama pada masa itu-sama seperti para pemimpin agama masa kini-yang hanya tertarik pada DU-DU, alias DUit dan keDUdukan (money and power). Orang Farisi zaman baheula juga sama, selalu ingin disanjung dan dielu-elu oleh jemaatnya. Mereka sama korupnya seperti beberapa pembimbing agama masa kini.

Bahkan Tuhan Yesus berfirman seperti yang diucapkan oleh Yeremia: "Bukankah ada tertulis: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Markus 11:17; Yeremia 7:11). Ucapan ini telah membuat para imam (baca: pendeta/romo) dan para ahli Taurat (baca: teolog), menjadi merah muka maupun kupingnya, sehingga mereka pun menfatwa mati Yesus (Markus 11:18).

Jadi, jangan coba-coba berani menghina gereja atau pendeta atau romo, bisa-bisa dipantek seperti Yesus. Atau, dirajam seperti Stefanus.

:
kayanya judulnya mirip ama judul karangan mang ucup (yusufrandy ) si raja komputer dulu

GBU

Kebiasaan baca judulnya dan langsung komentar…

Kebiasaan tidak membaca sampai tuntas dan memahami isinya tetapi sudah membuat persepsi di benaknya adalah kebiasaan yang buruk, apalagi kalau disertai menghakimi.

Btw kalau kamu baca selesai memang tu tulisan yang orang yang kamu maksudkan.