Umat Kristiani Sri Lanka Bantu Ciptakan Negara Penuh Kasih

Situasi Sri Lanka masih belum mengalami kemajuan berarti meski perang telah berakhir selama 30 tahun di negara tersebut. Sejumlah umat Kristiani yang tergabung dalam Aliansi Kristen Untuk Aksi Sosial (CASA) menyerukan gereja-gereja yang ada di negara itu mempromosikan reformasi sosial yang nyata.

Pendeta Emeritus dari Gereja Anglikan Kumara Illangasinghe pada diskusi panel tentang ‘Peran dan tanggung jawab orang Kristen dalam Reformasi Sosial’, Senin (11/4), mengatakan rekonstruksi negara tidak bisa dilakukan Gereja hanya dengan melakukan kegiatan amal saja, tetapi harus melebihi semua itu.

Sementara itu di tempat yang sama, senada dengan Illangasinghe, aktivis gereja Methodis Rev Muthiah Selvarajah menyatakan, gereja seharusnya lebih banyak aktif sebagai mediator dalam hal menjaga hak-hak asasi manusia daripada hanya sekedar melakukan promosi kegiatan-kegiatan sosial.

“Sebelum perang, orang menanyakan dengan sangat hormat dan dalam arti persaudaraan: ‘Dari mana asal Anda? ’ Hari ini, kita meminta untuk melihat apakah seseorang berbahaya atau tidak. Dengan demikian, kita tidak bisa percaya begitu saja kepada mereka yang mengaku tidak ada masalah etnis di Sri Lanka”

Agenda pemerintah saat ini tidak memberi solusi politik, tambahnya. “Untuk alasan ini, semua umat Kristiani harus bertindak sebagai satu keluarga.”

Menurut pemimpin Jesuit, Fr Lasantha de Abrew, Gereja harus aktif bekerja sama dengan orang-orang dan berada di sisi para korban. “Kita semua orang Kristen, dan orang-orang Sri Langka tidak seharusnya merasa sebagai Tamil atau Sinhala,” katanya.

Shantha Fernando, Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian dari Dewan Kristen Nasional (NCC), mengatakan bahwa Alkitab dapat memberikan nasihat tentang bagaimana mencapai reformasi sosial sejati.

“Yesus mengatakan kepada kita ‘untuk mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri’. Apa yang sulit dari hal ini? Jika Gereja mengaku adalah pengikut Kristus maka tidak ada alasan untuk menganggap ini sebagai sebuah persoalan besar,” ujarnya.

Sri Lanka tidaklah jauh berbeda dari Indonesia, bahkan harus diakui bahwa negara ini lebih beragam. Beraneka macam suku, kelompok dan bahasa daerah ada di Indonesia adalah buktinya. Namun begitu, kita perlu belajar dari orang-orang percaya disana (Sri Lanka, red). Semangat ‘satu tubuh Kristus dan satu bangsa’ yang didengung-dengungkan orang-orang percaya di Sri Lanka kiranya “membakar” kita, orang-orang percaya yang ada di negara ini.

Marilah kita bersama-sama menyebarkan kasih Allah ke seluruh Indonesia dan mulailah dulu hal ini dari antara kita, umat-Nya di bumi. Tanggalkan “jubah” organisasi yang melekat di kita dan praktikkan kasih yang kita terima dari Tuhan Yesus kepada sesama kita. Sesungguhnya kasih antarkita itu akan menjalar kepada orang-orang yang ada di bangsa ini dan Indonesia akhirnya akan benar-benar berubah menjadi bangsa yang rakyatnya penuh dengan cinta kasih.

Source : Asianews

Setiap pohon dikenal dari buah-buahnya :slight_smile:

Salam

Benar , tidak ada kata selain itu saudara kahlil^^