untuk mahasiswa teologi atau alumninya boleh nanya nggak?

shalom semuanya !! to the point aja ya. jadi gini gembala saya nawarin saya untuk sekolah teologi (ST) tanpa bayar apa apa alias di sponsori, kalo nanya aku mau apa nggak, personaly aku mau, tapi aku masi nunggu beberapa jawaban dari Tuhan kalo ini memang rencananya buat saya, nahh yang mau aku tanyain gimana sih pengalaman kalian waktu masuk ST itu dan gimana di dalamnya karena saya harus ambil keputusan yang berujung komitmen walaupun saya tau gak mesti jadi pendeta untuk melayani. Please Help, thanks before and God bless u always

Wah, bertanya mengenai pengalaman? Takut ada apa2 di dalam ya? Hahahah
kidding bro. :slight_smile:

Wah baguss tuh brooo…
Kakak saya juga seorang Pendeta yg merupakan Utusan Gereja seperti yang ada bilang… Jadi setelah selesai anda akan melayani Tuhan baik itu dipedalaman ato di perkotaan… tergantung siapa yg utus (gereja)

Beberapa orang waktu pertama kali mendengar “Sekolah Teologia” pada umumnya beranggapan bahwa isinya adalah orang2 keren yang seperti malaikat… Hahaha, itu adalah testimony dr bbrp tmn saya yg pernah msk sekolah Teologia… Masuk ST tidaklah seindah seperti pemikiran beberapa orang… Malah akan ada banyak rintangan, tantangan dalam menjalani masa perkuliahan… Tapi saat-saat menghadapi dan mengatasi masalah, akan menjadi pengalaman yang luar biasa… karna jika memang dari pertama ada panggilan hati untuk menjadi Hamba Tuhan (entah itu utk menjadi Pendeta, misionary, Guru Agama, Diakonia atau pelayanan lainnya) pasti Tuhan dengan cara-Nya akan selalu menuntun untuk hasil yang terbaik …
Semangat yach, n fokus pada tujuan!! :wink:

Saran saya kepada saudara agar saudara tidak menjadikan pelayanan sebagai sebuah pekerjaan yang menghasilkan gaji.
Banyak sekarang ini para pendeta yang menjadikan pelayanan menjadi pekerjaan yang menghasilkan gaji.
Sungguh memalukan orang-orang seperti itu.
Banyak juga yang menjadika pelayanan untuk mengeruk keuntungan yang banyak dengan memanfaatkan rasa emosional umat. Akhirnya pendeta mengharapkan pemberian khusus dari umat jika mereka melakukan pelayanan khusus. Banyak pendeta menerima uang gede, mobil, rumah dll berupa barang dan uang serta kemudahan lainnya.
Semua ini terlihat jelas jika para pendeta mulai berkhotbah untuk mendorong umat memberi banyak persembahan dengan alasan siapa memberi banyak akan diberi banyak.
Saya melihat motif uang ada dalam khotbah mereka.

Bukankah pelayanan adalah sebuah panggilan untuk melayani Tuhan.
Pelayanan bukanlah pekerjaan untuk mencari gaji/upah secara duniawi.
Rasul paulus saja tidak mau menerima upah yang menjadi haknya sebab dia tidak mau terlibat dalam permainan politik uang yang sungguh merusak pelayan-pelayan Tuhan.
Bapak Pdt. Pariadji pernah berkata bahwa pelayan Tuhan yang suka meminta-minta dan menerima pemberian dari orang lain tidak akan menerima kuasa dalam pelayanannya.
Saya merasa setuju dengan pernyataan bapak Pdt. Pariadji tersebut.
Perhatikan banyak pendeta sekarang ini hanya tahu ngomong dan ngajarin saja tapi banyak diantara mereka tidak dipenuhi oleh kuasa Tuhan Yesus.
Pertanyaannya mengapa mereka yang udah tahu banyak Firman Tuhan tidak memiliki kuasa Allah?
Tentu saja hidup mereka belum benar dihadapan Tuhan terutama menjadikan gereja sebagai sebuah pekerjaan untuk mencari uang.

Kalau ingin mencari uang, jangan menjadi pendeta dong dan jangan melayani.
Pergi cari kerja di perusahaan, bukan di institusi gereja.

Banyak pula yang mengatakan, bukankah seorang pelayan berhak mendapatkan upah?
Nah kalau mereka dah berujung-ujung mengatakan ini, dah kelihatan niat mereka yang mau cari uang.
Kenapa tidak ada pendeta dan pelayan Tuhan yang mencontoh Rasul Paulus.
Banyak yang mengutip ayat ajaran Rasul Paulus tapi mereka tidak mau mengikuti cara pelayanan Rasul Paulus, apa bedanya mereka dengan kaum Farisi.

Kenapa tidak ada pelayan Tuhan yang membangun bisnisnya lebih dahulu kemudian menggunakan tabungannya untuk membiayai pelayanannya, sehingga dia tidak kesulitan keuangan dan tidak mengharapkan gaji dan pemberian dari jemaat.

Saya rasa sungguh memalukan jika banyak pendeta yang mengharapkan pemberian dari jemaat, serta mendorong jemaat untuk memberikan lebih, terutama jika ada niat lain dibalik khotbah mereka.

Apa sih beratnya berkhotbah sehingga banyak pendeta terlihat seperti tinggi hati dan sok hebat dengan posisi sebagai pendeta dan mengharapkan bayaran yang tinggi?
Sungguh memalukan jika pendeta menyinggung-nyinggung soal bayaran dihadapan jemaat.
Manusia sanggup membohongi manusia tapi Tuhan tahu isi hati orang itu.

Saya berharap, jika saudara memutuskan untuk jadi pelayan Tuhan, janganlah tiru perbuatan mereka pendeta dan pelayan Tuhan yang mengharapkan uang gaji dan pemberian dari jemaat yang mereka layani.
Tapi saran saya cobalah kejar kuasa Tuhan Yesus untuk membantu jemaat yang saudara akan layani.
Saya percaya jika pendeta dan pelayan Tuhan menerima uang dan pemberian dari gereja dan jemaat mereka tidak akan pernah memperoleh kuasa.
Sungguh memalukan jika pendeta tidak memiliki kuasa Tuhan Yesus dalam hidup mereka.
Apakah gunanya mereka mempelajari teologi, jika mereka tidak memiliki kuasa kesembuhan dan muzizat Tuhan. Apakah mereka adalah penipu? Hanya Tuhanlah yang tahu.

Pelayanan adalah pengorbanan demi kerajaan Allah.
Jika berkorban yah artinya berkorban, hidup yang gak mudah dan serba memberi bukan menerima.
Saya sarankan saudara contoh Rasul Paulus.

Dalam gereja pun ada intrik perebutan kekuasaan dan uang.
Apakah saudara mau terlibat dalam intrik kekuasaan dan uang?

Tidak sadarkah mereka yang mengajarkan Firman Tuhan tetapi mengejar uang dalam pelayanan mereka bahwa Tuhan mengawasi hidup mereka?

Saran saya jika saudara takut miskin, takut susah, takut gak punya uang dalam pelayanan, mohon pertimbangkan lagi dan tanya Tuhan apa kehendak Tuhan atas hidup saudara.

Jika saudara mengharapkan uang dari gereja dan pemberian jemaat, saya sarankan jangan lakukan.
Sebab sesungguhnya saudara telah mendapat upah dibumi.
Pelayanan adalah mengharapkan upah disorga bukan dibumi.

Saran saya jika saudara terpanggil untuk melayani, carilah kuasa Tuhan Yesus. Jangan jadi seperti mereka pendeta yang menipu demi uang.

Mohon maaf jika saya berbicara demikian tanpa bukti yang jelas, tapi ini adalah yang saya ketahui dan pahami.
Saya tidak bermaksud memfitnah pendeta dan pelayan Tuhan. Saya hanya prihatin dengan gereja belakangan ini.

Saran saya, selidiki dahulu latar belakang pengajaran STT tersebut.

Saat ini banyak STT dengan beragam aliran berbeda mulai dari yang dikatakan ekstrim (mengikuti alkitab sepenuhnya) hingga yang liberal (mendukung ilmu pengetahuan seperti evolusi dengan menyatakan sebagian penulisan alkitab adalah salah dan lainnya)

Bahkan yang lebih mencengangkannya, ada yang seakan mengikuti seluruh ajaran di Alkitab. Namun, kenyataan nya tidak, melainkan mengajarkan yang salah. Biasanya ini terjadi pada STT yang menekankan kebenaran subjektif (menyatakan bahwa ) setiap dari mereka dipenuhi Roh Kudus sehingga penafsiran mereka akan Alkitab adalah benar. Ini adalah konsep yang salah, penafsiran dapat dikatakan benar jika sesuai dengan Firman Tuhan seutuhnya. Jika ada kontradiksi dengan Firman Tuhan maka dapat dikatakan penafsiran tersebut salah bahkan sesat.

Jadi pilihlah STT yang tepat, bertentangan dengan yang kamu yakini belum tentu salah. Ujilah sesuai dengan Firman Tuhan. Dalam hal ini karena ini menyangkut kajian theologi secara mendalam, pemahaman penafsiran dasar akan Alkitab (hermeneutika) dan keputusan memegang mana kanon yang benar diperlukan (Masoretix Text - Textus Receptus atau Masoretic Text - Critical Text).

Tuhan memberkati

sebelumnya thanks banget untuk responnya yang luar biasa, dan maaf kalau baru bisa saya tanggapi sekarang, saya setuju sekali karena saya juga melihat seperti itu pada beberapa pemimpin gereja, walaupun ga semuanya dan ngga sedikit juga yang “berani rugi”, jujur kalo saya pribadi harta itu ga ada gunanya lagi tapi jangan kira saya bicara seperti ini karena saya sudah atau pernah merasa kaya, tapi karena saya melihat esensi melayani itu kan memberi bukan menerima, kalo banyak terimanya saya pikir itu bukan melayani, Puji Tuhan gembala saya menunjukan sikap yang patut diteladani karena dia sering sekali “berani rugi”, God Bless !!

Kenapa tidak coba masuk biara atau seminari aja? Atau mungkin STF (Sekolah Tinggi Filsafat) yang tidak mahal-mahal amat biayanya. Tapi kalo lulus dijamin tau banyak tentang Alkitab dan filsafat. Tapi spiritualnya gak dijamin ya, hehehe… Yang masuk biara aja kondisi spiritualnya gak dijamin lebih baik, walaupun kebanyakan memang mendapat pencerahan.
:slight_smile:

Saya ada kenalan jebolan STF, tapi emang rada amburadul idupnya. Sekarang jadi agnostik dan rada spiritualis. Tapi itu kan pilihan dia sendiri mau jadi agnostik apa kagak? :slight_smile:

Setuju bro. Pelayanan bukan untuk cari makan… pelayanan untuk cari jiwa…

GBU