WL, singer, pemain musik dibayar?

bro dan sist…
apa pendapatnya ttg worhip team (bisa WL, singer, pemain musik) dibayar setelah pelayanan khusus nya seorang tersebut bukan staff ato pekerja gereja?

buat saya hati saya belum pas aja rasanya ttg hal itu, apalagi jika dia adalah pemain cabutan (pelayanan disana-sini krn gereja yang memintanya untuk pelayanan belum punya SDM nya).

lah … bagi gw yang cabutan itu harus di bayar… tanggung gereja atau yang “mencabuti”

halaah bahasanya…

maksud gw yang mengajak main di hari minggu …

nah klo pengerja sih , itu tergantung dari gereja masing2

Memang ada beberapa yang spt itu,
Kbetulan salah satunya teman gue, seorang pemain musik.

Gue pribadi ngga stuju.

Playanan itu muncul dr hati.
Jika ia mlayani dg motivasi utk mberkati,
Mpsiapkan diri dg baik utk tujuan mlayani Tuhan,
Maka it’s ok jika ia mdpat upah sbg hasil playanannya.

Ttp jika dia mlayani krn upah,
Maka gue ngga stuju.

skarang gini aja … yang jadi permasalahan pemberian duid saat pelayanan lebih mempermasalahkan

1.yang memberi / pihak gereja / pihak gembala
2. atau orang yang di beri uang

itu aja dulu … biar nie thread fokus ke mana arahnya…

karena gw liad comentar siip ke arah nomor 2

komentar vera itu ke arah nomor 1.

menurut saya tetep harus dibayar, karena kita menghargai waktu yang dia sudah berikan untuk gereja kita. setidaknya itu sebagai transport. dengan hasil bayaran itu sapa tau dia juga bisa memberkati yg lain…
saya juga seorang player dan saya selalu dibayar setiap kali diminta untuk pelayanan di tempat lain…

sepertinya thread ini kurang lengkap karena tidak ada polling ya…

coba di edit dulu biar ada polling… biar pada banyakan mana setuju apa tidak setuju. hehehe

Bener juga ya dikau…

Nah, utk arah nomor 1,
Ptanyaannya adl :
Knapa greja perlu mencari pelayan dr tempat lain (luaran / cabutan)?

Ini konteksnya gue anggap ibadah mingguan yah, bukan event besar lho.

Knapa bisa kekurangan sumber daya manusia?
Apakah greja itu tlalu memaksakan diri?
Apakah greja itu kurang maksimal dlm kaderisasi?

Mnggunakan pelayan dr luar tentu beda dg pelayan dr dalam.
(Ngga maksud bkata ‘salah’ lho. Ngga juga bmaksud mnyerang playanan yg tulus dr pelayan2 ‘luaran’)
Bisa beda visi, beda gaya permainan, beda fokus dan kadang kita ngga tau hati maupun keseriusan dr si pemain.

Saya pribadi kurang stuju bila greja sampai harus mnggunakan orang luar utk mlayani ibadah Mingguan (yang tentu saja mreka harus dibayar krn selayaknya dmikian).
Kcuali bila itu dlakukan utk tujuan kaderisasi dan sambil mlakukan kaderisasi.

Kcuali juga bila yg diundang adl pengkhotbah dr luar.
Kl pengkhotbah sih wajar2 saja bahkan harus agar pngajaran bs berimbang.

Itu opini pribadi gue ajah…

kurang lebih saya setuju dengan bro siip… orang yang melayani dari luar (seharunya ada pelayan dari dalam di muridkan) … haruslah dibayar…

nah skarang bagaimana suatu gereja melakukan “pemuridan” sejak dini kepada jemaat, atau ada beberapa gereja yang gag mau “cape” terhadap pemuridan … makanya pada ngambil dari luar bro. hehe

aloww,minta ijin gw mao ksi pndpt yaaa…

gw player juga dan sekaligus ketua sie.musik di gereja gw dan gw juga kdg2 maen d grj luar…pd awalnya gw ga setuju dgn adanya bayaran ato PK ke player karena mnrt gw itu akan menimbulkan “mental PK” ato “mental bayaran” bukan “mental pelayanan” yg sesungguhnya.

sebagai contoh klo player uda jago dan dia biasa di byr dgn byran yg tinggi dan suatu hr dia di suruh main di grj kecil ternyata dia tolak krn byran yg tidak sesuai (alias uda pasang tarif) soalnya gw knal ama bbrp player tmen gw ndiri yg uda terkenal, dia mainnya ama org2 top deh (out of record)…dan dia sendiri pasang tarif lho…tp ada juga yg kg seh…

gw sendiri yg awalnya ga setuju jadi setuju…bukan krn tmen2 gw yg jago itu tapi krn gw menghargai mereka (player.red) dari sisi waktu, tenaga dan khususnya latihan mereka (apakah mereka kursus ato otodidak)…
dan gereja gw menerapkan player luar di beri PK lebi mahal di bandingkan player dalam… dan gw juga klo main di grj luar kg mengharapkan di byr (honestly)… klo di kasi puji TUHAN, klo kg gw puji GOD. gw pengen bgt melayani BABE dgn talenta yg uda DOI kasi ke gw dan sekaligus dpt byk pengalaman dan inspirasi dlm bermusik yg bisa gw terapkan di grj lokal gw…

demikian pndpt gw, tanpa ada paksaan dari manapun dan tanpa ada mksd menyinggung… heheheh
thx u

JAH blez

yapz…

karena kemurnian dalam melayani Tuhan itu sangat jarang di temukan… tetap bertahan saja .

ehm jadi mungkin baiknya gereja sudah harus menerapkan sistem memberdayakan SDM yang ada…jika belum ada pemain musik ato WL, singers nggak usah dipaksakan tapi gereja harus bersemangat untuk ‘rising’ SDM yg ada, (by workshop dll).

kalo gereja keseringan mengundang pemain musik, WL, singers di tiap ibadah minggu nya, jadi tidak sehat untuk jemaat (jadi malas untuk bertindak untuk punya sendiri pemain musik,wl, singers) dan tidak bagus untuk ‘pemain cabutan-nya’ (paling tidak timbul keinginan untuk diundang lagi dan lagi gereja lainnya dan “dibayar”). …

gimana bro + sist…?

hemm… gw sih bilang gag salah pemain cabutan itu, tetapi harus bener2 di lihat kepribadiannya… minimal di lihat dari tingkah lakunya lah …

nah, seiring waktu berjalan … maka SDM jemaat dikembangkan . . klo udah ada yang terlihat “mampu” untuk mengiringi, ya tinggal bilang dengan jujur kepada pemain musik cabutan … untuk di gantikan …

kecuali pemain cabutan itu tertarik untuk gabung bersama dengan gereja tsb .

seperti itu menurut gw.

Wajar-wajar saja sih kalau orang mendapatkan upah dari pelayanannya. Justru yang saya tidak suka itu adalah: khususnya dalam hal ketenagakerjaan, organisasi gereja/yayasan kristen malah terlihat jauh lebih parah daripada tuan-tuan yang ada di pabrik-pabrik.

  1. Membayar di bawah UMR.
  2. Mengatasnamakan hati hamba untuk sebuah pelayanan yang maksimal.
  3. bongkar pasang seenak jidat tanpa pesangon.
  4. Tidak diberlakukan lembur.

Mengenai WL, singer, dan tim musik (Terutama untuk gereja yang sudah mapan):

  1. Tidak menyediakan ganti transport, apalagi uang absen latihan.
  2. Memberi persembahan kasih/upah yang tidak memadai dibanding dengan fungsinya.
    Bagaimanapun juga, gereja yang sudah mapan dan mempunyai omzet yang baik, seharusnya profesionalah dalam masalah upah ini.

Di samping itu, bagi pelayan/pengerja, melayanilah dengan tulus, tetapi menurut saya, tulus itu tidak harus pantang bicara fair mengenai persembahan kasih (sebutan rohani untuk upah minimum). ;D

Setuju bro…

Itulah bro…yang sering terjadi di gereja-gereja…

saya setuju bro…
justru gereja sebenarnya harus memberikan contoh ke-profesional-an dalam dunia kerja…
sudah selayaknya jika pekerja gereja memperoleh gaji diatas UMR :afro:

yang jadi pertanyaan di TS ini adalah untuk para WL,singer dan pemain musik yang “cabutan” yang melayani di berbagai gereja di ibadahnya (bukan event lho) yang dibayar?

kemurnian hati adalah segalanya

kalau persembahan kasih sich… sah-sah aja
kalau “dibayar”… hehehe pelayanan atau pekerjaan kali ya?

tapi banyak yang bilang “dibayar” itu dihaluskan menjadi “persembahan kasih”

setuju bro… :afro: