Yang Perlu Diketahui Oleh SEORANG PEMIMPIN PUJIAN

:afro: :afro: makasih boss udah dipindahin ;D ;D

6 Hal Yang Perlu Diketahui Oleh SEORANG PEMIMPIN PUJIAN

Saya telah menghadiri berbagai denominasi gereja yang notabene karismatik atau Pantekosta.

Dan saya menyaksikan, kebanyakan dari pemimpin pujian atau worship leadernya kurang memperhatikan posisinya sebagai pelayan Tuhan yang bertugas membawa jemaat menghampiri tahta Allah yang kudus dan mempersiapkan hati jemaat untuk menerima Firman Allah. Artikel ini secara khusus memang saya tujukan kepada para pelayan Tuhan yang biasa memimpin pujian, tetapi jemaat pun perlu membacanya agar kita semua tahu ibadah yang indah dan berkenan kepada Allah.

Ada beberapa hal yang akan saya soroti dalam fokus kali ini, berkenaan dengan hal tersebut:

  1. Pemimpin pujian kurang memperhatikan susunan lagu pujian yang dibawakan.

Seorang pemimpin pujian hendaknya membuat susunan lagu yang akan dinyanyikannya tidak asal-asalan, misalnya lagu pertama Hanya dekat kasih-Mu, Bapa, lagu kedua Allah bangkit, ketiga Masuk gerbangnya bersyukur, keempat Jalan hidup orang benar…Secara nalar saja, kira-kira susunan lagu seperti itu bisa membawa jemaat dalam kondisi yang siap menerima Firman Tuhan atau tidak? Mungkin jemaat tetap menyanyi dan semangat karena pengaruh pemimpin pujian yang semangat, tetapi itu adalah ibadah yang sia-sia. Roh jemaat tidak dipersiapkan!

Ada baiknya jika lagu-lagu yang akan dibawakan adalah satu tema, misalnya tema ucapan syukur, pilihlah lagu-lagu yang isinya mengandung ucapan syukur, seperti: Ku bersyukur, Trimakasih Tuhan, Syukur, dsb. Tema kasih terhadap sesama, pilihlah lagu yang isinya mengandung indahnya kasih terhadap sesama, seperti: O, betapa indahnya, Kukasihi kau dengan kasih Tuhan, Ku cinta k’luarga Tuhan, dsb. Susunan lagu yang dibuat dengan sistematis ini, selain membuat suasana ibadah jadi indah dan terarah, juga akan membawa hati jemaat dipersiapkan untuk menerima Firman Tuhan. Lebih bagus lagi bila pujian yang dinyanyikan satu tema dengan Firman Tuhan yang akan disampaikan.

  1. Pemimpin pujian jangan menjadi aktor yang over akting

Pemimpin pujian bukanlah artis. Pemimpin pujian bukan melayani atau mau menyenangkan manusia, tetapi melayani dan menyenangkan hati Allah. Pemimpin pujian bukan hendak mencari pujian dan sanjungan dari manusia, melainkan untuk menyanjung dan memuliakan Allah. Memang dalam memuji dan menyembah Tuhan kita tidak dibatasi oleh apapun. Kita bebas mengekspresikan rasa syukur dan cinta kita kepada Allah. Kita bebas menari, melompat dan menyanyi dengan suara keras. Tetapi bukan “over akting”. Bukan supaya kita dilihat orang lain bersemangat atau kelihatan rohani dan cinta Tuhan. Tanpa disadari seringkali pemimpin pujian melakukan ‘masturbasi’ rohani. Dia memuji dengan riang, melompat, berteriak, menari, tetapi itu hanya ia nikmati sendiri, tanpa peduli dengan jemaat yang seharusnya ia pimpin. Jangan pikir jemaat tidak tahu keadaan rohani seorang pemimpin pujian. Ada sebagian jemaat yang hidupnya dekat dengan Tuhan yang bisa membedakan apakah pemimpin pujian ini mengalir dengan Roh Kudus ataukah hanya kedagingan belaka!

  1. Pemimpin pujian jangan menjadi ‘tukang dongkrak’

Kadangkala pemimpin pujian menjadi ‘tukang dongkrak’ yang memaksa jemaat dengan kata-kata yang rohani, seperti “Saudara rindu menyenangkan Tuhan? Mari menari bagi Tuhan!” Kadang juga mengajak jemaat bertepuk tangan dengan berkata “Beri kemuliaan bagi Tuhan.” Malah ada yang mengajak jemaat melakukan itu berkali-kali dalam satu ibadah. Ajakan itu justru membuat sebagian jemaat merasa risih dan tidak senang. Atau malah menunjukkan bahwa pemimpin pujian tidak siap, kehabisan kata-kata atau grogi. Bila ajakan itu adalah gerakan Roh Kudus, maka suasananya pasti indah dan mendatangkan berkat.

Ajaklah jemaat memuji Tuhan apa adanya. Biarkan mereka mengungkapkan perasaannya kepada Allah menurut kerinduannya sendiri. Tidak perlu dipaksa. Jemaat yang tahu bagaimana ia harus mneyenangkan hati Tuhan, ia akan melakukannya sendiri.

  1. Pemimpin pujian harus mengerti perasaan jemaat

Seringkali pemimpin pujian ‘semaunya’ sendiri ketika ia memimpin pujian. Ia tidak melihat siapa jemaatnya. Dalam kebaktian umum yang sebagian jemaatnya adalah orang-orang tua dan lanjut umur, saya rasa bukan tindakan yang bijaksana bila mengajak terus berdiri dari awal ibadah sampai menjelang khotbah disampaikan, apalagi bila waktu puji-pujian sampai satu jam. Ironisnya, ia malah bertanya: “Saudara masih kuat berdiri?” Ini adalah pertanyaan bodoh! Jemaat tidak akan pernah menolak. Mereka hanya menurut apa yang disuruh oleh pemimpin pujian. Mereka tidak mungkin menolak sebab mungkin mereka malu dengan orang yang ada di sebelahnya. Tetapi tahukah bila dalam hati jemaat ada yang mengomel atau mengeluh? Di sisi lain, kondisi jemaat yang lelah, tidak akan terbuka lagi untuk menerima firman Tuhan. Oleh sebab itu, jangan salahkan jemaat bila waktu khotbah jemaat kelelahan dan tertidur.

Di samping itu ada juga pemimpin pujian yang tidak peka dengan suasana ibadah yang sedang berlangsung. Ketika ia mengajak jemaat menyembah, dan semua jemaat sedang ‘naik’ dalam penyembahan, sang pemimpin pujian memotongnya dan mengajak jemaat untuk menaikkan pujian praise.

  1. Pemimpin pujian jangan menjadi pengkhotbah

Ada kalanya pemimpin pujian memberi komentar atas pujian yang dinaikkan. Itu boleh-boleh saja, tetapi bila komentarnya terlalu panjang, maka itulah yang perlu dibenahi. Saya senang bila dalam sebuah ibadah lagu-lagu praise-nya medley (sambung-menyam-bung). Dengan lagu yang seperti itu sedikit kemungkinan seorang pemimpin pujian yang akan menjadi pengkhotbah. Namun ada saatnya pemimpin pujian tergelitik untuk menjadi komentator seperti pengkhotbah. Selesaikan tugas Anda sebagai pemimpin pujian dan biarkan ulasan Firman Tuhan diberikan kepada hamba Tuhan yang akan menyampaikannya. Hal ini akan menghindari kejenuhan jemaat dengan suasana ibadah yang sedang berlangsung.

  1. Mengalirlah dalam pimpinan Roh Kudus

Untuk melakukan hal ini tentu tidak mudah. Diperlukan hati yang peka terhadap pimpinan Roh Kudus. Itu sebabnya seorang pemimpin pujian harus memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan. Kedekatannya dengan Sang Raja yang ia sembah akan membuat ia mampu memimpin seluruh jemaat mendatangi tahta kudusnya dan menyembahnya dengan baik dan benar. Seorang pemimpin pujian hendaknya selalu berada dalam hadirat Allah dalam kesehariannya, baik di rumah, di tempat kerja dan di manapun ia berada. Ia harus menjaga hatinya agar tetap kudus dan lurus di pemandangan Allah. Bila pemimpin pujian mau melakukan ini, maka ia tidak akan menjadi ‘tukang dongkrak’, ‘aktor’ atau ‘pemaksa jemaat’. Ia akan menjadi seperti Daud yang memuji dan menari bagi Tuhan dengan segenap hati dan kekuatannya dengan tidak malu-malu (II Sam 6:14; 20-22). Dan bila ini dilakukan, maka akan terjadi seperti dalam pujian “kulihat perubahan dalam tiap wajah…dan sesuatu pasti terjadi…” Pemimpin pujian yang seperti ini akan memimpin jemaat bukan dengan kepiawaiannya, tetapi dengan otoritas dan wibawa dari Allah.

Pada akhirnya, biarlah segala puji, hormat dan kemuliaan kita kembalikan kepada Allah. Ia yang bertahta di atas pujian kita akan membuat setiap orang yang mendengar pujian kita terberkati, lebih dari itu, orang yang hidupnya tersesat dan tinggal dalam dosa bisa dibawa kepada Allah melalui pujian yang kita nyanyikan.

(( sumber : Bahan pengajaran singer dan song leader GBI “Rehobot”))

:afro: :afro: Thx BremboO, artikel yang bagus bgt buat aku secara pribadi.

Tuhan izinkan aku pelayanan sebagai pemimpin Pujian (kemuliaan hanya bagi Tuhan), hal-hal diatas, memang penting diperthatikan.

Kalau aku share dikit ttg persiapan sebelum pelayanan Mimbar, dan ini berlaku buat semua pelayan mimbar.
Dalam 1 minggu perjalanan sehari2 bersama Tuhan pasti Tuhan akan kasih tau thema lagu yang harus dibawakan (biasanya aku seperti itu) baru kita cari lagu yang cocok dengan thema yang sudah Tuhan kasih, tp tetep siap2 (buat pemusik juga) terkadang lagu2 yang ada di list yang telah disusun diganti secara tiba2 oleh Tuntunan Roh, jadi harus tau banyak lagu :slight_smile:

Pada saat seseorang tau bahwa panggilan hidupnya adalah seorang pelayan mimbar dia harus tau dan sadar bahwa saat dia berada di depan panggung, dia adalah seorang pelayan, seorang hamba, seorang “jongos” nya Tuhan, Dia berada diposisi paling berbahaya dengan dosa, dan kematian, bila Dia mencuri kemuliaan ALLAH
Ibrani 12 : 29–>Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
…namun dia juga adalah alat kerajaan ALLAH yang akan Tuhan pakai dasyat bila dia izinkan Tuhan memakainya secara full (tidak ada sama sekali kekuatan sendiri)

Pemimpin Pujian adalah seperti seorang “man door” yang membukakan pintu bagi jemaat untuk berkata " inilah Tuhan sembahlah Dia…"

Ada hal2 ajaib dan luar biasa pada saat kita biarkan ALLAH bekerja dalam “kebaktianNya” terkadang ALLAH suruh kita diam, dan hanya music yang mengalun dengan lembut…lalu kita dapat melihat bagaimana jemaat dijamah Tuhan dan suasana kebaktian dilingkupi oleh hadiratNYA. Terkadang aku mau turun dari mimbar dan bilang “Tuhan jamahlah aku juga”

Suatu kepuasan yang ga bisa digambarkan ataupun dijabarkan dengan kata2, saat kita sebagai pemimpin pujian tahu bahwa ALLAH telah dipuaskan dengan pelayanan kita :slight_smile:

GBU

heheee…
aku pernah seperti no 4.kacian ya para lansia… :ashamed0002:

makasih bro. :afro: :afro:

Makasih buat artikelnya…
Bermanfaat banget buat pelayanan di gereja…

:afro: :afro: :afro: :afro: :afro: :afro:

Ikutan donk…

Dulu (dulu lho…) Tuhan pernah mempercayakan pada saya pelayanan sebagai worship leader (meski ini dulu bukan pelayanan utama saya).

Dulu saya sangat cemas apakah hadirat Tuhan akan turun atau tidak, apakah jemaat akan merasa puas atau tidak dan apakah suasana akan ‘naik’ atau tidak saat saya memimpin pujian.

Karena itu, saya habis2an berdoa agar pas ibadah suasananya bisa oke sehingga orang lain merasa puas.

Nah, bagi yang baca mungkin akan berpikir,
‘Duniawi dan salah banget pemikiran lo!’

Emang,
Tapi itu dulu yang saya pikirkan setiap kali worship leading dan itu berjalan secara alamiah.
Saya juga yakin banyak WL yang berpikiran sama (ga semua lho).

Hingga suatu hari Tuhan bicara pada saya pada saat lagi doa persiapan:
‘Mari kita pelayanan bersama-sama.’

Lalu saya sadar bahwa pada saat saya jadi WL, fokus saya adalah apa yang Tuhan sedang lakukan di antara jemaat.
Kegerakan apa yang sedang Tuhan perbuat serta apa yang Tuhan ingin katakan di antara jemaat dan itulah yang harus saya lakukan.

Saya berhenti memandang kepada apakah suasana udah naik ato belom. Apakah warna musiknya bagus or apakah jemaat sudah antusias ato belom.

Saya mulai memandang kepada Yesus Kristus di antara jemaat dan bertindak berdasarkan apa yang Ia ingin saya lakukan.

Saya tetap buat susunan lagu dan tetap buat arrangement musik yang saya inginkan,
Tapi fokus utama saya saat ibadah adalah bagaimana Tuhan bisa menjangkau jemaatNya dan bagaimana jemaat bisa berjumpa serta mengalami Allah.

Karena itu, saya selalu bilang ama para pemusik,
Siap2 kalo lagunya saya ganti.
Hehehe…
:tongue: :tongue: :tongue:

Tapi itu duluuu…

Mudah-mudahan bisa memberkati…

setuju banget ma Brembo…lepas dari 6 hal tadi nih…tapi saya dan sering perhatiin ada perbedaan dan sangat kliatan antara worship leader yang bergaul karib dengan TUHAN,…dengan worship leader yang rohaninya agamawi…( melakukan aktivitas rohani hanya sebuah kewajiban ) yang satu bkal bsa menghadirkan “SURGA DI ATAS BUMI” dan yang satunya lagi bikin…capek deh… :smiley: jadi klo buat saya nih…ngikuttin jejak senior nih…sebelum melayani pekerjaan TUHAN saya harus bisa melayani TUHAN terlebih dulu…dan menjadi penyembah yang benar adalah lifestyle…gitu kata senior saya… 8) saya juga… :cheesy:

Sebelumnya saya minta maaf bila postingan saya berikut kurang berkenan dihati teman2.

Saya bukan seorang WL, tetapi menurut saya peran para WL dan pemusik diatas mimbar adalah membawa Hadirat Tuhan sehingga jemaat bisa mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Dan worship is lifestyle (seperti kata and!) gw setuju banget. Tapi belakangan yang gw lihat di ibadah adalah para WL hanya melakukan ritual agamawi belaka, atau mungkin karena sudah terbiasa / terpola dan jadi rutinitas semata.

Menurut gw sebenarnya inti dari Worship adalah “Ketaatan”, Tuhan mau A kita lakukan A, Tuhan mau ini, maka kita lakukan itu, Thats Worship…!! sorry to say: Tuhan tidak liat suara kita yang bagus, paduan suara para malaikat di sorga jauh lebih merdu, yang Tuhan lihat adalah hati kita dan ketaatan kita. Meski kita dalam keadaan yang terpojok, sedang kesusahan, dalam kondisi sakit sekalipun atau mungkin sedang diproses oleh Tuhan, tetapi hati kita tetap menyembah Tuhan…! atau ketika kita dapat berkat yang melimpah ruah kita masih sempat menyembah Dia dengan ucapan syukur… itu yang membuat Tuhan tergerak dan tertarik atas penyembahan kita tersebut.

Tetapi masalahnya saat kita melakukan tugas diatas mimbar apakah kita melakukan sesuai dengan apa yang Tuhan mau…? atau karena melakukan apa yang kita mau…? walaupun kelihatannya suasana ibadahnya meriah karena lagu2 yang dibawakan emang sudah meriah, tetapi kalau bukan itu yang Tuhan suruh, percuma saja… karena belum tentu Tuhan berkenan.

Maaf ni ye… saya kadang kasihan liat WL yang sudah terpola dari minggu ke minggu, 2 lagu slow dulu abis itu 2 atau 3 lagu cepat, lalu satu lagu slow lagi kemudian serahkan ke pengkhotbah. hehehehe…! gimana kalau Tuhan mau saat itu worship aza gak perlu ada lagu praise…? pasti si WL mikir, kan biasanya begini…! abis ini lagu Praise 3 buah terus tanya apa ada jemaat baru, lalu satu lagu slow lagi terus kasih Mic ke pengkhotbah selesai deh tugas gw sebagai WL.

Intinya sebenarnya ada di Ketaatan kita…! entah kita sebagai WL atau jemaat biasa, apa yang saat itu Tuhan ingin kita lakukan, lakukanlah…! kalau Tuhan gerakkan anda untuk bersujud, ya sujud aja walau yang lain sedang berdiri…!! itu baru ketaatan. Tuhan gerakkan anda menari, ya menari aja… be Free…! walau yang lain sedang duduk, itu inti dari Praise & Worship. Where the Spirit of The Lord is, there is Freedom…!!! termasuk free to worship…!

No hurt feeling, oke…? Peace. :happy0025:

mantap buat manasye… :afro: :afro:
memang beberapa gereja udah terpola seperti itu…namun itu tergantung ama si songleadernya Kalau dia memiliki hubungan yg intim dengan BAPA kita Tuhan Yesus Kristus dan Peka dengan Bimbingan Roh Kudus bisa saja selama kebaktian raya minggu hanya worship…dan ini merupakan kesaksian saya pribadi…
kalau kita hanya terpola ama peraturan gereja kesannya roh kita dibatasi…
intinya yaitu TAAT ama Tuhan yesus
Biarlah Tuhan Yesus yg di tinggikan… :afro: :afro:

Sebelumnya saya minta maaf bila postingan saya berikut kurang berkenan dihati teman2.

Saya bukan seorang WL, tetapi menurut saya peran para WL dan pemusik diatas mimbar adalah membawa Hadirat Tuhan sehingga jemaat bisa mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Dan worship is lifestyle (seperti kata and!) gw setuju banget. Tapi belakangan yang gw lihat di ibadah adalah para WL hanya melakukan ritual agamawi belaka, atau mungkin karena sudah terbiasa / terpola dan jadi rutinitas semata.

Menurut gw sebenarnya inti dari Worship adalah “Ketaatan”, Tuhan mau A kita lakukan A, Tuhan mau ini, maka kita lakukan itu, Thats Worship…!! sorry to say: Tuhan tidak liat suara kita yang bagus, paduan suara para malaikat di sorga jauh lebih merdu, yang Tuhan lihat adalah hati kita dan ketaatan kita. Meski kita dalam keadaan yang terpojok, sedang kesusahan, dalam kondisi sakit sekalipun atau mungkin sedang diproses oleh Tuhan, tetapi hati kita tetap menyembah Tuhan…! atau ketika kita dapat berkat yang melimpah ruah kita masih sempat menyembah Dia dengan ucapan syukur… itu yang membuat Tuhan tergerak dan tertarik atas penyembahan kita tersebut.

Tetapi masalahnya saat kita melakukan tugas diatas mimbar apakah kita melakukan sesuai dengan apa yang Tuhan mau…? atau karena melakukan apa yang kita mau…? walaupun kelihatannya suasana ibadahnya meriah karena lagu2 yang dibawakan emang sudah meriah, tetapi kalau bukan itu yang Tuhan suruh, percuma saja… karena belum tentu Tuhan berkenan.

Maaf ni ye… saya kadang kasihan liat WL yang sudah terpola dari minggu ke minggu, 2 lagu slow dulu abis itu 2 atau 3 lagu cepat, lalu satu lagu slow lagi kemudian serahkan ke pengkhotbah. hehehehe…! gimana kalau Tuhan mau saat itu worship aza gak perlu ada lagu praise…? pasti si WL mikir, kan biasanya begini…! abis ini lagu Praise 3 buah terus tanya apa ada jemaat baru, lalu satu lagu slow lagi terus kasih Mic ke pengkhotbah selesai deh tugas gw sebagai WL.

Intinya sebenarnya ada di Ketaatan kita…! entah kita sebagai WL atau jemaat biasa, apa yang saat itu Tuhan ingin kita lakukan, lakukanlah…! kalau Tuhan gerakkan anda untuk bersujud, ya sujud aja walau yang lain sedang berdiri…!! itu baru ketaatan. Tuhan gerakkan anda menari, ya menari aja… be Free…! walau yang lain sedang duduk, itu inti dari Praise & Worship. Where the Spirit of The Lord is, there is Freedom…!!! termasuk free to worship…!

No hurt feeling, oke…? Peace.

Sangat nge-roh sekali
Dan pada dasarnya ini memang yang seharusnya terjadi dalam tiap2 ibadah.

Tapiiii…

Kita harus berlari dengan orang yang bisa berlari tapi kita juga harus berjalan dengan orang yang bisa berjalan.

Terkadang gembala domba harus memperlambat langkahnya karena dombanya masih kecil meski si gembala tau bahwa sumber air sudah dekat.

Jika si gembala memaksakan diri berjalan cepat, maka si domba kecil akan tertinggal dan tersesat.

Kadang domba yang sudah dewasa akan heran mengapa domba yang kecil begitu lambat jalannya. Tapi seharusnya domba dewasalah yang harus mengerti dan memperlambat langkah karena jika ia terus berjalan cepat, ia akan keluar dari kawanan dan diterkam serigala.

Dalam ibadah raya ada banyak kategori domba.
Beda jika ibadahnya dihadiri oleh para pelayan,
Beda juga jika ibadahnya dihadiri oleh orang-orang yang sudah intim dengan Tuhan.

buat manusia biasa saja :afro: :afro:
dan terkadang seorang gembala juga lupa memberi makan domba2nya sehingga domba tersebut ke padang rumput yg lain dan lebih segar :afro: :afro:

dan terkadang seorang gembala juga lupa memberi makan domba2nya sehingga domba tersebut ke padang rumput yg lain dan lebih segar

:afro: :afro: :afro:

Setuju…!!!

sekarang saatnya kapasitas roh kita dikembangkan, bukan saatnya main gereja-gerejaan, ups, sorry ! banyak lho gereja yang hanya entertaint jemaatnya, seharusnya gereja menjadi tempat pelatihan supaya kapasitas manusia roh kita bertumbuh. sudah seharusnya dalam setiap ibadah Roh Tuhan dapat bekerja dengan seluas - luasnya sehingga roh kita dapat bersinergi dengan Roh Tuhan, bukan malah menurunkan standard supaya jemaat yang lain (baru) dapat mengikuti, duh cape deh…! kapan majunya boss ? justru kita harus membawa mereka masuk supaya bisa merasakan atmosphere hadirat Tuhan yang kita bawa (as a WL). coz we are Heavenlyman.

seperti kata bro’manasye, dibutuhkan ketaatan untuk mengijinkan ROH Tuhan mengambil alih setiap acara ibadah kita. GBU

Setuju...!!!

sekarang saatnya kapasitas roh kita dikembangkan, bukan saatnya main gereja-gerejaan, ups, sorry ! banyak lho gereja yang hanya entertaint jemaatnya, seharusnya gereja menjadi tempat pelatihan supaya kapasitas manusia roh kita bertumbuh. sudah seharusnya dalam setiap ibadah Roh Tuhan dapat bekerja dengan seluas - luasnya sehingga roh kita dapat bersinergi dengan Roh Tuhan, bukan malah menurunkan standard supaya jemaat yang lain (baru) dapat mengikuti, duh cape deh…! kapan majunya boss ? justru kita harus membawa mereka masuk supaya bisa merasakan atmosphere hadirat Tuhan yang kita bawa (as a WL). coz we are Heavenlyman.

seperti kata bro’manasye, dibutuhkan ketaatan untuk mengijinkan ROH Tuhan mengambil alih setiap acara ibadah kita. GBU

Siiip.
Semangat yang harus dikagumi!!!
:afro: :afro: :afro:

Sekadar intermezzo buat yang lain,

Dulu temen saya pernah dapet penglihatan,
Ada serombongan anak Tuhan sedang bergerak maju,
Tapi ada yang berlari dengan cepat penuh semangat untuk menerjang lawan,
Ada juga yang berjalan saja karena belum bisa bergerak dengan cepat.

Yang berlari dengan cepat begitu bersemangatnya sehingga meninggalkan mereka yang berjalan di belakangnya.
Musuh terdesak oleh para prajurit Allah yang gagah perkasa itu.

Lalu musuh membuat strategi lain.
Mereka sengaja mengalah, lalu mengambil jalan memutar.

Seperti diketahui, senjata perlengkapan Allah tidak memiliki pelindung untuk bagian punggung.
Demikianlah musuh mengambil tempat di tengah-tengah kekosongan antara prajurit yang berlari cepat dengan prajurit yang berjalan lambat.

Para prajurit gagah perkasa yang berlari cepat kemudian diserang bagian punggungnya dan karena tidak ada perlindungan, maka mereka terkena telak.
Lama kelamaan prajurit2 itu kehilangan tenaga dan kalah.

Demikianlah barisan Allah dihancurkan karena ada ‘gap’ antara mereka yang berlari cepat dan mereka yang berjalan lambat.

Ini benar2 sebuah penglihatan dan ketika diceritakan,
Saya terhenyak.

Mat 11:28-30
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

1 Kor 9:22
Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

1 Kor 12:22-23, 25-26
Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

2 Kor 11:29
Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?

Untuk itulah seharusnya gereja berfungsi, supaya setiap umat Tuhan di latih sehingga siap tempur. :character0110: Tetapi kalau kita berada dalam hadirat Tuhan, tidak ada musuh yang dapat bertahan…!!! :angel: :angel: Itu sebabnya kita harus membawa jemaat masuk dalam Hadirat Tuhan…!! :fighting0028: Tidak ada tempat persembunyian yang aman selain dalam hadiratNYA.

SETUJU…!! :afro: :afro: :afro:

se

setubuheee setuju banget…tapi harus TUNING ama penyampaian Firman Tuhan Juga :afro: :afro:

soal pemimpin pujian,aku juga pernah ditegur ma ibu pdt. :ashamed0002:
katanya aku terlalu terlena menyembah ndiri,tanpa peduli yg dipimpin.
aku jd pimpin diri sendiri,lagunya kesenangan or kebutuhan sendiri… :ashamed0002: :slight_smile:
tapi itu awalnya jd leader koq. :slight_smile: :happy0025:

soal pemimpin pujian,aku juga pernah ditegur ma ibu pdt. katanya aku terlalu terlena menyembah ndiri,tanpa peduli yg dipimpin. aku jd pimpin diri sendiri,lagunya kesenangan or kebutuhan sendiri... tapi itu awalnya jd leader koq.

That’s exactly what I mean.