Yesus, [sebelum - selagi - sesudah] hidup di bumi ?

Apakah sbb ini betul ?

Yesus sebelum hidup di bumi :
A. yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan

oda : Pribadi Anak setara dengan Pribadi Bapa sebelum Inkarnasi.


Yesus selagi hidup di bumi :
B. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

oda : Pribadi Anak tidak setara dengan Pribadi Bapa selagi Inkarnasi


Yesus sesudah bangkit :
C. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama

oda : nah disini mulai bingung.

kalo ngebaca rangkaian kalimat B dan C, logik-nya (imo) jadi kayak sbb :

Q : apa penyebab Allah sangat meninggikan Yesus ?
A : karena

  1. sebelum Inkarnasi, Yesus telah bersedia utk tidak setara dengan Allah
  2. selagi Inkarnasi, Yesus taat kepada Allah sampai mati.

Akibatnya saya jadi berpendapat :
semisal point-2 tidak terpenuhi maka tidak ada itu Allah sangat meninggikan Dia.

Apakah saya betul ?

Anyway… lanjut…

setelah Yesus naik —> ini Dia masih didalam state Inkarnasi ? ataukah Inkarnasi-nya sudah selesai ?
Soalnya begini :

  1. Kalo dibilang state Inkarnasi-nya sudah selesai, jadinya timbul pertanyaan :
    kok masih didalam tubuh jasmani ? (kendati dipendapati itu Tubuh Kemuliaan, namun toh tetep jasmani/material)

  2. Kalo dibilang masih didalam state Inkarnasi, pertanyaan yg timbul jadinya :
    Apakah Allah, sekarang… saat ini di sorga berjasmani ?

Seyogyanya jawaban-nya saya pendapati : tentu tidak.
TAPI dgn jawaban demikian, jadinya begini :
so… sekalipun keduanya kembali setara, namun dalam perihal rupa mereka berbeda ? yakni Allah Bapa tidak berjasmani sementara Allah Anak berjasmani ?

puyeng.com :cheesy: :char11: :happy0025:

:slight_smile:
salam.

Hahahahha … jangan puyeng, santai aja … yang pasti, topik ini dapat kembali menjadi hangat, ujung-ujungnya akan mengarah pada perdebatan tentang “Tritunggal” lagi.

tapi bagi saya, pendapat saya begini …

  1. Sebelum alam semesta diciptakan, maka yang ada adalah Allah. FT berkata … Allah itu adalah Roh, jadi … sebelum alam semesta di ciptakan, maka yang ada Hanya “Roh Allah”.

Pertanyaan muncul : Apakah Roh Allah itu adalah Esa ? ataukah Roh Allah itu adalah Tiga ? ==> Pendapat saya adalah : Roh Allah itu adalah Esa.

Lalu lahir pertanyaan baru : Apakah Roh Allah itu adalah Hakikat dari Allah itu sendiri ? Ataukah Roh Allah itu adalah Kepribadian dari Allah ? ==> Karena belum ada penciptaan, maka tidak ada satupun yang dapat mengetahui dengan pasti, apakah Roh Allah itu adalah suatu kepribadian dari Allah atau bukan, tetapi sekalipun belum ada penciptaan, maka jika kita diperhadapkan pada pertanyaan tersebut, kita dapat menjawab … bahwa Roh Allah itu, “Sudah Pasti” adalah Hakikat dari Allah itu sendiri.==> Berarti, sebelum adanya penciptaan, maka yang ada adalah Hakikat dari Allah itu sendiri dan kepribadian dari Allah itu belum muncul.

  1. Kemudian Allah itu melakukan penciptaan dan juga menciptakan manusia. Manusia yang diciptakan oleh Allah itu, menyadari … bahwa segala yang ada ini adalah “Bersumber” dari Allah, karena semua ini bersumber dari Allah, maka manusia itu “Memanggil” Allah itu Bapa, Allah di panggil sebagai Bapa, karena dari pada Allah-lah segala yang ada ini berasal.

Kemudian manusia yang diciptakan oleh Allah itu jatuh kedalam dosa, sehingga manusia itu terpisah dari Allah, namun Allah tetap setia, sebab Ia adalah yang setia dan benar, sehingga dalam Kesetiaan dan Kasih-Nya, Allah membentangkan rencana-Nya kepada para Nabi, bahwa Allah akan datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya.

Proses kehidupan berjalan dan para Nabi dengan tidak bosan-bosannya, menubuatkan “Janji Allah” tersebut.

  1. Kemudian Allah menggenabi Janjinya dan Inkarnasi menjadi manusia.==> Pada Tahap ini, timbulah permasalahan besar, dimana terjadi silang-pendapat, dalam memahami “Makna Inkarnasi” tersebut.

Pendapat pertama :

Yang Inkarnasi itu adalah Firman, artinya … sesuatu yang berasal dan sesuatu yang keluar dari Allah (terpisah dari Allah), dan menjadi manusia yang bernama Yesus.,==> dengan pemahaman ini, maka timbul pertanyaan besar, yaitu : Apakah Firman itu dapat disetarakan dengan Hakikat Allah yang sesungguhnya ? ==> Ilustrasi, apakah sesuatu yang keluar dari dalam diri kita manusia, dapat disetarakan dengan diri kita sendiri ? ==> Lalu pertanyaan kedua muncul … jika ada sesuatu yang keluar dari dalam Hakikat Allah, dan menjadi manusia yang bernama Yesus, maka bukankah hal ini akan mengindikasikan “telah” terbentuk 2 ( dua ) Allah, yaitu … Hakikat Allah yang tidak Inkarnasi dan Firman Allah yang ber-inkarnasi.

Pendapat kedua adalah :

Yang Inkarnasi itu adalah Firman, dimana Firman ini memiliki posisi yang lebih rendah dari Hakikat Allah itu sendiri, sehingga karena Firman itu lebih rendah dari Allah, maka Firman itu tidak dapat disejajarkan dengan Allah, artinya adalah … menurut pendapat ini, Firman Allah itu adalah sesuatu ciptaan Allah, dimana melalui Firman inilah, Allah itu bersabda dan menciptakan alam semesta., ==> dengan pemahaman ini, maka timbul pertanyaan besar … jika Firman itu adalah ciptaan Allah, maka timbul pertanyaan … bagaimana Allah itu berbicara, sebab Firman itu adalah “Suara Allah / Sabda Allah”. Sehingga jika Suara Allah adalah Ciptaan pertama dari Allah, maka sebelum suara itu ada atau sebelum Firman itu ada, artinya … Allah itu adalah Allah yang Bisu.

( bersambung ke halaman 2 … )

Pendapat Ketiga adalah :

Yang Inkarnasi itu adalah Firman, dan Firman ini adalah Allah itu sendiri, artinya adalah … Firman Allah dan Allah itu adalah satu dan tidak dapat dipisahkan, sebab Firman itu adalah Suara Allah atau Sabda Allah. Mengapa ? Sebab Allah itu adalah Roh, karena Allah itu adalah Roh, maka kita tidak dapat mengetahui wujut Roh itu, sehingga segala suara yang berasal dari Roh itulah, yang dipahami sebagai Firman Allah atau Suara Allah atau Sabda Allah., sehingga dengan pemahaman ini, dipahamilah … bahwa Yang Inkarnasi itu adalah “Benar-Benar Hakikat Allah itu sendiri”.

Namun, karena Allah itu sudah ber-inkarnasi menjadi manusia, maka selama Inkarnasi menjadi manusia, Allah itu tidak dapat disebutkan lagi sebagai Allah, sebab Ia telah menjadi manusia, tetapi karena Ia adalah Allah, maka selama Ia menjadi manusia, Ia disebut sebagai Anak Allah. ==> Artinya Anak Allah adalah : Bukan Anak Biologis dari hubungan Allah dengan sesuatu, tetapi pengertian Anak Allah adalah … Karena Allah itu telah menjadi manusia…
4. Kemudian Allah yang telah menjadi manusia itu mati, untuk menggenabi janji Allah kepada para Nabi, dengan tujuan untuk menebus segala dosa manusia, dimana setelah Ia mati sebagai Manusia, dan dalam kematian-Nya sebagai manusia, tidak ditemukan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran atas Hukum-Hukum Allah, sewaktu Ia hidup sebagai manusia, maka Ia bangkit untuk menerima “Janji Allah”, yaitu … Hidup Kekal…

Nah … sebelum kebangkitan Yesus, para Rasul dan manusia tidak dapat memahami tentang “Eksistensi Allah” tersebut, tetapi setelah kebangkitan Yesus, barulah para Rasul dan manusia dapat “Memahami dan mengerti”, bahwa Eksistensi Allah itu, terbagi atas 3 bagian, yaitu … Eksis Sebagai Pencipta dan dipanggil Bapa, Eksis sebagai Penyelamat dan dipanggil Anak Allah.

Lalu … dalam kaitannya dengan pernyataan saudara … maka Allah sangat meninggikan Dia, maka yang ditinggikan oleh Allah adalah “Diri Allah sendiri yang telah menjadi Anak Allah”, mengapa ? Sebab didalam Yesuslah, segala Kepenuhan Allah itu terpenuhi, sebab Ia adalah Gambar dan wujut dari Allah yang tidak kelihatan itu, artinya adalah … Allah itu yang tadinya adalah Roh, kemudian mengambil wujut Yesus, sehingga Allah itu saat ini di surga, memiliki Wujut Yesus., karena itulah … disaat akhir jaman nanti, semua manusia yang hidup dan yang mati, akan bertemu “Hanya Pada Yesus Kristus”, Artinya adalah … Segala Eksistensi Allah yang dipahami sebagai Bapa, Anak dan ROH KUDUS, akan Eksis dalam Wujut Tunggal, yaitu … Yesus Kristus…

Itulah sebabnya, dalam Kredo Nikea dinyatakan … Una substantia, Tress Personae … yang artinya adalah : Allah itu Satu dalam Hakikat-Nya, tetapi 3 dalam Kepribadian-Nya. ==> Devine Person, but Not Devine Substance.

Salam …

Syalom Bro, perkenankanlah aku membagikan apa yang kutahu, yang belum kutahu ku cari cari dullu, kalau sudah kutahu nanti kubagi lagi… :smiley: :smiley:

ya Betul Demikian… :afro: :afro:

Yesus selagi hidup di bumi : B. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

oda : Pribadi Anak tidak setara dengan Pribadi Bapa selagi Inkarnasi


ya Betul Demikian, :afro: :afro:( Iberani 2:9)

Yesus sesudah bangkit : C. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama

oda : nah disini mulai bingung.

kalo ngebaca rangkaian kalimat B dan C, logik-nya (imo) jadi kayak sbb :

Q : apa penyebab Allah sangat meninggikan Yesus ?
A : karena

  1. sebelum Inkarnasi, Yesus telah bersedia utk tidak setara dengan Allah
  2. selagi Inkarnasi, Yesus taat kepada Allah sampai mati.

Akibatnya saya jadi berpendapat :
semisal point-2 tidak terpenuhi maka tidak ada itu Allah sangat meninggikan Dia.

Apakah saya betul ?

jawaban nyusul, masih sedang dipelajari… :smiley: :smiley:

setelah Yesus naik ---> ini Dia masih didalam state Inkarnasi ? ataukah Inkarnasi-nya sudah selesai ? Soalnya begini : 1. Kalo dibilang state Inkarnasi-nya sudah selesai, jadinya timbul pertanyaan : [i]kok masih didalam tubuh jasmani ? (kendati dipendapati itu Tubuh Kemuliaan, namun toh tetep jasmani/material)[/i]

Ia sangat betul bro, Sejak Inkarnasi dan Sampai Selama Lamanya, Jesus akan tetap menyandang kemanusiaan-Nya dan Dia tetap akan disebut sebagai Anak Manusia. Kisah 7:56

2. Kalo dibilang masih didalam state Inkarnasi, pertanyaan yg timbul jadinya : [i]Apakah Allah, sekarang... saat ini di sorga berjasmani ?[/i]

ya Jesus Kristus punya TUbuh Jasmani.

:slight_smile:
salam.
TYM

Dan Roh Allah ini “menyebut diriNya sendiri” secara [kita], kalo saya baca di kitab Kejadian : Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita

Selanjutnya si penulis sbg narator ngerujuknya secara singular : Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia.

Patron diatas, mirip dgn kalimat ayat Wahyu yg sempet saya taroh di thread yg ada di board Non-Tri : Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.

Pertanyaan muncul : Apakah Roh Allah itu adalah [b]Esa [/b]? ataukah Roh Allah itu adalah Tiga ? ==> Pendapat saya adalah : Roh Allah itu adalah [b]Esa[/b]
Nah ini jadi terkait dgn thread dari wisnu mengenai [Esa]. Di thread tsb saya sempet ngasih pendapat bhw kosakata [Esa] yg dikenakan ke Allah tidak didalam pengertian corporeal 1 ---> 1 + 1 = 2, melainkan ibarat paradox [singular tapi plural, plural tapi singular].

Saya teringat input dari dya dgn kasih analogi angin, walopun tentunya nggak bisa diterapkan secara blekplek namun (imo) latar belakang logikanya “masuk” : Diketika orang bilang di sini angin puyuh disana angin ribut —> terkesan ada dua angin (plural), namun padahal ya tetep aja angin (singular).

Lalu lahir pertanyaan baru : Apakah Roh Allah itu adalah Hakikat dari Allah itu sendiri ? Ataukah Roh Allah itu adalah Kepribadian dari Allah ? ==> Karena belum ada penciptaan, maka tidak ada satupun yang dapat mengetahui dengan pasti, apakah Roh Allah itu adalah suatu kepribadian dari Allah atau bukan, tetapi sekalipun belum ada penciptaan, maka jika kita diperhadapkan pada pertanyaan tersebut, kita dapat menjawab .. bahwa Roh Allah itu, [b]"Sudah Pasti"[/b] adalah Hakikat dari Allah itu sendiri.==> Berarti, sebelum adanya penciptaan, maka yang ada adalah Hakikat dari Allah itu sendiri dan kepribadian dari Allah itu belum muncul.
oke... ini saya terima dulu. Saya belon sempet mikirin secara lebih jauhnya lagi.
2. Kemudian Allah itu melakukan penciptaan dan juga menciptakan manusia. Manusia yang diciptakan oleh Allah itu, menyadari .. bahwa segala yang ada ini adalah [b]"Bersumber"[/b] dari Allah, karena semua ini bersumber dari Allah, maka manusia itu "Memanggil" Allah itu Bapa, Allah di panggil sebagai Bapa, karena dari pada Allah-lah segala yang ada ini berasal.
Nah... yg bold itu menarik. OOT sebentar ya jes.... Saya coba dengan gambaran sbb :

Ada lobang.
Dari lubang ini keluar air.

Nah… yang mana yg disebut [sumber] ?
a. pas di titik point air itu keluar ?
b. lobangnya ?
c. air yang berada didalam lobang sebelon memancar keluar.

Saya gak bisa jawab secara memilih antara a/b/c, karena (imo) perihal ini sulit utk dijabarkan.

Dijawab yang a, masuk (secara garis umum, kayaknya biasanya ini yg dipake oleh kita2).
Dijawab yang b, masuk.
Dijawab yang c, masuk.
Namun walopun a masuk b masuk c masuk (imo) disetiap pilihan jawaban tsb bisa kita selipin “tapi bla3x”.

Sementara orang bilang “kesana yuk, disana ada sumber mata air panas” kek …
mau bilang “kesana yuk, disana ada mata air panas” kek
—> no problemo, karena pendengar udah bisa segera mengertinya tanpa perlu detailnya.
Di sikon air yg keluar itu mengalir sekian meter … orang bilang “air ini bersumber dari sana (lokasi X)”.
Lanjut, orang bilang “yuk kita ke sumbernya” - so mereka ke lokasi X. Dengan demikian secara general yang point-A, yakni secara terbatas (point lokasi)… ya lokasi X adalah pas di titik point air tsb keluar. Tapi kalo dipikirin lagi, asal dari air dibawah lobang itu bersumber dari mana ?

Dari gambaran saya diatas menuntun saya berkesimpulan bhw kalimat kita “bersumber dari Allah” —> ini terbatas pabila pada point A and/or B. Tidak terbatas pabila pada point C, tapi kalo nggak ada lobang dan air itu nggak memancar (dgn demikian terbatas), maka logikanya orang nggak bisa tau sama sekali bhw ada air mengalir di tanah yg lagi di injaknya. Anyway jadinya kira2 sbb “yg disebut sumber itu airnya, mata airnya bisa ada dimana mana”. Hehehe… :smiley: :char11: :happy0025:

OOT Off.
bersambung

Pendapat pertama : Yang Inkarnasi itu adalah Firman, artinya .. [b]sesuatu yang berasal dan sesuatu yang keluar dari Allah (terpisah dari Allah)[/b], dan menjadi manusia yang bernama Yesus.,==> dengan pemahaman ini, maka timbul pertanyaan besar, yaitu : Apakah Firman itu dapat disetarakan dengan Hakikat Allah yang sesungguhnya ?
Nah... berangkat dari khayalan saya mengenai mata air .... lalu kalimat bold dari jes... lalu pertanyaan dari jess... saya berpendapat jawabannya adalah [SETARA] (sebelon keluar sbg mata air).
==> Ilustrasi, apakah sesuatu yang keluar dari dalam diri kita manusia, dapat disetarakan dengan diri kita sendiri ? ==> Lalu pertanyaan kedua muncul .. jika ada sesuatu yang keluar dari dalam Hakikat Allah, dan menjadi manusia yang bernama Yesus, maka bukankah hal ini akan mengindikasikan [b]"telah" terbentuk 2 ( dua ) Allah[/b], yaitu ... Hakikat Allah yang tidak Inkarnasi dan Firman Allah yang ber-inkarnasi.
Bold, ya begitulah jadinya yg tadinya saya pikirin, jess.

Kalo saya ambil analoginya yg secara [mata air] diatas (imo) logikanya memang bisa dikatakan bhw jadinya/artinya itu air yang diliat orang (stelah mengalir sekian meter dari lokasi X) itu berbeda dengan air yang keluar di lokasi X. Taroh kata yg sekian meter dari lokasi X itu aer-nya nggak seger lagi, aer yg di lokasi X masih seger. So, terbentuk dua jenis aer.

Pendapat kedua adalah :

Firman Allah itu adalah sesuatu ciptaan Allah, dimana melalui Firman inilah, Allah itu bersabda dan menciptakan alam semesta., ==> dengan pemahaman ini, maka timbul pertanyaan besar … jika Firman itu adalah ciptaan Allah, maka timbul pertanyaan … bagaimana Allah itu berbicara, sebab Firman itu adalah “Suara Allah / Sabda Allah”. Sehingga jika Suara Allah adalah Ciptaan pertama dari Allah, maka sebelum suara itu ada atau sebelum Firman itu ada, artinya … Allah itu adalah Allah yang Bisu.

Bold, ya sependapat. Dan (imo) kalimat “Firman itu adalah sesuatu yg ciptaan Allah” —> lalu begimana Allah menciptakan Firman sementara [dengan Firman Allah menciptakan segala sesuatu] ? IMO, disini sirkular jadinya.

Pendapat Ketiga adalah :

Yang Inkarnasi itu adalah Firman, dan Firman ini adalah Allah itu sendiri, artinya adalah … Firman Allah dan Allah itu adalah satu dan tidak dapat dipisahkan, sebab Firman itu adalah Suara Allah atau Sabda Allah. Mengapa ? Sebab Allah itu adalah Roh, karena Allah itu adalah Roh, maka kita tidak dapat mengetahui wujut Roh itu, sehingga segala suara yang berasal dari Roh itulah, yang dipahami sebagai Firman Allah atau Suara Allah atau Sabda Allah., sehingga dengan pemahaman ini, dipahamilah … bahwa Yang Inkarnasi itu adalah “Benar-Benar Hakikat Allah itu sendiri”.

Oleh karena itu saya berpendapat bhw : air-nya ya air air juga, namun (imo) logikanya seyogyanya diakui bhw jenis-nya sudah jadi berbeda.

Namun, karena Allah itu sudah ber-inkarnasi menjadi manusia, maka selama Inkarnasi menjadi manusia, Allah itu tidak dapat disebutkan lagi sebagai Allah, sebab Ia telah menjadi manusia, tetapi karena [b]Ia adalah Allah[/b], maka selama Ia menjadi manusia, Ia disebut sebagai Anak Allah. ==> Artinya Anak Allah adalah : Bukan Anak Biologis dari hubungan Allah dengan sesuatu, tetapi pengertian Anak Allah adalah .. Karena [b]Allah itu telah menjadi manusia[/b]..
Dan dengan adanya istilah ManusiaAllah, oleh karena itu saya mencoba ngambil pengertiannya ibarat sewaktu ngedenger kalimat (tidak didalam pengertian blekplek) [ManusiaSiluman], jess :char11:.
Lalu .. dalam kaitannya dengan pernyataan saudara ... maka Allah sangat meninggikan Dia, maka yang ditinggikan oleh Allah adalah "Diri Allah sendiri yang telah menjadi Anak Allah", mengapa ? Sebab didalam Yesuslah, segala Kepenuhan Allah itu terpenuhi, sebab Ia adalah Gambar dan wujut dari Allah yang tidak kelihatan itu, artinya adalah .. Allah itu yang tadinya adalah Roh, kemudian mengambil wujut Yesus, sehingga [b]Allah itu saat ini di surga, memiliki Wujut Yesus[/b]
Untuk yg ini (terutama yg bold) saya tunda dulu yah jess. Mau ngliat kalu2 ada masukan2 dari temen temen laen.

:slight_smile:
salam.

sip dah :happy0062:

jawaban nyusul, masih sedang dipelajari... :D :D
santai aja, pur ... :happy0025:
Ia sangat betul bro, Sejak Inkarnasi dan Sampai Selama Lamanya, Jesus akan tetap menyandang kemanusiaan-Nya dan Dia tetap akan disebut sebagai Anak Manusia. Kisah 7:56
So... Yesus masih didalam state Inkarnasi sekarang di sorga. Please CMIIW.
ya Jesus Kristus punya TUbuh Jasmani.
Itu Allah Anak yg saat ini di tgl 15 Mei 2016 punya tubuh jasmani di sorga. Bagaimana dengan Allah Bapa, pur ?

:slight_smile:
salam.

ya bro…

  1. saat ini tanggal 15 May 2016, Jesus Berada di Surga Sebagai Anak Manusia. demi anak anak manusia. 1 Timotius 2:5
  2. dan nanti ketika Yesus datang ke dua kali, Dia datang sebagai Anak Manusia. Matius 24:30
  3. dan di dunia baru nanti Jesus akan tetap disebut sebagai Anak Manusia. Wahyu 22:16
Bagaimana dengan Allah Bapa,

yang berinkarnasi adalah Jesus bukan Allah Bapa, :smiley: :smiley:

salam
TYM

Ada tertulis…
Yohanes 12:44-45 (TB)
Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;
dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.

Percaya pada Yesus sama saja percaya kepada Bapa
Melihat Yesus sama saja melihat Bapa.

Maaf saya cut penjelasan anda yang lain, sebab sementara ini … saya akan mendiskusikan pada anda, tentang permasalahan dalam Kitab Kejadian tersebut. Kejadian 1 : 26 … harus kita baca dengan teliti dan sangat hati-hati, mengapa ? sebab telah banyak manusia yang “terjebak” dalam memahami FT ini, sehingga manusia berfikir, bahwa perkataan “KITA” disanan, adalah bukti bahwa Hakikat Allah itu adalah Tritunggal, pemahaman ini benar-benar sangat keliru. Perkataan “KITA” disana, adalah perkataan Allah kepada para Malaikat-Nya. Lalu timbul pertanyaan, jika perkataan “KITA” disana ditujukan untuk para Malaikat Allah, maka apakah artinya adalah … para Malaikat itu turut serta membantu Allah dalam proses “penciptaan” manusia.

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita kembali kepada bunyi dari Kejadian 1 : 26 tersebut, yaitu … Berfirmanlah Allah:“Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa…” ( Then God Said, "Let Us make man in Our image, according to Our likeness, let them have dominion …). Dalam Kitab Kejadian 1 : 26 tersebut, jika kita baca dengan “teliti”, maka disana digunakan perkataan “menjadikan” ( make ) dan tidak digunakan perkataan “menciptakan” ( create ), artinya adalah … penggunaan perkataan “menjadikan” (make) disana, memberitahukan kepada kita, bahwa pada saat Allah berkata dalam Kejadian 1 : 26 tersebut, manusia itu “sudah diciptakan”, dimana manusia yang sudah diciptakan oleh Allah itu, akan “dijadikan” ( make ) oleh Allah, Segambar dan Serupa dengan Allah. Nah, karena manusia yang sudah diciptakan tersebut, akan “dijadikan segambar dan serupa dengan Allah”, melalui proses waktu yang sangat panjang ( menurut ukuran manusia atau ukuran bumi ), maka Allah akan melibatkan para Malaikat, untuk merealisasikan Rencana Allah tersebut., itulah sebabnya dalam Kitab Kejadian 1 : 26 tersebut, pada saat Allah berbicara … Allah menggunakan perkataan “KITA” disana, yaitu … ditujukan untuk para malaikat. Kebenaran dari penjelasan tersebut, dapat kita lihat pada bunyi selanjutnya dalam Kitab Kejadian 1 : 26 tersebut, yaitu … supaya mereka berkuasa atas ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap dibumi…JAdi, jika Kejadian 1 : 26 tersebut, ditujukan untuk “proses penciptaan manusia pertama”, maka seharusnya Adam tidak akan pernah jatuh kedalam dosa, sebab berdasarkan Rencana Tuhan dalam Kejadian 1 : 26 tersebut, manusia harus berkuasa atas seluruh alam raya, tetapi “BUKTINYA” adalah … adam dapat diperdaya oleh Ular… yang artinya adalah … adam tidak berkuasa atas ular…

Lalu fakta lainnya adalah … dalam Kejadian 1 : 26 tersebut, Allah berkata … bahwa Allah akan menjadikan manusia itu segambar dan serupa dengan Allah. Nah … apakah adam sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah adalah segambar dan serupa dengan Allah ? Maka jawabnya sudah pasti tidak. Jadi, untuk siapakah Allah berbicara dalam Kejadian 1 : 26 tersebut. Allah dalam Kejadian 1 : 26 tersebut, membentangkan rencananya kepada para malaikat, bahwa Allah akan menjadi manusia.Mengapa timbul pemikiran, bahwa Allah akan menjadi manusia dalam Kejadian 1 : 26 tersebut ? Jawabnya sederhana, bahwa tidak ada satupun mahluk yang dapat “Disegambarkan dan diserupakan” dengan Allah, kecuali Allah itu sendiri., sehingga untuk menjadikan manusia yang diciptakan-Nya itu menjadi segambar dan serupa dengan Allah, maka Allah “Harus menjadi manusia”, karena tidak mungkin manusia itu yang menjadi Allah. Nah, dalam hal Allah menjadi manusia, maka Allah Harus “ber-inkarnasi” dan menjadi manusia, Inkarnasi Allah menjadi manusia itulah, Yesus Kristus., karena itulah Alkitab katakan… bahwa Yesus itu adalah Gambaran dan Wujut Allah yang tidak kelihatan. Jadi, Kejadian 1 : 26, Allah berbicara tentang Rencana-Nya untuk menjadi manusia, kepada para malaikat, itulah sebabnya dalam ayat tersebut, digunakan perkataan “KITA” dan digunakan perkataan “menjadikan” (make), sebab dalam Proses Allah akan menjadi manusia, maka sudah pasti akan melibatkan para malaikat, dimana kita melihat … dalam proses yang panjang itu ( proses sejak masa penciptaan sampai kelahiran Yesus ), telah berkali-kali Allah melibatkan para Malaikat, sampai Yesus dilahirkan atau sampai Janji Allah atau Rencana Allah itu direalisasikan. == Salam==

Ngawur mikir jangan kejauhan…

Bila manusia yang dimaksudkan adalah Yesus Kristus.

Bagaimana dengan ayat selanjutnya…

Kejadian 1:27 (TB)

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Apakah masih tetap Yesus Kristus? :cheesy:

Hehehe … silahkan anda bandingkan Kejadian 1 : 26 dengan Kejadian 1 :27, pada Kejadian 1 : 27, digunakan perkataan menciptakan b[/b], sedangkan pada kejadian 1 : 26, digunakan perkataan menjadikan b.[/b]

Menciptakan adalah … membentuk dari yang tidak ada menjadi ada.
Menjadikan adalah … membentuk dari yang ada menjadi bentuk yang baru.

Artinya adalah … pada Kejadian 1 : 26, sudah ada manusia, buktinya … penggunaan perkataan menjadikan ( make ), sementara pada kejadian 1 : 27, manusia belum ada, karena itu digunakan perkataan menciptakan ( create ).

Lalu yang ngawur siapa yah ? Silahkan baca dan teliti Alkitab dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa aslinya, pertanyaannya adalah … apakah penulis Kitab Kejadian demikian “bodohnya”, sehingga menuliskan dua perkataan yang “berbeda penggunaan dan maknanya” dalam ayat yang berurutan ?

Nah … jika kejadian 1 : 26, ditujukan untuk Yesus, maka kejadian 1 : 27, ditujukan untuk Adam…

Salam …

Teliti lagi kejadian 1:27

Bukankah disitu juga dikatakan manusia diciptakan segambar dengan Allah.

lihat lagi statement anda yang mengatakan adam klo segambar dengan Allah tidak mungkin jatuh kedalam dosa tanda tak berkuasa atas ular.

Jadi amburadul kan anda…

Bagaimana menjelaskan hal ini?

Tuh liat…

Kok jadi amburadul bila disandingkan dengan kejadian 1:27

Kejadian 1:27 (TB) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Tidak !!! Anda yang kurang teliti membaca Alkitab, silahkan baca ulang Kitab Kejadian 1 : 27, disana dikatakan dengan jelas, bahwa Allah menciptakan Adam “Hanya Segambar” dengan Allah, sementara dalam Kejadian 1 : 26, dinyatakan dengan jelas, bahwa Allah akan menjadikan manusia itu “Segambar dan Serupa dengan Allah”.

Lihat perbedaannya, “Hampir sama, tetapi berbeda”.

Salam …

Lihat jawaban saya sebelumnya …

Salam …

Dan lagi lagi ketauan amburadul…

Kejadian 1:27 (TB) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Perhatikan lagi kata “maka”

Bila 26 dan 27 tidak bersambung dan tidak berkaitan buat apa ada kata “maka”?

bagaimana anda menjelaskan hal ini?

Kata anda klo adam itu segambar dengan Allah maka adam tidak mungkin jatuh ke dalam dosa karena ular tanda tidak berkuasa atas ular?

Tuh buktinya adam diciptakan segambar dengan Allah.

Amburadul anda ini…

Dan lagi lagi mengalami kekeliruan…

  • Tidak mungkin Allah berunding dengan ciptaanNya / minta nasehat dari ciptaanNya, karena kalau demikian maka akan bertentangan dengan ayat-ayat di bawah ini.

Yes 40:13-14 - “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepadaNya sebagai penasihat? Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?”

Ro 11:34 - “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya?”.

  • Kalau kata ‘Kita’ menunjuk kepada ‘Allah dan malaikat’, maka itu berarti bahwa:

Allah adalah pencipta / creator dan malaikat adalah rekan pencipta (co creator).

Manusia dicipta menurut gambar dan rupa malaikat.

Kedua kesimpulan ini jelas tidak alkitabiah.

syalom dan salam sejahtera…
apa kabar bang??

aku tertarik sekali membagikan pandnaganku tentang tulisan abang ini…

kalau menurutku:
banyak hal yang bisa digunakan untuk menggambarkan Allah itu. ketika Tuhan menciptakan Alam semesta termasuk dunia ini, Allah sudah menuliskan dalam tiap tiap ciptaan-Nya itu Nama-Nya yang kudus.

  1. Udara yang bersih yang memberikan kehidupan bagi makhluk ciptaan.
  2. Air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, yang menggambarkan Sifat Tuhan yang MahaPemberi dan mengalirkan berkat berkat kepada segala Makhluk.
  3. Sinar Matahari yang selalu memancarkan Kehangatan Kehidupan kepada orang baik dan orang jahat.
  4. Tanah yang selalu menumbuhkan kehidupan…

Semuanya ini menunjukkan Sifat dan Gambar Allah.

dan ketika Tuhan Allah menjadikan manusia yang pertama itu, Dia juga rindu melihat Gambar dan Rupa-Nya dipantulkan oleh manusia itu, melalui Kasih satu dengan yang lain di dalam Rumah Tangga, melalui kesetiaannya merawat ciptaan yang sudah diciptakan oleh TUhan, serta Persekutuan dengan Kahliknya.

sebelum Tuhan menciptakan manusia, Allah sudah menciptakan satu sosok yang juga diciptkan menurut Gambar dan Rupa-Nya, yaitu Lusifer si bintang Kejora (Yehezkiel 28:12-15), tapi sosok yang sempurna sudah lebih dahulu jatuh ke dalam dosa sebelum manusia.

  1. hal ini adalah Bukti, bahwa Gambar dan Rupa Allah yang sempurna ini, bisa Jatuh dalam dosa, dan bisa dirusak.
  2. maka begitu pula dengan gambar gambar Allah yang lain di alam dapat rusak oleh pelanggaran seperti, udara yang bersih yang melambangkan kehidupan, dirusak oleh polusi…
  3. matahari yang seharusnya memberi kehidupan, tapi karena lapisan ozon sudah rusak, matahari itu bisa menjadi lawan.
  4. air yang seharusnya memberi kehidupan, menjadi racun kehidupan oleh pembuangna limbah limbah beracun.
  5. tanah yang seharusnya menghasilkan, menjadi tandus oleh karena cuaca yang tidak bersahabat.

itulah. DOSA dan PELANGGARAN merusak GAMBAR dan RUPA ALLAH itu. baik gambar gambar yang ada di alam maupun di dalam diri manusia itu.

jadi abang, pendapatku: tentang manusia yang dicpitakan Serupa dan Sama dengan Gambar Allah yang pertama itu. itu adalah benar benar Adam dan Hawa yang sempurna dan tanpa cacat. manusia yang segambar dengan Allah di buku Kejadian itu, Bukan Jesus Kristus. tapi benar benar Adam yang sempurna.

tapi oleh pelanggaran sudah merusak Gambar dan Rupa Allah itu. itulah Kenapa ketika Tuhan Jesus datang ke dunia ini di dalam daging, Dia mengajak agar manusia yang sudah hilang Gambar dan Rupa Allah ini, kembali kepada Gambar Allah yang mula mula itu.

Matius 5:48, karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-mu yang di sorga adalah sempurna. :afro: :afro:

Salam
TYM