Yunani Krisis Utang, Gereja Ketakutan

Gereja Ortodoks Yunani di Inggris, Kamis (16/6) waktu setempat, mengeluarkan pernyataan keprihatinannya kepada negara Yunani yang saat ini sedang berjuang membebaskan diri dari krisis utang.

Sebagaimana diketahui, satu hari sebelum keluarnya pernyataan ini, Ibu kota Athena diguncang oleh peristiwa bentrokan antara ratusan demonstran kontra pemerintah dengan polisi antihuru-hara setempat. Para pendemo berunjukrasa karena mereka menganggap kebijakan ekonomi pemerintah

Setelah perundingan pembagian kekuasaan mengalami kehancuran dua hari lalu, Perdana Menteri Yunani George Papandreou mengumumkan ia akan membentuk pemerintahan baru dan mencari suara kepercayaan parlemen agar mereka mau mendukung kebijakan-kebijakan yang ia buat sehubungan dengan strateginya untuk mengeluarkan Yunani dari krisis yang sedang terjadi.

Charis Mettis, juru bicara Keuskupan Agung Ortodoks Yunani Thyateira dan Inggris, mengatakan ia sangat khawatir dengan Yunani.

“Ini adalah situasi yang sangat serius,” ujarnya kepada Christian Today. "Kami berharap bahwa Yunani tidak akan kembali dikuasai oleh diktator. Hal serupa pernah terjadi pada tahun 1967, ketika itu para politisi saling bersitegang dan akhirnya militer mengambil alih pemerintahan”

“Kami berharap bahwa hal itu tidak akan terjadi kali ini.”

Mettis mengatakan orang-orang di Yunani saat ini merasa “putus asa” karena terjadi pemotongan dimana-mana, khususnya untuk hal upah dan itu “menyakiti” mereka.

Ia sendiri mengkritisi negara-negara Eropa lainnya yang tidak bersahabat dan tidak mau mengkompromikan utang yang mereka berikan kepada Yunani.

“Negara-negara Eropa telah memaksa Yunani untuk menjadi negara yang mengalami perubahan ekstrim,” tambahnya

Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy sedang mempersiapkan diri bertemu untuk membicarakan krisis di benua Eropa pada Jumat ini.

Di Yunani sendiri, partai-partai oposisi saat ini sedang beramai-ramai menuntut pihak otoritas agar segera mengadakan pemilu. Menyikapi hal ini, Mettis menganggap bahwa pemilu tidak akan menyelesaikan masalah keuangan Yunani.

“Siapapun yang menjadi perdana menteri, situasi keuangan akan tetap berada dalam keadaan gawat. Satu-satunya harapan adalah para politisi didorong untuk membentuk pemerintahan universal dan orang-orang kiri-tengah harus menerima pemotongan gaji dan sebagainya,” katanya.

Sementara bersimpati dengan orang-orang Yunani atas dampak dari pemotongan penghematan, ia mengatakan masyarakat harus menerima kebijakan tersebut karena hal itu memang diperlukan.

“Ini persoalan tentang memberi dan menerima,” jelasnya.

Mari berdoa agar pemerintah Yunani dapat menyelesaikan persoalan di negaranya dengan segera dan biarlah melalui kejadian ini seluruh masyarakat disana menemukan Allah yang hidup dan menyelamatkan, yakni Tuhan Yesus Kristus.

Source : christiantoday.com

Memang Krisis ekonomi tidak saja mengakibatkan berkurangnya pendapatan Perusahaan itu sendiri saja tapi juga berakibat pada keuangan Gereja yang mengandalkan dan mewajibkan perpuluhan